Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 64

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 64

"Dan setelah itu kita bicara lagi!" Salima sudah meluncur terbang, sangat cepat mengerahkan ginkang-nya meninggalkan sang suheng yang terbelalak dan tertegun oleh keberingasan sumoi-nya ini.

Gurba yang khawatir, tentu saja cemas akan nasib Kaisar dan Jit-liong Ciangkun yang telah berbaik dengannya dan menjalin tali persahabatan, tiba-tiba membentak dan mengejar sumoi-nya itu. "Sumoi, jangan terburu nafsu. Dengar dulu omonganku... plak!"

Gurba menepuk pundak sumoi-nya itu, sebuah tepukan sekaligus totokan yang membuat Salima mengeluh, lalu terguling kaget. Ketika gadis itu melompat bangun dan Gurba dengan wajah pucat memandang sumoi-nya, raksasa tinggi besar ini buru-buru menenangkan. "Sumoi, maaf. Kita tidak perlu ke kota raja, melainkan mencari tiga biang penyakit ini terlebih dahulu. Kaisar dan orang-orangnya gampang dicari, mereka tidak akan lari. Sebaiknya cari dulu Hek-bong Siang-lo-mo dan Siauw-bin-kwi!"

Salima marah. "Tapi Jit-liong Ciangkun berani mati menyerang bangsa Tatar, suheng. Ini tak dapat kubiarkan dan harus dibalas!"

"Sabar, berita terakhir menyatakan mereka itu juga diadu domba oleh Siauw-bin-kwi dan teman-temannya, Sumoi. Jadi, terhadap tiga iblis tua inilah kita harus menuntut balas. Tekan dulu kemarahanmu. Kita cari dulu biang keroknya karena yang lain-lain gampang!" Gurba yang membujuk dan menenangkan sumoi-nya dengan segala kepandaian akhirnya berhasil menyadarkan sumoi-nya akan kata-katanya itu. Bahwa Kaisar dan orang-orangnya tak mungkin lari, lain dengan tiga iblis yang membuat huru-hara ini, pangkal dari segala pangkal penyakit.

Gurba yang terus berusaha membujuk akhirnya mengajak sumoi-nya pergi mencari Siauw-bin-kwi dan kawan-kawannya. "Sebaiknya kita cari tiga iblis ini, Sumoi. Mereka dulu juga mencari-carimu untuk menantang adu kepandaian. Sungguh marah aku, dikira kau bersembunyi karena takut!" Gurba menyalakan api, membangkitkan kemarahan sumoi-nya dengan bualan itu, menyentil tepat titik keberingasan sumoi-nya.

Salima yang marah mendengar hal itu langsung membanting kaki dan mengepal tinju. "Baik, kita cari mereka, Suheng. Aku akan bertempur seribu jurus dengan mereka!"

Gurba girang. Siasatnya berhasil mengajak sumoi-nya mencari Siauw-bin-kwi dan kawan-kawannya. Karena semua sudah beres dan Salima menunda kepergiannya ke kota raja, akhirnya raksasa tinggi besar ini mengajak sumoi-nya cepat-cepat pergi, khawatir sumoi-nya berubah pikiran lagi. Mumpung berhasil dibakar dengan tantangan Siauw-bin-kwi yang sengaja ia buat-buat. Begitu kakak beradik ini berkelebat keluar, Gurba mengajak sumoi-nya ke selatan mencari Siauw-bin-kwi dan dua kakek cebol Hek-bong Siang-lo-mo yang lihai tapi ganas!

***

Agaknya, tiada orang sesial Kim-mou-eng. Dia telah kena getah dari nangka yang dinikmati Gurba. Dia tidak tahu bahwa sumoi-nya dan kakak seperguruannya itu mencari-carinya. Dia juga tidak tahu bahwa perjuangannya membebaskan Cao Cun dan Wan Hoa sia-sia karena dua gadis cantik itu kembali ke Istana Dingin atas kemauan sendiri, bukan paksaan orang lain. Ditambah kemarahan sumoi-nya yang telah ia cium, gara-gara bangkit gairahnya melihat sang sumoi yang demikian memikat, bibir yang merah basah dengan bola mata yang bening. Indah memesona sebagaimana gadis-gadis remaja.

Kim-mou-eng yang pagi itu duduk di sebuah kedai menikmati arak hangat tidak tahu bahwa diam-diam sepasang muda-mudi memperhatikan dirinya dengan mata beringas. Pagi itu dia sedang gundah. Dia tidak sadar karena yang dia pikirkan adalah kebohongannya terhadap Cao Cun yang ia tinggal pergi, juga tentang sumoi-nya yang melarikan diri karena ciumannya. Atau lebih tepatnya, karena dia tak menanggapi cinta sumoi-nya yang sudah rela memberikan bibir untuk dicium itu. Dia yang heran tentang diri sendiri mengapa ragu-ragu berbicara tentang cinta mendadak menarik napas ketika untuk kelima kalinya meneguk arak.

Pagi itu cukup indah. Burung pipit dan murai berkicau, bertengger di atas dahan tak jauh dari tempat duduknya. Kedai itu berada di pinggir jalan dan belum banyak orang berlalu-lalang. Suasana masih segar dan sejuk, matahari belum menyengat hingga kulit merasa hangat. Ketika secara tak sengaja dia melihat sepasang pipit bercumbu di atas dahan, tiba-tiba Kim-mou-eng tersenyum. Dia teringat ketika dia mencium mulut sumoi-nya, persis sepasang pipit yang kini berdekatan, saling mendekatkan muka dan paruh mereka bertemu, bergerak dan mengeluarkan cicitan perlahan. Tak beda dengan manusia yang berbisik-bisik manja.

Agaknya begitulah. Namun, ketika dia asyik tersenyum memandangi sepasang burung itu, mendadak sebatang sumpit menyambar dan langsung menusuk burung jantan yang ada di sebelah kanan. Persis setelah sumpit pertama menyambar, sumpit kedua meluncur menembus pipit betina.

"Cep-cep!"

Dua ekor burung itu terguling roboh. Mereka seketika mati, tak sempat menggelepar karena dua sumpit itu menembus dada mereka. Ketika Kim-mou-eng terkejut dan memandang dari mana asal sumpit melayang, dua muda-mudi yang memperhatikannya sejak tadi tiba-tiba bangkit berdiri.

"Sin-ko, sumpitmu kalah dulu. Kau kalah cepat!"

"Tidak, kau yang kalah jitu, Ling-moi. Sumpitku biar lambat tapi lebih tepat mengenai jantung. Kau kalah jitu!" pemuda di sebelah membantah, mengambil dua ekor burung itu dan mengamati bersama.

Ketika si gadis berseru tertahan melihat kenyataan sumpitnya tidak tepat di tengah jantung, mendadak si gadis membanting burung jantan hingga mencelat ke arah meja Kim-mou-eng.

"Sialan, rupanya kepandaianku selalu begini saja... crot!"

Bangkai burung itu mengenai arak Kim-mou-eng, tumpah dan seketika membasahi baju Pendekar Rambut Emas ini. Kim-mou-eng tertegun dan terbelalak memandang dua muda-mudi itu. Mendadak, dua muda-mudi ini membalikkan tubuh dan kembali ke mejanya sendiri, seolah-olah tidak tahu perbuatan si gadis menumpahkan arak Kim-mou-eng. Tidak minta maaf. Kim-mou-eng yang terbelalak dan marah melihat perbuatan orang tiba-tiba mendengar dua muda-mudi itu tertawa dan mengeluarkan kata-kata ejekan.

"Hi-hik, rupanya ada burung besar melotot pada kita, Sin-ko. Apakah perlu dikerjai lagi dengan sumpit?"

"Tak perlu. Biar dia mendongkol dulu, Ling-moi. Kalau macam-macam baru kita kerjai!"

Kim-mou-eng tertegun. Saat itu beberapa orang lain juga memandang mereka, rupanya heran dan kaget oleh perbuatan dua muda-mudi ini. Kim-mou-eng yang menahan kemarahan bersikap sabar, tiba-tiba menggapai meminta sebotol arak baru. "Maaf, berikan padaku sebotol lagi, Twako. Arakku tumpah ditimpa kucing!"

Sang gadis melotot, tiba-tiba berbalik. "Siapa yang kau maksud kucing? Aku kah?"

Kim-mou-eng tersenyum. Dia melihat gadis ini masih berusia sembilan belasan tahun, cantik tapi sombong dengan sikapnya yang pongah. Melihat bajunya yang bagus, tentu anak seorang hartawan. Namun, karena dia mendongkol pada perbuatan gadis ini, dia memutar tubuh dan pura-pura tidak tahu.

"Twako, cepat arakku yang baru. Aku haus...!"

Gadis itu terang merasa terhina. Dia marah melihat Kim-mou-eng tak menggubrisnya. Melihat pelayan datang dengan sebotol arak baru, persis pelayan itu meletakkan arak di meja Kim-mou-eng, tiba-tiba dengan sangat cepat dia menyambarkan sumpitnya ke botol arak itu.

"Prakk...!"

Botol itu pecah. Kim-mou-eng dan sang pelayan terkejut, marah oleh tumpahnya arak yang membanjir di atas meja. Kim-mou-eng yang melotot namun berusaha menahan sabarnya tiba-tiba mendesis bertanya perlahan, "Kenapa kau memecahkan botol arakku?"

Gadis itu tidak menggubris, memutar tubuhnya menghadap meja sendiri. Ketika wajah Kim-mou-eng memerah karena malu tak dijawab, tiba-tiba si pemuda yang dipanggil Sin-ko terbahak. "Ling-moi, si rambut emas ini melotot. Apa jawabmu kalau dia marah?"

"Huh, biar si sombong itu minum dari botolnya yang kosong, Sin-ko. Aku tak perlu menjawab karena dia juga tak menjawab pertanyaanku!"

"Ha-ha, kalau begitu biar dia pesan sebotol baru lagi, Ling-moi. Atau kalau dia berani, biar minum dan makan saja semeja dengan kita!"

Kim-mou-eng mengerutkan alis. Dia marah, tapi melihat dua muda-mudi itu pongah, dia harus menahan emosi. Pendekar ini menarik napas dan duduk kembali. "Pelayan, tolong ambil lagi sebotol yang baru. Aku tak mau membuat onar."

Pelayan itu tertegun. "Dan yang pecah tadi, tanggung jawab siapa?"

"Tak perlu dipikir, bung pelayan. Masukkan dalam rekeningku dan biar aku yang bayar!"

Sang pelayan mengangguk dengan wajah pucat dan kembali ke dalam. Kim-mou-eng yang melihat si pemuda bersiap menggetarkan sumpit di tangan kiri mendadak mengerutkan kening semakin dalam. Pemuda itu memandang bersinar-sinar ke arah pelayan yang membawa arak baru. Persis arak diangkat, tiba-tiba sumpit di tangan si pemuda bergerak meluncur menghantam botol arak itu, sengaja membuat ribut.

Kim-mou-eng yang tak mau bersabar lagi tiba-tiba mengebutkan lengan ke udara. "Pelayan, letakkan arak itu dengan tenang. Ada lalat busuk mengganggu kita... wutt!"

Pelayan itu terkejut melihat sumpit si pemuda menyambar dan sudah serambut saja jaraknya dari botol arak, tiba-tiba dikebut dan sumpit mental seolah dipukul tenaga tak kelihatan, berbalik dan kini menyambar pemuda itu yang tentu saja terkejut melihat senjata makan tuan, meluncur dengan kecepatan luar biasa, hampir tak ada waktu untuk berkelit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment