Chapter 60
Salima, yang tentu saja marah dan melempar tubuhnya hingga berguling-guling, mendadak melihat ular itu sudah mendekati pundaknya. Ular itu membuka mulut lebar-lebar dengan dua taring kecil berwarna putih yang siap memagut. Harum tubuh ular itu semakin menyengat dan membuat Salima pening.
Namun, Yu Bing berkelebat ke depan dan melempar sesuatu, yang tiba-tiba menghentikan gerakan ular tersebut. Ular itu pun menggigit benda tersebut dengan terkejut; ternyata itu adalah lengan karet yang menyerupai lengan manusia.
"Awas... crep!" ular itu menggigit dengan marah.
Ia tertahan oleh lengan buatan itu dan mendesis, mengejutkan Coa-ong yang melihat ularnya jatuh ke tanah. Serangan itu gagal mengenai Salima yang terus bergulingan untuk menyelamatkan diri. Ketika gadis itu melompat bangun dan Coa-ong membentak serta memaki Yu Bing, tiba-tiba kakek itu melejit menyambar ularnya.
"Siang-kiam-houw, kau pemuda yang tidak tahu aturan!" maki Coa-ong.
Yu Bing mengelak. Dia melihat kakek itu melepas sebuah jarum, bersiap-siap jika kakek itu kembali menyerang. Namun, Coa-ong yang telah menyambar ularnya segera melompat pergi dan melarikan diri. Ia hanya memaki dan menyerang pemuda itu sekali saja, lalu memekik-mekik di kejauhan, rupanya penasaran atas bantuan pemuda tersebut kepada Salima, gadis yang hampir saja ia robohkan.
Salima yang tertegun melihat kakek itu melarikan diri tiba-tiba membentak, "Coa-ong, jangan lari kau!" Namun, baru saja ia menggerakkan kaki untuk mengejar, Salima tiba-tiba terguling dan roboh dengan keluhan.
"Aih... bluk!" Yu Bing terkejut.
Dia melihat Salima terguling tanpa sebab, hanya mengeluh dan tidak mampu melompat bangun. Ketika ia berkelebat menghampiri dan berseru memanggil, ternyata Salima telah pingsan karena bau harum *Kim-siauw-liong* yang terhirup hidungnya. Bau harum ular itu mengandung racun!
"Ah, celaka!" Yu Bing sadar, teringat akan bahaya ular tersebut yang amat ganas. Bau tubuhnya saja sudah cukup membuat orang pingsan. Yu Bing segera bergerak menyambar Salima, lalu terbang meninggalkan tempat itu menuju ke arah barat karena khawatir Coa-ong akan kembali dan lokasi tersebut tidak aman untuk menolong Salima.
Dengan mengerahkan *ginkang*, Siang-kiam-houw Yu Bing akhirnya lenyap meninggalkan hutan, sementara Coa-ong juga melarikan diri karena kegagalannya merobohkan Salima.
***
"Nona, bagaimana perasaanmu?" Salima membuka mata.
Ia berada di sebuah gua yang terang, masih merasa pening, dan mendengar pertanyaan Siang-kiam-houw Yu Bing, pemuda gagah yang telah menolongnya. Saat Salima samar-samar teringat kejadian di dalam hutan dan terkejut oleh bayangan Coa-ong, ia mencoba melompat bangun, namun ia roboh kembali. Ia kaget karena tenaganya seakan hilang begitu saja.
"Ah, mana setan tua itu, Saudara Yu? Kenapa tenagaku hilang begini?" Salima tampak pucat. Yu Bing segera menolongnya bangun, jemarinya tergetar saat meraba pundak halus gadis itu, sementara mata Salima yang terbelalak tampak bersinar-sinar.
Yu Bing menahan debaran jantungnya, mendudukkan Salima di pembaringan batu, lalu memejamkan mata dan berkata perlahan, "Coa-ong tidak ada di sini lagi, Nona. Kau aman di tempat tinggalku sendiri."
Salima tertegun. "Begitukah?" Ia melihat pemuda itu memejamkan mata. "Kenapa kau menutup matamu, Saudara Yu? Apakah kau sakit?"
Yu Bing tersenyum. "Tidak," katanya yang membuat Salima heran, seraya membuka matanya. "Aku tidak apa-apa, Nona. Tapi..."
"Tapi kenapa mulutmu meringis?" potong Salima, menyadari bahwa saat memejamkan mata tadi, pemuda ini tampak seperti orang yang sedang menahan sakit. Ia heran mengapa sekarang pemuda itu justru tersenyum.
Yu Bing tertawa pahit dengan wajah memerah, lalu menunduk dan menghela napas. "Aku tidak apa-apa, Nona. Aku... hanya kagum akan kepandaianmu yang hebat itu!"
Salima tidak percaya. Ia melihat pemuda itu berbohong dan menyembunyikan sesuatu. Namun, Yu Bing segera berpamitan untuk mengambil bubur dan menyuruh Salima beristirahat untuk memulihkan tenaga.
"Maaf, aku harus menyiapkan makananmu, Nona. Seharian kau pingsan dan membiarkan perutmu kosong. Tunggu sebentar..."
Salima tertegun saat pemuda itu pergi. Ia terbelalak mendengar dirinya ternyata telah pingsan selama sehari penuh. Ketika perutnya mulai keroncongan, Salima merasa malu. Tak lama kemudian, Yu Bing muncul membawa semangkuk besar bubur ayam dan teh panas, lalu meletakkannya di atas meja sembari tersenyum.
"Nona, kau harus memulihkan tenagamu dengan cepat. Hawa beracun dari ular *Kim-siauw-liong* telah lenyap dari tubuhmu. Ayo makan!"
Salima kembali tertegun. Ia melihat pemuda itu mempersiapkan segalanya dengan cepat, ramah, dan bersikap ceria. Namun, ketika pemuda itu hendak pergi dan Salima bangkit duduk, ia mengulurkan lengan dan berseru, "Saudara Yu, tunggu!"
Yu Bing berhenti. "Ada apa, Nona?"
"Kau hendak ke mana?"
"Aku hendak mengisi bak mandi, Nona. Biar kau bisa makan dengan tenang, dan setelah itu kau bisa mandi jika ingin membersihkan diri!"
"Hm," Salima heran. "Di sini ada sumber air?"
"Ya, di belakang, Nona. Aku membuat bak mandi dari tong kayu. Kau bisa mandi setelah makan!" Yu Bing tertawa dan kembali hendak keluar, namun dicegah oleh Salima.
Ketika pemuda itu heran, Salima bangkit berdiri dan memandang bubur ayam yang masih panas itu. "Siapa yang membuat ini?"
"Aku sendiri."
"Kau tidak punya teman?"
"Maksudmu?" tanya Yu Bing bingung.
"Kau tidak punya istri? Kau belum berkeluarga?"
Yu Bing tiba-tiba terbahak. "Nona, apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Aku tinggal sendiri di sini, aku belum berkeluarga dan tidak mempunyai istri!"
Salima mengerutkan kening, masih serius. "Kalau begitu kau pintar memasak! Bubur ayam ini rupanya mirip bubur naga yang biasa dihidangkan untuk kaisar!"
Yu Bing terkejut dan menghentikan tawanya. "Nona tahu tentang itu?"
"Tentu saja!" jawab Salima dengan bangga. "Kau memberi keningar dan kembang cengkeh di sini. Bubur itu harum dan merupakan salah satu makanan yang paling digemari kaisar. Aku heran bagaimana kau bisa membuatnya!"
Yu Bing membelalakkan mata lebar-lebar. "Nona, kau sungguh hebat. Tebakanmu tidak meleset sedikit pun. Itu memang bubur naga yang dagingnya kuganti dengan ayam!"
"Dan kau membiarkan aku makan sendiri?"
"Ah, lalu maumu bagaimana?"
"Aku tidak sanggup menghabiskan sebanyak ini, Saudara Yu. Sebaiknya kita bagi dua dan kau juga makan sebagian!" Salima duduk, memandang dengan mata bersinar, merasa kagum pada pemuda yang pandai menghidangkan makanan selezat itu.
Namun, Yu Bing tertawa lebar dan melompat keluar. "Nona, habiskan saja masakan itu. Kalau tidak habis, biar nanti sisanya kumakan!"
"Apa?"
Tetapi Yu Bing telah lenyap. Salima mendengar tawanya yang gembira di luar sana, terkejut dan wajahnya memerah mendengar perkataan orang itu. Namun, menganggap pemuda itu hanya bercanda dan berolok-olok, Salima mulai menikmati buburnya. Perut yang lapar terasa makin keroncongan karena bubur itu sangat harum dan sedap. Salima tidak sungkan-sungkan lagi menyantapnya hingga tenaganya mulai pulih.
Seperempat jam kemudian, saat Salima sudah kenyang dan tidak bisa menghabiskan seluruh buburnya, Yu Bing muncul dengan wajah berseri-seri. "Bagaimana, habis, Nona?"
"Tidak, perutku sudah penuh. Aku tidak sanggup menghabiskannya," jawab Salima. Ia melihat pemuda itu memandang mangkuk buburnya dengan senyum lebar.
Teringat godaan pemuda itu untuk memakan sisanya, Salima tertawa dan berkata, "Nah, kau boleh makan sisaku kalau mau, Saudara Yu. Tapi aku tidak memaksa kalau kau tidak suka!"
Aneh, Yu Bing mengangguk. Pemuda itu ikut tertawa, dan sementara Salima terheran-heran, Yu Bing menyambar mangkuk bubur itu dan benar-benar memakan sisa makanannya!
"Ha-ha, ini satu kehormatan besar bagiku, Nona. Terima kasih!"
Salima bengong. Ia melihat pemuda itu melahap sisa buburnya dengan menggunakan sumpit yang sama dengan miliknya. Sesaat kemudian, ketika sisa bubur itu habis dan Yu Bing menghapus mulutnya dengan ujung lengan baju, Salima tertegun dan hampir tidak percaya.
"Kau benar-benar memakannya?"
Yu Bing berbalik menghadapi Salima. "Kenapa tidak?" ia balik bertanya. "Bukankah kau yang menyuruhku, Nona? Dan aku merasakan buburku menjadi semakin sedap saja, ha-ha!"
Yu Bing menghentikan tawanya saat melihat wajah Salima memerah. Ia segera menjura dengan sopan. "Maaf, aku telah menyiapkan air untukmu, Nona. Kalau kau ingin mandi, silakan, akan kuantar ke belakang!"
Salima sadar. Tadinya ia hampir marah melihat Yu Bing tertawa, seolah kurang ajar dengan kata-katanya. Namun, melihat sikap pemuda itu yang wajar dan tidak dibuat-buat, Salima akhirnya menghela napas dan teringat bantuan orang itu.
"Saudara Yu, terima kasih. Kau rupanya sangat memperhatikan diriku!"
Yu Bing tersenyum. "Itu bukan masalah, Nona. Sesama orang gagah, kita wajib tolong-menolong. Marilah, Nona ingin mandi, bukan?"
Salima mengangguk. Ia merasa tubuhnya gerah dan lengket oleh keringat. Saat Yu Bing mengantarnya ke belakang dan berhenti di sebuah pintu bersekat, pemuda itu membungkuk sopan. "Nona, silakan masuk. Aku akan menunggumu di luar."
Yu Bing melangkah pergi dengan sikap ramah, membuat Salima kembali tertegun memandang punggungnya.
"Saudara Yu, adakah handuk di dalam?"
"Ada," jawab Yu Bing sambil berhenti sejenak. "Semuanya lengkap di dalam, Nona. Tapi maaf, gayungnya terbuat dari tempurung kelapa!"
Salima mengangguk. Ia melihat pemuda itu pergi dan segera lenyap di luar. Saat ia masuk ke tempat yang ditunjuk dan melihat perlengkapan di kamar mandi, Salima tersenyum melihat gayung yang dimaksud pemuda itu. Benar saja, gayung itu terbuat dari tempurung kelapa, namun berukuran sangat besar.