Chapter 57
Dia sudah terlanjur marah pada perampok-perampok kasar yang mengganggunya. Kemarahan itu sudah ditahan sejak kekecewaannya terhadap suhengnya, Kim-mou-eng.
Begitu Cen Hok meratap dan jarinya bergerak ke bawah, tahu-tahu ubun-ubun laki-laki tinggi besar itu telah ditusuk oleh ujung jari Salima.
"Crep!" Cen Hok menjerit satu kali.
Pemimpin rampok itu berkelejotan sejenak, mendelik, dan akhirnya roboh dengan nyawa melayang. Tewas di saat itu juga.
Ketika Salima menggerakkan kaki menendang dua kerikil hitam, tiba-tiba dua anak buah Cen Hok yang masih hidup tapi terluka parah ikut menjerit ngeri dan roboh menyusul pemimpinnya.
"Aduh...!" Suasana hutan kembali sunyi.
Salima dengan tangan dingin telah menyelesaikan pertempuran itu. Pertempuran yang berat sebelah karena para perampok tentu bukan tandingannya. Ia merasa gemas karena orang-orang itu tak mau pergi dan terus mengeluarkan kata-kata kotor.
Saat semua orang menggeletak mandi darah dan Salima menendang mayat Cen Hok, terdengar kekeh yang mengerikan di dalam hutan.
"Heh-heh, kau pantas menjadi anggota kami, Tiat-ciang Sian-li. Sepak terjangmu telengas dan cocok menjadi orang kedelapan dari Jit-mo Kang-ouw!"
Salima terkejut. Ia merasakan getaran kuat dari suara ketawa itu; bumi berderak dan daun pohon bergerak-gerak seolah kedatangan gempa. Meski tidak melihat seorang pun, Salima tiba-tiba berkelebat masuk ke dalam hutan.
"Kau siapa?" bentaknya.
Bentakan itu disambut kekeh yang semakin mengerikan. Tawa yang dalam dan bergulung-gulung itu mendadak membuat sebatang pohon roboh, hampir menimpa Salima. Marah mendengar tawa di sebelah kirinya, ia melejit dan membentak gusar, "Setan jahanam, siapa kau yang bersikap pengecut? Ayo keluar dan hadapi aku!"
"Krak-bum!" Salima menghantam roboh sebatang pohon tempat suara tawa itu terdengar. Terdengar pekik tertahan, namun tawa itu kembali terkekeh-kekeh tanpa terlihat bayangan siapa pun.
Saat Salima mengobrak-abrik pohon-pohon besar yang disangka sebagai tempat persembunyian lawan, sekonyong-konyong tiga benda berwarna merah menyambar dirinya.
"Sshh!" Salima menjengek. Ia melihat tiga benda terbang itu adalah ular merah yang berbahaya, bisanya ganas dan amat beracun. Namun, Salima meniup dan mengibaskan lengan ke depan sehingga ketiga ekor ular itu roboh dan hancur di tengah jalan.
"Krekk!" Tawa yang tadi bergulung-gulung mendadak lenyap.
Salima mendengar seruan marah di sebelah kanannya. Sebuah benda hitam tiba-tiba kembali menyambar dari belakang—sebuah serangan yang amat curang. Salima kembali mendengus dan mengibaskan lengan tanpa menoleh, memukul runtuh benda tersebut yang ternyata seekor ular lagi.
"Pletak!" Sekarang empat bangkai ular malang-melintang di depan kaki Salima.
Salima tidak lagi mendengar suara lawan, melainkan tiupan suling yang aneh; tinggi rendah melenggang-lenggok. Tiba-tiba hutan berkeresek dan ratusan ekor ular merayap datang.
"Ha-ha, kau bertemu dengan Coa-ong Tok-kwi, Salima. Anak buahku datang menyambut dan memberi hormat!"
Salima terbelalak. Ia merasa jijik melihat ratusan ular yang kini mengepungnya, mendesis di sekitar dirinya tanpa jalan keluar. Bau amis dari ratusan ular itu membuat perutnya mual. Ia bersiap meloncat ke atas pohon, namun ketika suling ditiup tinggi, puluhan ular segera merayap naik ke pohon yang diincar Salima. Seluruh pohon kini ditempeli binatang-binatang melata itu, termasuk tanah dalam radius sepuluh meter di sekelilingnya.
Kejadian itu berlangsung sekejap mata. Salima memandang marah dan melihat sebuah bayangan berkelebat di belakang barisan ular. Seorang kakek tua yang hanya bercawat.
"Heh-heh, kau tak dapat keluar lagi, Tiat-ciang Sian-li. Sekarang dirimu terkepung dan tak mungkin terbang tanpa sayap!"
Salima bersiap menghadapi ratusan ular yang kini berhenti dalam jarak dua meter atas perintah suling yang mengalun rendah.
"Kau siapa?" bentaknya marah, memandang kakek yang hanya bercawat itu dengan wajah memerah.
"Aku Coa-ong Tok-kwi (Iblis Beracun Raja Ular)!"
"Dari mana kau tahu nama julukanku?"
Coa-ong Tok-kwi tertawa nyaring. "Aku tahu karena aku telah mendengar ciri-cirimu, Salima. Kau gadis Tar-tar yang telah membuat onar di kota raja. Heh-heh, aku gembira, sepak terjangmu membunuh tikus-tikus busuk ini pantas mendudukkan dirimu dalam jajaran Jit-mo Kang-ouw!"
Coa-ong Tok-kwi kembali meniup sulingnya, menyuruh ular-ularnya menegakkan kepala. "Anak-anak, beri hormat pada calon ibu kalian!"
Salima terbelalak. Ia melihat ratusan ular itu tiba-tiba mengangkat tubuh sebatas perut, menegakkan kepala, mendesis di depan tubuhnya, lalu secara aneh mengangguk dan kembali meletakkan tubuh ke tanah. Persis seperti orang memberi hormat.
Ketika Salima tertegun, Coa-ong Tok-kwi berlutut di belakang barisan ularnya sambil mengangkat tongkat ular kering. "Tiat-ciang Sian-li, kita berjodoh menjadi suami-istri. Dewa Ular mempertemukan kita... Wushh!"
Coa-ong Tok-kwi meniup tongkat ularnya, menyemburkan lima jarum merah ke arah rambut Salima.
"Plak!" Salima menangkisnya dengan marah.
"Coa-ong, aku bukan penyembah dewa ularmu. Kau jangan gila bicara tentang suami-istri!"
"Ah, kau menolak pertemuan ini?" Coa-ong terbelalak. "Kau merendahkan Dewa Ular yang telah mempertemukan kita? Uweh, jangan main-main. Kita telah ditakdirkan berjodoh. Aku telah lama menunggu calon ibu bagi anak-anakku!"
Salima merasa mual memandang cawat dekil itu yang baunya tercium hingga sepuluh meter.
"Coa-ong Tok-kwi! Jangan gila membicarakan soal jodoh. Kau tua bangka tak tahu malu, siapa sudi menjadi istrimu? Menjadi pelayanmu pun tak ada gadis yang sudi. Cih!"
"Tiat-ciang Sian-li, kau memang calon istri yang aneh. Dewa Ular memberitahuku untuk menyambutmu baik-baik, kenapa kau memaki? Lihat, meskipun tua, aku masih kuat. Semalam aku dapat menggauli sepuluh gadis dusun tanpa letih. Kau tak perlu malu mendapat suami seperti aku!"
Coa-ong Tok-kwi tertawa, menari meliuk-liukkan pinggang, lalu meniup sulingnya. "Anak-anak, bawa calon ibumu kemari!"
Suara suling melengking tinggi membuat barisan ular merayap maju dengan mulut terbuka. Salima marah dan berkelebat ke depan, menginjak hancur ular-ular yang berada paling dekat.
"Kres-kres!"
Coa-ong Tok-kwi terbelalak dan menghentikan sulingnya. "Tiat-ciang Sian-li, kenapa kau membunuh calon anak-anak tirimu sendiri? Mereka tidak menyerang, mereka hanya ingin membawamu!"
Salima menjengek. "Kalau mereka tidak menyerang, tentu tak akan membuka mulut. Karena mereka bergerak mendekat, maka mereka akan kubunuh!"
"Tidak bisa! Mereka anak-anak yang baik, mereka penurut. Lihat!" Coa-ong meniup sulingnya, menyuruh ular-ularnya menari. "Hayo, tunjukkan pada calon ibu kalian bahwa kalian anak-anak baik. Menari dan melengganglah sesuka hati. Yang lucu, buat ibu kalian tertawa!"
Salima mengerutkan kening. Kakek ini rupanya tidak waras, namun lihai bukan main. Tawa yang begitu saja mampu merobohkan sebatang pohon. Ia memandang ke depan dan hampir terkekeh melihat ratusan ular itu maju-mundur, melenggang, bahkan ada yang saling belit dan bercumbu mengikuti perintah Raja Ular itu.
Saat suara suling meninggi dengan irama panas, Coa-ong tertawa. "Lihat, mereka kawin di depan mata kita, Sian-li. Itulah cara anak-anak memadu berahi!"
Wajah Salima memerah. Pasangan ular yang "berpelukan" itu mendadak lekat menjadi satu, berdiri dengan cara aneh di atas ekor, lalu sang betina roboh ke tanah dengan tubuh penuh lendir.
"Ha-ha, bagaimana, Sian-li?"