Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 73

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 73

Begitu melihat apa yang ada, sekonyong-konyong pemuda itu bengong.

"Kau sudah melihatnya?" Bu Ham mengangguk.

"Itulah kesukaan si Setan Ketawa!" Bu Ham membelalakkan matanya.

Kini dia melihat kakek itu sedang bergumul dengan seorang laki-laki muda. Kakek itu tampak terkekeh-kekeh, sementara laki-laki muda itu mendengus-dengus menggeluti sang kakek dengan muka memerah dan kedua mata terpejam. Laki-laki itu, setelah diamati, ternyata adalah Hok Ciang, pelayan dapurnya.

Ketika Bu Ham masih terpaku dan Tok-gan Sin-ni tersenyum, Hok Ciang mengeluh saat kakek itu mencium mulutnya.

"Siauw-bin-kwi seorang homoseksual, Bu Ham. Karena itu, hati-hatilah menghadapinya karena mata kakek itu sangat liar memandang pemuda tampan!" Bu Ham tertegun. Sekarang dia mengerti apa yang sesungguhnya terjadi; Siauw-bin-kwi ini adalah seorang homoseksual, yakni seorang laki-laki yang mencari pemuasan nafsu dengan laki-laki pula. Itu adalah penyimpangan perilaku. Pantas saja Uyin dan Unga, dua pemimpin gagah dari suku U-fak yang tidak pernah menikah meski umur mereka di atas empat puluh tahun, menjadi muridnya.

Bu Ham yang tertegun mendengar bisikan Tok-gan Sin-ni, "Sekarang kau tahu mengapa Siauw-bin-kwi amat dendam atas kematian dua muridnya? Mereka adalah murid sekaligus kekasih yang amat disayang kakek itu. Tak heran jika ia seperti kambing kebakaran jenggot melihat muridnya dibunuh Gurba!"

Bu Ham mengangguk-angguk. Sekarang dia paham akan keganjilan kakek itu yang selalu melirik dan tersenyum dengan pandangan aneh kepadanya. Diam-diam, kiranya kakek itu naksir!

Tiba-tiba, Hok Ciang merintih saat diterkam kakek itu. "Aduh, sakit, Locianpwe... sakit...!" Bu Ham terbelalak. Dia melihat Siauw-bin-kwi melakukan gerakan tak pantas dengan menusuk bokong pemuda itu. Meski Hok Ciang mengeluh, Siauw-bin-kwi tak peduli dan justru terkekeh sambil menggerakkan jarinya.

"Kau tak akan sakit, anak manis. Sekarang kau akan merasa nikmat!"

Hok Ciang menggeliat. Pelayan muda itu melenguh; rintihannya hilang terganti erangan nikmat. Tok-gan Sin-ni menjelaskan kepada Bu Ham yang kebingungan, "Siauw-bin-kwi merangsang pemuda itu dengan arak harumnya, Bu Ham. Karena itu, pemuda itu tak akan mengeluh lagi."

"Ah, arak perangsang?"

"Ya. Sebelum pemuda itu ditelanjangi, tentu saja. Ciuman mulut dari Setan Ketawa itu akan menggigit bagian terpeka di lidah lawannya. Pemuda itu akan kesakitan sejenak, tapi terbawa nikmat luar biasa ketika Siauw-bin-kwi melepas hajatnya!"

Bu Ham bergidik. Dia melihat Hok Ciang tidak mengeluh lagi, melainkan menggeliat dan mendengus-dengus karena pengaruh obat perangsang dan ciuman Siauw-bin-kwi tadi. Ketika keduanya bergulingan dan Siauw-bin-kwi mengeluarkan suara-suara aneh, pertandingan di depan mata itu pun berakhir. Siauw-bin-kwi terkekeh dengan mata bersinar menakutkan. Saat Hok Ciang terkulai lemah di tanah, tanpa diduga, kakek itu menggerakkan jarinya menotok dahi sang pelayan muda.

"Anak manis, kau cukup menyenangkan. Tapi kau tak tahan lama. Tidurlah..." Jari Siauw-bin-kwi menembus dahi Hok Ciang yang langsung menjerit tinggi.

Saat Bu Ham berseru kaget dan mengeluarkan suara berkerosak, Siauw-bin-kwi menoleh, membentak, dan langsung menghantam gerumbul tempat mereka bersembunyi.

"Awas!" Tok-gan Sin-ni terkejut, keluar, dan menendang Bu Ham hingga mencelat menjauhi tempat itu. Ketika Bu Ham melompat bangun dan Siauw-bin-kwi berkelebat ke arah mereka, kakek itu memandang keduanya dengan muka kaget.

"Kau?"

"Ya!" Tok-gan Sin-ni mengangguk, terkekeh melindungi Bu Ham yang menggigil di belakangnya. "Kami datang memang untuk melihat perbuatanmu, Siauw-bin-kwi. Sekarang anak muda ini tahu apa yang telah kau lakukan!"

Siauw-bin-kwi tampak marah, tapi kemudian tertawa. "Ah, murid Mo-ong ini hendak berkencan denganku, Sin-ni? Itu yang kau maksud?"

"Cih," Tok-gan Sin-ni mencibir. "Siapa mau begituan denganmu, tua bangka? Dia datang untuk melihat perbuatanmu. Murid Mo-ong ini bahkan jijik; dia lebih suka aku daripada kau!"

"Heh-heh, itu karena kau memeletnya, Sin-ni. Kalau tidak, tentu dia juga tak akan mau mendekati nenek-nenek macam dirimu. Pemuda ini perlu kusadarkan, dia harus dibebaskan dari cengkeramanmu!" Siauw-bin-kwi lalu merayu, "Bukongcu, kau tak suka nenek ini, bukan? Dia tentu memaksamu, bukan? Kemarilah, aku dapat menolongmu."

Bu Ham ngeri melihat Siauw-bin-kwi maju mendekatinya. Tok-gan Sin-ni membentak marah, "Bin-kwi, tak perlu main-main. Pemuda ini milikku!"

"Tidak, dia milikku. Kau memaksanya agar menurut!" Siauw-bin-kwi terkekeh dan langsung menyambar Bu Ham.

Tok-gan Sin-ni menyerang dengan rambutnya. "Plak!" Gerakan Siauw-bin-kwi tertahan. Kakek itu mundur. Bu Ham yang bingung berseru, "Ji-wi Locianpwe, tahan! Kalian tak boleh bertempur. Suhu berkali-kali memperingatkan agar kita bersatu. Musuh kalian adalah Kim-mou-eng, bukan teman sendiri!"

"Tapi kami memperebutkan dirimu, Kongcu. Aku akan membebaskanmu dari cengkeraman nenek ini!"

"Cih!" Tok-gan Sin-ni meludah. "Justru aku yang harus mempertahankan pemuda ini dari tanganmu!"

Siauw-bin-kwi kembali melejit dan menyambar Bu Ham, "Kongcu, ayo ikut aku. Tinggalkan nenek ini!"

Bu Ham kini digondol dan dibawa terbang oleh kakek itu. Siauw-bin-kwi memencet pergelangan tangan Bu Ham, menguasai jalan darah pi-pethiat-nya agar pemuda itu tidak melawan. Tok-gan Sin-ni mengejar di belakang sambil melengking, "Bu Ham, lepaskan dirimu! Pukul kepala kakek itu!"

Siauw-bin-kwi terkekeh, "Tak mungkin, Sin-ni. Bukongcu adalah pemuda baik-baik. Dia tak akan menyerangku." Kakek itu berbisik kepada Bu Ham, "Kau tak perlu bergerak macam-macam. Sekali menyerang, tentu kau akan binasa!"

Karena Tok-gan Sin-ni terus mengejar dengan kecepatan yang sama, Siauw-bin-kwi menjadi jengkel. Akhirnya, Siauw-bin-kwi berhenti dan berbalik untuk menangkis serangan rambut Tok-gan Sin-ni. Setelah Bu Ham dilepas, dua jago tua itu berhadapan dengan saling memaki.

"Sin-ni, kau tak tahu malu!"

"Dan kau manusia homo tak kenal aturan, Bin-kwi. Kita harus bertanding untuk memperebutkan Bu-kongcu!"

Tok-gan Sin-ni menerjang maju. "Plak-plak!" Siauw-bin-kwi menangkis dan membalas serangan. Keduanya bertempur dengan sengit. Bu Ham hanya bisa bingung melihat dua sahabat gurunya itu bertarung dengan kekuatan penuh. Setelah belasan jurus, keduanya saling membentak dan lenyap dalam gulungan bayangan masing-masing.

"Setan Ketawa, kau akan kubunuh!"

"Tidak, kau yang akan kubunuh, Sin-ni!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment