Chapter 61
Bak mandinya penuh air dan tampak jernih, dingin menyegarkan. Namun, Salima yang mengerutkan kening melihat pakaian wanita ada di situ, mendadak cemberut dan keluar lagi.
"Saudara Yu, di mana kau?" Yu Bing tiba-tiba muncul, tampak gesit dan sigap. "Ada apa, Nona? Ada yang kurang?"
"Tidak," Salima memandang curiga pemuda ini. "Tapi dari mana kau dapat pakaian-pakaian wanita itu? Kau bilang tidak berkeluarga, tapi..."
"Nanti dulu!" Yu Bing tampak terkejut melihat Salima bersinar marah. "Itu kudapatkan dari dusun di sebelah, Nona. Aku membelinya dan bukan dari siapa-siapa. Kusiapkan itu karena tak kulihat kau membawa pakaian ganti!"
"Hm," Salima sadar, semburat mukanya memerah. "Kalau begitu maaf, Saudara Yu. Rupanya aku terlalu curiga. Baik, terima kasih!"
Salima kembali ke kamar mandinya dan menyuruh Yu Bing pergi. Pemuda itu hanya tertegun sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Hebat, kalau marah seperti singa betina!"
Yu Bing menunggu di luar. Selama setengah jam, dia mendengar gejebar-gejebur air. Dia melihat Salima rupanya gembira benar mandi dengan air yang ia siapkan, tanpa tahu bahwa pemuda itu harus mengambil air tersebut cukup jauh, tak kurang dari dua kilometer, dari mata air jernih di kaki bukit.
Ketika setengah jam kemudian Salima muncul dan berganti pakaian baru, mendadak pemuda ini bengong dan kagum bukan main melihat kecantikan asli dari gadis Tatar itu.
"Aih, kau seperti seorang dewi saja, Nona!"
Salima terkejut. "Kau di sini?"
"Ya, eh... maaf!" Yu Bing bangkit berdiri, masih ternganga namun kini sadar akan sikapnya. Ia terpaku melihat rambut panjang Salima yang tergerai di belakang punggung, hitam lebat dan memikat, dibiarkan mengering karena masih basah. Ketika Salima tersenyum, Yu Bing merasa kepalanya jungkir balik, hingga akhirnya pemuda itu mendengar Salima tertawa.
"Saudara Yu, di mana aku bisa menyisir rambutku? Aku butuh tempat berangin, airnya segar sekali!"
"Ah, mari, Nona." Yu Bing melompat keluar gua. "Kau dapat mencari angin di batu besar itu. Tunggu sebentar, aku mengambil sisir!"
Salima mengangguk. Dia sudah keluar dari gua itu, melihat sebuah batu besar yang enak untuk tempat duduk. Ketika Yu Bing tergopoh masuk mengambil keperluannya, Salima sudah melompat dan duduk di atas batu besar itu, melonjorkan kaki, menunggu pemuda itu sambil mengibas-ibaskan rambutnya. Ketika pemuda itu muncul dan rambut Salima sudah kering, Yu Bing berdiri di bawah sambil terbelalak ke atas, melihat pipi Salima yang kemerah-merahan sementara gadis itu mulai menyisir rambutnya.
"Saudara Yu, ada apa kau melongo di sana?"
Yu Bing terkejut. "Eh, tidak... aku... ah... aku menunggu kalau-kalau kau memerlukan sesuatu lagi, Nona. Mungkin kau butuh ini-itu yang harus kuambilkan!"
Salima tertawa. "Kau lucu, aku tak memerlukan apa-apa lagi. Sebaiknya kita bercakap-cakap dan kau naiklah ke sini!"
Yu Bing merah mukanya. "Tidak," katanya tersipu. "Aku di sini saja, Nona. Dan kalau kau ingin bercakap-cakap, tentu saja aku gembira menerimanya!"
Yu Bing melihat Salima telah selesai menyisir rambut, menyanggulnya, dan kini mengenakan topi bulu burungnya itu; tampak gagah, anggun, dan agung. Ketika Salima tersenyum dan Yu Bing menahan debaran jantungnya, tiba-tiba Salima melompat turun.
"Baik, kalau begitu aku juga tak mau duduk di atas," kata Salima. "Kita bercakap-cakap sebagai sahabat, Saudara Yu. Tapi sebelum itu, biarkan aku kembali mengucap terima kasih atas semua bantuanmu!"
Salima mengangguk dan merangkapkan tangan, tiba-tiba membuat Siangkiam-houw Yu Bing kikuk. "Aih, jangan begitu, Nona. Tak perlu!"
Salima tersenyum, mulai tertarik memandang pemuda ini. Ketika dua pasang mata beradu dan Yu Bing tampak semburat merah, tiba-tiba Salima menarik napas. "Saudara Yu, kau ini sebenarnya siapakah? Bagaimana dapat datang secara kebetulan membantuku menghadapi si Raja Ular itu?"
Yu Bing dag-dig-dug. "Aku, hm... aku pengelana biasa saja, Nona. Datang secara kebetulan karena aku ingin mendatangi para perampok itu. Cen Hok membunuh seorang hartawan berikut anak istrinya. Aku ingin menghajar kepala rampok itu, apalagi dia main-main menggunakan nama Hek-eng Taihiap yang menjadi sahabatku!"
"Hm," Salima tertarik. "Jadi, dia bukan Hek-eng Taihiap?"
"Tentu saja bukan!" Yu Bing berkata gemas. "Sahabatku, Hek-eng Taihiap, sedang bepergian, Nona. Dia seorang pendekar, bukan penjahat macam Cen Hok dan anak buahnya itu!"
"Lalu bagaimana orang she Cen itu ada di hutan itu?"
"Dia datang untuk membalas sakit hati."
"Maksudmu?"
"Cen Hok pernah dihajar sahabatku, Nona. Dia mendapat hukuman keras tapi rupanya tidak kapok. Dia mendengar sahabatku pergi, lalu menggunakan hutan itu dan merusak nama baik dengan menyebut diri sebagai Hek-eng Taihiap, membunuh dan merampok hingga aku mendengar perbuatannya. Tapi ketika aku datang, ternyata kau telah membunuh manusia busuk itu!"
"Tentu saja," jawab Salima. "Dia coba-coba menggangguku, Saudara Yu. Sudah kuperingatkan tapi tak mau pergi. Karena dia memang menyebalkan, maka kubunuh perampok itu bersama anak buahnya yang kasar dan kurang ajar!"
Yu Bing mengangguk. "Memang tepat, Nona. Kalau kau tidak datang, tentu aku yang akan memberesi tikus-tikus busuk itu. Dan kau sendiri, bagaimana bisa berada di hutan itu?"
Salima tiba-tiba muram. Pertanyaan ini mengingatkan kisahnya dengan sang suheng; betapa dia marah dan membenci suhengnya itu. Dadanya tiba-tiba sesak dan matanya menjadi merah. Namun, Yu Bing yang melihat Salima tak menjawab, tiba-tiba merangkapkan tangan. "Maaf, pertanyaanku rupanya tak berkenan di hatimu, Nona. Aku menarik kembali pertanyaan itu dan biarlah kita bicara yang lain."
Salima mengangguk. "Saudara Yu, kau rupanya seorang pendekar yang baik hati. Kita memang sebaiknya bicara yang lain. Aku tak dapat menjawab pertanyaanmu karena akan mengungkit kepedihan hatiku. Sekarang bicara tentang dirimu, siapa itu pamanmu yang agaknya disegani Coa-ong? Dan ilmu silatmu lumayan juga, tapi kau masih tak dapat menandingi Raja Ular itu!"
Yu Bing merah mukanya. "Aku memang kalah dibanding iblis tua itu, Nona. Tapi aku tetap menentang perbuatannya yang jahat. Berkali-kali aku bertemu, tapi berkali-kali pula aku lolos dari tangan mautnya."
"Dan pamanmu itu, siapa dia?"
"Ah," Yu Bing mendadak muram. "Pamanku itu adalah seorang yang aneh, Nona. Sebaiknya aku tak usah memberitahukannya padamu. Dia orang she Yu, tindak-tanduknya luar biasa dan acap kali aku sendiri harus memusuhinya. Tapi dia sayang padaku, dia pulalah yang memberiku sekadar ilmu silat hingga aku mahir menggunakan sepasang pedang. Aku tak suka menceritakan keadaan dirinya, maaf!"
Salima mengerutkan kening. "Kau mau membalas sikapku?"
"Ah, tidak!" Yu Bing terkejut. "Aku tidak bermaksud membalas sikapmu, Nona. Tapi demi kebaikan kita bersama, sebaiknya cerita tentang pamanku itu tak perlu kusebut. Kau nanti akan benci padaku. Aku tak menghendaki itu!"
Salima merasa aneh. "Kenapa, Saudara Yu? Jahatkah pamanmu itu?"
Yu Bing tiba-tiba menutupi mukanya, gemetar. "Nona, jangan desak aku tentang cerita pamanku itu. Aku tak menghendaki persahabatan kita menjadi terganggu oleh persoalan ini. Kasihanilah aku, aku tak mau membicarakannya."
Salima mengangguk, matanya tiba-tiba bersinar. "Baiklah, aku mengerti perasaanmu, Saudara Yu. Aku tak akan mendesak kalau tak suka. Tapi seandainya, secara kebetulan aku bertemu pamanmu itu—aku tak tahu—lalu terjadi kesalahpahaman dan kami bertempur, apa yang akan kau lakukan bila sampai pamanmu terbunuh?"
Yu Bing pucat. "Aku tak mengharap kejadian itu, Nona. Dan kau pun tak akan gampang bertemu dengan pamanku itu!"
"Ya, tapi seandainya..."
"Tak ada pengandaian, Nona. Aku tak mengharap kau bertemu pamanku itu!" Yu Bing berseru keras, meninggi nadanya, dan tampak pucat memandang Salima.
Salima yang merasa heran dan curiga tiba-tiba tersenyum manis. "Baiklah, aku juga tak mengharap persahabatan ini terganggu oleh hal-hal lain, Yu-twako. Tapi kita berdua harus cukup terbuka dan jujur satu sama lain."
Salima mengubah sebutannya, tak lagi memanggil "Saudara Yu" melainkan "Yu-twako" (Kakak Yu). Yu Bing mengangguk, menghela napas, lalu berkata memandang gadis itu, "Ya, keterbukaan dan kejujuran memang diperlukan satu sama lain, Nona. Tapi tentu saja kita harus luwes menggunakannya. Kudengar suhengmu mengamuk di kota raja, betulkah?"
Salima mengerutkan kening. "Kau tahu dari mana?"
"Ah, semua orang mendengarnya, Nona. Masa kau tak tahu? Katanya kaisar memberikan selirnya yang paling cantik pada suhengmu itu. Betapa beruntungnya dia!"
Salima kaget bukan main, tiba-tiba melompat bangun. "Apa? Apa katamu...?"
Yu Bing heran, terkejut juga. "Aku mengatakan bahwa kaisar memberikan selirnya pada suhengmu itu, Nona. Dan katanya keributan itu terjadi karena salah paham!"
Salima tiba-tiba mencelat. "Bohong!" bentakannya mengejutkan Yu Bing. "Kau bohong, orang she Yu. Kau penipu...!"
Yu Bing tiba-tiba juga melompat bangun, kaget hatinya. "Eh, siapa bohong, Nona? Kenapa aku harus bohong? Kau boleh tanya semua orang bahwa kaisar memang memberikan selirnya itu pada suhengmu. Kalau tidak salah namanya Bi Nio, aku..."
*Plak! Plak!*
Salima tiba-tiba menampar, berkelebat, dan memekik marah hingga membuat Yu Bing terpelanting roboh dengan hati kaget bukan main. Ia tak tahu bahwa percakapan menjurus pada kesalahpahaman yang hebat; Salima mengira yang dimaksud Yu Bing adalah Kim-mou-eng, padahal sebenarnya adalah Gurba!
Salima melengking, membanting kaki, lalu membentak ketika Yu Bing melompat bangun, "Orang she Yu, kau pemfitnah jahanam! Kau benar-benar memiliki lidah tak bertulang. Siapa bilang suhengku mendapat hadiah selir dari kaisar? Apa maumu dengan omongan yang tidak keruan ini? Keparat kau, hati-hati menjaga lidahmu. Kalau tidak ingat pertolonganmu, tentu sudah kubunuh kau!"