Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 76

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 76

"Kau siap menyerahkan nyawamu?" Gurba membentak.

"Ha-ha, siapa yang akan menyerahkan nyawa, Gurba?" Siauw-bin-kwi mengejek. "Aku datang justru untuk mencabut nyawamu. Tapi di mana Kim-mou-eng? Mana dia?"

Gurba menggeram, tetapi Salima keburu melompat maju sambil melengking marah. "Siauw-bin-kwi, kau iblis jahanam terkutuk! Kau membuat suku bangsaku hancur dengan perbuatanmu yang hina dina. Kau tak akan kuampuni dan siaplah menerima kematian!"

"Ha-ha, kau sudah tahu semuanya, Salima? Bagus, tapi kau mungkin tak tahu sesuatu yang sudah dilakukan suhengmu ini. Dia membunuh muridku, Uyin dan Unga. Karena itu, aku membalas kematian muridku agar perhitungan kita impas!"

"Tapi kau mengadu domba, Siauw-bin-kwi! Kau mengadu suku bangsa Tartar dengan pasukan kerajaan!"

"Heh-heh, itu tak kusangkal, Salima. Tapi itu juga berkat kebodohan suhengmu sendiri. Kalau suhengmu pintar, tentu tak akan terjadi seperti itu!"

"Keparat, terkutuk!" Salima bersiap menyerang dengan menggetarkan lengan, tiba-tiba disambut ledakan rambut Tok-gan Sin-ni yang maju bersama teman-temannya untuk mengurung.

"Tiat-ciang Sian-li, kau tak perlu berceloteh di tempat ini. Kami datang untuk membunuhmu. Bersiaplah, Tartar!" Rambut Tok-gan Sin-ni pecah menjadi tujuh bagian, meledak, dan siap menyerang, mengulang pertandingan terdahulu.

Namun, Mo-ong tertawa sambil mengibaskan baju dan berseru, "Sin-ni, dua orang musuh kita ini adalah kawan lama yang harus dihormati dulu. Gurba tampaknya gatal melihat Siauw-bin-kwi, dan Salima ini tampaknya gatal melihat dirimu. Bagaimana kalau kita memberi kesempatan pada yang lain untuk saling bertukar pasangan? Aku dulu telah berkenalan dengan Dewi Bertangan Besi (Tiat-ciang Sian-li) ini, dan Siauw-bin-kwi telah berkenalan dengan si Singa Daratan Tandus. Sebaiknya Siauw-bin-kwi atau Hek-bong Siang-lo-mo itu main-main dulu dengan Dewi Bertangan Besi ini, kita menonton. Akur?"

"Heh-heh," Hek-bong Siang-lo-mo tertawa menyeringai sambil maju menggoyang bokong. "Aku setuju-setuju saja dihadapkan gadis cantik ini, Mo-ong. Tapi bagaimana dengan kau sendiri?"

"Aku dan Sin-ni bisa menghadapi si Singa Daratan Tandus itu. Kami belum berkenalan dengannya. Kalian sudah, bukan?"

"Ya, kami sudah berkenalan dengan raksasa hitam itu. Tapi Siauw-bin-kwi tak ada lawannya, Mo-ong. Mana adil?"

"Ha-ha, aku dapat menjadi wasit dulu, Lo-mo," Siauw-bin-kwi menyela. "Kalian bertanding saja dan aku maju kalau kalian terdesak!"

"Wah, kau maju belakangan?"

"Terserah Mo-ong, dia yang mengatur!"

Setan Ketawa itu tertawa, memandang temannya yang disebut tadi, membuat Salima dan suhengnya tersinggung serta marah sekali karena mereka seolah dijadikan barang aduan. Mo-ong maju sambil menganggukkan kepala, tiba-tiba tersenyum dengan mata licik.

"Lo-mo, kau tak perlu iri. Masing-masing akan mendapatkan bagiannya nanti. Bukankah kita masih harus berjaga-jaga terhadap Kim-mou-eng? Siapa tahu dia datang saat kita menghadapi mereka ini. Sebaiknya kau memanaskan badan dulu, hadapi siluman betina itu dan kami menonton. Kalau raksasa ini maju, kami yang akan menghadapinya!"

Rencana itu sudah diatur. Karena Hek-bong Siang-lo-mo selalu melotot padanya dan pandangan dua iblis cebol itu tampak berminyak, tiba-tiba Salima melengking menerjang dua orang yang maju mendekatinya.

"Hek-bong Siang-lo-mo, kalian pun harus menerima hukuman... wut-wuut!" Salima menerjang dengan menggerakkan kedua lengannya, membuat yang lain mundur karena pukulan Tiat-lui-kang mulai menyambar, dielak dua kakek cebol itu yang terkekeh melihat kemarahan lawan.

Ketika Salima membalik dan Twa-lo-mo berseru keras, tiba-tiba iblis tertua ini menangkis. "Ji-te, kau mundur dulu. Biar kuhadapi si cantik ini... plak!"

Salima dan lawannya terkejut. Twa-lo-mo terpental karena bicara pada adiknya hingga pemusatan tenaga kurang sepenuh bagian. Namun, Salima yang juga terhuyung dan merasa benturan panas dari lengan si cebol, tiba-tiba membentak dan kembali menerjang.

"Lo-mo, kau akan kubunuh!"

"Ha-ha, kalau bisa, Tiat-ciang Sian-li. Tapi kalau tidak, justru kau akan kugendong dan kupermainkan!" Twa-lo-mo berkelit, tertawa, dan sudah menghadapi serangan lawan yang gencar bukan kepalang, masih main-main dan tidak kelihatan serius.

Tetapi ketika pukulan-pukulan Tiat-lui-kang membuat dia mundur dan hawa panas dari pukulan Telapak Tangan Petir itu membuat dia terpental, tiba-tiba iblis ini terkejut membelalakkan mata, memusatkan perhatian, dan tidak berani main-main lagi. Ketika Salima melengking dan Tiat-lui-kang mengurung iblis cebol itu, tiba-tiba Twa-lo-mo mendesah dan mulai membalas.

Demikianlah, pertandingan pertama mulai berjalan seru. Masing-masing pihak telah cukup mengetahui kepandaian lawan. Salima mendapat kenyataan bahwa iblis cebol ini berani menerima Tiat-lui-kangnya, menangkis, dan tahan pukulan panas yang menyambar dari Telapak Petir itu. Namun ketika dia menambah tenaga dan Tiat-lui-kang mulai menekan, tiba-tiba Twa-lo-mo membentak sambil memainkan silat aneh, meliuk-liuk bagai penari cebol dengan kedua lengan naik-turun, tiba-tiba menyambar serangkum hawa dingin menyambut Tiat-lui-kang yang berhawa panas. Ketika pukulan petir disambut kakek itu, tiba-tiba ledakan keras mengguncangkan bumi.

"Blub!" Salima terkejut. Tangkisan lawan berbunyi seperti letupan balon. Twa-lo-mo terpental tapi membalik lagi seolah karet, membal, dan terkekeh melihat lawan terkejut. Ketika Tiat-lui-kang kembali menyambar tapi kakek itu mempergunakan tangkisannya yang aneh, mendadak iblis ini mencelat-celat seperti bola dipukul.

"Silat Bola Sakti...!" Salima terbelalak.

Dia mendengar suhengnya berseru tertahan, rupanya mengenal ilmu silat lawan yang aneh tapi luar biasa. Baru kali itu dia mendengar nama tersebut. Lo-mo yang tampak terkejut oleh seruan ini justru membelalakkan mata memandang Gurba, yang saat itu mengerutkan kening dan tampak berpikir keras oleh ilmu silat lawan yang aneh.

Ketika Salima kembali menyerang tapi Twa-lo-mo mental tanpa luka, akhirnya raksasa ini berseru, "Sumoi, arahkan pukulan ke mulut setan cebol itu. Dia apes di bagian itu!"

Twa-lo-mo terkejut. "Keparat, kau curang, Gurba! Sumoimu yang bertempur tapi kau yang memberi tahu!"

Salima sudah mengangguk. Dia telah melejit dan menyerang mulut lawannya itu yang setiap kali menangkis tentu terbuka. Ketika Tiat-lui-kang meledak dan Twa-lo-mo berteriak melihat mulutnya diserang, tiba-tiba si cebol ini terpaksa bungkam dan menangkis dengan lengan kirinya.

"Dukk!" Twa-lo-mo terbanting. Untuk pertama kalinya iblis itu memekik, gusar, dan melompat bangun dengan marah. Ketika Salima mengincar mulutnya dan tetap menyerang ke bagian itu, tiba-tiba Silat Bola Sakti kakek iblis ini tak jalan karena harus selalu membungkam mulutnya, tak dapat mengempos (menarik) hawa sakti!

"Duk-dukk!" Twa-lo-mo mulai tunggang-langgang. Iblis cebol ini marah, meraung, tapi kelabakan ketika Tiat-lui-kang selalu menyambar mukanya. Ketika dia kalang kabut dan pukulan Telapak Petir itu meledak serta memburu mulutnya, akhirnya iblis ini terdesak dan membuat Ji-lo-mo, adiknya yang menonton, menjadi marah bukan main.

"Twako, pergunakan saja ilmu silat lain, simpan Balon Saktimu itu...!"

Twa-lo-mo mengangguk. Dia sudah diserang gencar pukulan petir yang luar biasa ini, terus mundur-mundur dan membuat iblis ini berkaok-kaok. Ketika dia tak dapat mempergunakan tenaga Balon Saktinya sementara Salima terus merangsek dan Gurba memberi petunjuk-petunjuk di luar pertandingan, tiba-tiba Ji-lo-mo meloncat dan mengeroyok Salima!

"Siluman betina, kau tak boleh mendesak kakakku. Ayo lepaskan dia... plak-dess!"

Ji-lo-mo menyerang, ditangkis Salima dan membuat Twa-lo-mo melompat bangun sambil memaki-maki. Ketika Salima terkejut dan khawatir Gurba masih memberi petunjuk pada sumoinya, tiba-tiba iblis cebol itu berseru, "Mo-ong, ringkus raksasa hitam itu. Bunuh agar dia tak mengganggu kami!"

Sai-mo-ong terbelalak. Sebenarnya dia sedang asyik memandang ilmu silat dua iblis cebol itu, diam-diam girang bahwa Gurba mengetahui kelemahan ilmu silat Balon Sakti. Berarti dia tak perlu takut kalau Hek-bong Siang-lo-mo mempergunakan ilmunya itu padanya kelak jika mereka bermusuhan. Maklum, kalangan hitam sendiri memang jarang akur dan selalu cekcok.

Namun, mendengar seruan itu dan melihat Gurba memang berbahaya, tiba-tiba Mo-ong mengalihkan perhatian dan memandang raksasa tinggi besar itu yang saat itu juga memandangnya. Ketika mereka saling bentrok dan mata Gurba tampak beringas, tiba-tiba Tok-gan Sin-ni terkekeh meledakkan rambutnya.

"Mo-ong, bagaimana kalau kita main-main sebentar dengan si hitam ini? Rupanya dia haus darah, lihat matanya melotot padamu!"

"Heh-heh, kita boleh main-main, Sin-ni. Tapi sebaiknya kau maju saja bersama Bin-kwi. Aku menjaga Kim-mou-eng!"

"Eh, kau takut?" Bin-kwi tiba-tiba tertawa. Dia tahu temannya ini gentar, sudah mendengar kelihaian Gurba dari keterangannya.

Belum Mo-ong menjawab dengan muka merah, si Setan Ketawa itu menyeringai melejit mundur. "Mo-ong, ingat kata-katamu sendiri. Kau sendiri mengatakan akan menghadapi lawanmu ini bersama Sin-ni. Kenapa menyuruh aku maju? Kalau kau takut boleh saja aku maju, tapi kalau tidak, kau harus menepati janjimu itu!"

Mo-ong semakin merah. Dia terkejut oleh kata-kata si Setan Ketawa ini; belum apa-apa sudah disudutkan dan mau tak mau harus berhadapan dengan Gurba. Namun, karena dia tak mau dikata takut dan ejekan itu terang membuat dia marah, tiba-tiba kakek iblis ini menggeram maju mencabut kipas hitamnya.

"Bin-kwi, aku tak takuti segala macam manusia Tartar. Raksasa ini memang bagianku, tapi kalau kau jeri dengan kekalahanmu dulu, boleh kau menyingkir dan tonton pertandingan kami!"

"Ha-ha, aku juga tak takuti musuhmu itu, Mo-ong."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment