Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 63

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 63

Dan ketika Salima marah-marah dan semua benda yang ada di situ berantakan tak karuan, mendadak sebuah bayangan tinggi besar muncul menegur gadis ini.

"Sumoi, apa yang kau lakukan? Kau gila?"

Salima terkejut. Dia melihat suheng-nya nomor satu tahu-tahu ada di situ, berdiri tegak kokoh tak bergeming seolah arca besi memandangnya, terbelalak lebar, heran akan sepak terjangnya yang dianggap tidak waras. Salima yang tertegun oleh kedatangan sang suheng yang tidak dinyana-nyana, mendadak menubruk dan meledakkan tangisnya di dada twa-suheng (kakak nomor satu) ini.

"Twa-heng, ji-suheng (kakak nomor dua) menyakiti hatiku. Dia kawin dengan wanita Han yang menjadi musuh besar kita!"

Gurba tertegun. "Apa, Kim-mou-eng kawin? Kawin dengan siapa dan kapan menikahnya?"

"Aku tak tahu, twa-heng. Tapi kabar memberitakan bahwa ji-suheng mendapat selir kaisar. Dia menikah dengan wanita Han, katanya bernama Bi Nio...!"

Salima yang sudah terisak dan meledakkan tangisnya di dada sang suheng tiba-tiba membuat Gurba tertegun dan untuk kedua kalinya membelalakkan mata. Raksasa ini terkejut, sejenak aliran darah tersirap cepat, memenuhi mukanya, dan menggigil dipeluk sumoi-nya. Tapi Gurba yang maklum akan kesalahpahaman sumoi-nya mendadak mengertakkan gigi dan mengepal tinju. Sedetik itu saja dia telah maklum apa yang terjadi. Tahu bahwa sumoi-nya mendapat berita yang salah, atau sumoi-nya ini yang menangkap berita secara salah.

Gurba yang menggigil memejamkan mata tiba-tiba mencengkeram dan mendekap tubuh sumoi-nya itu. Sebenarnya inilah yang dia inginkan. Memeluk dan mendekap sumoi-nya, bukan sebagai suheng dan sumoi, melainkan sebagai laki-laki dan perempuan. Sebagai pasangan yang saling mencinta dan hidup berdua mereguk kenikmatan bersama.

Gurba yang memejamkan mata mendengar disebutnya nama Bi Nio mendadak menggeram dan teringat pada selir cantik itu, yang kini menjadi istrinya. Istri selir, karena dia tak mau menjadikan wanita itu sebagai istri utama. Merah mukanya dan malu pada diri sendiri mengapa dia menggauli wanita itu. Mengapa dia roboh dan hanyut dalam nafsu berahinya, padahal yang dia incar adalah sumoi-nya ini. Gadis yang gagah dan diam-diam membuat dia tergila-gila.

Gurba yang tergetar serta terkejut oleh tangis Salima tiba-tiba berada di ambang pintu keadilan untuk menentukan sikapnya. Memberi tahu secara jujur bahwa yang dituduh sumoi-nya itu bukanlah Kim-mou-eng, melainkan dirinya sendiri dengan risiko kehilangan sumoi-nya ini, ataukah membiarkannya begitu saja hingga sumoi-nya tetap membenci sute-nya, Pendekar Rambut Emas itu.

Gurba yang sejenak terombang-ambing oleh kepentingan pribadi tiba-tiba memilih jalan kedua dan tetap membiarkan Salima terbawa oleh salah pahamnya itu, menuduh Kim-mou-eng memperistri wanita Han. Dan karena dia juga maklum bahwa diam-diam sumoi-nya ini menaruh hati pada sute-nya yang gagah dan tampan itu, tiba-tiba Gurba menggereng dan untuk pertama kalinya bersikap memalukan, memaki sute-nya sendiri!

"Keparat, jadi Kim-te menikahi wanita Han, sumoi? Dia tak mau menikah dengan gadis bangsa sendiri dan memperistri wanita asing? Jahanam dia itu, Kim-sute mengkhianati bangsa kita dan harus dibunuh!"

Gurba yang menggigit bibir melawan tuntutan hati nurani tiba-tiba menggelapkan muka dan mendorong sumoi-nya, memandang sumoi-nya yang menangis tersedu-sedu dengan air mata bercucuran. Dan ketika Salima terisak dan Gurba menggigil menahan nafsu, tiba-tiba raksasa ini menyambar kembali tubuh sumoi-nya dan mencium!

(Bersambung Jilid X)

"Sumoi, kau tak perlu membenci Kim-sute. Ada aku di sini. Aku yang akan melindungimu, aku yang akan mencintaimu...!"

Gurba yang sudah mengangkat wajah sumoi-nya untuk dicium tiba-tiba disambut gerakan Salima yang memberontak lepas, terkejut oleh perbuatan suheng-nya itu. Dan ketika Gurba nekat dan hendak melanjutkan usahanya, tahu-tahu Salima menendang dan menampar muka suheng-nya itu!

"Twa-heng, apa yang mau kau lakukan? Lepaskan aku... Plak! Plak!"

Gurba yang terhuyung mundur tiba-tiba sadar dan merah mukanya oleh ciuman yang gagal itu. Maklum bahwa sumoi-nya ini bukanlah Bi Nio yang lemah tak berdaya, melainkan singa betina yang dapat melawan dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi! Gurba yang tersipu oleh perbuatan sendiri tiba-tiba menunduk dan lirih memohon maaf.

"Maaf, aku... aku lupa diri, sumoi. Aku tak dapat menahan perasaan hatiku kepadamu...!"

Salima tertegun. Ia luluh oleh sikap suheng-nya yang memelas ini, tampak terpukul dan malu pada perbuatan sendiri. Tapi Salima yang mengeraskan hati dan masih marah pada suheng-nya berkata menegur, belum hilang kagetnya oleh kenekatan suheng-nya yang hendak memaksa mencium, "Suheng, lain kali jangan berbuat begitu lagi. Kau tahu aku bukan wanita sembarangan!"

"Maaf," Gurba semakin menunduk. "Aku tahu, sumoi. Aku tak akan mengulanginya."

Salima reda kembali. Dia merasa berdebar juga oleh perbuatan suheng-nya itu tadi, maklum suheng-nya ini ada hati padanya, tapi dia sendiri tak tergerak, tertambat hatinya pada sang suheng nomor dua, Kim-mou-eng. Namun, karena orang telah minta maaf dan Salima juga melihat twa-suheng-nya itu menyesali perbuatan sendiri, akhirnya gadis ini melupakan kejadian itu dan kembali bicara tentang ji-suheng-nya.

"Twa-heng, apa yang sekarang harus kita lakukan dengan perbuatan ji-suheng itu? Dan kenapa kau ada di sini? Bagaimana dengan suku bangsa kita di luar Tembok Besar sana?"

Gurba mendadak murung. "Suku bangsa kita porak-poranda, sumoi. Aku keluar karena kita hancur di dalam!"

"Apa?" Salima terkejut. "Hancur bagaimana, suheng? Porak-poranda bagaimana?"

Gurba mengepal tinju. "Kita diadu domba oleh tiga iblis tua, sumoi. Bangsa Tar-tar hancur gara-gara tiga iblis ini!"

"Siapa mereka?"

"Hek-bong Siang-lo-mo dan Siauw-bin-kwi!"

"Ah, siapa mereka itu?"

"Tiga dari Jit-mo Kang-ouw!"

Salima berseru kaget. Sampai di sini dia membelalakkan mata lebar-lebar, terkejut sekali. Namun, heran bagaimana bangsa Tar-tar yang demikian besar bisa hancur dan porak-poranda seperti kata suheng-nya itu, tiba-tiba Salima bertanya, menggigil suaranya, hampir tak percaya, "Suheng, bagaimana asal mula kejadian ini? Bagaimana bangsa kita menjadi hancur seperti katamu tadi?"

"Panjang ceritanya, sumoi." Gurba mengerutkan kening. "Bermula dari kejadian suku U-fak yang dipimpin Uyin dan Unga."

Ketika Gurba mulai menceritakan kejadian itu yang berawal dari perbuatan dua kakak beradik Uyin dan Unga yang ternyata adalah murid-murid Siauw-bin-kwi yang membunuh tujuh wanita hamil dari suku bangsa mereka, maka Salima mendengarkan dengan penuh perhatian dan kening berkerut-kerut, berkali-kali mengeluarkan seruan marah ketika mendengar kekejaman kakak beradik itu, membelek perut wanita hamil dan mengeluarkan oroknya. Satu tindakan keji yang amat biadab.

Ketika cerita meluncur pada tewasnya dua kakak beradik itu dan Siauw-bin-kwi muncul mengganggu perkemahan bangsa Tar-tar, akhirnya Gurba mengepal tinju terkenang ini. "Kakek iblis itu membuat huru-hara, sumoi. Dia membakar kemah dan membawa dua temannya yang lain, Hek-bong Siang-lo-mo yang cebol-cebol itu. Merekalah biang keladi, jahat dan kepandaiannya memang tinggi, tapi kemudian melarikan diri setelah membuat onar!"

Salima merah mukanya. "Dan kau tak dapat membunuh musuh-musuhmu itu, suheng?"

"Inilah salahmu," Gurba menyesali sumoi-nya ini. "Kau tak ada bersama kami, sumoi. Kalau saja kau ada, tentu tiga iblis itu tak dapat main-main dengan bangsa Tar-tar!"

"Ah," Salima cemberut. "Kau sendiri yang memberikan izin padaku untuk keluar, suheng. Aku mencari ji-suheng karena dia meninggalkan kita untuk kelayapan ke Tionggoan. Kau tak dapat menyalahkan aku, ji-suheng-lah yang salah!"

"Ya," Gurba mengangguk, geram juga pada sute-nya. "Kalau sute tak minggat meninggalkan kita, tentu bangsa Tar-tar tak akan begini jadinya. Sekarang kita porak-poranda, bangsa kita hancur dipermainkan tiga siluman tua itu!"

Tapi Salima ingat sesuatu. "Tapi, suheng," tanyanya tak mengerti. "Bagaimana bangsa kita begitu mudah dihancurkan? Bukankah kau dan teman-teman ada di sana?"

Gurba mengerutkan alis, mengarang cerita. "Aku tak ada di sana waktu itu, sumoi. Aku meninggalkan mereka ketika Siauw-bin-kwi dan kawan-kawannya datang."

"Eh, bagaimana ini?"

Gurba merah mukanya. "Aku mencari tiga iblis itu keluar, sumoi. Tapi ketika aku keluar, justru mereka masuk!"

Salima tertegun. "Begitukah?"

"Ya, begitu, sumoi. Dan mereka berhasil mengadu domba anak-anak buah kita hingga Siga dan Munga saling bermusuhan. Siga membunuh Munga dan terjadi kekacauan di antara dua pengikut pembantu kita hingga pecah perang saudara dan masing-masing saling membunuh!"

Salima kaget bukan main. "Perang saudara, suheng?"

"Itulah yang terjadi, sumoi. Dan kekacauan ini ditambah lagi dengan datangnya pasukan kerajaan yang menyerbu bangsa kita," Gurba tidak tanggung-tanggung, merasa kepalang basah. "Dan aku menyesali sekali kejadian itu, sumoi. Aku datang ketika semuanya sudah hancur dan porak-poranda!"

Salima tiba-tiba menjerit. Gadis Tar-tar ini pilu dan marah sekali, terhuyung membayangkan suku bangsanya hancur begitu cepat. Tapi sadar dan marah mendengar pasukan kerajaan menyerbu datang, mendadak gadis ini melejit dan terbang menuju kota raja!

"Suheng, kalau begitu kita bunuh kaisar dan orang-orangnya itu. Tentu Jit-liong Ciangkun menyuruh orang-orangnya membasmi bangsa kita!"

Salima teringat pada kejadian diri sendiri, mengira Jit-liong Ciangkun membalas dendam atas perbuatannya di kota raja dulu bersama suheng-nya nomor dua, Kim-mou-eng. Jadi, semakin salah paham dan tidak karuan jalan ceritanya! Gurba yang terkejut melihat sumoi-nya marah tiba-tiba berkelebat menangkap lengan sumoi-nya itu.

"Sumoi, tunggu. Tahan dulu...!"

"Tidak," Salima mengibaskan lengan. "Aku ingin membunuh dulu orang-orangnya kaisar itu, suheng."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment