Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 56

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 56

Salima yang mengangkat muka mendengar bentakan itu tiba-tiba disambut suitan sana-sini dari banyak laki-laki yang telah mengepung dirinya, kagum akan kecantikannya.

"Aih, luar biasa. Kecantikannya bagai seorang dewi!"

"Ya, dan dia pantas hidup di tengah-tengah kita, Cen-twako. Sebaiknya tangkap dan nikmati tubuhnya beramai-ramai!" Suara tawa bergelak yang sambung-menyambung membuat wajah Salima memerah. Ia mendengar kata-kata kotor di antara kaum lelaki itu; suasana tiba-tiba ribut dan gaduh. Banyak di antara mereka melahap tubuhnya dengan mata yang mengiler, lalu tiba-tiba melangkah maju dan mengepung semakin rapat. Ketika seorang di antaranya hendak mencolek tubuhnya, Salima membentak sambil bangkit berdiri, "Mundur!"

Laki-laki itu terjengkang. Entah apa yang menyebabkan dia begitu kaget, seolah suara Salima adalah suara petir. Kejadian itu disambut tawa kawan-kawannya yang merasa geli. Namun, Salima yang kini bangkit berdiri dengan tubuh tinggi semampai, segera menyapu semua orang dengan matanya yang berkilat-kilat. Pandangannya mendadak membuat semua laki-laki itu tertegun dan tanpa terasa melangkah mundur karena wibawanya yang demikian mengejutkan. Seolah seorang ratu!

Salima mendengus memandang laki-laki bergolok yang tadi membentak, lalu bertanya dengan suara dingin, "Kalian siapa? Kenapa mengganggu wanita di tengah hutan?"

Laki-laki itu, yang dipanggil Cen-twako, kini hilang kagetnya. Dia sempat tersentak oleh bentakan Salima, tergetar dan terkejut oleh wibawa gadis itu. Tapi melihat gadis tersebut tak membawa senjata dan tampak seperti gadis biasa saja—kecuali sikapnya yang anggun dan angkuh—dia tiba-tiba terbahak untuk mengusir ketegangan hatinya sendiri.

"Ha-ha, seharusnya kami yang bertanya kepadamu, Nona. Siapa kau dan mengapa menangis di sini? Ini wilayah Hek-eng Taihiap (Pendekar Garuda Hitam), kau masuk tanpa izin dan patut dicurigai!"

Salima mengerutkan alis. "Siapa itu Hek-eng Taihiap?"

"Aku sendiri!" Laki-laki itu menepuk dada. "Aku Hek-eng Taihiap Cen Hok, penguasa wilayah ini dan kebetulan masih bujangan!"

"Hm...!" Salima mengerutkan alis mendengar suara tawa sana-sini oleh kata-kata terakhir itu. Dia menjengek melihat kesombongan orang tersebut. Namun, ketika dia memandang sekeliling dengan berapi-api, suara tawa itu berhenti dan orang-orang kembali terkejut oleh sinar matanya yang mencorong.

"Cen Hok, apa sekarang maumu mengganggu aku?" Salima menyebut nama orang itu begitu saja, tak memakai julukannya. "Apa maksud kalian mengelilingi aku?"

Cen Hok, laki-laki sombong yang memakai julukan Pendekar Garuda Hitam itu, mengernyitkan kening melihat sikap tak hormat lawannya. "Aku datang untuk bertanya baik-baik padamu, Nona. Kau siapa dan kenapa masuk tanpa izin!"

"Memangnya ini wilayahmu?"

"Tentu saja, ini wilayahku!"

"Kau merampoknya dari mana?"

"Apa?" Cen Hok terkejut. "Merampok apa, Nona? Ini wilayahku yang sudah kukuasai belasan tahun. Aku mendapatkannya dengan sah!"

Laki-laki itu marah dan melotot pada Salima, tapi akhirnya tertegun oleh senyum Salima yang manis. Senyum itu mengembang penuh ejekan, tetapi sangat mempesona untuk dipandang lelaki, penuh daya tarik, dan amat memikat. Salima, yang tahu bahwa dia berhadapan dengan perampok-perampok liar, tiba-tiba tertawa dengan suaranya yang merdu, membuat kaum lelaki di situ mabuk kepayang.

"Cen Hok, apa dasarmu mengakui tempat ini sebagai milikmu? Adakah surat kaisar yang memberi wewenang padamu untuk menguasai hutan ini? Cih, kau ternyata perampok rendahan, orang she Cen. Aku jadi muak dan sebal padamu. Sebaiknya kalian pergi dan jangan ganggu aku. Saat ini hutan ini adalah milikku!"

Cen Hok, si Garuda Hitam, terbelalak. "Nona, kau siapa? Bicaramu besar sekali dan sombong!" Laki-laki itu gusar, marah, tapi masih kesengsem oleh senyum Salima. Saat Salima tertawa mengejek, dia tiba-tiba mengangkat lengannya.

"Aku tak perlu memberitahukan nama. Namaku terlalu tinggi bagi kalian. Sebaiknya kalian pergi dan jangan mencari penyakit!" Salima mengusir dengan gerak lengannya, lalu duduk kembali dan menangis terisak-isak seperti tadi. Dia tak memedulikan Cen Hok dan kawan-kawannya yang melongo melihat sikapnya. Mereka heran dan mengira gadis ini tidak waras. Bisa menangis begitu saja padahal baru bicara seperti orang sehat. Hal yang aneh!

Cen Hok yang sedang bengong tiba-tiba mendengar seruan seorang anak buahnya yang tadi hendak mencolek Salima, "Cen-twako, rupanya gadis ini gila. Tangkap saja dia dan telanjangi tubuhnya!"

"Ya," sahut yang lain. "Gadis ini meskipun gila tapi cantik, Twako. Sebaiknya telanjangi dia dan kita nikmati beramai-ramai!"

Cen Hok tertegun. Dia melihat anak buahnya ribut, tertawa, dan merubung maju seperti laron, siap memeluk atau menubruk Salima dari segala penjuru. Namun, Salima tiba-tiba bangkit berdiri. Pandangannya yang berkilat membuat semua orang menghentikan gerakannya.

"Tikus-tikus busuk, kalian tak dengar perintahku tadi? Kalian tuli dan minta mati?" Semua orang membelalakkan mata, terkejut sejenak.

"Nah, kalau begitu yang ingin kurang ajar kepadaku boleh maju!" Salima melanjutkan sambil memandang semua orang. "Yang ingin mencium boleh mencium!"

Semua orang tiba-tiba ribut. Mereka kembali bersuara gaduh, berbisik, tertawa-tawa, dan menganggap Salima bersikap lucu. Maklum, ancamannya tadi disertai senyum yang masih mempesona; senyum yang membuat orang mengira gadis ini main-main. Kilatan matanya tertutup oleh senyum manis itu—senyum mengejek yang sebenarnya penuh nafsu membunuh!

Ketika si pencolek yang tadi gagal melompat maju untuk "mendaftar" ciuman lebih dulu, Salima memasang pipinya dan melebarkan senyumnya. "Boleh, kalau begitu kau majulah!"

Orang itu tertawa-tawa. Dia maju mendekat, lagi-lagi tak merasakan kilatan mata Salima yang mengerikan karena tertutup senyum manis yang memabukkan itu. Tapi ketika dia mendekat dan Salima menggerakkan jarinya, sebuah jerit ngeri terdengar saat laki-laki itu roboh dengan dahi tertembus jari telunjuk!

"Crat!"

Semua orang gempar. Mereka langsung mundur melihat robohnya teman mereka. Mereka tidak mengira jari telunjuk yang begitu halus mampu menembus dahi sekeras pisau. Jari yang mengejutkan! Cen Hok serta anak buahnya tersadar dan menjadi marah, lalu mencabut senjata.

"Twako, gadis ini siluman. Dia membunuh A-swie, tangkap dan bunuh dia...!" Semua orang menyerbu dan menyerang gadis itu.

"Sing-sing!"

Salima menjengek. Dia menjejakkan kakinya dan melambung ke atas seperti orang terbang. Ketika orang-orang terkejut karena Salima menghilang begitu saja, golok dan pedang yang menghujani gadis itu justru saling bacok dan berbenturan di udara, mengenai sesama teman sendiri.

"Hei... crat! Aduh!"

Orang-orang saling kaget. Mereka tidak melihat ke mana Salima pergi, maklum Salima menggunakan ginkang yang luar biasa, mencelat ke atas di tengah-tengah hujan golok. Saat orang-orang itu berteriak kaget karena senjata mereka mengenai teman sendiri, Salima melayang turun. Gerakannya cepat, berputar ke kiri dan kanan, disusul pekik ngeri ketika tujuh kepala ditendang pecah, rontok, dan terkulai roboh ke tanah.

Ketika Salima berdiri di tempatnya semula dan kembali memandang orang-orang itu, Cen Hok dan anak buahnya berteriak tertahan. Mereka mundur dengan muka pucat melihat delapan mayat yang sekejap saja sudah malang-melintang di depan mereka!

"Siluman...!" Cen Hok sekarang sadar. Dia tahu gadis yang disangkanya biasa-biasa saja ini ternyata memiliki kepandaian tinggi. Gerakannya cepat dan sukar ditangkap mata. Namun, melihat delapan anak buahnya tewas, laki-laki tinggi besar ini menjadi marah.

"Siluman betina, kau rupanya iblis pembunuh!" Cen Hok membentak, maju sendiri dan menyuruh anak buahnya yang masih banyak untuk ikut mengeroyok. Hal itu menimbulkan keberanian anak buahnya karena sang pemimpin maju.

Namun, begitu Salima menangkis dan menggerakkan kedua lengannya menerima senjata-senjata tajam itu, golok dan pedang patah-patah saat bertemu dengan lengan telanjang gadis itu.

"Pletak-pletak!"

Cen Hok dan anak buahnya kaget bukan main. Mereka melihat Salima tertawa mengejek. Saat mereka terbelalak, Salima menggerakkan kakinya ke bawah, menyontek, dan menendang patahan pedang serta golok itu. Serpihan senjata tersebut berhamburan ke arah mereka bagai hujan yang luar biasa banyaknya. Ketika patahan pedang maupun golok itu mengenai tubuh mereka hingga tembus, Cen Hok dan anak buahnya berteriak ngeri dan roboh mandi darah. Cen Hok sendiri buntung kakinya sebatas lutut, dibabat patahan golok terbang!

"Crep-crep!"

Cen Hok dan anak buahnya bergelimpangan. Dua puluh tiga orang tewas binasa; yang masih hidup tinggal Cen Hok dan dua anak buahnya, masing-masing buntung pergelangan tangan dan jari-jari kaki, darah mengucur bagai pancuran bocor!

Cen Hok merintih dan terbelalak melihat Salima maju menghampirinya dengan sinar mata yang membuat semangat laki-laki itu terbang.

"Am... ampun, Lihiap... ak... aku jangan dibunuh...!"

Salima berhenti. Dia berdiri di depan laki-laki yang tersungkur mandi darah itu, roboh dengan kaki putus. Salima memandang yang lain dengan mengejek, lalu tiba-tiba menginjak punggung lawan.

"Kau minta ampun setelah terlambat? Mana kegaranganmu semula?"

Cen Hok mengerang. "Ampunkan aku, Lihiap... aku... aku tak tahu dengan siapa aku berhadapan...!"

"Hm, dan sekarang tahu?"

"Ya, tapi..."

Salima menggerakkan jarinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment