Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 72

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 72

Bu Ham mengangguk. Dia sendiri sudah terlampau hati-hati saat itu; menahan napas dan mengintai ke dalam. Ia tahu bahwa Hek-bong Siang-lo-mo adalah sepasang kakek iblis yang sakti dengan kepandaian yang tinggi, tak kalah dengan suhunya sendiri.

Ketika dia memandang ke dalam dan melihat apa yang terjadi, tiba-tiba dia tersenyum dan Tok-gan Sin-ni hampir terkekeh. Ternyata, dua kakek itu sedang mempermainkan Ni Hwa dan Bi Ciu. Mereka sama-sama telanjang bulat. Karena Hek-bong Siang-lo-mo adalah manusia cebol yang tingginya hanya sepundak Bi Ciu maupun Ni Hwa, dua kakek ini menggantol dengan sikap yang lucu, persis anak sepuluh tahunan yang hendak menyusu kepada ibunya. Karena maksud mereka tidak kesampaian dan kedua kakek itu tampak gemas, akhirnya Ni Hwa dan Bi Ciu digigit hingga menjerit.

"Ayo, kalian tundukkan kepala. Tekuk kaki kalian. Tolol!" Bu Ham tersenyum. Dia hampir tertawa geli melihat ulah si kakek yang menyuruh Bi Ciu maupun Ni Hwa menundukkan tubuh mereka. Ketika tinggi tubuh mereka sudah sejajar dan Twa-lo-mo maupun Ji-lo-mo terkekeh menyeringai, tiba-tiba mereka menerkam kedua wanita muda itu bagai singa kelaparan. Kakek-kakek cebol itu mendengus-dengus, membuat Ni Hwa maupun Bi Ciu menahan sakit. Sama sekali tidak ada kenikmatan karena sikap dua kakek cebol itu sangat kasar dan tidak peduli akan keadaan lawannya.

Ketika maksud mereka kesampaian, Twa-lo-mo terkekeh dan tiba-tiba bertukar pasangan dengan adiknya. "Ji-te, coba yang ini. Gantian!" Ji-lo-mo menangkap. Dia sekarang menerima Bi Ciu dan mempermainkan wanita itu, sementara kakaknya menerima Ni Hwa.

Saat kedua kakek itu tertawa-tawa dan Bu Ham menonton dari atas, Tok-gan Sin-ni mendengus mengejek pelan. "Huh, setan-setan yang liar!"

Bu Ham tak menjawab. Dia asyik menonton kejadian di bawah hingga nafsunya bangkit. Tok-gan Sin-ni tersenyum. Ketika Bu Ham menahan napas dan kedua kakek cebol di bawah mempermainkan Ni Hwa dan Bi Ciu semakin ganas, tiba-tiba lengan Tok-gan Sin-ni melingkar di lehernya.

"Kau kepingin?" Bu Ham terkejut.

"Hi-hik, menonton memang lebih asyik, Bu Ham. Ayo kita main juga kalau kau kepingin!" Tok-gan Sin-ni tiba-tiba mendekatkan mukanya, mencium Bu Ham, dan tahu-tahu menggelendot di pundak pemuda itu.

Saat Bu Ham terkejut karena mereka berada di atas belandar, wanita ini melepas pakaiannya dan menyerbu dengan nafsu yang berkobar-kobar. "Bu Ham, ayo main. Kita tandingi mereka!"

Bu Ham tersentak. Tok-gan Sin-ni telah melepas bajunya pula, mengusap dadanya, dan sebentar kemudian melepas pakaian dalamnya. Saat Bu Ham terbelalak dan mulut wanita sakti itu menciumnya dengan ganas, tahu-tahu mereka berdua terguling dari atas belandar!

"Hei...!" Namun, Tok-gan Sin-ni terkekeh. Dia menangkap Bu Ham, menjejakkan kaki, lalu berjungkir balik melayang turun. Ketika mereka sudah berada di atas tanah, wanita ini menggelutinya dan tak peduli lagi pada keadaan sekitar. Nafsunya bangkit gara-gara menonton Hek-bong Siang-lo-mo!

"Bu Ham, ayo layani aku!" Bu Ham tak berkutik. Dia sendiri telah terbakar oleh pemandangan dua kakek cebol tadi. Ketika Tok-gan Sin-ni menggeliat dan memagutnya bertubi-tubi, tiba-tiba Bu Ham mengeluh dan bergulingan bersama wanita bermata satu ini. Mereka tak peduli lagi dengan keadaan sekitar dan sama-sama bertelanjang bulat bagai hewan liar yang tak malu-malu.

Ketika mereka tenggelam dan mabuk dalam nafsu, tiba-tiba beberapa saat kemudian terdengar jerit mengerikan dua kali. Bu Ham terkejut. Jerit itu terdengar dari kamar Twa-lo-mo; jelas suara Ni Hwa dan Bi Ciu. Ketika dia tersentak dan nafsunya padam oleh jerit ini, dua sosok tubuh melayang menimpa mereka.

"Brukk...!" Bu Ham ditendang mencelat oleh Tok-gan Sin-ni. Wanita sakti itu membentak, marah oleh perbuatan Hek-bong Siang-lo-mo yang tiba-tiba berkelebat di depan mereka. Ketika Bu Ham melompat bangun dan Tok-gan Sin-ni menyambar pakaiannya, kedua kakek cebol itu terkekeh melihat keadaan mereka yang berantakan.

"Heh-heh, kalian rupanya yang mengintip kami, Sin-ni?" Tok-gan Sin-ni mendelik. Bu Ham buru-buru mengenakan pakaiannya, lalu melihat Ni Hwa dan Bi Ciu telah menjadi mayat dengan sekujur tubuh penuh gigitan.

Ketika Bu Ham terbelalak dan Tok-gan Sin-ni merasa terganggu, wanita ini membentak, "Lo-mo, tak perlu kalian mengganggu aku. Pergilah!"

Twa-lo-mo tertawa. "Kau menyuruh pergi setelah mengintai kami, Sin-ni? Tidak, sekarang kita gantian. Ayo, kami menonton kalian!"

Tok-gan Sin-ni marah. Dia tentu tak sudi menuruti kemauan kakek cebol itu. Melihat Ji-lo-mo menyeringai dan maju dengan mata berkedip-kedip, Tok-gan Sin-ni melengking sambil menyabetkan rambutnya.

"Plak...!" Ji-lo-mo terjengkang mendapat serangan ini karena dia yang terdekat. Dia memaki namun melompat bangun. Ketika lawan membentak dan menerjang, kakaknya sudah menyambut dan terkekeh menghadapi wanita yang marah ini.

"Heh-heh, kau mau melawan kami, Sin-ni? Boleh, ayo kita main-main sebentar. Plak-plak...!" Twa-lo-mo menangkis serta membalas menyerang. Pertempuran menjadi hebat; serangan rambut itu kini berubah menjadi kawat baja yang dapat menghancurkan batu karang, penuh tenaga sinkang dan bercuitan membuat bulu roma berdiri. Pertempuran itu membuat beberapa tanaman roboh oleh pukulan-pukulan mereka.

Namun, kejadian ini tidak berlangsung lama. Sai-mo-ong telah mendengar kegaduhan di luar kamar Twa-lo-mo. Ketika iblis ini muncul dan melihat dua temannya bergebrak saling serang, tiba-tiba kakek ini membentak melerai. "Lo-mo, berhenti! Sin-ni, berhenti...!"

Dua orang itu masih nekat. Sai-mo-ong terpaksa meloncat ke tengah pertempuran, menarik salah seorang di antaranya, dan menyuruh yang lain berhenti. Ketika Tok-gan Sin-ni berjungkir balik, sang tuan rumah menegur dengan suara parau, "Sin-ni, ada apa ini?"

Tok-gan Sin-ni berdiri tegak dengan mata berapi-api. "Hek-bong Siang-lo-mo menggangguku, Mo-ong. Setan cebol itu tak mau pergi dan merongrong diriku!"

"Hm, kenapa begitu, Lo-mo?" Ji-lo-mo menjawab, terkekeh dengan mata bersinar-sinar, "Dia yang mengintai kami, Mo-ong. Kalau tidak, tentu kami tidak akan mengganggunya!"

"Mengintai?"

"Ya, dia bersama muridmu itu!"

Mo-ong tertegun dan memandang muridnya. "Bu Ham, kenapa mengganggu tamu dan tidak masuk ke dalam?"

Bu Ham terkejut. "Bibi Tok-gan Sin-ni yang mengajakku, Suhu. Aku tak tahu apa-apa dan sekadar ikut-ikutan!"

"Hm, benarkah, Sin-ni?"

Tok-gan Sin-ni tak mau kalah. "Dua setan cebol ini gaduh sekali di kamarnya, Mo-ong. Aku sebal dan datang hendak menegur mereka!"

Mo-ong jadi serba salah. Kalau urusan itu dimulai bukan oleh muridnya, memang sukar baginya untuk bersikap keras karena mereka adalah rekan sendiri. Namun, Bu Ham yang melihat gurunya muncul merasa itu kesempatan baik, lalu mengajak Tok-gan Sin-ni pergi. "Bibi, sebaiknya kita pergi saja. Ayo kita cari Paman Siauw-bin-kwi!"

Tok-gan Sin-ni mengangguk. Itu adalah cara terbaik agar Hek-bong Siang-lo-mo tidak mengganggunya lagi selama Mo-ong ada di situ. Maka, sambil menyambar Bu Ham, wanita ini berkelebat lenyap. "Mo-ong, suruh dua setan cebol itu tidak membuat gaduh. Biar aku menyingkir ke tempat lain!"

Mo-ong menarik napas. Twa-lo-mo tampak kecewa dan penasaran karena Tok-gan Sin-ni tidak menghiraukan mereka. Namun, melihat lawan lenyap dan menghormati Mo-ong sebagai tuan rumah, dua kakek cebol itu menyeringai lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.

"Mo-ong, maaf...!"

Mo-ong tersenyum. Pernyataan itu membuatnya lega. Karena mereka adalah orang-orang aneh yang bersikap ganjil, Sai-mo-ong berkelebat memasuki kamarnya sendiri dengan perasaan tenang. Begitu Sai-mo-ong masuk ke kamar dan Bu Ham mengajak Tok-gan Sin-ni mencari Siauw-bin-kwi, suasana di tempat itu kembali sepi.

"Bibi, ke mana kita mencari Paman Siauw-bin-kwi?"

"Entahlah. Pokoknya kita cari, Bu Ham. Kalau tidak ada di sini, tentu di luar. Ayo kita ke hutan itu!"

Tok-gan Sin-ni mengajak pemuda itu keluar dari gedung menuju hutan di depan. Ketika mereka tiba di sana dan Bu Ham celingukan merasa heran, tiba-tiba wanita ini mendesis, "Sst, kudengar sesuatu...!"

Bu Ham terbelalak. Dia tidak mendengar apa-apa, tapi ketika Tok-gan Sin-ni mengajak lebih ke dalam menuju arah kiri, suara itu tertangkap telinganya. "Ya, ada suara sesuatu!"

Tok-gan Sin-ni tersenyum. Dia tidak menjawab, hanya menyeret tangan pemuda itu dan merunduk sambil berbisik menyuruh Bu Ham berhati-hati. Ketika suara itu semakin jelas, Tok-gan Sin-ni mengajak berhenti dan mengawasi ke depan.

"Awas, itulah si tua bangka itu...!"

Bu Ham tertegun. Dia masih belum melihat apa-apa karena terhalang semak belukar. Namun, ketika dia menajamkan pandangan dan Tok-gan Sin-ni mengangkat telunjuknya, Bu Ham tersentak melihat apa yang ada di depan serta mendengar suara aneh mirip keluhan kucing atau manusia.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment