Chapter 59
"Pergunakan senjatamu, aku akan bertangan kosong!"
"Hieh!" Kakek itu mendelik. "Kau sombong berani mati, Tiat-ciang Sian-li? Kalau begitu awas, aku akan membekukmu... heh!"
Coa-ong Tok-kwi menggeliatkan pinggang seperti ular dan sekonyong-konyong menubruk ke depan. Kedua lengannya terulur cepat membentuk paruh, atau mungkin kepala ular. Ketika tangan yang mirip moncong itu mendekati sasaran, tiba-tiba kakek itu membuka jarinya dan secepat kilat memagut.
"Wussh...!" Salima mendengar desis seperti ular. Ia tertawa dingin dan tidak mengelak pagutan itu. Ketika lawan menubruk dan hendak mengadu kekuatan, tiba-tiba dengan bentakan yang sama, Salima menangkis dan mengerahkan Tiat-lui-kangnya.
"Plak!" Coa-ong Tok-kwi berteriak tergetar. Lengannya mental, ia terbelalak melihat tangan lawan yang merah seperti besi membara, panas menyengat, dan membuatnya kaget.
Namun, Coa-ong Tok-kwi yang sudah membalik seperti ular mendadak meliuk dan kembali menyerang. Kali ini tangan kirinya menyambar, juga membentuk paruh atau moncong ular; mematuk dan memagut, sebentar kemudian membuka dan menutup seolah ular yang menggigit. Gerakannya cepat dan melenggang-lenggok dengan pinggang patah-patah.
Serangan itu hebat dan berbahaya karena kedua lengannya mulai mengeluarkan bau amis dan berlendir, membuat Salima mengerutkan kening. Ia merasa jijik sekaligus heran bagaimana kakek itu dapat mengeluarkan bau wengur, persis seperti ular beracun.
Ketika Salima menangkis dan lengannya bertemu lengan lawan yang licin menjijikkan, sekonyong-konyong Coa-ong Tok-kwi berkelebat lenyap sambil terkekeh-kekeh, menyerang dari segala penjuru. Sebentar kemudian, lendir yang membasahi kedua lengannya bercipratan ke sana kemari, membuat Salima ingin muntah. Ia harus menampar atau mengibas mempergunakan ujung bajunya agar lendir itu tak mengenai tubuhnya.
Saat Coa-ong menggunakan sulingnya, senjata pemanggil ular itu mengaung-ngaung mengiringi Sin-coa-kun-nya. Salima tersentak kaget ketika suara suling itu menggelitik telinganya.
"Awas, tutup pendengaranmu dari suara suling, Nona! Kakek itu mempergunakan Sin-im-nya (Suara Suling Ular)!" seru Yu Bing. Ia melihat Salima terdesak, sementara dirinya sendiri sudah menutupi telinga dengan kapas agar tidak terpengaruh suara suling ular tersebut.
Salima membentak, menyobek baju sendiri, lalu menyumbat telinganya menuruti seruan Siang-kiam-houw. Hal itu benar-benar dapat menahan suara suling yang membuat telinga gatal tersebut. Tentu saja hal itu membuat Tok-kwi marah-marah dan mencak-mencak memaki pemuda itu.
Setelah dapat bertahan, Salima segera membalas serangan. "Plak-plak-plak!" Salima mulai maju kembali. Ia mempergunakan Tiat-lui-kangnya, Tamparan Tangan Petir, untuk membalas dan mendesak lawan dengan tubuh berkelebatan.
Saat Salima mengerahkan ginkang, pertempuran seru terjadi di antara keduanya. Saling pukul, tangkis, dan desak-mendesak berlangsung hingga lima puluh jurus dengan cepat. Ketika Salima berani menangkis suling di tangan kakek itu dengan Tiat-lui-kang, senjata tersebut pun hancur.
"Prakk!" Coa-ong Tok-kwi memaki kalang-kabut. Ia membuang sulingnya dengan marah, sementara Yu Bing memandang dengan takjub akan kehebatan Tiat-lui-kang. Tiat-lui-kang ternyata lebih ampuh dibandingkan sepasang pedang yang tadi bahkan terpental dan tak mampu membacok suling tersebut, padahal senjata itu terbuat dari bambu.
Ketika suling hancur dan Salima ganti mendesak dengan tamparan atau kepretan jari yang bertubi-tubi, kakek itu mencabut tongkat ularnya. "Tiat-ciang Sian-li, kali ini kau tak dapat menghancurkan senjataku!"
Salima bersinar-sinar. Ia merasa besar hati oleh gebrakan terakhir tadi karena mampu meremukkan suling dan sinkangnya hampir berimbang dengan kakek itu. Namun, lawan kini menggunakan senjata baru yang lebih hebat, sebatang tongkat ular yang lebih keras dan liat.
Ketika kakek itu maju kembali dan Tiat-lui-kang tidak mampu menghancurkan tongkat yang lentur itu, tiba-tiba Tok-kwi terkekeh dan melepas jarum-jarum beracunnya. "Heh-heh, ini lebih berbahaya, Sian-li. Kau akan roboh dan terjungkal di hadapanku... cet-cet!" Coa-ong memencet gagang tongkatnya, menyemburkan tiga sinar kuning yang berkeredep seperti emas. Salima terkejut karena jarak mereka terlalu dekat.
Ia terpaksa menangkis sembari berkali-kali membatalkan serangannya sendiri karena diganggu semburan senjata rahasia yang melesat tanpa diduga. Saat Salima mundur, Coa-ong Tok-kwi melancarkan pukulan dengan tangan kiri, dan tiba-tiba jari-jari yang kurus panjang itu mulur!
"Heh-heh, mampus kau, bocah...!" Salima terkejut. Ia baru saja meruntuhkan lima jarum merah yang menyambar mukanya, hendak membalas, namun melihat lawan sudah menubruk dengan tangan terulur. Ia mendengar jari-jari berkerotok dan tangan lawan memanjang. Saat Salima mengelak, tangan yang mulur seperti karet itu mencengkeram dadanya!
"Aih... bret!" Salima membanting tubuh bergulingan. Ia hampir saja diremas dadanya, namun cepat melompat bangun. Baju luarnya koyak, memperlihatkan baju dalam, sementara kakek itu tertawa kurang ajar.
Ketika Coa-ong mengejar dan kembali memencet tongkat untuk melepas jarum, Salima melengking tinggi sembari mencabut benderanya—bendera Tar-tar yang dulu dipergunakan untuk memengaruhi suheng-nya agar pulang keluar Tembok Besar.
"Coa-ong, kau tua bangka keparat... crep-crep!" Salima mengebut benderanya, menyambut tujuh sinar hitam yang kini menancap di kain bendera, mengejutkan lawan. Coa-ong terbelalak, namun Salima telah mengibas dan mengebutkan benderanya untuk kedua kali guna meretour jarum-jarum beracun ke arah pemiliknya. Tujuh sinar hitam itu terbang menyambar Coa-ong Tok-kwi!
"Aih, tak-tak-tak...!" Coa-ong menangkis dengan tongkat ularnya untuk meruntuhkan jarum-jarumnya sendiri. Ketika ia tergetar, Salima telah melompat dan menyerbu dengan benderanya.
"Wut-wuut...!" Kain bendera menyambar secara berkibar dari atas ke bawah, siap menutupi kepala dan menghalangi pandangan kakek itu. Ketika Coa-ong menangkis, pukulan Tiat-lui-kang menyambar dari bawah, tersembunyi oleh kain bendera.
"Dess!" kakek itu mencelat. Ia menjerit marah setelah menerima pukulan telak. Dadanya terasa panas, sukar bernapas, dan terasa ampeg. Saat ia memaki dan melompat bangun, Salima terus mengejar dengan pukulan serupa. Kain bendera berkibar kian kemari menghalangi pandangan kakek itu hingga ia kewalahan.
"Tiat-ciang Sian-li, kau wanita curang! Benderamu menutupi mata!"
Salima tak peduli. Ia tersenyum mengejek, terus mendesak, dan kembali mendaratkan Tiat-lui-kang di leher kakek itu. Namun, Coa-ong masih dapat bangkit dan bertahan, yang diam-diam membuat Salima kagum. Jika tidak memiliki sinkang yang kuat, tak mungkin Raja Ular ini mampu menerima Tiat-lui-kang tanpa remuk dan hangus tubuhnya.
Saat kembali menerima pukulan dan terguling-guling sambil mengumpat, Salima berkelebat melepas pukulan berbareng. "Tok-kwi, kau mampuslah...!"
Raja Ular itu terbelalak melihat Salima mengebutkan bendera, gagangnya menotok sementara Tiat-lui-kang kembali menyambar di balik kain bendera menuju ulu hatinya. Tok-kwi yang pucat menggereng marah, menggerakkan tongkatnya untuk menangkis bendera, sementara tangan kirinya merogoh baju dan mengeluarkan seekor ular kecil berkulit emas.
Begitu Tiat-lui-kang menyambar dan tongkat bertemu bendera, kakek itu melempar ular emasnya ke pundak Salima. Yu Bing berteriak kaget, "Awas, Kim-siauw-liong (Naga Kecil Emas), Nona...!"
Salima terkejut melihat berkelebatnya ular itu. Ia mencium bau harum yang enak namun memabukkan. Ia maklum bahwa itu adalah Kim-siauw-liong, ular simpanan Coa-ong yang paling berbahaya di dunia; ular bertubuh harum namun bisanya luar biasa ganas. Saat Salima menarik bendera untuk mengebut ular itu, ia berseru kaget ketika Kim-siauw-liong menggigit dan menerobos kain bendera yang sudah berlubang, tetap menyambar pundaknya untuk menancapkan bisa, bahkan saat Coa-ong terbanting menerima Tiat-lui-kang. Ular itu tak kenal menyerah dan akan menggigit korban sampai roboh.