Chapter 75
"Aku tak akan mengeluh padamu!" Salima terhuyung menuju belakang kuil, berusaha mencari air untuk mengompres kepalanya.
Namun, gadis itu jatuh terbanting, terduduk, dan hampir berteriak karena kepalanya terasa berdentang seolah ditumbuk palu baja.
Ketika gadis itu menggeliat, Gurba meloncat terkejut. Raksasa tinggi besar itu segera membantu sumoinya dengan menotok dua jalan darah dan memberikan sebutir obat ke mulutnya.
"Sumoi, maafkan aku. Kau tak perlu marah-marah begini!" Salima menangis. Ia telah ditolong oleh suhengnya yang tampak gugup. Ketika Gurba mengompres kepalanya dan menyuruhnya tidur, raksasa itu bahkan melepas bajunya untuk dijadikan alas berbaring.
"Sumoi, kau harus beristirahat. Tubuhmu panas sekali!"
Salima tidak menjawab. Ia diserang demam dengan panas dan dingin yang datang berganti-ganti hingga menggigil. Gurba menempelkan lengan di pundak sumoinya dan menyalurkan hawa sinkang untuk membantu gadis itu. Meski gelisah mendengar rintihan sumoinya, hawa hangat itu akhirnya membuat Salima tenang dan tertidur hingga mengigau.
"Kim-suheng, kau kejam... kau menyakiti hatiku..."
Gurba terpukul. Mendengar sumoinya menyebut-nyebut nama Kimmou-eng dalam igauan dan tangisnya, raksasa itu terbelalak marah. Ia menarik tangannya, menghentikan aliran sinkang tersebut.
"Keparat, aku yang menolong, dia yang diperhatikan!" Gurba mengomel dengan muka merah karena marah pada sumoinya.
Dua jam kemudian, Salima membuka mata dengan kepala yang masih pening. Gurba tidak ada di tempatnya, membuat Salima berusaha duduk dengan kepala yang masih berputar.
"Suheng, di mana kau?"
Tidak ada jawaban. Salima kembali bertanya, dan ketika tetap tidak ada jawaban, gadis itu terhuyung mencari ke belakang. Dilihatnya Gurba duduk di sudut ruangan dengan muka keruh. Saat Salima menghampirinya, Gurba menyambutnya dengan tatapan gelap.
"Suheng, apa yang kau pikirkan?"
Gurba menggeram, "Kalau bukan dirimu, siapa lagi, sumoi? Aku mati-matian memperhatikan dirimu, tapi orang lain pula yang mendapat perhatianmu!"
"Apa maksudmu?"
"Kau menyebut-nyebut Kim-sute. Kau mengigau dan jelas tidak membenci si keparat itu."
Salima terkejut. "Aku mengigau?"
"Ya. Kau mengutuk bocah itu, tapi kau juga mencintainya!"
Salima tiba-tiba menangis. Belum sempat ia menjawab, Gurba bangkit berdiri. "Sumoi, Kim-mou-eng telah mencemarkan nama suku bangsa kita. Dia mengawini wanita Han, berkhianat, dan pergi meninggalkan kita tanpa pesan. Bagaimana mungkin kau masih memiliki hati padanya? Dia pemuda terkutuk. Kim-te harus dibunuh dan dilenyapkan bersama istrinya. Kau tak boleh jatuh cinta padanya!"
Salima mengguguk, "Aku... aku tak cinta padanya, Suheng. Aku bahkan benci pada sepak terjangnya!"
"Tapi kau mengigau dan menyebut-nyebut cinta. Berarti kau tidak sungguh-sungguh mengucapkan kata-katamu ini!"
"Tidak, aku mengigau juga tak salah, Suheng. Yang kumaksudkan cinta di situ adalah cinta seorang kakak dan adik, bukan cinta seorang pria terhadap wanita. Sekarang dia sudah beristri, aku harus menghapus semua perasaan cinta itu dan tak boleh lagi mengasihinya!"
Salima bangkit berdiri dengan kepalan tinju dan air mata bercucuran, namun ia hanya dipandang dengan senyum mengejek oleh Gurba. Ketika Gurba mendengus dan berdiri, Salima berlari ke tempatnya semula dan menangis tersedu-sedu.
"Suheng, kau tak perlu bicara lagi tentang itu. Aku benci Kim-mou-eng!"
Gurba menjengek. Ia mengikuti sumoinya, merasa tidak percaya dan diam-diam mendongkol karena sutenya masih dicintai oleh Salima. Ia penasaran karena merasa kedudukannya bertepuk sebelah tangan.
Melihat sumoinya menangis menutupi muka, Gurba menahan napas dan berkata, "Sumoi, apa yang ada di hatimu tak dapat kau sembunyikan dariku. Aku tahu kehancuran hatimu. Tapi apakah sesuatu yang hancur tak dapat diperbaiki lagi? Aku siap menolongmu. Aku siap membangun kembali apa yang hancur di hatimu!"
Salima mengangkat muka, terbelalak. "Apa maksudmu?"
Gurba memasang muka kuyu dan duduk di dekat sumoinya dengan hati-hati. "Artinya, aku sanggup mengisi kekosongan hatimu itu, Sumoi. Aku mencintaimu dan siap melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu!"
"Ah!" Salima tertegun, mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.
Ketika Gurba menunggu jawaban, Salima berseru gemetar, "Bukankah aku sudah tahu sejak lama bahwa kau mencintaiku sebagai seorang suheng?"
"Tidak, bukan itu maksudku. Melainkan cinta sebagai pria terhadap wanita. Aku mencintaimu seperti itu, bukan melulu hubungan kakak dan adik seperguruan!"
Salima terbelalak dengan muka memerah. Gurba mendekat, memegang lengan sumoinya, dan berkata dengan suara bergetar, "Sumoi, kau tak akan mengecewakan perasaan hatiku, bukan? Kita sama-sama berdarah Tartar. Lupakan Kim-sute itu dan kita menikah!"
"Tidak...!" Salima menjerit dan melepaskan pegangan itu. "Aku belum berpikiran ke situ, Suheng. Aku tidak mencintai dirimu seperti yang kau maksudkan!"
"Hm, kalau begitu kau mencintai Kim-sute?"
"Juga tidak. Aku benci laki-laki itu!" Salima menggigil dan kembali menangis. "Suheng, kuminta dengan sangat kita tidak membicarakan soal yang satu ini. Aku benci laki-laki. Aku sedang fobia terhadap mereka!"
Gurba memandang sumoinya dengan muka pucat. Ia kecewa sekaligus heran, tidak mengerti jalan pikiran wanita. Namun, karena penasaran dan menganggap sumoinya masih mencintai Kim-mou-eng, ia pun menguji.
"Sumoi, agaknya Kim-sute memang harus segera dicari. Persoalan ini tak mungkin dibiarkan mengambang. Aku mencintaimu, kau telah dengar itu. Kalau kau tak membunuh Kim-sute dan mengampuni kesalahannya, maka kuanggap kau pun berkhianat pada bangsa Tartar dan mempermainkan aku! Bagaimana kalau sampai terjadi begini?"
Salima mengedikkan kepalanya. "Tak mungkin terjadi begitu, Suheng. Aku memang akan membunuh Kim-suheng kalau kita menemukannya. Atau, kalau aku kalah, biar dia yang membunuhku. Ini sumpahku!"
"Bagus. Kalau begitu, kau tak akan percaya pada setiap alasannya?"
"Alasan apa?"
"Dia mungkin akan memutarbalikkan fakta, Sumoi. Mengarang cerita dan menyebut aku sebagai tertuduh utama. Karena kita tidak tahu jalan pikiran manusia, mungkin saja dia telah memfitnah dan justru menyebar berita akulah yang kawin dengan selir kaisar itu!"
Salima terkejut. Gurba terus melanjutkan, "Kim-sute itu cerdik. Kalau berita itu sudah tersebar dan orang menganggap akulah yang menerima hadiah selir kaisar, kau harus hati-hati menghadapi fitnah ini. Kalau kau mendengar pemutarbalikan berita itu, jangan kau percaya dan bunuh saja pembawa beritanya!"
Salima terbelalak, "Kim-suheng akan melakukan tindakan sejauh itu?"
"Itu menurut perhitunganku. Mungkin saja ya, tapi mudah-mudahan tidak. Dia mengkhianati bangsa kita dan takut pada bayangan sendiri. Bisa saja dia berbuat nekat dan tidak terpuji!"
Salima kembali tertegun. Gurba terus bercerita dengan licin, berusaha melimpahkan semua perbuatannya kepada Pendekar Rambut Emas. Karena Salima masih menyimpan kekecewaan masa lalu terhadap sutenya itu, semua omongan Gurba dipercaya penuh oleh gadis yang sedang patah hati tersebut.
Salima kini menyimpan kebencian yang mendalam. Beberapa hari kemudian, saat mereka melanjutkan perjalanan dan Salima sudah sembuh dari demamnya, rombongan Siauw-bin-kwi dan teman-temannya muncul.
"Ha-ha, ini dia orang yang kita cari-cari, Moong! Si Singa Daratan Tandus ini lagi bermesraan dan asyik bersama sumoinya!"
Gurba dan Salima terkejut. Mereka saat itu sedang berada di tepi sungai, bersiap menyeberang. Melihat Siauw-bin-kwi dan rombongannya muncul dengan tawa nyaring, raksasa itu mendelik. Wajahnya memerah teringat hancurnya suku bangsa Tartar gara-gara perbuatan iblis tersebut.
"Siauw-bin-kwi, sungguh bagus sekali kalau kau datang!"