Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 65

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 65

Pemuda yang terpaksa menangkis dan bangkit berdiri itu tiba-tiba mengibaskan lengan bajunya dan berseru kaget karena sumpit masih saja menembus serta menancap di ujung lengan bajunya.

"Bret!" Pemuda itu terjengkang roboh.

Ia merasa didorong oleh kekuatan yang amat hebat. Pemuda itu langsung terduduk dengan wajah pucat memandang Kim-mou-eng, tergetar dan merasakan *sinkang* lawan yang meluncur bersama sumpit tersebut; ia sungguh tidak menyangka.

Gadis berbaju merah yang ada di sebelah kirinya tiba-tiba melompat bangun untuk menolong pemuda itu, lalu berteriak tertahan, "Sin-ko, kau tak apa-apa?"

Pemuda yang dipanggil Sin-ko itu menggeleng. Dia sudah bangkit berdiri, terbelalak memandang Kim-mou-eng. Namun, Kim-mou-eng tidak memandang kepadanya dan bersikap acuh, ia terus menenggak arak dengan tenang seolah kejadian itu tidak terjadi di depan matanya. Sekejap tadi, ia telah mendemonstrasikan *sinkang*-nya kepada lawan yang sombong itu.

Pemuda itu, yang tampak gentar, tiba-tiba melompat keluar. "Ling-moi, si Rambut Emas itu rupanya lihai. Biar kita tunggu dia di luar dusun!"

Gadis itu terkejut. Ia marah memandang Kim-mou-eng yang juga tidak memandangnya, masih acuh dengan keadaan sekitar dan meminum araknya seorang diri. Melihat temannya sudah keluar mendahului dan ia tinggal sendirian di sana, tiba-tiba gadis ini melempar sekeping uang untuk melampiaskan amarah. Uang itu menyambar ke meja Kim-mou-eng karena pelayan kebetulan berdiri di dekat tempat itu.

"Pelayan, terima pembayaran kami!" Sang pelayan terbelalak.

Gadis itu memang membayar makan minumnya dengan sekeping uang emas yang tentu lebih dari cukup. Namun, melihat uang itu menyambar ke arah leher Kim-mou-eng—padahal laki-laki itu tampaknya tidak tahu ada logam yang menuju lehernya—pelayan ini pucat wajahnya dan siap memberi tahu. Namun aneh, Kim-mou-eng tersenyum kepadanya tanpa menoleh ke arah uang yang menyambar lehernya itu. Persis ketika uang mendekati lehernya, tiba-tiba pendekar ini meraup dan, tanpa menoleh, ia menangkap uang emas tersebut.

"Pelayan, rupanya nona ini terlalu royal padamu. Biarlah harga makananku dibayarnya juga!" Kim-mou-eng telah menangkap uang itu dan menyerahkannya pada sang pelayan, tapi diam-diam ia mengerahkan tenaga untuk meremasnya.

Ketika si pelayan menerima dan si gadis terbelalak, tiba-tiba sang pelayan berseru kaget karena uang emas itu hancur menjadi bubuk.

"Hei...!" Si gadis pucat wajahnya. Ia melihat uangnya menjadi tepung logam di tangan sang pelayan yang marah padanya karena mengira ia sedang main-main. Ia maklum bahwa untuk kedua kalinya, Kim-mou-eng telah mendemonstrasikan kepandaiannya yang hebat. Namun, gadis yang sudah memutar tubuh itu berseru marah dan tiba-tiba melompat keluar meninggalkan kedai arak tersebut.

"Hei, kau belum bayar, Nona...!" Kim-mou-eng tertawa. "Tak perlu dikejar, biar aku yang mengganti makan minum mereka, pelayan. Mungkin mereka kehabisan bekal!"

Kim-mou-eng menancapkan sekeping uang emas lain, lalu diam-diam mengambil bubuk uang emas yang hancur tadi. Ketika si pelayan terbelalak, tiba-tiba bubuk uang emas yang dikepal pendekar ini telah utuh kembali dan menjadi sekeping uang emas baru yang tidak dapat dibedakan dengan yang pertama.

"Ah, ilmu siluman...!" Kim-mou-eng tersenyum, tahu bahwa semua mata tiba-tiba memandangnya dengan heran dan kagum. Ia bangkit berdiri, menepuk bahu si pelayan, lalu tiba-tiba berkelebat lenyap seolah hantu.

