Chapter 58
"Nikmat mereka bermesraan, bukan?" Salima muak.
Dia jengah dan marah oleh pertunjukan yang dilakukan oleh Raja Ular ini. Dia segera melengos ketika pasangan yang lain roboh ke tanah dan satu per satu melepaskan diri, maklum bahwa hajat sang jantan telah terlampiaskan.
Salima yang melotot marah memandang kakek itu, lalu membanting kaki seraya berseru nyaring, "Tok-kwi, aku muak dengan segala pertunjukanmu ini. Usir ular-ularmu dan jangan ganggu aku!"
"Heh-heh, itu tentu kulakukan kalau kau mau memenuhi permintaanku, Sian-li. Kita menjadi suami istri dan bikin anak-anak yang banyak!"
"Cih!" Salima semakin marah. "Kau tak mau mengusir ular-ularmu ini? Baik, kalau begitu mereka akan kubunuh!"
Salima berkelebat ke depan dan mendorongkan tangannya ke kiri dan kanan. Dia melepaskan pukulan untuk membunuh ular-ular itu karena sudah marah dan tak mau banyak bicara lagi dengan Coa-ong Tok-kwi yang gila. Ular-ular itu mendesis, banyak di antaranya yang terlempar oleh pukulannya, hangus oleh *Tiat-lui-kang* yang berhawa panas.
"Anak-anak, serang dan tangkap wanita liar itu!"
Ratusan ular itu tiba-tiba bergerak. Salima mungkin telah membunuh tiga puluh ekor, sementara belasan ekor lainnya menggeliat dalam keadaan sekarat. Tak ada yang melawan karena perintah si Raja Ular belum terdengar. Namun, begitu Coa-ong meniup sulingnya dengan nada tinggi sebagai aba-aba menyerang, ratusan ular yang merayap cepat itu langsung menyerbu Salima.
"Ssh-sshh!" Salima terbelalak. Dia melihat lidah yang menjulur keluar-masuk, lidah bercabang dari ular yang beraneka ragam. Ada yang besar, ada yang kecil, semuanya menyerbu mengikuti perintah suling.
Salima yang marah dan jijik tidak mau ditangkap. Dia melengking tinggi dan mengibaskan tangannya ke sana kemari, memukul dengan *Tiat-lui-kang* hingga seratus ular roboh bergelimpangan. Di depan kakinya, ular-ular itu menggunduk, menjadi daging menjijikkan yang menggeliat lemah.
Ketika Coa-ong meniup sulingnya semakin tinggi dan ular-ular yang masih hidup menyerang tanpa menghiraukan kematian teman-temannya, tiba-tiba Salima merasa pusing dan mau muntah karena bau yang amat amis dan uap beracun yang mulai keluar dari tubuh ular-ular itu.
"Coa-ong, berhenti. Kalau tidak, kubunuh semua ular-ularmu ini!"
Coa-ong tidak menghentikan tiupan sulingnya. Dia melihat Salima mulai batuk-batuk, berlompatan sambil terus melepas pukulan. Pukulannya hebat sekali; ular-ular tidak ada yang dapat mendekati tubuhnya dalam jarak dua tombak, selalu terlempar dan mati sebelum sempat menggigit gadis Tartar itu. Namun, karena uap beracun semakin memenuhi tempat itu dan jumlah ular yang luar biasa banyak, Salima semakin pusing. Mendadak gadis itu terhuyung dan muntah-muntah, tidak dapat menahan rasa mual di perutnya.
"Ha-ha, sekarang kau roboh, Salima. Anak-anakku akan memberimu pelajaran dan menundukkanmu!" Coa-ong Tok-kwi tertawa. Betapapun kagum, dia juga marah melihat ular-ularnya tinggal separuh dengan bangkai di mana-mana. Salima mulai limbung dan tidak dapat keluar dari tempat itu karena delapan penjuru sudah dipenuhi ular.
Ketika Salima memaki-maki dan mengeluh sambil mendekap dadanya yang sesak, tiba-tiba tanpa diduga seseorang muncul membawa obor.
"Lihiap, ular takut dengan api. Terimalah ini!"
Salima dan Coa-ong Tok-kwi terkejut. Mereka melihat seorang pemuda bertubuh tegap berusia sekitar tiga puluh tahun muncul. Pemuda itu tampak gagah dengan dagu berlekuk dan mata yang bersinar-sinar. Ketika Salima tertegun dan pemuda itu melempar obornya, barisan ular tiba-tiba menyibak dan mundur ketakutan.
"Wutt!" Salima menangkap obor itu. Dia mendengar Coa-ong berteriak marah dan ular-ular tiba-tiba berbalik, mendesis menjauhi obor yang dipegang. Sebentar kemudian ular-ular itu lari berserabutan dan saling menyusup di antara sesamanya, tentu saja membuat Coa-ong marah dan mencak-mencak.
Ketika suling berhenti ditiup dan kakek bercawat itu berkelebat ke arah pemuda yang baru datang, mendadak si Raja Ular melepaskan totokan ke ubun-ubun pemuda itu.
"Orang she Yu, kau berani mati!"
Pemuda itu mengelak. Dia tidak berani menerima totokan karena terlalu berbahaya. Namun, Coa-ong yang menggerakkan kaki dari bawah tahu-tahu menendang, membuat pemuda itu terlempar.
"Dess!" pemuda itu berteriak kaget. Dia berguling menjauh, meloncat bangun, dan secepat kilat mencabut *siang-kiam* (sepasang pedang), melihat bayangan kakek bercawat itu mengejarnya. Ketika suling bergerak dan kembali menotok ubun-ubun kepalanya, pemuda gagah yang sudah melenting bangun itu langsung menangkis.
"Trak!" Salima terbelalak. Dia melihat pedang pemuda itu mental, kalah oleh suling di tangan Coa-ong Tok-kwi karena kalah tenaga. Coa-ong yang menggerakkan kaki dari kiri ke kanan tiba-tiba membuat pemuda itu mencelat dan jatuh di tengah-tengah barisan ular!
"Heii...!" Salima melihat adanya bahaya. Dia melejit dan mendorongkan lengannya, tetapi si pemuda yang berjungkir balik dan menggunakan pedang untuk menusuk tanah, tiba-tiba sudah berjempalitan dan keluar dari kepungan ular. Gadis Tartar itu memandang kagum saat melihat pemuda tersebut mengusap peluh.
Ketika dua pasang mata bertemu dan pemuda itu mengucap terima kasih atas bantuan Salima yang sebenarnya gagal karena si pemuda sudah mampu menyelamatkan diri sendiri, Salima tergetar oleh senyum pemuda tak dikenal itu.
"Lihiap, terima kasih. Coa-ong memang cukup berbahaya!"
Salima tertegun. Barisan ular sekarang sudah menjauhi mereka meskipun masih mengepung. Si pemuda tak dikenal yang kini berada di tengah kurungan ular bersama dirinya tiba-tiba menghadapi Coa-ong Tok-kwi yang marah-marah sambil mengepal tinju.
"Siang-kiam-houw Yu Bing, kau benar-benar mencari penyakit. Kubunuh kau, keparat!"
Siang-kiam-houw (Harimau Berpedang Sepasang) yang berdiri di sebelah Salima tersenyum mengejek, tidak kelihatan takut sedikit pun. "Tok-kwi, kau berkali-kali menyatakan hendak membunuhku. Tapi setiap kali itu pula aku selamat. Apakah ancamanmu kali ini juga terbukti? Kau memang iblis yang berbahaya, Tok-kwi. Tapi aku orang she Yu akan selalu menentangmu setiap kejahatan yang kau perbuat!"
"Keparat, apakah pamanmu tidak mengajari adat kepadamu? Kenapa kau selalu usil mencampuri urusanku?" Si Raja Ular mencak-mencak, agaknya memandang seseorang yang berada di belakang pemuda itu. Tapi si Harimau Berpedang Sepasang yang gagah mengedikkan kepalanya, justru menghadapinya dengan tenang.
"Tok-kwi, tak perlu kau menyebut-nyebut pamanku. Kita berhadapan secara pribadi. Kau majulah kalau kau ingin mengganggu nona ini!"
"Kau minta mampus?"
"Kalau kau bisa membunuh aku. Aku siap membela nona ini!"
Siang-kiam-houw Yu Bing membuat Coa-ong Tok-kwi mencak-mencak dan semakin marah. Tiba-tiba kakek itu memencet tongkat ularnya dua kali.
"Bocah, mampuslah... cet-cett!"
Yu Bing mengelak. Dia lupa kalau Salima kebetulan ada di belakangnya, sehingga gadis itu menggantikan posisinya menerima sambaran dua sinar merah yang bukan lain adalah jarum-jarum berbahaya. Namun, Salima meniup dan memukul runtuh dua jarum itu, tiba-tiba melompat maju ke depan karena penasaran dan marah pada kakek iblis ini.
"Saudara Yu, kau mundurlah...!"
Yu Bing terkejut. Saat itu Coa-ong kembali menyerang, tiga sinar hitam kali ini menyambar mukanya. Tapi karena Salima meloncat ke depan dan otomatis menerima sambaran tiga sinar hitam itu, Yu Bing berteriak kaget melihat Salima tidak mengelak.
"Nona, awas...!"
Salima tersenyum mengejek. Dia tahu sambaran tiga sinar hitam itu, sengaja tidak mengelak, menggerakkan lengan, dan mengepret dengan kelima jarinya menggunakan *Tiat-lui-kang*. Ketika jarum kembali dipukul runtuh dan Salima sudah berhadapan dengan kakek iblis itu, sementara ular di sekeliling dirinya kian mundur menjauh karena takut pada obor di tangan kirinya, Coa-ong terbelalak sementara Yu Bing terpesona memandang kagum.
"Tok-kwi, kau rupanya suka menggunakan senjata rahasia. Nah, mari kita bertempur dan biarkan ular-ularmu menyingkir... blub!"
Salima melempar obor ke tengah-tengah barisan ular. Obor itu meledak, menumpahkan minyaknya dan seketika membuat kebakaran di tempat itu. Api menjilat ranting-ranting kering dan tentu saja ular-ular itu berlarian menjauh, kelabakan!
Ketika Coa-ong berteriak dan Salima bebas menghadapi kakek ini, Siang-kiam-houw Yu Bing juga melompat maju, khawatir membiarkan Salima.
"Nona, mundur. Biarkan aku saja yang menghadapinya!"
Salima menggeleng. "Tidak, biarkan aku yang menghadapinya, Saudara Yu. Lebih baik kau gebah saja ular-ular yang lain kalau kakek ini memerintahkan anak buahnya."
"Tapi iblis ini licik sekali, Nona. Dia..."
"Sudahlah," Salima memotong. "Aku tak takut pada segala kecurangannya, Saudara Yu. Kau mundur dan biarkan aku sendiri!"
Yu Bing tertegun. Dia melihat kekerasan Salima yang tak dapat dibantah, kembali beradu dengan sinar mata si gadis Tartar yang dingin menusuk tulang, angkuh, dan agak sombong. Perintahnya seperti perintah seorang ratu!
Yu Bing menghela napas dan mengangguk. Dia akhirnya berkata perlahan, "Baiklah, tapi hati-hati menghadapinya, Nona. Coa-ong Tok-kwi terkenal sekali dengan permainan *Sin-coa-kun*-nya. Tongkatnya menyimpan banyak senjata rahasia yang aneh-aneh!"
Salima tersenyum sinis. Dia tak menghiraukan kata-kata itu dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Ketika lawan mendelik sambil meremas tongkat, Salima sudah berkata menantang sambil menggosok telapak tangannya, bersiap-siap dengan *Tiat-lui-kang*, "Coa-ong, kau boleh maju kalau ingin merasakan kelihaianku."