Chapter 67
"Plak! Plak!" Dua orang di antara mereka yang terpaksa membanting tubuh bergulingan akhirnya menjerit melepaskan golok mereka, tak tahan oleh hawa panas yang menjalar sampai ke telapak tangan. Begitu menyengat, tiada ubahnya aliran listrik.
Ketika seorang di antaranya harus mengelak dan bergulingan, tiga pendekar golok itu melompat bangun memandang Kim-mou-eng dengan wajah pucat.
"Tiat-lui-kang...!"
"Ya, benar. Dan sekarang, apakah kalian mau menghentikan pertempuran, sam-wi enghiong?" Kim-mou-eng berhenti dan berdiri tegak menatap lawan-lawannya dengan mulut tersenyum.
Namun, Sin-to Sam-enghiong yang tiba-tiba saling pandang dengan wajah memerah, kembali menerjang maju dengan marah. "Tidak, kami tak jera, Kim-mou-eng. Kami siap membela Beng-suheng dengan taruhan nyawa kami!"
"Wut-sing!" Tiga golok bersiutan menyambar-nyambar. Kim-mou-eng mengerutkan kening, merasa tidak senang. Ia terpaksa menangkis dan kembali meledakkan tenaga Tiat-lui-kang miliknya. Sin-to Sam-enghiong, yang tidak berani menangkis dan selalu melencengkan senjata untuk menghindari pukulan tersebut, membuat pertempuran menjadi seru dan sengit.
Kim-mou-eng mengerutkan alis. Ia melihat persamaan orang-orang ini dengan Sin Kok dan Hwi Ling: keras kepala dan tidak tahu diri. Mereka tidak sadar bahwa ia masih bermurah hati dengan hanya menghanguskan golok mereka, bukan tubuh mereka. Jika ia mengerahkan seluruh tenaga Tiat-lui-kangnya, tentu tubuh ketiga lawannya bisa hancur karena pukulan itu tiada ubahnya seperti petir.
Melihat lawan nekat menyerang, pendekar ini menggigit bibir karena marah. "Sin-to Sam-enghiong, kalian rupanya orang-orang sombong. Baiklah, kita selesaikan pertempuran ini dengan jalan kekerasan!"
Begitu Kim-mou-eng membentak dan membalas serangan, tiga lawannya terpental mundur, terdorong oleh hawa panas yang mulai keluar dari lengan Pendekar Rambut Emas itu. Saat Kim-mou-eng mengebutkan tangan dan menampar dengan keras, sebuah golok langsung hancur karena pemiliknya tidak sempat menyelamatkan senjata tersebut.
"Krakk!"
Dua orang lainnya terkejut melihat saudara mereka terjengkang dan bergulingan sambil mendesis kesakitan. Tangan yang memegang golok tampak kebiruan akibat sambaran pukulan Tiat-lui-kang yang menjalar dari ujung golok ke pergelangan tangan. Senjata itu tentu saja tak dapat dipakai lagi. Ketika Kim-mou-eng bergerak kembali, orang kedua terpaksa menangkis dengan goloknya.
"Krekk!" Golok itu pun hancur. Orang ketiga menjadi pucat saat melihat saudaranya menderita lebih hebat dengan tangan hingga siku yang gosong kebiruan. Saat Kim-mou-eng kembali bergerak, orang ketiga yang ngeri membabatkan goloknya hanya bisa menangkis, sementara Kim-mou-eng menamparnya.
"Krak-dess!" Orang terakhir pun menjerit. Ia terlempar bergulingan bagai layang-layang putus tali, dengan pundak dan pangkal lengan yang hangus kebiruan. Ketika mereka bangkit dengan kaki menggigil dan wajah pucat, Kim-mou-eng maju menghampiri.
"Bagaimana, apakah kalian masih ingin menyerang lagi, sam-wi enghiong?"
"Tidak," orang tertua di antara mereka mengatupkan mulut. "Kami sudah kalah, Kim-mou-eng. Kau boleh membunuh kami agar sekalian menyusul Beng-suheng!"
"Hm," Kim-mou-eng tersenyum getir. "Nyawa manusia bukanlah semut, sam-wi enghiong. Aku tidak akan membunuh kalian karena kalian bukanlah musuhku."
"Kau tidak membunuh kami?"
"Tidak."
"Kau bersungguh-sungguh?"
"Ah, pernahkah kalian mendengar aku main-main? Aku tidak suka membunuh orang, apalagi orang-orang seperti kalian yang berjuluk pendekar!"
Sin-to Sam-enghiong terpukul. Mereka tersentuh oleh kata-kata Kim-mou-eng karena tidak menyangka akan diampuni. Namun, dendam atas kematian kakak mereka di tangan Gurba membuat mereka tetap menggigit bibir.
"Kim-mou-eng, kami tidak akan menyerah meskipun kau tidak membunuh kami. Apakah kau tidak menyesal membebaskan kami?"
Kim-mou-eng menarik napas. "Sam-wi enghiong, sebenarnya yang bermusuhan bukanlah aku dan kalian, melainkan kalian dengan suheng-ku. Kenapa kalian berpikir sempit dan menaruh dendam padaku? Namun, aku tidak takut ancaman kalian. Kalau kalian masih sakit hati dan kelak mencari aku, hal itu tidak akan kuhindari. Hanya saja, aku menyayangkan kalian yang berjuluk pendekar masih berpikiran kekanak-kanakan. Sungguh menyesal aku!"
Melihat wajah mereka yang memerah menahan sakit, Kim-mou-eng melemparkan sebungkus obat. "Sam-wi enghiong, luka bekas Tiat-lui-kang tidak gampang disembuhkan. Kuharap kalian menerima obat ini dan minumlah. Sehari tentu sembuh!"
Sembari mereka terbelalak kebingungan, Kim-mou-eng menjura. "Selamat tinggal, sam-wi enghiong. Kita akan berjumpa kelak!" Begitu pendekar itu memutar tubuh, bayangannya lenyap berkelebat, meninggalkan tiga pendekar golok itu dalam kondisi bengong dan semakin terpukul oleh kebaikan sang Pendekar Rambut Emas.
Begitu sadar, mereka segera mengambil bungkusan obat tersebut.
"Aneh... pendekar yang aneh!" gumam orang tertua. Dua saudaranya mengangguk. "Ya, Kim-mou-eng memang aneh. Sungguh tak kukira dia membalas kemarahan kita dengan kesabaran yang luar biasa. Dan kepandaiannya sangat tinggi, kita benar-benar bukan tandingannya!"
Orang ketiga memijat pergelangannya yang bengkak dengan gentar. "Kita sekarang harus menambah kepandaian kita, sute. Kita mungkin harus berlatih sepuluh atau dua puluh tahun lagi untuk mencari Kim-mou-eng."
"Ya, kita pulang saja. Kita harus tahu diri dan memperdalam ilmu silat kita!"
"Baik, mari kita pergi!" Begitu mereka pergi, hutan pinus itu pun sunyi kembali.
Kim-mou-eng sudah berada jauh di timur, melanjutkan perjalanan dengan kening berkerut. Ia terkejut dan penasaran setelah mengetahui bahwa memang benar suheng-nya telah membunuh empat dari Jit-liong Ciangkun dan menyerbu kota raja. Ia tidak habis pikir mengapa suheng-nya melakukan hal itu; apakah semata-mata mencari dirinya? Rasanya tidak mungkin.
Apalagi setelah mendengar kabar kaisar memberikan hadiah selir kepada suheng-nya dan suheng-nya menerima hal tersebut, serta suku bangsa Tar-tar kini mengikat persahabatan dengan kaisar. Kim-mou-eng semakin bingung. Ia memutuskan untuk mencari suheng-nya demi menyingkap teka-teki ini, sama sekali tidak menyangka bahwa ia justru akan celaka di tangan saudaranya sendiri.
Mari kita tinggalkan sejenak perjalanan Kim-mou-eng dan beralih ke Kota Ceng-tu, tempat tinggal Bu-kongcu bersama gurunya, si datuk sesat Sai-mo-ong. Sore itu tampak kesibukan yang tidak biasa di kediaman Bu-kongcu. Sai-mo-ong menjamu tamu-tamu istimewa. Tok-gan Sin-ni tampak di sana, ditambah lagi dengan tiga tamu baru: sepasang kakek cebol berkulit hitam, Hek-bong Siang-lo-mo, dan seorang kakek lain yang mulutnya tersenyum-senyum namun matanya keji, yaitu Siauw-bin-kwi.
Sai-mo-ong mengundang mereka setelah insiden pertemuan dengan Kim-mou-eng dan Salima, di mana para datuk sesat itu menyadari bahwa Pendekar Rambut Emas tersebut memang memiliki kepandaian yang luar biasa.