Chapter 69
"Tapi tak tahu apakah kau mau melakukannya!"
"Apa itu?"
"Mencumbu diriku!"
"Hah?"
"Ya, menjadi kekasihku sebelum kau mendapatkan siluman betina itu. Kau mau?"
Bu Ham tertegun. Dia bengong mendengar pertanyaan itu; sungguh tak menyangka wanita sakti tersebut ingin menjadi kekasihnya, padahal Tok-gan Sin-ni sudah berusia setengah abad. Namun, Bu Ham yang benar-benar membutuhkan bantuan wanita ini untuk memperoleh Salima tiba-tiba tersenyum, bangkit berdiri, dan langsung memeluknya.
"Bibi, kenapa baru sekarang kau katakan hasratmu ini? Dulupun kalau kau mau, tentu aku suka melayanimu. Baik, aku siap menjadi kekasihmu dan melakukan apa saja untuk kesenanganmu!"
Bu Ham tertawa melihat Tok-gan Sin-ni tersenyum, lalu ia mencium dan memeluk wanita bermata satu itu tanpa rasa jijik pada mata tunggalnya yang tertutup kain hitam. Ketika Tok-gan Sin-ni terkekeh dan membalas ciumannya, tiba-tiba Bu Ham sudah dilemparkan ke atas pembaringan.
"Bu Ham, ayo buka bajuku!"
Bu Ham tersenyum. Tok-gan Sin-ni sudah menubruknya dan mendesak agar pakaiannya dibuka. Saat Bu Ham melepas pakaian wanita itu, ia tertegun sekaligus kagum melihat tubuh si wanita sakti yang masih kencang, singsat, dan padat karena ia pandai menjaga dirinya. Ketika Tok-gan Sin-ni juga membuka pakaian Bu Ham, kedua insan itu saling memagut di atas pembaringan dan bergumul dengan tawa serta dengus yang tertahan.
Ternyata, Tok-gan Sin-ni sangat ganas di atas ranjang. Wanita itu meminta hal-hal yang aneh, tetapi karena Bu Ham adalah seorang pemuda yang luas pergaulannya dengan pelacur dan wanita penghibur, ia dapat melayani Tok-gan Sin-ni dengan sangat baik. Tok-gan Sin-ni sampai tergila-gila dan tak mau keluar dari kamar selama tiga hari.
Pada hari keempat, Leng Hwat mencari gurunya dan tertegun melihat sang guru sedang bermain cinta dengan Bu Ham. Mendadak gurunya terkekeh dan menyuruhnya masuk.
"Leng Hwat, tutup pintu dan masuklah ke dalam!"
Leng Hwat terkejut. "Mau apa, Subo?"
"Hi-hik, kau cemburu padaku, bukan?"
"Ah, tidak!" Leng Hwat memucat dan menggelengkan kepalanya. "Teecu tak merasa cemburu atau apa pun, Subo. Bu-kongcu milik siapa pun, kalau Subo mau!"
"Kalau begitu masuklah, tutup pintu, dan kita minta pemuda ini melayanimu!" Tok-gan Sin-ni tertawa, mengejutkan Leng Hwat dan Bu Ham yang sudah turun dari pembaringan dengan wajah terbelalak.
Namun, ketika wanita sakti itu mengibaskan rambutnya dan ikut turun dari pembaringan, ia memandang Bu-kongcu dengan penuh kekaguman. "Bu Ham, kau kuat sekali. Aku letih, ketuaanku ini benar-benar tak sanggup menambah tenaga lagi. Kau layanilah Leng Hwat, aku ingin menonton!"
Bu Ham terkejut, mengingat pergumulannya selama tiga hari itu. "Tapi aku juga lelah, Bibi. Masa aku..."
"Hm, kau tak menolak semua permintaanku, bukan? Kalau kau lelah, kau dapat menelan ini. Obat ini khusus untuk laki-laki, terimalah!" Tok-gan Sin-ni melempar sebutir kapsul pembangkit nafsu dan tertawa memandang Bu Ham.
Ia kemudian menatap muridnya. "Leng Hwat, sekarang kau ajak Bu Ham bermain cinta. Ayo, aku lelah. Aku ingin menonton kalian bertarung!"
Leng Hwat tertegun. Ia tak menyangka gurunya akan memberi perintah seperti itu, tetapi karena ia sendiri bukan wanita baik-baik dan sudah terbiasa dengan perbuatan buruk, Leng Hwat tersenyum dan mengangguk. Ia melepas bajunya hingga telanjang bulat di depan Bu Ham. Ketika Bu Ham terbelalak dan menelan obat pemberian Tok-gan Sin-ni, pemuda itu mendengus dan langsung menyambar tubuh murid Tok-gan Sin-ni tersebut.
"Leng Hwat, kau cantik!"
Leng Hwat tertawa. Tok-gan Sin-ni juga tertawa melihat bekerjanya obat yang begitu cepat. Saat Bu Ham mencium dan membanting tubuh Leng Hwat hingga bergulingan, wanita sakti itu menonton "pertandingan" tersebut dengan mata berbinar, sesekali tertawa melihat adegan-adegan yang lucu.
Sebentar kemudian, mereka melekat menjadi satu seolah lintah yang menempel, ketat tanpa rasa malu lagi. Ketika pertandingan itu semakin seru dan Leng Hwat mulai merintih, timbul keinginan baru dalam diri Tok-gan Sin-ni.
"Bu Ham, kau layani kami berdua!"
Bu Ham terkejut melihat Tok-gan Sin-ni menyela di antara mereka dan menubruk. Namun, karena sudah dimabuk nafsu yang menggairahkan, Bu Ham tertawa menyambut wanita itu. Mereka bertiga bergumul semakin gila hingga pemandangan di dalam kamar itu tidak pantas lagi disaksikan. Baik Bu Ham maupun Tok-gan Sin-ni sama-sama menjadi hamba nafsu berahi yang tak lagi mempedulikan norma susila.
Beberapa hari setelah Bu Ham menjadi "milik" dua wanita cabul itu, Hek-bong Siang-lo-mo dan Siauw-bin-kwi muncul. Mereka datang atas permintaan Sai-mo-ong, yang sebelumnya telah didesak oleh Bu Ham karena pemuda itu khawatir Tok-gan Sin-ni akan mengingkari janji.
Saat tiga iblis tua itu muncul dan mengejutkan Tok-gan Sin-ni, sore itu mereka berhadapan di meja besar.
"Ha-ha, kau sekarang tampak cantik, Sin-ni. Rupanya kau telah menyedot tenaga segar dari pemuda pilihan!" seru Siauw-bin-kwi.
Ia dan Hek-bong Siang-lo-mo memandang nenek itu dengan mata berminyak dan senyum penuh arti, maklum bahwa wanita itu telah "menyedot" tenaga baru dari seorang pemuda yang segar. Tok-gan Sin-ni hanya tersenyum menahan tawa, hingga Sai-mo-ong menepuk tangannya.
"Siauw-bin-kwi, Tok-gan Sin-ni memang telah mendapatkan kesukaannya di sini. Muridku telah melayaninya dua minggu penuh. Kau iri pada keberuntungannya?"
"Aih!" Siauw-bin-kwi terbelalak. "Muridmu sendiri yang dilahap nenek ini, Mo-ong? Kau tak mencegahnya? Awas, salah-salah darah muridmu disedot pula. Sungguh nenek ini tak tahu diri!"
Mo-ong tertawa. "Kau tak perlu khawatir, Siauw-bin-kwi. Kami semua adalah teman. Sin-ni hanya main-main saja."
"Dan kau masih kuat, nenek cantik?" timpal Hek-bong Siang-lo-mo sambil menyeringai bernafsu.
Tok-gan Sin-ni mencibir. "Lo-mo, kau tak perlu memandangku dengan mata berminyak. Aku tak sudi melayani kalian kakek-kakek cebol yang buruk!"
"Ah, tapi kami tak kalah dengan pemuda mana pun, Sin-ni. Coba dulu kalau ingin bukti!"
"Ha-ha!" Siauw-bin-kwi tertawa bergelak. "Memang benar, Sin-ni. Hek-bong Siang-lo-mo telah mengerjai tujuh wanita Tar-tar hingga mereka mati. Dua kakek ini hebat, memiliki tenaga kuda!"
Saat Tok-gan Sin-ni mencibir, Hek-bong Twa-lo-mo bangkit berdiri dan menggoyang pantatnya. "Sin-ni, kau boleh uji bokongku ini. Lihat, masih bulat dan kuat!"
Mata Tok-gan Sin-ni bersinar. Ia melihat bokong orang itu memang bulat dan kuat, tampak penuh tenaga, tak kalah dengan milik Bu Ham. Ingin menguji sekaligus mengejek, ia menyambar sumpit dan menimpukkannya ke arah bokong orang tersebut.
"Twa-lo-mo, coba kuuji kalau begitu. Awas!"
Twa-lo-mo berhenti bergoyang dan melihat sambaran sumpit yang luar biasa cepat. Ia tertawa tanpa mengelak, membiarkan sumpit itu mengenai bokongnya.
"Tass!" Sumpit mental ke atas, jatuh, dan membalik seolah mengenai benda karet.
Tok-gan Sin-ni kembali menyerang dengan sumpit kedua, kali ini dengan membentak dan mengerahkan tenaganya.
"Krek!" Sumpit itu patah. Tok-gan Sin-ni terbelalak kagum, mengakui bokong orang itu memang kuat dan kenyal. Namun, Hek-bong Twa-lo-mo yang terbahak mendemonstrasikan kekuatannya tiba-tiba meloncat dan mencium wanita itu.
"Sin-ni, kau sekarang harus memberikan imbalannya. Sumpitmu membuat nafsuku bangkit... ngok!"
Pipi Tok-gan Sin-ni dicium dengan suara keras. Saat ia tertegun karena tidak menduga hal itu, Twa-lo-mo mencoba mencium pipi satunya. Sontak wanita itu marah dan menendang meja.
"Lo-mo, pergi kau!"
"Brakk!" Meja terguling, mengejutkan semua orang. Hek-bong Twa-lo-mo telah berjungkir balik melesat jauh sambil mengusap bibirnya dan tertawa bergelak.
"Sin-ni, kau memang hebat. Pipimu masih halus!"
Tok-gan Sin-ni marah besar dengan mata berkilat. "Lo-mo, jangan main-main kepadaku. Kubunuh kau nanti!"
"Ha-ha, kau dapat membunuhku, nenek cantik? Jangan sombong, kaulah yang akan kutelanjangi dan kubuat tak berdaya!"
Hek-bong Twa-lo-mo melompat turun, dan Tok-gan Sin-ni pun maju menyerang dengan bertubi-tubi pukulan dan tamparan. Twa-lo-mo mengelak ke sana kemari sebelum akhirnya menangkis dan untuk pertama kalinya mereka beradu tenaga.
"Duk-dukk!"
Dua orang itu sama-sama tergetar.