Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 77

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 77

"Tapi karena kau sendiri telah berjanji menghadapi musuhmu itu, biarlah aku mundur dahulu untuk melihat kegagahanmu. Jangan khawatir, aku tidak jeri. Kalau kau terdesak, tentu tetap kubantu!" Siauw-bin-kwi membalas, tak mau kalah, dan secara cerdik membalas ejekan Mo-ong.

Ketika Mo-ong mendengus dan Tok-gan Sin-ni terkekeh melihat dua orang rekannya saling berolok, tiba-tiba rambut Tok-gan Sin-ni meledak dan menjulur nyaring.

"Mo-ong, tak perlu bersilat lidah dengan si Setan Ketawa itu. Dia pandai bicara, percuma debat kusir!" Saat rambut meledak dan Tok-gan Sin-ni melompat maju, Gurba sudah dikurung dan dipandang oleh dua orang lawannya itu. Tok-gan Sin-ni dengan rambutnya yang tegak kaku, sementara Mo-ong dengan kipas hitamnya—kipas aneh yang terbuat dari bulu-bulu surai singa jantan.

Gurba tak mau bertangan kosong karena maklum akan kehebatan si raksasa tinggi besar ini. Ketika Gurba menggeram dan Siauw-bin-kwi bertepuk tangan, dengan sangat cepat dan tanpa memberi tanda, Tok-gan Sin-ni melecutkan rambutnya menyambar muka Gurba.

"Tarr...!" Gurba mengelak. Ia marah melihat rambut menyambar matanya, lalu melakukan totokan ganas. Namun, ketika Gurba berkelit, Tok-gan Sin-ni membalikkan badan dan tahu-tahu kaki wanita itu menendang mengarah ke kemaluan Gurba. Serangan itu ditangkis, lalu wanita itu berputar meliukkan pinggang, menghantam dengan tumit satunya, dan kemudian meledakkan rambut untuk menotok leher Gurba.

Saat Gurba menggeram dan berlompatan menghindar, Tok-gan Sin-ni lenyap berkelebatan menyusuli dengan serangan bertubi-tubi, terkekeh disusul Mo-ong yang menggeser kakinya mirip singa mengincar korban. Mo-ong melejit dan tiba-tiba menggerakkan kipas di tangan kanan, sementara tangan kirinya menyambar dengan lima kuku yang mencuat panjang.

Ketika Gurba mengelak dan serangan masih menyusul, tiba-tiba raksasa ini menangkis dan membentak keras.

"Plak-dukk!" Dua orang itu mulai mengeroyok Gurba. Raksasa itu telah mengerahkan sinkang-nya, menangkis, dan membalas ketika lawan mulai bergerak cepat.

Ketika Mo-ong dan Sin-ni melengking mempercepat gerakan mereka, tiba-tiba dua orang kakek dan nenek iblis itu lenyap mengelilingi Gurba, menjeletarkan rambut dan mengebutkan kipas sementara kaki dan tangan mereka yang lain menendang dan mencungkil. Apa saja dijadikan serangan hingga Gurba sibuk.

Saat raksasa itu mulai mendesah dan marah dikeroyok dua, tiba-tiba satu dua pukulan mengenai tubuhnya.

"Plak-dess!" Gurba melotot. Rambut dan kipas lawan menyengat pedas. Untunglah ia mengerahkan sinkang hingga tenaga saktinya membuat senjata lawan mental saat bertemu kekebalannya. Hal ini membuat Tok-gan Sin-ni maupun Mo-ong terkejut, sekaligus membuktikan ucapan si Setan Ketawa bahwa raksasa ini memiliki kekebalan yang mengagumkan.

Ketika kipas maupun rambut bertubi-tubi menyambar tubuh raksasa itu tetapi selalu membalik karena kekebalan sinkang-nya, akhirnya Mo-ong maupun Tok-gan Sin-ni memekik marah.

"Mo-ong, serang saja matanya!"

"Ya, dan kau serang ulu hatinya, Sin-ni. Aku yang atas, sementara kau yang bawah!"

Gurba marah. Dua orang lawannya mulai menyerangnya secara licik; Mo-ong menyerang bagian atas, sementara Sin-ni bagian bawah. Keduanya bekerja sama dengan amat baik dan rapi. Tak ada yang tak berbahaya karena kipas maupun rambut selalu menyambar dengan tenaga sinkang, hebat melecut dan meledak dengan suara nyaring.

Karena Sin-ni maupun Mo-ong tampak berusaha keras untuk merobohkan lawannya, Gurba berteriak mengeluarkan Tiat-lui-kang. Kini ia membalik dan balas menyerang kedua lawannya, selalu mengelak bila kipas menyambar mata dan menangkis kalau rambut menotok ulu hati. Karena Gurba juga marah dan geram pada dua lawannya ini, pertandingan tiba-tiba menjadi hebat dan seru bukan main, disaksikan Siauw-bin-kwi yang mulai bertepuk tangan.

"Bagus, teruskan, Mo-ong! Desak dia dan bunuh raksasa hitam itu!"

Namun, ketika Mo-ong meleset dan Tok-gan Sin-ni ganti menyerang, iblis ini mendecak, "Ah, kurang tenaga, Sin-ni. Rambutmu terlalu lemah dan kurang tepat...!"

Tok-gan Sin-ni dan Mo-ong mendongkol. Mereka mendengar si Setan Ketawa itu berkomentar panjang pendek tentang pertempuran mereka. Suatu ketika memuji, tapi di lain waktu mencaci. Katanya kurang ini atau itu. Ketika Siauw-bin-kwi terus berceloteh dan Mo-ong maupun Tok-gan Sin-ni menjadi gusar, akhirnya iblis itu bahkan dimaki.

"Siauw-bin-kwi, tutup mulutmu itu! Tak perlu cerewet!"

"Ya, dan kau maju saja kalau merasa lebih pintar, manusia homo. Kau bisa mencela, tapi tidak bisa membuktikan kepandaianmu!"

"Ah," Siauw-bin-kwi tertawa. "Aku justru memberi petunjuk, Mo-ong. Kenapa mengomel dan malah memaki aku? Seharusnya kalian berterima kasih, bukan menegur atau mengumpat!"

"Terima kasih hidungmu, Bin-kwi! Kau berceloteh saja seperti monyet!" Tok-gan Sin-ni membentak, masih terus menyerang tapi mulai terpental oleh Tiat-lui-kang yang menyambar dari lengan Gurba.

Ketika Mo-ong juga mendesis dan sering terhuyung oleh tangkisan raksasa ini, akhirnya kakek iblis itu berseru agar si Setan Ketawa itu maju saja.

"Bin-kwi, kau membuat kami muak. Sebaiknya maju dan bunuh si Tartar ini!"

"Weh, kalian kewalahan?"

"Kewalahan!" Mo-ong gusar. "Kau lihat raksasa ini mampu menghadapi kami berdua, Bin-kwi. Sebaiknya tak perlu banyak cakap lagi dan maju membantu kami!"

"Kalau Kim-mou-eng datang?" Siauw-bin-kwi membantah.

"Dia tak akan datang. Kau tak perlu cerewet lagi dan cepat saja robohkan raksasa hitam ini!" Mo-ong kembali membentak, merasa gemas dan kagum pada lawannya karena Gurba memang hebat dan dapat menghadapi mereka berdua, terutama kekebalannya itu. Kekebalan yang selalu membuat rambut maupun kipas terpental saat bertemu tenaga yang kuat.

Terkejut oleh sinkang lawan yang ternyata dua tingkat di atas dirinya sendiri, Mo-ong terhuyung. Ketika Tiat-lui-kang membalas, sementara Bin-kwi masih ragu-ragu, mendadak Telapak Petir raksasa itu menyambar pundaknya.

"Plak!" Mo-ong meraung. Untuk pertama kalinya ia terpukul; baju pundaknya hancur sementara kulit pundaknya hitam kebiruan. Ia terguling-guling dan memaki-maki si Setan Ketawa yang tidak cepat maju.

Ketika Bin-kwi terkejut dan Tok-gan Sin-ni terbelalak, tiba-tiba rambut wanita itu terpental dan Tiat-lui-kang menyambar dada wanita ini.

"Aih... dess!" Tok-gan Sin-ni kurang cepat berkelit, berteriak, dan menjatuhkan diri bergulingan ketika pangkal lengannya terpukul hingga hampir membuat ia menangis. Sakitnya bukan alang-kepalang, persis disambar petir.

Ketika dua orang itu berteriak memaki Siauw-bin-kwi dan melihat temannya terdesak, akhirnya iblis ini maju menerjang saat Mo-ong dan Sin-ni melompat bangun.

"Mo-ong, sorry. Aku kira kalian main-main!"

"Main-main hidungmu!" Tok-gan Sin-ni marah. "Raksasa ini harus dikeroyok bertiga, Bin-kwi. Kalau tidak, justru kau yang akan kami tonton!"

"Eh, jangan!" Siauw-bin-kwi terkejut. "Aku akan meninggalkan juga raksasa ini, Sin-ni. Ayo bantu dan mari kita keroyok!"

Sin-ni mendengus. Sebenarnya ia marah pada si Setan Ketawa, kenapa terlambat maju hingga ia terpukul. Tapi Mo-ong yang membentak menerjang ke depan sudah mengajaknya agar tidak tinggal diam, tak perlu membalas sikap si Setan Ketawa itu yang menonton mereka.

"Sin-ni, bunuh si Tartar ini. Ayo maju...!"

Tok-gan Sin-ni mengangguk. Dia melihat Mo-ong sudah mengebutkan kipasnya, bersama Siauw-bin-kwi mengeroyok si tinggi besar. Siauw-bin-kwi terpental ketika beradu lengan dan mendesis menerima Tiat-lui-kang. Ketika Tok-gan Sin-ni meledakkan rambut dan Gurba dikeroyok bertiga, pertandingan menjadi lebih seru. Raksasa ini mulai sering menerima hantaman, baik pukulan rambut maupun totokan kipas, sementara Siauw-bin-kwi mencari kelengahan di belakang, menyodok atau menampar raksasa itu dengan pukulannya yang berbahaya.

Karena Gurba mulai berat menerima tekanan lawan, tiba-tiba raksasa ini terdesak dan marah-marah.

"Siauw-bin-kwi, kau setan hina-dina!"

"Ha-ha, hina-dina tak apa, Gurba. Pokoknya menang dan kau mampus!" Siauw-bin-kwi terkekeh, terus menyerang dan mengganggu Gurba dengan serangan-serangan dari belakang.

Ketika Mo-ong membentak sementara Tok-gan Sin-ni juga melecutkan rambut, Siauw-bin-kwi sudah menghentakkan kaki "menjalu" tengkuk raksasa ini.

"Plak-duk-dess!" Gurba terlempar. Tiga serangan yang hampir berbareng itu memang tak mungkin ditangkisnya secara serentak. Betapapun hanya pukulan dan hantaman Mo-ong dan Tok-gan Sin-ni yang ditahan, itu sudah membuatnya tergetar dan marah. Tapi karena Siauw-bin-kwi berbuat curang di belakang dan tengkuknya persis "dijalu", akhirnya raksasa tinggi besar ini berteriak dan mencelat terlempar.

Saat itu tiga lawannya terkekeh, berkelebat menyambar dengan serangan masing-masing yang tak kenal ampun, melihat Gurba masih dapat bangun karena terlindung oleh kekebalan sinkang-nya yang hebat itu.

Ketika mereka bertiga hampir berbareng melepas pukulan, saat itu juga Gurba memekik, menggetarkan tubuhnya, secepat kilat mengembangkan lengan di kanan kiri tubuhnya, dan kedua kakinya menancap kuat. Begitu tiga serangan menuju dadanya, tiba-tiba dari kedua lengan raksasa ini muncul sinar putih berkeredep seperti bintang.

"Awas, Pek-sian-ciang (Pukulan Tangan Dewa)...!"

Namun terlambat. Tiga serangan itu telah bertemu lengan raksasa ini, menggelegar dan membuat bumi terguncang, daun-daun di sekitar mereka tiba-tiba rontok. Ketika Siauw-bin-kwi berseru memperingatkan kedua temannya, saat itu juga tiga tubuh terlempar di udara sementara rambut dan kipas hancur berkeping-keping.

"Krakk!" Mo-ong dan teman-temannya menjerit. Mereka berjungkir balik di udara, Tok-gan Sin-ni sendiri brodol rambutnya, putus separuh. Ketika mereka melayang turun dan ketiganya melontarkan darah, Gurba sendiri juga melesak, tak dapat mencabut kakinya yang amblas sekitar lutut!

"Hebat...!" Siauw-bin-kwi gemetar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment