Chapter 68
Mereka geram dan marah karena harus mengakui keunggulan lawan apabila bertanding satu lawan satu. Karena Bu-kongcu tergila-gila pada Tiatciang Sian-li Salima dan merengek kepada gurunya agar menangkap gadis Tar-tar yang luar biasa itu, akhirnya Sai-mo-ong mendongkol dan marah pula pada muridnya tersebut.
"Gadis itu bukan kucing betina yang jinak, Bu Ham. Kau harus tahu itu dan jangan merajuk seperti anak kecil!"
"Aku tahu. Justru karena itu aku ingin memilikinya, Suhu. Aku minta, tangkaplah dia dan jadikan dia sebagai istriku!"
"Kau kira gampang? Kau main-main?"
"Tidak, aku bersungguh-sungguh, Suhu. Kalau kau tak dapat menangkapnya seorang diri, kau dapat minta bantuan Bibi Tok-gan Sin-ni!"
Sai-mo-ong mendelik. "Bu Ham, kau rupanya mabuk kepayang seperti bocah tidak waras! Bukankah banyak wanita lain yang dapat kau peroleh? Jangan macam-macam seperti itu. Kubunuh kau nanti!"
Bu Ham tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. "Suhu, Teecu rela kau bunuh. Aku tak akan menghentikan permintaanku ini. Kalau kau tak dapat memenuhi permintaan muridmu, lebih baik kau bunuh aku agar tidak menanggung rindu dan sengsara seperti ini!"
Bu Ham menangis, membuat gurunya terkejut dan tertegun memandang sang murid, kaget juga oleh kenekatan muridnya itu. Namun, setelah membentak dan merasa reda oleh sikap Bu Ham yang sungguh-sungguh, akhirnya datuk ini mengangguk meski sempat menendang muridnya.
"Baiklah, pergi kau. Kuturuti permintaanmu!"
Bu Ham, yang mencelat terlempar oleh tendangan gurunya, berseru girang mendengar janji itu. Ia tahu permintaannya terkabul; gurunya akan meminta Tok-gan Sin-ni membantu meringkus Salima, si gadis Tar-tar yang hebat. Namun, ketika Tok-gan Sin-ni mendengar hal itu dan tertawa mengejek, tiba-tiba Bu Ham dipanggil.
"Bocah, kau benar-benar tergila-gila pada kucing betina itu?"
Bu Ham tak malu-malu. "Ya, aku jatuh cinta padanya, Bibi. Mohon kau membantu Suhu menangkap gadis itu. Aku tak dapat tidur setiap malam!"
"Hi-hik, kalau begitu bagaimana jika aku tak mau membantu?"
Bu Ham terkejut. "Ayo, bagaimana kalau aku tak mau membantu?"
Bu Ham tiba-tiba menangis. "Bibi, sukalah kau mengasihani aku. Aku benar-benar mabuk kepayang pada gadis pujaanku itu. Tolonglah aku... tolonglah Suhu..."
"Hm!" Tok-gan Sin-ni membentak. "Kau hanya memikirkan nasib dirimu saja, Bu Ham. Kau tak memikirkan nasib muridku yang juga tergila-gila padamu!"
Bu Ham terkejut. "Leng Hwat?"
"Ya, siapa lagi? Bukankah kau berhubungan dengan muridku itu?"
"Ah," Bu Ham mengelak. "Hubungan kami tak ikat-mengikat, Bibi. Aku dan dia sama-sama melakukan itu kalau lagi sama-sama mau!"
"Jadi tak serius?"
"Benar, Bibi. Kami memang tidak serius."
"Kalau begitu bagaimana jika kucing betina yang kau puja tak suka padamu?"
"Aku akan memaksanya, Bibi. Kalau dia telah menjadi istriku dan hamil oleh hubungan suami istri, tentu lama-lama dia menerima juga. Asal Bibi membantu!"
"Hm, kalau aku tak mau?"
"Jangan menolak, Bibi." Bu Ham pucat. "Suhu juga sering menolongmu kalau kau menemui kesulitan!"
"Keparat, kau minta aku membayar budi kebaikan gurumu? Sialan, kurobek mulutmu, Bu Ham! Kau lancang... plak-plak!"
Bu Ham yang mendapat tamparan dua kali tiba-tiba terjengkang dan ditinggal pergi wanita itu. Ia mengaduh dan melapor pada gurunya akan perbuatan bibinya tersebut. Ketika Sai-mo-ong marah dan mencari wanita ini, Tok-gan Sin-ni berkacak pinggang menantang.
"Mo-ong, kau tahu di antara kita pantang bicara soal budi dan segalanya itu. Itu adalah urusan orang-orang bersih, kita dicap sebagai orang sesat! Masa muridmu begitu kurang ajar bicara tentang budi dan utang? Kalau dia mau bantuan, harus bersikap baik, jangan kurang ajar seperti itu!"
Mo-ong melotot. "Tapi kau tak perlu menamparnya, Sin-ni. Dia muridku, bukan muridmu!"
"Peduli apa?" Wanita ini menarik urat. "Kalau muridku kurang ajar, kau juga boleh menamparnya, Mo-ong. Aku tak akan peduli atau marah-marah sepertimu ini!"
Mo-ong tertegun. Mereka memang mempunyai semacam peraturan aneh, yakni tak perlu berbuat baik atau apa pun yang bersifat baik kepada orang lain, terutama musuh. Mereka bahkan menganggap perbuatan baik adalah busuk belaka karena itu dianggap pura-pura. Mereka memegang peraturan bahwa yang baik adalah munafik. Jadi, tidak perlu berbuat baik karena itu adalah omong kosong belaka, milik orang-orang sombong yang menamakan dirinya pendekar.
Karena mereka adalah orang-orang sesat yang pikirannya jungkir balik, Mo-ong akhirnya dapat menerima dan justru menegur muridnya itu. "Benar, kau yang salah, Bu Ham. Kalau kau mau minta tolong pada bibimu, seharusnya tak perlu mengungkit-ungkit tentang jasa dan utang budi. Kita adalah orang-orang sesat, apa yang kita lakukan sudah terhitung dalam timbal balik yang sama. Bibimu juga pernah menolong aku!"
Bu Ham marah. Dia tak mau disalahkan, tapi karena dia butuh bantuan Tok-gan Sin-ni untuk menangkap Salima yang diketahui bersama Kim-mou-eng, pemuda ini mengangguk dan menuruti perintah gurunya. Dia meminta maaf, diketawai Tok-gan Sin-ni yang mencemoohnya. Namun, ketika kembali dan mengulang permintaannya tanpa menyebut-nyebut kebaikan gurunya, mendadak wanita sakti itu melompat pergi sambil mengejeknya.
"Bu Ham, aku mual pada rengekanmu. Biarlah kau bantu sendiri gurumu itu, hi-hik...!"
Bu Ham tertegun. Dia melihat gurunya menyeringai, lalu ikut melompat pergi dan meninggalkannya sendirian. Selama seminggu dia merengek namun tetap tak berhasil, sampai keesokan paginya dia dipanggil wanita sakti itu ke kamarnya. Bu Ham merasa deg-degan.
"Ada apa, Bibi?" Tok-gan Sin-ni terkekeh. "Kau tak marah padaku?"
"Marah tentang apa?"
"Aku tak mau membantumu! Persoalan gadis Tar-tar itu!"
Bu Ham terdiam, kakinya menggigil. Sebenarnya dia marah dan benci sekali pada sahabat gurunya ini. Kalau saja dia mampu, mungkin sudah dicekiknya wanita bermata satu ini. Tapi Bu Ham yang cerdik, yang dapat melihat keadaan dan berpengalaman bergaul dengan orang-orang sesat, tiba-tiba malah tertawa dan menjatuhkan diri berlutut.
"Bibi, aku tak marah sama sekali biarpun kau menolaknya. Aku sudah punya jalan, rencanaku pasti berhasil."
"Hm, jalan apa? Rencana apa?"
Bu Ham yang berotak encer langsung menjawab, "Aku akan meminta teman-teman Suhu yang lain membantu, Bibi. Seperti Paman Siauw-bin-kwi atau Hek-bong Siang-lo-mo. Mereka pasti mau membantu. Aku yakin!"
Tok-gan Sin-ni tampak terkejut. "Kau sudah bertemu mereka?"
"Sudah!" Bu Ham menjawab seenaknya, bersikap gembira dan tertawa ringan memandang wanita itu. "Aku sudah bertemu mereka, Bibi. Dan Suhu siap mengundangnya."
"Bohong!" Tok-gan Sin-ni tiba-tiba berkelebat, menyambar leher baju pemuda ini. "Kau bohong, Bu Ham. Kau dusta padaku!"
Bu Ham terkejut, sesak napasnya. "Aku tidak bohong, Bibi. Kau boleh tanya Suhu kalau tidak percaya!"
"Kau tidak main-main?"
"Kenapa main-main? Kau tak mau membantuku, Bibi. Karena itu aku cari yang lain karena mungkin kau takut pada Kim-mou-eng dan sumoinya itu!"
"Plak!" Tok-gan Sin-ni tiba-tiba menampar, membuat Bu Ham terpental membentur tembok. "Aku tak takut pada Kim-mou-eng atau siapa pun, Bu Ham. Aku tak mau membantu karena aku muak padamu!"
Ketika Bu Ham melompat bangun dan wajah Tok-gan Sin-ni memerah, wanita sakti itu mendesis, "Bu Ham, siapa mengajarimu begitu lancang menyebut aku takut? Gurumu?"
Bu Ham terkejut. Dia gentar melihat wanita ini marah dan menyebut-nyebut nama gurunya, karena persoalan bisa runyam. Sesungguhnya, dia sendiri yang berkata begitu untuk melampiaskan kejengkelannya. Ketika Tok-gan Sin-ni kembali membentak dan bertanya siapa yang mengajarinya, tiba-tiba Bu Ham tertawa getir sambil bangkit berdiri.
"Bibi, tak ada siapa-siapa yang mengajari aku. Aku sendiri yang berkata begitu. Aku mendongkol padamu."
"Hm, bukan gurumu?"
"Bukan."
"Kau berani kubunuh kalau bohong?"
Bu Ham semakin tertawa pahit. "Tok-gan Sin-ni, jangan kau mentang-mentang di tempat ini. Ini adalah rumahku. Kalau kau membunuh aku, maka Suhu juga akan membunuh muridmu dan menuntut tanggung jawabmu. Tak perlu menggertak!"
Tok-gan Sin-ni terkejut. Bu Ham tidak lagi menyebutnya "Bibi", melainkan memanggil namanya begitu saja karena pemuda ini mendongkol dan menunjukkan kemarahannya. Tok-gan Sin-ni yang tersenyum teringat sangkalan Bu Ham, tiba-tiba sadar dan maklum bahwa pemuda ini telah mengibulinya. Hal ini justru membuat Bu Ham tertegun.
"Hi-hik, kiranya kau mempermainkan aku, Bu Ham. Sekarang kau menunjukkan bahwa sesungguhnya kau marah padaku karena aku tak membantumu! Hayo, berani kau bilang bahwa sesungguhnya kau tidak marah padaku?"
Bu Ham terbelalak.
"Dan kau juga menipuku tentang Siauw-bin-kwi dan Hek-bong Siang-lo-mo itu, Bu Ham. Sekarang aku tahu bahwa semuanya itu adalah hasil rekaanmu belaka!"
Ketika Bu Ham terdiam dan Tok-gan Sin-ni mengetahui akalnya, pemuda ini telah disambar wanita sakti itu.
"Bu Ham, ayo jawab sekarang. Maukah kau kubantu menangkap gadis Tar-tar itu?"
Bu Ham seakan tak percaya. "Bibi bersungguh-sungguh?"
"Cerewet, jawab dulu pertanyaanku itu. Maukah kau kubantu menangkap kucing betina itu?"
"Ah," Bu Ham tentu saja girang bukan main melihat perubahan keadaan itu. "Tentu saja mau, Bibi! Siapa bilang tidak? Kenapa baru sekarang menyatakan kesediaan ini?"
Tok-gan Sin-ni melepaskan cekalannya. "Untuk melihat kesungguhanmu, bocah. Kau setengah-setengah atau tidak!"
Ketika Bu Ham tertawa dan menjatuhkan diri mengucap terima kasih, tiba-tiba Tok-gan Sin-ni mendengus. "Jangan buru-buru, Bu Ham. Aku masih ada syarat untuk semua bantuanku ini. Kau sanggup?"
"Sanggup, Bibi," Bu Ham langsung menjawab. "Aku sanggup melakukan apa saja asal aku mampu!"
"Hm, tentu kau mampu," Tok-gan Sin-ni bersinar matanya. "Kau mampu melakukannya, Bu Ham."