Chapter 66
Kim-mou-eng tidak mengelak, ia diam saja. Namun, begitu jari mengenai perutnya, sekonyong-konyong Hwi Ling mengaduh. "Krek!" Jari gadis itu keseleo, langsung bengkak dan salah urat. Hwi Ling yang menjerit terpelanting roboh tiba-tiba memaki dan nekat bangun menyerang dengan kakinya, tetapi kali ini pun didiamkan oleh Pendekar Rambut Emas itu.
Ketika gadis itu kembali menjerit dan kini kakinya terkilir hingga bengkak seperti tangannya, Pendekar Rambut Emas menegur dengan suara tidak senang, "Nona, kau harus tahu diri. Aku tak memusuhi kalian. Kalianlah yang memusuhi aku!"
Saat Hwi Ling mendesis dan mendelik padanya, Kim-mou-eng sudah memberi tanda pada Sin Kok. "Sin Kok, beri adikmu itu obat ini. Kalian pergilah dan jangan ganggu aku!" Kim-mou-eng melempar sebotol arak anti bengkak, obat yang biasa ia bawa ke mana-mana.
Sin Kok yang tertegun melihat adiknya kesakitan tiba-tiba melompat menolong, namun ia enggan mengambil obat pemberian Pendekar Rambut Emas. Sambil menggigit bibir, ia mengambil obatnya sendiri dan cepat melumurkan obat itu ke bagian urat adiknya yang bengkak. Ketika Hwi Ling menyeringai dan kakinya dapat dipergunakan lagi, Sin Kok memapah adiknya itu menghadapi Kim-mou-eng.
"Pendekar Rambut Emas, kami ternyata memang harus tahu diri. Kau memang hebat, tapi sakit hati yang kami miliki ini tak mungkin kami hapus begitu saja. Biarlah lain kali kita bertemu. Kami ingin menguji kepandaian lagi!"
"Hm, kau keras kepala?"
"Jiwa orang tua kami tak dapat dibayar dengan apa pun, Pendekar Rambut Emas. Kalau kau membebaskan kami, jangan harap hutang itu lunas!"
"Baiklah, itu terserah kalian. Tapi kunasehati kalian untuk tidak bersikap sombong, Sin Kok. Kalian tahu dirilah dan tak perlu takabur," ujar Kim-mou-eng dengan alis mengerut muram.
Ketika dua kakak beradik itu masih memandangnya penuh kebencian dan memutar tubuh, tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat lenyap mendahului mereka. Sin Kok dan adiknya hanya mendengar angin berdesir di sebelah mereka. Saat mereka menoleh dan bayangan Pendekar Rambut Emas itu tidak ada lagi, dua kakak beradik itu pun pergi dengan muka gelap.
Hari itu, Kim-mou-eng mengalahkan sekaligus mengampuni mereka. Hal yang membuat mereka sakit hati, namun sekaligus merasa berhutang budi. Sikap yang bagi mereka membingungkan, namun juga menimbulkan rasa kagum. Karena Pendekar Rambut Emas itu memang hebat dan kepandaian mereka jauh di bawahnya, dua kakak beradik ini menyimpan semua perasaan yang membuat mereka tak keruan. Bagaimanapun, mereka melihat bahwa Pendekar Rambut Emas adalah seorang laki-laki gagah yang simpatik. Tak seharusnya mereka mendendam, tetapi kematian ayah mereka di tangan suheng pendekar itu tak mungkin dihapus begitu saja. Dengan perasaan gundah, mereka pun pergi.
Begitulah, untuk pertama kalinya Kim-mou-eng mulai mencicipi "getah" dari perbuatan suhengnya. Sesungguhnya, ia tidak tahu-menahu persoalan suhengnya dengan orang-orang Jit-liong Ciangkun. Ia diam-diam merasa cemas dan kaget.
Saat tengah hari, ketika ia melanjutkan perjalanan dan masih memikirkan permusuhan putra-putri Ang-bin Ciangkun kepadanya, mendadak untuk kedua kalinya ia dihadang oleh tiga orang musuh baru—tiga laki-laki pendek yang memandangnya penuh kebencian di mulut hutan pinus.
"Kim-mou-eng, berhenti! Kami hendak menagih hutang!"
Kim-mou-eng terkejut melihat sikap orang-orang tak dikenal itu yang tidak bersahabat. Namun, karena ia memang ramah dan cukup sabar, ia berhenti dan justru menjura di depan ketiga laki-laki pendek tersebut.
"Sam-wi enghiong (tiga tuan gagah) ini siapakah? Mengapa menghadang perjalanan dan hendak menagih hutang?"
"Hm, tak perlu pura-pura. Kami Sin-to Samenghiong (Tiga Pendekar Golok Sakti). Kami mencegat karena hendak membalas kematian kakak seperguruan kami. Kau bersiaplah, bayar hutang jiwa ini dengan jiwa pula!"
"Lho, jiwa siapa?" Kim-mou-eng tentu saja tercengang. "Kalian tidak salah mencegat? Aku tak merasa membunuh siapa pun, harap jangan salah menuduh!"
Seorang di antaranya maju ke depan, mencabut golok yang berkeredep menyilaukan mata dengan desing yang mengerikan. "Kami tidak salah orang, Kim-mou-eng. Justru kami tahu bahwa kami menuntut pada orang yang tepat. Kami sute (adik seperguruan) Beng-ciangkun, kini datang untuk menuntut tanggung jawab perbuatan suhengmu yang biadab!"
"Ah, apa yang dilakukannya?"
"Jangan pura-pura!" orang itu membentak. "Suhengmu telah membunuh suhengku, Kim-mou-eng. Karena itu, kami datang untuk menuntut balas!"
Mendengar perbuatan suhengnya yang katanya membunuh Beng-ciangkun—panglima pendek kekar yang merupakan rekan Bin-ciangkun, sesama orang Jit-liong Ciangkun—membuat Kim-mou-eng tertegun. Ketika ia terbelalak dan laki-laki di depannya mengibaskan golok, dua orang lainnya segera mencabut senjata dan langsung melompat mengurungnya.
"Kim-mou-eng, tak perlu ahoh! Kau jangan bengong saja, kami tahu kau bukan orang bodoh!"
Kim-mou-eng sadar. Sekarang ia melihat tiga lawannya itu beringas memandangnya. Cekalan golok mereka menandakan orang-orang ini cukup lihai, jauh di atas Sin Kok maupun Hwi Ling. Namun, Kim-mou-eng yang tersenyum pahit oleh kemarahan mereka, tiba-tiba menarik napas mencoba berdamai.
"Sam-wi enghiong, aku sesungguhnya tak tahu-menahu perbuatan suhengku itu. Kenapa kalian marah-marah kepadaku? Sebaiknya jelaskan dulu apa yang terjadi. Aku tak tahu apa-apa, kalian bersabarlah."
"Hm, bersabar untuk orang yang telah membunuh saudara kami? Tak mungkin! Kami tak mau bersabar lagi dan akan mencari juga suhengmu itu!"
"Kalau begitu, kenapa tidak cari saja suhengku itu? Aku tak tahu apa-apa, tak seharusnya kalian menuntut aku!"
"Kau takut?"
Kim-mou-eng tertawa getir. "Sam-wi enghiong, aku tak takut menghadapi siapa pun. Juga aku tak takut menghadapi kalian. Tapi kalian ngawur, aku hendak memperingatkan bahwa urusan ini aku tak tahu-menahu."
"Tapi kau sutenya, kau saudara dari Singa Daratan Tandus itu!"
"Benar, tapi aku tak tahu-menahu perbuatan suhengku, Sam-wi enghiong. Aku tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Aku justru heran, kenapa suhengku membunuh Beng-ciangkun!"
"Hm, tak perlu banyak cakap. Semua orang tahu itu, Kim-mou-eng. Kami tak menghasut atau mengada-ada. Kau bersiaplah dan tak perlu banyak cing-cong lagi!"
"Sing!" Laki-laki pertama tiba-tiba menggerakkan golok, membacok kepala Kim-mou-eng dari atas ke bawah dengan sikap penuh kebencian. Desing goloknya membuat kulit serasa teriris. Begitu tajam! Ketika Kim-mou-eng mengelak, dua lawan lainnya juga menyerang dari kiri dan kanan tubuhnya.
"Kim-mou-eng, kami pun ingin membunuhmu. Bersiaplah!" Dua golok itu membelah dari kiri dan kanan, menyambar pinggang dan membalik ketika Kim-mou-eng menghindar.
Ketika Kim-mou-eng berseru keras dan laki-laki pertama maju kembali dengan goloknya, pendekar ini sudah dikurung dan dihujani serangan golok bertubi-tubi. Terpaksa, Kim-mou-eng berlompatan, menangkis, dan menyuruh orang-orang itu menghentikan pertempuran. Namun, hujan serangan justru semakin menghebat. Seruan pendekar itu seolah menjadi api dalam sekam yang membara; ia disambut lengkingan dan pekikan panjang saat tak satu pun dari tiga golok itu mampu menyentuh tubuhnya.
"Pendekar Rambut Emas, tak perlu banyak cakap lagi. Kau mampuslah atau kami yang mengorbankan nyawa!"
Kim-mou-eng dikerubut. Ia dikeroyok dari tiga penjuru, bahkan dari depan dan belakang karena tiga orang itu mulai berpindah-pindah tempat mengikuti gerakannya. Serangan lawan yang cepat membuat pendekar ini kewalahan. Tiba-tiba, Sin-to Sam-enghiong lenyap membentuk bayangan tiga golok terbang!
"Ah, Sin-to Sha-kak-tin (Tiga Kedudukan Golok Sakti)!" Kim-mou-eng berseru kaget. Ia terpaku kagum melihat tiga bayangan sinar golok yang luar biasa itu mengelilinginya tanpa henti. Desing golok semakin tajam mengiris kulit; tak lama, bajunya robek-robek oleh hawa sinar golok tersebut meski belum tersentuh senjata.
Ketika Kim-mou-eng harus menangkis ke sana ke mari, untuk pertama kalinya lengan bajunya robek disambar golok. "Bret!" Kim-mou-eng terkejut. Ia sadar tiga pendekar golok ini memang hebat, jauh di atas Sin Kok maupun Hwi Ling. Mereka adalah lawan tangguh. Karena mempertahankan diri tanpa membalas adalah tindakan berbahaya, dengan menyesal pendekar ini terpaksa membentak dan mengeluarkan Tiat-lui-kangnya (Tamparan Tangan Petir).
"Sam-wi enghiong, maafkan aku. Kalian memang cukup hebat, aku terpaksa membalas!"
Kim-mou-eng memperingatkan lawan. Kali ini, ia menjejakkan kaki melompat tinggi, menggerakkan kedua lengannya, meledak, dan tiba-tiba membentur tiga golok di tangan Sin-to Sam-enghiong.
Saat lawan terkejut, Kim-mou-eng meluncur kembali, memutar pinggang, dan melepas pukulan Tiat-lui-kang. "Plak-plak-plak!" Tiga pendekar golok itu berteriak dan terpental mundur. Pukulan Kim-mou-eng membuat senjata mereka panas bagai disentuh api, hingga mereka hampir melepaskan golok.
Ketika Kim-mou-eng kembali bergerak dan mereka menangkis, tiba-tiba golok mengeluarkan lelatu api saat terkena pukulan Tiat-lui-kang. "Crang!" Sin-to Sam-enghiong terkejut. Mereka merasa golok di tangan seolah terbakar, persis disambar petir. Saat mereka mencelos melihat golok hangus kebiruan, Kim-mou-eng berseru untuk ketiga kalinya, "Sam-wi enghiong, maafkan aku..."