"Pelayan, terima kasih. Aku cukup menikmati arakmu...!" Sang pelayan tertegun. Ia tentu saja mengira Pendekar Rambut Emas itu siluman. Sebentar kemudian, pelayan itu berteriak ribut karena tidak melihat lagi bayangan pendekar tersebut, sama seperti majikannya dan orang-orang lain yang ada di situ. Mereka kaget dan melongo karena pemuda aneh itu tidak ada lagi di kedai mereka; hilang seperti asap.

Ketika semua orang ribut membicarakan pendekar itu, yang bersangkutan sudah melenggang keluar dusun. Kim-mou-eng memang tidak mau lama-lama tinggal di sana. Ia maklum sepasang muda-mudi itu menunggunya di luar, seperti yang tadi ia dengar. Sesungguhnya, hal ini membuat pendekar ini heran karena ia tidak merasa memiliki permusuhan dengan siapa pun. Jadi, ia tidak mengerti kenapa dua muda-mudi itu memusuhinya dengan sikap yang jelas tidak bersahabat.

Ketika ia tiba di luar dusun dan sudah menduga bakal dihadang, ternyata benar, dua muda-mudi itu berdiri di tengah jalan menantinya. Mata mereka beringas, dan keduanya mencabut pedang yang tadi disimpan di belakang punggung.

"Kim-mou-eng, berhenti. Kami akan menuntut balas!"

Kim-mou-eng berhenti. Dua orang muda itu telah melompat di depannya dan memalangkan senjata. Diam-diam pendekar ini tertawa karena ia telah mengukur kepandaian mereka dengan gebrakan di kedai arak tadi. Ia tahu bahwa ia tak perlu khawatir menghadapi muda-mudi yang entah siapa ini, hal yang juga ingin ia ketahui. Melihat mereka melotot dan berkata akan menuntut balas, tiba-tiba pendekar ini tersenyum dan memandang mereka dengan sabar.

"Kalian siapakah? Sudah mengenal namaku?"

Si pemuda menarik muka gelap. "Kami putra-putri Ang-bin Ciangkun, Kim-mou-eng. Kami menunggumu untuk membalas kematian ayah kami!"

Kim-mou-eng terkejut. "Ang-bin Ciangkun? Seorang dari Jit-liong Ciangkun itu?"

"Ya, kami anaknya. Aku Ang Sin Kok, ini adikku Ang Hwi Ling!"

"Ah, ada apa dengan ayah kalian itu? Kenapa hendak menuntut balas?" Kim-mou-eng benar-benar terkejut dan mengerutkan alis karena ia mengenal panglima bermuka merah itu. Panglima yang gagah, yang dulu mengenalnya karena panglima itu bertugas di utara dan berdekatan dengan bangsa Tartar.

Ang Sin Kok yang gemetar memutar pedang, tiba-tiba membentak marah memandang Pendekar Rambut Emas ini. "Kim-mou-eng, tak perlu kau berpura-pura. Ayah tewas gara-gara perbuatan suhengmu, kini kami datang untuk menuntut pertanggungjawabanmu atas perbuatan suhengmu itu!"

Kim-mou-eng membelalakkan mata. "Suhengku? Kalian mengenal suhengku pula?"

"Keparat, tak perlu bertanya-tanya, Kim-mou-eng. Sekarang serahkan nyawamu dan kami akan mencari pula suhengmu yang biadab itu... Sing!"

Sin Kok tiba-tiba menyerang, menusuk cepat leher lawan. Kim-mou-eng terkejut mendengar sesuatu yang masih tidak jelas ini. Ia tidak tahu bahwa suhengnya telah membawa bangsa Tartar menyerbu kerajaan dan membunuh empat dari tujuh panglima naga, salah satunya adalah Ang-bin Ciangkun. Ia tidak mendengar berita itu karena ia sibuk dengan urusan pribadi, sama seperti Salima yang juga belum mendengar sepak terjang Gurba si Singa Daratan Tandus. Jadi, ia merasa heran kenapa sekarang putra-putri Ang-bin Ciangkun ini memusuhinya.

Melihat pedang menyambar dan Sin Kok tampak beringas, tiba-tiba pendekar ini mengelak dan menampar dari samping.

"Tunggu dulu, aku mau bicara... Takk!"

Pedang Sin Kok terpental, ia terpelanting dan tentu saja kaget oleh tamparan Kim-mou-eng yang membuat senjatanya hampir terlepas, terasa pedas, panas, serta sakit. Hwi Ling yang gusar melihat kakaknya terpelanting mendadak memekik dan menggerakkan pedangnya pula.

"Kim-mou-eng, tak perlu banyak cakap. Kami tak mau bicara denganmu... Sing-sing!"

Hwi Ling sudah menerjang maju, membantu kakaknya, dan sebentar kemudian melakukan tusukan serta bacokan bertubi-tubi. Pedang menyambar-nyambar tak kenal ampun. Kim-mou-eng yang mengerutkan alis semakin dalam, tiba-tiba melihat Sin Kok melompat bangun dan maju kembali bersama adiknya.

"Benar, kami tak mau mendengar bicaramu lagi, Kim-mou-eng. Kami menghendaki nyawamu dan karena itu mampuslah... Wut-sing!"

Pedang Sin Kok juga bergerak membabat, membantu adiknya. Sebentar kemudian, dua kakak beradik itu menyerang ganas, masing-masing saling mendahului dan tampak benci sekali memandang Kim-mou-eng. Pendekar Rambut Emas itu, yang tentu saja mendongkol oleh sikap dua kakak beradik ini, tiba-tiba menangkis dan mementalkan senjata lawan.

"Sin Kok, kalian orang-orang muda yang berangasan. Aku tak tahu-menahu persoalan itu... Plak-plak!"

Sin Kok dan adiknya menjerit. Mereka terpental oleh tangkisan Kim-mou-eng yang mempergunakan tangan telanjang. Tangkisan itu hebat dan menggetarkan karena lengan Pendekar Rambut Emas tersebut penuh dengan *sinkang*. Ketika dua kakak beradik itu nekat kembali menyerang dengan pedang, akhirnya Kim-mou-eng menunjukkan kelihaiannya yang luar biasa.

Saat Sin Kok membacok lehernya, ia tidak mengelak. Hwi Ling yang menusuk lambungnya dengan tusukan sengit pun dibiarkan saja. Hal itu mengherankan dua kakak beradik tersebut, yang justru merasa girang dan membentak untuk menambah tenaga. Namun, begitu pedang mengenai tubuh pendekar ini, tiba-tiba Kim-mou-eng mengibas ke kiri dan ke kanan, membuat dua kakak beradik itu menjerit.

"Sin Kok, sekarang kalian robohlah... Krak-krak!"

Pedang dua kakak beradik itu patah saat membentur kekebalan Pendekar Rambut Emas yang telah melindungi diri dengan *sinkang*-nya. Tentu saja hal itu membuat mereka kaget. Ketika mereka tertegun dan melongo, tiba-tiba kibasan lengan pendekar ini menyambar mereka.

"Plak-dess!" Sin Kok dan adiknya terlempar bergulingan. Mereka roboh tunggang-langgang, disapu angin pukulan lawan yang hebat luar biasa. Ketika mereka melompat bangun, lawan menggerakkan jari, dan tiba-tiba Sin Kok serta Hwi Ling mengeluh karena dua totokan mengenai pundak mereka.

"Tuk-tuk!" Dua kakak beradik itu roboh terjengkang. Mereka kembali terbelalak, kaget, dan ngeri memandang Kim-mou-eng. Namun, ketika Kim-mou-eng tertawa dan menggerakkan ujung kakinya, tiba-tiba totokan dua kakak beradik ini dibebaskan sehingga mereka dapat melompat bangun. Hal itu membuat mereka tercengang.

"Nah, bagaimana, Sin Kok? Kalian masih mau bertempur lagi?"

Sin Kok dan adiknya tertegun. Mereka jelas bengong, mengakui kekalahan yang begitu mudah. Namun, Hwi Ling yang terisak menangis tiba-tiba menerjang menghantam pendekar itu.

"Kim-mou-eng, kau boleh bunuh kami, tak usah menghina...!"

Gadis yang melancarkan pukulan menyodok perut lawan itu tiba-tiba dipandang dengan alis berkerut oleh pendekar tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment