Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 71

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 71

Hek-bong Siang-lo-mo yang menyeringai memandang kedua wanita itu tiba-tiba tanpa malu lagi menyambar salah satu di antaranya, lalu langsung mendaratkan ciuman di pipinya.

"Heh, siapa namamu?" Wanita itu menggigil, jijik namun berusaha untuk tersenyum manis.

"Aku Ni Hwa, Locianpwe. Aku siap melayanimu kalau kau suka..."

"Heh, siapa tak suka? Kau cantik dan cukup montok!" Twa-lo-mo tertawa, meremas dada wanita itu dan langsung merobek pakaiannya hingga baju Ni Hwa terkuak lebar, mengejutkan wanita muda tersebut.

Ketika Ji-lo-mo juga tertawa dan menyambar wanita satunya, kakek cebol itu bertanya, "Kau siapa?"

Teman Ni Hwa gemetar. "Aku Bi Ciu, Locianpwe. Siap melayanimu kalau kau pun suka!"

"Ah, siapa tak suka? Kau pun cantik, juga montok!" Ji-lo-mo yang juga meremas dada wanita itu dan langsung merobek bajunya tiba-tiba mendengus, lalu menciumi dada wanita tersebut. Hal itu tentu saja membuat Bi Ciu menggeliat dan mengeluh ketakutan.

Ketika kedua kakek cebol itu terbahak-bahak dan Siauw-bin-kwi beserta yang lainnya masih ada di situ, mendadak mereka saling melempar pasangan masing-masing, membuat Ni Hwa dan Bi Ciu menjerit.

"Twako, yang ini empuk dan kenyal. Kau lihatlah!"

"Haha, dan yang ini lunak tapi enak, Ji-te. Kau lihatlah dan periksa!" Twa-lo-mo melemparkan Ni Hwa, lalu menangkap dan menerima Bi Ciu yang sudah dilontarkan adiknya.

Ketika mereka tertawa-tawa sementara Bi Ciu serta Ni Hwa tampak pucat, kedua kakek itu melompat masuk ke dalam kamar mereka.

"Mo-ong, terima kasih. Aku ingin main-main dengan mereka!" Mo-ong tersenyum. Ia melihat kedua kakek cebol itu lenyap ke kamar belakang, bukan memasuki dua kamar, melainkan satu kamar saja, yakni kamar Twa-lo-mo.

Saat yang lain tersenyum dan Tok-gan Sin-ni melirik Bu Ham, akhirnya Siauw-bin-kwi terkekeh dan melompat keluar. "Mo-ong, semuanya tampak gembira benar. Biar aku mencari kesukaanku di luar!"

Ketika kakek itu berkelebat lenyap dan Mo-ong juga meninggalkan tempat itu, Tok-gan Sin-ni sudah menyambar Bu Ham. "Kenapa baru keluar sekarang?"

"Suhu melarangku, Bibi. Dan aku sibuk di belakang."

"Hm, takut menghadapi tua-tua bangka itu?"

"Tidak. Kenapa harus begitu? Bukankah mereka sahabat Suhu?"

"Ah," Tok-gan Sin-ni tidak menjawab, ia tiba-tiba menyendal lengan Bu Ham. "Kau agaknya memang tidak tahu, Bu Ham. Kalau begitu, ikuti aku!"

Bu Ham mengangguk. Ia menyangka Tok-gan Sin-ni hendak membawanya ke kamar, seperti biasa. Namun, ketika wanita itu celingukan di luar dan tampak mencari-cari sesuatu, akhirnya Bu Ham bertanya, "Apa yang kau cari, Bibi?"

"Setan Ketawa itu."

"Paman Siauw-bin-kwi?"

"Ya."

"Ah, ada apa dengan dia?"

"Gurumu tak memberitahumu?"

"Tidak."

"Kalau begitu kau akan kuberi tahu!" Tok-gan Sin-ni menyambar Bu Ham dan mengajaknya berputar-putar di taman, membuat Bu Ham terheran-heran dan tidak mengerti karena mereka berkeliling ke segala penjuru tapi tidak menemukan kakek itu.

Saat Tok-gan Sin-ni jengkel dan tampak gemas, akhirnya wanita itu menggerutu dengan muka merah. "Tua bangka itu licin, Bu Ham. Rupanya dia bersembunyi dan sengaja mengumpet!"

"Ada apa?" Bu Ham akhirnya mengerutkan kening. "Kenapa kau mencarinya, Bibi? Padahal tadi dia ada bersamamu!"

"Ya, tapi sekarang lain. Aku ingin menunjukkan perbuatan setan tua itu. Kau harus berhati-hati. Jauhi dia dan jangan dekat-dekat!"

"Hm," Bu Ham menjadi heran bukan main. "Sebenarnya apa yang hendak kau katakan, Bibi? Kenapa demikian serius?"

"Gurumu tak mengatakan apa-apa?"

"Tidak, kecuali melarang seperti yang kau katakan tadi, agar aku tak dekat-dekat dengan kakek iblis itu."

"Itulah. Kau yang tolol!" Wanita itu menarik Bu Ham dan mengajaknya pergi ke dalam. "Kalau begitu kita cari dia, Bu Ham. Cari sampai dapat dan lihat apa yang dia lakukan!"

Bu Ham bingung. Ia benar-benar tak tahu apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan wanita ini kepadanya. Namun, karena sikap Tok-gan Sin-ni tampak serius dan bersungguh-sungguh, akhirnya Bu Ham menjadi tertarik juga. Mereka mencari ke dalam dengan berhati-hati, menyelinap ke sana ke mari, tetapi tak menemukan jejak Setan Ketawa itu.

Saat mereka melewati kamar Twa-lo-mo dan terdengar jerit yang ditahan, tiba-tiba Tok-gan Sin-ni tersenyum dan berhenti di depan kamar tersebut, matanya bersinar-sinar. "Ayo kita lihat apa yang dilakukan cebol-cebol itu!"

Bu Ham terkejut. Ia melihat Tok-gan Sin-ni telah melayang naik, hinggap di atas belandar, dan menggantolkan kakinya di situ dengan wajah tertarik. Ketika Bu Ham juga melayang naik dan berjungkir balik di sebelah wanita ini, akhirnya Tok-gan Sin-ni menutup bibirnya memberi isyarat. "Sst, hati-hati. Jangan mengeluarkan suara!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment