Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 62

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 62

"Jahanam!" Keadaan yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat akibat kemarahan Salima membuat Yu Bing tertegun dan memandang gadis itu dengan bingung. Tak tahu mengapa gadis Tartar itu tiba-tiba marah begitu besar, seolah harimau yang anaknya diganggu. Salima menghentakkan kaki, mendelik ke arah pemuda itu, lalu memutar tubuh dan melompat pergi.

"Orang bermarga Yu, hati-hati menjaga lidahmu!"

Yu Bing terbelalak. Ia merasa seolah tersambar petir di siang bolong atau diterjang angin topan di cuaca cerah. Meski kaget, ia segera mengejar dan berseru, "Nona, tunggu!"

Salima mendengus. Ia tidak menghiraukan seruan itu, lalu mengerahkan ginkang dan berlari kencang dengan mata berapi-api. Ia sangat panas dan marah mendengar berita bahwa suheng-nya mendapatkan selir kaisar, padahal baru saja mereka berpisah.

Yu Bing berbohong, entah dengan maksud apa. Salima menduga pemuda itu sering melirik dan memandangnya diam-diam dengan penuh kekaguman karena naksir padanya. Mungkin setelah mengetahui kegagalan cintanya terhadap Kim-mou-eng, Yu Bing kini mencoba membangkitkan kebencian dengan mengarang cerita palsu sebagai taktik agar Salima terjebak dalam rayuan dan menerima cintanya. Pemikiran Salima semakin ngawur dan salah mengerti; maklum, orang yang sedang patah hati memang sangat mudah tersinggung. Darah akan naik ke kepala setiap kali mendengar sesuatu yang menyakitkan dari orang yang dicintai.

Yu Bing terus mengejar sambil berteriak agar gadis itu berhenti, yang justru semakin membuat Salima marah. Gadis itu menambah kecepatannya, bersiap memasuki hutan di depan. Karena ginkangnya lebih tinggi dari Yu Bing, Salima berhasil mencapai hutan lebih dulu. Namun, sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat dari samping—seorang laki-laki gagah dengan kumis pendek, mengenakan celana hitam dan ikat pinggang merah. Tepat saat Salima memasuki hutan, bayangan itu mencengkeram pundaknya dan membentak, "Nona, berhenti!"

Salima terkejut dan marah. Ia menyerang dari samping, namun saat ia menendang dengan kaki kanannya, orang itu menyambutnya dan menampar menggunakan Tiat-lui-kang.

"Pergi kau! Plak-dess!"

Orang itu berteriak kaget dan terjengkang oleh pukulan Tiat-lui-kang serta tendangan miring Salima. Saat ia berguling untuk bangun, Yu Bing datang dengan napas terengah-engah dan berteriak, "Siok-twako, tunggu! Tahan! Dia adalah Tiat-ciang Sian-li, Salima!"

Orang itu terkejut. Ia melihat Salima berdiri tegak dengan mata berapi-api, wajah merah, dan kedua lengan yang berkerotok. Yu Bing segera merangkapkan kedua tangan. "Nona, maaf, jangan menyerang. Inilah sahabatku, Hek-eng Taihiap Siok Gwan Beng. Dia baru datang dan tidak tahu persoalan kita!"

Salima tertegun. Siok Gwan Beng juga tertegun merasakan kelihaian Salima dalam gebrak cepat tadi. Hek-eng Taihiap kemudian tersenyum lebar, mengebutkan bajunya, lalu melompat maju dan memberi hormat. "Aih, maaf, Nona. Kiranya kau sumoi dari Kim-mou-eng yang gagah perkasa itu. Pantas ilmu silatmu hebat sekali dan pukulanmu luar biasa. Tentu itu Tiat-lui-kang!"

"Hm!" Salima mendengus, masih marah oleh persoalan Yu Bing. "Ada apa kau mengejarku dan menyuruh berhenti? Apa kau ingin mengeluarkan omongan tidak benar lagi?"

Yu Bing pucat dan menggigil. "Nona, kenapa kau marah? Siapa bilang aku mengeluarkan omongan tidak benar? Semua orang tahu suheng-mu menyerang kota raja, dan aku berani bersumpah Siok-twako pun mendengar sepak terjang suheng-mu yang telah bertemu kaisar itu!"

Hek-eng Taihiap mengerutkan alis. "Ada apa, Bing-te? Apakah kau maksudkan keributan antara suheng Nona ini dengan Jit-liong Ciangkun?"

"Ya, betul, Twako. Aku mengatakan bahwa kaisar memberi hadiah selirnya pada suheng Nona ini. Semua orang tahu, tapi Tiat-ciang Sian-li menganggapku memfitnah!"

Hek-eng Taihiap terkejut. Ia memang telah mendengar pertempuran besar antara suku Tartar dengan pasukan kerajaan. Gurba, suheng Salima, mengamuk bagaikan naga hingga tak seorang pun sanggup menahannya. Namun, setelah pertempuran usai dan diketahui bahwa semua itu akibat adu domba Hek-bong Lo-mo dan Siauw-binkwi, kaisar menyatakan penyesalan. Gurba pun memohon maaf dan kaisar memberikan selirnya yang paling disayang, Bi Nio, sebagai pengikat tali persahabatan. Kejadian itu terdengar hampir oleh semua orang.

Pendekar Garuda Hitam itu tersenyum pahit, menduga Salima tidak mendengar kabar tersebut karena berada jauh di selatan. "Nona, apa yang dikatakan sahabatku Yu Bing tidak salah. Mungkin kau merantau terlalu jauh. Aku yang baru dari utara memang membenarkan berita ini. Kaisar telah memberikan selirnya pada suheng-mu, dan pertikaian itu pun berakhir. Masa kau tidak tahu?"

Salima memucat. "Dan suheng menerima pemberian itu?"

"Ya, begitu yang kudengar."

"Kalian bohong!" Salima membentak. "Kalian dusta! Ah...!"

Salima menangis tersedu-sedu, lalu memutar tubuh dan melompat pergi dengan rintihan melengking yang membuat bulu roma berdiri. Yu Bing hendak mengejar, tetapi Hek-eng Taihiap menahan lengannya. "Jangan kejar, gadis Tartar itu agaknya mendapat pukulan batin. Aneh sekali kenapa ia harus marah mendengar suheng-nya mendapat selir."

Yu Bing gemetar dan lemas. Wajahnya kuyu, menatap kepergian Salima dengan tatapan kosong. Ia tidak menduga pertemuan yang berawal dari keakraban itu mendadak berubah menjadi permusuhan. Akhirnya, Hek-eng Taihiap mengajak pemuda itu menjauh dari hutan.

"Suheng, kau laki-laki keparat. Kau laki-laki terkutuk...!" Salima menangis di sebuah kelenteng rusak di kaki bukit. Hatinya perih membayangkan Kim-mou-eng. Dua kali ia mendengar kabar suheng-nya mendapat selir dari kaisar, padahal baru saja suheng-nya menyatakan cinta dan menciumnya penuh mesra. Salima menduga ia kalah cantik, sehingga suheng-nya tergila-gila pada perempuan lain.

Dengan marah, Salima memukul hancur arca Toa-pe-kong di sampingnya hingga hancur menjadi tepung oleh Tiat-lui-kang yang dahsyat. Ia terus mengamuk, menendang dan menampar benda-benda di kelenteng itu seolah sedang diserang hantu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment