Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 74

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 74

"Aku akan membuatmu menjadi perkedel dan tak mengganggu Bu-kongcu lagi!" Bu Ham melihat keduanya sama-sama memekik. Baik Tok-gan Sin-ni maupun Siauw-bin-kwi mulai mengeluarkan kepandaiannya masing-masing.

Kedua pihak agaknya memiliki kepandaian seimbang dan tentu saja membuat pertempuran berjalan lama dan alot. Namun, ketika mereka mulai mengadu tenaga dan Tok-gan Sin-ni maupun lawannya mulai terpental, akhirnya Bu Ham menjadi cemas dan gelisah. Ia teringat bahwa hanya dengan pertolongan merekalah dia bisa memiliki Salima.

"Locianpwe, tahan. Jangan bertempur, tahan!" Tapi, baik Siauw-bin-kwi maupun Tok-gan Sin-ni tidak menggubris. Mereka sama-sama memusatkan perhatian pada pertandingan itu, bahkan kian menghebat setiap Bu Ham berteriak. Agaknya masing-masing hendak mengalahkan yang lain dan menunjukkan keunggulannya pada pemuda yang sama-sama diincar.

Ketika untuk kesekian kalinya dua tenaga bertemu di udara, tiba-tiba Tok-gan Sin-ni dan Siauw-bin-kwi mencelat terlempar. "Dukk...!" Udara tergetar hebat. Bu Ham sendiri sampai roboh terpelanting kaget oleh benturan yang luar biasa itu, yang menggetarkan dadanya dan membuat jantungnya sakit. Ketika Bu Ham melompat bangun dan melihat keduanya sudah siap untuk saling serang, tiba-tiba dengan nekat pemuda ini maju ke tengah. Harus dapat mengatasi pertikaian itu tanpa gurunya!

"Locianpwe, tahan. Kalian tak boleh bertempur lagi!" Siauw-bin-kwi dan Tok-gan Sin-ni terkejut.

"Minggir, Bu Ham. Biar kubunuh kakek itu dulu!" Tok-gan Sin-ni berteriak, menyuruh pemuda itu minggir. Namun, Bu Ham justru berdiri tegak, menggeleng, dan membuat dua tokoh itu tentu saja tak berani menyerang karena takut mengenai pemuda ini.

Ketika Siauw-bin-kwi menyeringai dan Bu Ham meminta mereka untuk tidak serang-menyerang lagi, akhirnya kakek ini terkekeh. "Bu-kongcu, agaknya kau berpihak padaku. Kalau begitu, kau ikut aku saja!"

"Tidak!" Tok-gan Sin-ni menyambar sebelah lengan Bu Ham. "Dia ikut aku, Bin-kwi. Atau kubunuh kau kalau kau berani memaksa!"

"Heh-heh," Siauw-bin-kwi tiba-tiba menyambar sebelah lengan Bu Ham yang lain. "Dia ikut aku, Sin-ni. Atau kubunuh kau kalau berani memaksa!"

Bu Ham yang sudah dipegangi dua orang ini dengan sikap siap bertempur akhirnya menjadi bingung. Ia memandang Tok-gan Sin-ni, "Bibi, lepaskan aku. Biar aku bicara dengan Paman Siauw-bin-kwi."

"Tidak, kau akan dipermainkannya, Bu Ham. Sebaiknya kau ikut aku dan tinggalkan kakek itu!"

Ketika Bu Ham bingung dan terbelalak memandang dua orang ini, tiba-tiba Siauw-bin-kwi tertawa. "Bu-kongcu, kau menghendaki bantuanku untuk menangkap gadis Tartar itu, bukan? Nah, sekarang terserah kau saja. Kalau kau tak menghendaki kami bertempur, kau harus dapat memberi imbalannya padaku. Kau tinggalkanlah nenek itu. Kau main-main denganku. Atau kalau kau tak suka padaku, boleh kau tinggalkan aku dan aku akan pergi, tidak mau menangkap gadis Tartar itu! Bagaimana?"

Bu Ham terkejut. Dia tentu saja semakin bingung, tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba Tok-gan Sin-ni melengking. "Tidak, kau tak boleh turuti kakek itu, Bu Ham. Atau kalau kau turuti dia, aku yang akan pergi meninggalkanmu, tidak mau menangkap Salima!"

"Heh-heh," Siauw-bin-kwi menyahut. "Kau satu lawan tiga, Sin-ni. Bu-kongcu tentu memilih aku daripada kau. Aku masih dibantu Hek-bong Siang-lomo, kau tidak!"

Ketika Bu Ham tertegun dan Tok-gan Sin-ni terkejut, Siauw-bin-kwi sudah melepaskan cekalannya. "Nah, sekarang terserah kau, Kongcu. Kalau kau cerdik, tentu kau memilih aku. Tapi kalau kau bodoh, boleh saja pilih nenek itu!"

Bu Ham berada di persimpangan jalan. Dia terang bingung; apa yang dikatakan kakek ini memang betul. Pihak Setan Ketawa ada tiga orang. Tapi karena bantuan Tok-gan Sin-ni juga tak dapat diabaikannya dan bantuan nenek sakti itu amat berharga, akhirnya Bu Ham mengambil keputusan yang amat berani: menerima kedua-duanya!

"Locianpwe, sebaiknya tak perlu aku menerima yang satu dan meninggalkan yang lain. Kalian semua adalah sahabat-sahabat guruku. Karena Suhu sendiri selalu menekankan arti persahabatan ini, biarlah aku menerima kalian berdua sebagaimana adanya. Bibi Tok-gan Sin-ni sudah menjadi kekasihku, dan Paman Siauw-bin-kwi juga boleh menjadi teman akrabku! Bagaimana?"

Siauw-bin-kwi terbelalak. "Kau menerima kami berdua?"

"Ya."

"Kau kuat?"

"Bibi Tok-gan Sin-ni telah mengujinya, Paman. Kau boleh buktikan nanti kalau tidak percaya!"

"Ah," Siauw-bin-kwi tertegun, tapi tiba-tiba tertawa bergelak. "Bu-kongcu, kau rupanya pemuda istimewa. Pantas saja kalau Tok-gan Sin-ni tergila-gila padamu. Sungguh tak nyana!"

Siauw-bin-kwi yang sudah menyambar lengan orang tiba-tiba berseru, "Sin-ni, bagaimana pendapatmu? Omongan pemuda ini memang betul, kita tak usah bertempur kalau dia mau melayani kita berdua!"

Tok-gan Sin-ni cemberut. Sebenarnya dia tak rela, tapi maklum kakek ini juga sakti dan pertempuran di antara mereka bakal merunyamkan keadaan karena belum tentu masing-masing ada yang menang. Akhirnya, nenek ini menggaplok muka Bu Ham dan meloncat pergi. "Baiklah, tapi kembalikan dia secepatnya, Bin-kwi. Suruh Bu Ham ke kamarku kalau urusan kalian selesai!"

Siauw-bin-kwi tertawa bergelak. Bu Ham sendiri sudah mengusap pipinya, menyeringai menerima gaplokan itu. Ketika Tok-gan Sin-ni lenyap di luar hutan dan Siauw-bin-kwi mencengkeram pemuda ini, tahu-tahu Bu Ham diangkat tubuhnya.

"Bu-kongcu, ayo sekarang kau ikut aku. Kita bersenang-senang...!"

Bu Ham tak dapat menolak. Dia telah menerima keputusannya sendiri, dibawa terbang kakek ini, dan diam-diam berdebar. Untuk pertama kalinya melayani manusia homo! Ketika mereka berdua tiba di tempat sunyi dan Siauw-bin-kwi mendengus menerkam pemuda itu, Bu Ham melayani kakek ini dan berada di sebuah dunia yang lain. Untuk pertama kalinya ia merasakan keganjilan dari hubungan antara lelaki dengan lelaki. Namun, karena dia telah siap menerima semuanya itu demi Salima, akhirnya Bu Ham terbiasa dan dapat juga bertindak yang sama. Aneh!

***

"Suheng, ke mana kita sekarang?" Gurba berhenti. Dia telah tiba di sebuah pegunungan kapur, ditanya sumoinya, dan melihat sumoinya itu mengusap peluh. Anak rambut di dekat kening tampak melingkar sedikit, manis sekali. Ketika Gurba menarik napas dan tidak menjawab pertanyaan sumoinya itu, pemuda tinggi besar ini bahkan memejamkan mata.

"Sumoi, kau cantik sekali. Tak heran kalau banyak lelaki memandangmu dengan kagum!"

Salima cemberut. "Apa yang kau katakan ini, Suheng? Aku tidak bertanya tentang itu, aku bertanya ke mana kita sekarang!"

Gurba membuka mata. Dia mendengar sumoinya membentak, tersenyum, dan bersinar-sinar memandang sumoinya itu. Sambil duduk menepuk batu di sebelahnya, pemuda ini berkata, "Sebaiknya kita beristirahat dulu, Sumoi. Perjalanan sebelas hari ini cukup melelahkan kita."

Salima tidak senang. "Tapi kita telah beristirahat tadi, Suheng. Aku tak capai dan ingin meneruskan perjalanan!"

"Ah, tunggu dulu. Sabar!" Gurba terkejut, bangkit berdiri, dan mengerutkan keningnya. Melihat sang sumoi masih juga cemberut dan tampak tak senang, akhirnya pemuda ini mengangguk. "Baiklah, kalau kau tak capai kita boleh teruskan perjalanan ini, Sumoi. Tapi hati-hati sedikit menjaga kesehatanmu. Kau tampaknya tak enak badan."

Salima mengangguk. "Aku memang tak enak badan, Suheng. Aku ingin mencari sebuah losmen."

"Bagaimana kalau sebuah kuil tua?"

"Adakah di sekitar sini?"

"Ya, lebih kurang sepuluh li di depan, Sumoi. Atau kita mungkin dapat mencari pertolongan pada penduduk dusun."

"Tidak, aku tak suka itu," Salima menggeleng. "Aku tak mau mengganggu penduduk dusun!"

"Jadi kita ke kuil tua itu saja?"

"Ya."

"Baiklah, mari kuantar." Gurba yang menarik sumoinya untuk melanjutkan perjalanan tiba-tiba ditepis dengan muka cemberut.

"Suheng, tak perlu pegang-pegang. Aku dapat berjalan sendiri!"

Gurba terkejut. Mukanya seketika menjadi merah, tapi melihat sumoinya marah dan melanjutkan perjalanan dengan tubuh terhuyung, tiba-tiba Gurba melompat di depan sumoinya ini. "Sumoi, kau sakit. Mukamu pucat!"

"Biarlah, aku juga tak akan mati dengan sakitku ini, Suheng. Sebaiknya tak perlu banyak cakap lagi dan kita ke kuil yang kau maksud itu!"

Salima bersikap ketus, kembali membuat Gurba terpukul dan merah mukanya. Tapi melihat sang sumoi melanjutkan perjalanannya dan dagu yang mengeras itu menunjukkan tak mau dibantah, akhirnya raksasa tinggi besar ini mengalah dan mengikuti sumoinya itu.

Diam-diam Gurba merasa marah. Sudah sebelas hari ini sumoinya melakukan perjalanan bersama, tapi sebelas hari itu pula sumoinya tak memberikan muka manis padanya. Padahal dia telah memberikan semua perhatian dan sikap manis pada sumoinya itu. Kenapa sumoinya begitu? Masih teringat pada sutenya?

Gurba mendongkol. Sebab hari ini pertanyaan Salima selalu berkisar pada Kim-mou-eng itu, sutenya yang sudah dibenci tapi diam-diam dibuat rindu. Selalu bertanya apa saja tentang Pendekar Rambut Emas itu. Karena dia telah memutarbalikkan fakta dan Kim-mou-eng kini kejatuhan getah dari nangka yang dia makan, maka Gurba semakin memburuk-burukkan cerita tentang sutenya itu, yang anehnya selalu disambut tangis sumoinya yang benci tapi rindu.

Ketika sebelas hari itu Gurba tak merasakan kesenangan dalam perjalanan bersama sumoinya ini, dia menjadi marah dan mendongkol melihat sumoinya mulai pucat dan jarang makan. Kata-katanya tak enak. Hari itu, ketika Salima kelihatan sakit dan gadis itu berjalan dengan tubuh limbung, tiba-tiba sumoinya terisak ketika tiba di kuil tua itu, masuk, dan langsung jatuh terduduk menekan kepalanya.

"Suheng, aku pusing. Perut rasanya ingin muntah...!"

Gurba terkejut. "Kau memang keras kepala, Sumoi. Kenapa tidak beristirahat tadi saja dan turuti nasihatku? Kau tak mau menelan obat, dan kini mengeluh segala macam."

"Kau tak suka?" Salima tiba-tiba berdiri, berapi-api memandang Suheng-nya itu. "Kalau begitu tinggalkan aku, Suheng."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment