Chapter 70
Baik Twa-lomo maupun Tok-gan Sin-ni sama-sama terdorong, masing-masing selangkah mundur.
Namun, ketika keduanya hendak bergebrak lagi dan Siauw-bin-kwi bersorak gembira, tiba-tiba Mo-ong sebagai tuan rumah meloncat maju, melerai di tengah.
"Lo-mo, Sin-ni, tahan kemarahan kalian. Tak perlu bertempur!" Ketika keduanya didorong minggir dan Tok-gan Sin-ni tampak penasaran, Sai-mo-ong berkata lagi, "Sin-ni, kita berkumpul bukan untuk mengadu jiwa, melainkan menghadapi bersama Kim-mou-eng dan saudara-saudaranya itu. Kenapa harus tarik urat untuk persoalan begini? Hayo, padamkan kemarahan kalian, dan Lo-mo, harap tidak menggoda lagi!"
"Heh-heh, aku menggoda karena wanita ini masih menggairahkan, Mo-ong. Siapa yang menyalahkan mata lelaki menghadapi wanita semenarik ini? Aku tak akan menggoda kalau kau dapat mencarikan gantinya. Ayo, mana dia itu?"
Sai-mo-ong tersenyum pahit. "Dia ada di belakang, Lo-mo. Banyak kusiapkan wanita cantik kalau kau mau!"
"Sungguh?"
"Tentu. Muridku akan membantu kalian!"
Ketika Hek-bong Twa-lo-mo tertawa dan Tok-gan Sin-ni menjengek, Sai-mo-ong menyuruh keduanya duduk kembali dan mengatur meja yang terjungkir-balik.
"Lo-mo, kalian katanya telah bertemu dengan si Singa Daratan Tandus itu. Benarkah?"
Hek-bong Siang-lo-mo tiba-tiba menggelap mukanya. "Benar, dan kami mengeroyoknya bersama Siauw-bin-kwi ini, Mo-ong. Kau tahu dari mana?"
"Aku mendengarnya dari kabar di luar. Katanya kalian kalah, benarkah?"
"Hm, siapa bilang?" Siauw-bin-kwi tiba-tiba bangkit bicara. "Kami melarikan diri bukan karena kalah, Mo-ong. Tapi karena sengaja untuk membuat onar dan huru-hara!"
"Maksudmu?"
"Kau sudah mendengar serbuan Jit-liong Ciangkun, bukan?"
"Ya."
"Nah, itulah. Itu pekerjaan kami atas kesombongan si Singa Daratan Tandus itu. Aku mengadu dombanya. Mereka saling hantam dan sama-sama jatuh korban!"
Sai-mo-ong terbelalak. "Itu perbuatan kalian?"
Siauw-bin-kwi tertawa. "Benar, Mo-ong. Aku mencetuskan peperangan itu karena Gurba membunuh dua orang muridku!"
Ketika Siauw-bin-kwi menceritakan asal mula kejadian di luar Tembok Besar serta terbunuhnya Uyin dan Unga di tangan Gurba, tiba-tiba Sai-mo-ong tersenyum dan kagum memandang Iblis Muka Ketawa itu. "Aih, sudah kuduga. Aku juga telah mendengar semuanya, Bin-kwi. Tapi tak kukira kalau Uyin kakak beradik itu adalah murid-muridmu!"
"Ya, dan kematian mereka membuat aku dendam, Mo-ong. Karena itu, kuobrak-abrik suku bangsa Tartar itu agar mereka hancur di tangan kerajaan. Tapi kepandaian Gurba sungguh mengejutkan, suheng Kim-mou-eng itu bahkan membunuh empat dari Tujuh Panglima Naga!"
"Hm," Sai-mo-ong teringat sesuatu. "Benarkah Singa Daratan Tandus itu lihai bukan main? Bagaimana dibanding Pendekar Rambut Emas sendiri?"
Hek-bong Siang-lo-mo menyela, "Kami rasa kepandaiannya memang tinggi, Mo-ong. Tapi kami sanggup menghadapinya. Raksasa itu memang hebat, tapi kami berdua tak gentar menghadapinya!"
"Hm," Tok-gan Sin-ni tiba-tiba mengejek. "Kalau tak gentar, tentunya kalian berdua tak melarikan diri, Lo-mo. Kalian tak takut, tapi nyatanya pengecut. Kalian terbirit-birit seperti anjing dibabat ekornya!"
Hek-bong Siang-lo-mo mendelik. "Yang mengajak kami melarikan diri adalah Siauw-bin-kwi, Sin-ni. Bukan kami. Dan kami mendengar kau ketakutan menghadapi Kim-mou-eng itu! Benarkah?"
Tok-gan Sin-ni merah mukanya karena merasa dibalas. "Aku tak takut menghadapi siapa pun, Lo-mo. Termasuk kalian kalau ingin bukti... wut!" Wanita itu menggerakkan rambutnya, mengibas perlahan, tapi tahu-tahu menyambar Twa-lo-mo, orang yang ia benci. Rambut itu tiba-tiba lurus bagai kawat.
Namun, Twa-lo-mo yang mendongkol menjengek pendek dan tiba-tiba mengangkat lengannya untuk menangkis. "Plak!" Rambut Tok-gan Sin-ni tertahan, bertemu lengan kakek cebol itu dan siap melecut dengan kibasan kedua.
Lagi-lagi mereka hendak bertanding, tetapi Sai-mo-ong buru-buru mencegah. "Sin-ni, tak perlu menyerang teman sendiri. Kita sama-sama menghadapi Kim-mou-eng!"
Tok-gan Sin-ni mengendurkan rambutnya. "Baik, tapi suruh si cebol ini tidak besar mulut, Mo-ong. Aku telah mendengar sikapnya yang tidak tahu malu itu dan tak perlu bicara besar!"
"Hm, kami tak bicara besar, Sin-ni. Kalau kau tak percaya, boleh saja kita coba!" Twa-lo-mo juga marah dan melotot pada lawannya, tapi Sai-mo-ong lagi-lagi berteriak mencegah.
Setelah mereka duduk kembali dan Siauw-bin-kwi senyum-senyum memandang, kakek iblis ini mengangkat lengannya. "Lo-mo, apa yang dikatakan Mo-ong memang benar. Kita diundang bukan untuk saling bermusuhan. Begitu pula Tok-gan Sin-ni. Sebaiknya kita dengar apa maksud tuan rumah mengundang kita. Bagaimana cara menghadapi Kim-mou-eng dan saudara-saudaranya itu!"
Sai-mo-ong mengangguk. "Apa yang kau katakan memang betul, Bin-kwi. Aku mengundang kalian untuk mencari cara menghadapi Pendekar Rambut Emas itu. Aku harus mengakui bahwa Pendekar Rambut Emas itu memang hebat!"
"Dan dia memiliki Tiat-lui-kang!" Ji-lo-mo, orang kedua dari Hek-bong Siang-lo-mo, bicara.
"Ya, dan bukan hanya Tiat-lui-kang, Ji-lo-mo. Tapi juga Pek-sian-ciang yang luar biasa itu!" Sai-mo-ong bergidik, ngeri membayangkan pertempurannya dulu. Ketika Sai-mo-ong menceritakan semuanya dan Siauw-bin-kwi beserta dua temannya mendengarkan dengan mata terbelalak, akhirnya Sai-mo-ong berkata, "Pek-sian-ciang lebih berbahaya dibanding Tiat-lui-kang, Lo-mo. Terus terang, aku mengakui keunggulan Pendekar Rambut Emas itu. Mungkin hanya dengan jalan dikeroyok, pendekar itu dapat kita kalahkan!"
Siauw-bin-kwi dan teman-temannya tertegun. Mereka sendiri sudah merasakan kehebatan Gurba, suheng dari Pendekar Rambut Emas itu. Tok-gan Sin-ni yang juga telah merasakan kelihaian Salima yang tak kalah hebat dengan Kim-mou-eng, akhirnya mendengarkan rencana tuan rumah.
"Bin-kwi, tak perlu kita malu-malu lagi mengakui kelemahan kita sendiri. Aku mengakui keunggulan Kim-mou-eng itu, seperti juga kalian mengakui keunggulan si Singa Daratan Tandus, Gurba. Karena kita mempunyai musuh yang sama, kita harus bersiasat membalas kekalahan kita. Bagaimana kalau kita cari tiga orang itu dan mengeroyoknya bersama?"
Siauw-bin-kwi batuk-batuk. "Aku setuju, Mo-ong. Tapi bagaimana kalau tiga lawan lima, kita juga masih kalah?"
"Ah," Twa-lo-mo meradang. "Kau terlalu kecil hati, Bin-kwi. Kita tak mungkin kalah kalau mengeroyok secara berlima!"
"Hm," Iblis Muka Ketawa ini menyeringai. "Tak perlu mulut besar, Lo-mo. Kita bertiga melawan Gurba saja harus mengakui kelihaiannya. Bagaimana kalau terjadi kejadian ulang seperti dulu?"
"Maksudmu?"
"Kita temukan mereka bertiga. Dan kita kembali bertempur seperti dulu lagi. Mo-ong menghadapi Kim-mou-eng, sedangkan kita menghadapi si Singa Daratan Tandus itu, sementara Tok-gan Sin-ni menghadapi Salima. Bukankah sama saja kalau begini? Memang tampaknya mengeroyok, tapi formasinya tak berubah!"
Twa-lo-mo terkejut. "Hm, ini..." Ia tidak meneruskan kata-katanya, merasa omongan itu betul. Ada benarnya juga.
Sai-mo-ong yang mengerutkan alis merasa Siauw-bin-kwi tak berlebih-lebihan. Ia akhirnya bertanya, "Jadi, maumu bagaimana, Bin-kwi?"
"Kita cari mereka seorang demi seorang. Baru keroyokan ini dapat dipastikan hasilnya!"
"Ah, betul!" Twa-lo-mo sekarang berjingkat, tertawa, dan mengacungkan jempolnya. "Kau memang betul, Setan Ketawa. Dengan begitu kita dapat membunuh dan membalas kekalahan kita itu!"
Yang lain tiba-tiba tersenyum. Mereka dapat menangkap kebenaran itu, betapapun sangsi jika harus menghadapi tiga kakak-beradik itu meskipun mereka berlima. Mereka merasa kurang aman mengingat Kim-mou-eng, suheng, serta sumoinya itu memang manusia hebat. Kepandaian mereka tinggi sekali dan masing-masing telah membuktikannya.
Ketika Ji-lo-mo juga mengangguk dan Tok-gan Sin-ni bersinar matanya, wanita itu berkata, "Bin-kwi, otakmu ternyata masih jalan dengan cerdik. Kau memang pintar, tapi di mana kita dapat mencari mereka? Bagaimana pula kalau mereka secara kebetulan kedapatan bertiga?"
"Kita pisahkan mereka jika kedapatan bersama, Sin-ni. Dan kita bergabung di satu tempat begitu dua yang lain kita tinggalkan."
"Baik, dan bagaimana cara kita mencari mereka? Berpencar atau tetap berlima begini saja?"
"Sebaiknya bergabung. Atau boleh berpencar, tapi jangan lama-lama."
Ketika mereka meneruskan percakapan dan lima tokoh itu tampak asyik, akhirnya malam itu Sai-mo-ong mempersilahkan tamunya beristirahat. Mereka telah memperoleh kesepakatan untuk mencari dan membunuh Kim-mou-eng, Gurba, dan Salima.
Ketika mereka semua meninggalkan ruangan dan masing-masing telah mengatur rencana di mana mereka akan mencari musuh-musuh mereka, Hek-bong Siang-lo-mo teringat janji tuan rumah.
"Mo-ong, aku tak mau tidur sendiri. Mana itu selimut hidup untukku?"
Mo-ong tertawa. "Kau masih menghendakinya juga, Lo-mo?"
"Tentu, mana bisa aku lupa? Kami bisa mati kedinginan kalau tidur sendirian, Mo-ong. Karena itu, bawa kemari wanita-wanita cantik itu!"
Mo-ong memanggil muridnya. Bu Ham muncul dengan muka berseri, girang karena tiga tamu gurunya datang memenuhi undangan. Ia telah memberi tahu gurunya agar untuk gadis Tartar itu mereka tak boleh menurunkan tangan maut. Ketika mendengar permintaan gurunya agar mempersiapkan wanita cantik untuk dua kakek cebol itu, pemuda ini tersenyum dan memanggil wanita-wanita yang sudah disiapkan; dua wanita penghibur dari Kota Ceng-tu yang cantik dan cukup menggairahkan karena mereka adalah "bunga-bunga" yang paling top.