Chapter 78
"Si Singa Daratan Tandus ini memang luar biasa!"
"Ya, dan... augh!" Mo-ong mendekap dadanya. "Pukulannya ampuh, Bin-kwi. Dia membuat jantungku serasa pedot!"
Kedua iblis yang terhuyung menyeringai kesakitan itu tiba-tiba cepat menelan obat dan melihat Tok-gan Sin-ni terbatuk-batuk. "Mo-ong, Pek-sian-ciang memang hebat. Tapi ilmu pukulan itu kabarnya dimiliki Bu-beng Sian-su. Bagaimana Kim-mou-eng dan suhengnya ini mewarisi ilmu itu?"
Kedua iblis itu tak dapat menjawab. Mereka memang mendengar bahwa Pek-sian-ciang adalah ilmu sakti yang dimiliki manusia sakti Bu-beng Sian-su, tokoh dewa yang selalu misterius. Wajahnya tak dikenal karena selalu tertutup kabut, dan tidak sembarang orang dapat menjumpainya.
Karena merasa heran serta gentar oleh Pukulan Tangan Dewa yang dimiliki raksasa ini, tiba-tiba Siauw-bin-kwi bermaksud mundur, betapapun ngeri oleh pukulan yang hebat itu. Namun, jeritan Salima tiba-tiba menarik perhatian mereka. Melihat gadis Tar-tar itu mencelat terbanting oleh pukulan Hek-bong Siang-lo-mo, mereka baru teringat bahwa di samping mereka masih ada pertempuran lain, yakni Salima melawan dua kakek cebol itu.
Ketika Salima terlempar dan Hek-bong Siang-lo-mo mengejar, dua kakek cebol itu terkekeh menyusuli serangannya. Salima tak sempat mengelak lagi karena ia sesungguhnya sudah terdesak oleh dua orang lawan yang maju berbarengan ini; beban yang terlalu berat baginya. Ketika gadis itu mengeluh dan terlempar bergulingan, secara tak sengaja ia mendekati suhengnya.
"Des-dess!" Salima pucat. Ia menabrak kaki suhengnya yang terbenam sebatas lutut, berhenti di situ, dan memuntahkan darah.
Hek-bong Siang-lo-mo yang rupanya penasaran melihat gadis itu belum tewas tiba-tiba berkelebat lagi untuk menurunkan tangan maut, namun dicegah Mo-ong yang terkejut melihat rekannya lupa diri. Tak boleh membunuh gadis Tar-tar itu! Namun, Gurba yang menggeram dan tak membiarkan sumoinya dibunuh tiba-tiba mengeluarkan Pek-sian-ciangnya, membentak, dan menangkis. Begitu dua pukulan kakek cebol itu bertemu lengan raksasa ini, akhirnya Hek-bong Siang-lo-mo menjerit dan melontarkan darah.
"Bress!" Dua kakek itu mencelat bergulingan. Mereka kaget oleh tangkisan ini, sadar akan adanya Gurba. Gurba sendiri yang mendelik menerima pukulan itu tiba-tiba melesak semakin dalam hingga di atas lututnya sehingga tak dapat bergerak.
Salima yang sudah pingsan oleh getaran benturan itu tergeletak di depan suhengnya tanpa tahu apa-apa lagi, bahkan tidak tahu betapa Tok-gan Sin-ni melengking menerjang maju, nekat menyuruh dua temannya yang lain menyerang raksasa itu mumpung Gurba terbenam. Begitu Mo-ong dan Bin-kwi mengangguk, tiba-tiba Gurba sudah dikeroyok dalam keadaan yang begitu buruk dengan kedua lutut masih terkubur di dalam tanah.
"Plak-plak-plak!" Gurba memaki-maki. Dia menangkis dan kerepotan oleh serangan lawan yang bebas bergerak di sekitarnya. Untungnya, lawan sudah terluka hingga pukulan mereka tidak sekuat tadi, mungkin tinggal separuh. Tapi karena dia terbenam dan kedua kaki tak dapat digerakkan, betapapun hebatnya raksasa ini, dia harus mengakui kelemahannya juga. Lama-lama dia menjadi nanar dan pandangannya menjadi gelap.
Ketika Hek-bong Siang-lo-mo juga diajak mengeroyok raksasa tinggi besar yang kini tampak pendek karena lutut terbenam itu, akhirnya kepala dan tengkuk pemuda Tartar tersebut menjadi bulan-bulanan pukulan. Gurba mulai mengeluh dan benar-benar bertahan mengandalkan sinkangnya saja. Karena dia tak dapat membalas dan lawan tak memberi kesempatan untuk mencabut kaki, satu pukulan keras mendarat di telinga kanannya.
"Plak!" Gurba berputar. Dia tak dapat roboh, hanya mendoyong karena kaki tertahan di dalam tanah. Ketika satu tamparan lagi mengenai tengkuknya, raksasa ini mengeluh dan tergoyang perlahan.
"Dukk!" Gurba tak mampu mengelak. Dia hanya menggigit bibir, melihat lawan berputar dan terkekeh-kekeh mempermainkannya, kembali menerima pukulan di sana-sini sementara pertahanannya mulai lemah. Ketika Tok-gan Sin-ni melengking mengibaskan rambutnya, dengan keji wanita ini menyambar mata lawan agar buta, disusul yang lain yang tertawa melihat keadaan Gurba yang kian limbung. Kekebalannya mulai punah karena sinkang juga mulai lemah.
Namun, persis saat raksasa itu menerima serangan rambut, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat membentak orang-orang ini, "Tok-gan Sin-ni, kau wanita keji... plak!"
Tok-gan Sin-ni terkejut. Dia terlempar oleh tangkisan itu, melihat seorang pemuda berambut keemasan muncul menangkis serangannya. Ketika pemuda itu berkelebat menangkis serangan yang lain, berturut-turut Siauw-bin-kwi dan teman-temannya terpental, sementara pemuda yang baru datang ini telah mencabut kaki Gurba dari dalam tanah.
"Kim-mou-eng...!" Tok-gan Sin-ni dan teman-temannya berseru kaget. Mereka melihat bahwa pendatang baru ini memang bukan lain adalah Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas.
Ketika mereka tertegun dan Gurba terbelalak, Kim-mou-eng telah memandang suhengnya. "Suheng, kau tak apa-apa?"
Gurba sadar. Raksasa tinggi besar ini menggeleng, terkejut namun girang di samping cemas melihat munculnya sang adik. Namun, menekan perasaan sendiri dan melihat Salima masih pingsan, tiba-tiba raksasa ini memandang Siauw-bin-kwi dan teman-temannya dengan menggeram. "Sute, orang-orang ini hendak membunuhku. Mereka mengeroyok secara curang. Hek-bong Siang-lo-mo bahkan melukai sumoi kita. Ayo basmi dan bunuh mereka itu!"
Gurba melompat membentak marah dan melepas pukulan menghantam Siauw-bin-kwi. Pukulannya ditangkis, tapi membuat iblis itu mencelat. Ketika Siauw-bin-kwi terkejut dan Gurba menyerang lagi, Setan Ketawa ini berteriak pada teman-temannya, "Mo-ong, tolong! Bantu aku...!"
Sai-mo-ong tertegun. Dia telah membuktikan kelihaian raksasa tinggi besar ini, juga kelihaian Pendekar Rambut Emas yang tak kalah hebat. Tapi melihat temannya terdesak, pukulan Pek-sian-ciang mulai menyambar-nyambar, dan Siauw-bin-kwi berlompatan ke sana-kemari, akhirnya iblis tua ini mengangguk dan melompat maju. "Sin-ni, ayo pukul si Tar-tar ini. Biarkan Hek-bong Siang-lo-mo menghadapi Kim-mou-eng!"
Tok-gan Sin-ni mengangguk. Dia melihat kesempatan baik itu; kecerdikan Mo-ong dengan mengeroyok Gurba, lalu menyerahkan Kim-mou-eng yang masih segar pada Hek-bong Siang-lo-mo sementara mereka menghadapi raksasa yang sudah kelelahan itu. Tentu saja itu akal licik yang diketahui Hek-bong Siang-lo-mo, yang mengerutkan kening tak senang memandang Mo-ong. Namun, karena Siauw-bin-kwi dan Tok-gan Sin-ni sudah maju mendahului, mau tak mau mereka harus menghadapi Kim-mou-eng. Dua kakek cebol itu terkekeh melepas kemendongkolan, melihat Pendekar Rambut Emas memandang pertempuran itu.
"Kim-mou-eng, tak perlu cemas. Suhengmu bakal diantar ke neraka, menyusullah...!" Mereka berdua menubruk dan menyerang dari belakang, tiba-tiba mengeluarkan Bola Saktinya dan menghantam Kim-mou-eng.
"Plak-plak!" Kim-mou-eng menangkis, melihat lawan terpental tapi membalik lagi seperti balon karet. Ketika Hek-bong Siang-lo-mo tertawa dan Kim-mou-eng mengerutkan alis, dua kakek cebol itu bertubi-tubi menghujani serangan. "Kim-mou-eng, kau mampuslah!"
Kim-mou-eng berkelebat mengerahkan ginkang. Dia merasa aneh dengan pukulan lawan yang asing, tentu saja mengeluarkan Tiat-lui-kangnya dan menangkis ke sana-kemari sambil melihat pertempuran suhengnya dengan pandangan khawatir. Tapi karena Hek-bong Siang-lo-mo selalu mendesak dan mengejek, tiba-tiba pendekar ini marah dan berseru pada suhengnya, "Suheng, serahkan saja Tok-gan Sin-ni dan Mo-ong padaku. Kau hadapilah Siauw-bin-kwi seorang diri!"
"Weh, kau berani dikeroyok empat?" Hek-bong Siang-lo-mo terbelalak, terus melakukan serangan dan merasa tak dipandang sebelah mata oleh pendekar ini.
Ketika Balon Sakti mereka mulai terpental dan Tiat-lui-kang yang dimiliki pendekar ini jauh lebih kuat dibanding yang dimiliki Salima, tiba-tiba dua iblis itu terkejut ketika Kim-mou-eng mulai mengarahkan pukulan pada mulut mereka. Ia tahu pengapesan (kunci kelemahan) mereka, persis seperti Gurba!
"Keparat, kau jahanam keparat, Kim-mou-eng. Kau dan suhengmu itu rupanya manusia tengik yang suka mencari tahu kelemahan orang!"
Kim-mou-eng tak menjawab. Ia memang tak kalah jauh dengan suhengnya, kalau tak mau dikatakan berimbang. Maka ketika Hek-bong Siang-lo-mo memekik dan ia terus berteriak agar Mo-ong dan Tok-gan Sin-ni diserahkan padanya, mendadak pendekar ini berkelebat menarik baju Tok-gan Sin-ni, tahu kerepotan suhengnya yang mulai lelah. Ketika Tok-gan Sin-ni berteriak dan wanita itu dilempar ke arah Hek-bong Siang-lo-mo, Pendekar Rambut Emas telah menyambar Sai-mo-ong, ganti melempar kakek iblis ini.
"Mo-ong, kalian boleh keroyok aku saja. Biarkan suheng menghadapi si Setan Ketawa itu...!"
Mo-ong dan Tok-gan Sin-ni marah-marah. Mereka merasa dipermainkan oleh pemuda sakti ini, mencoba kembali ke tempat Gurba tapi lagi-lagi diganggu dengan pundak mereka yang disambar. Setelah kejadian itu berulang tiga atau empat kali dan Hek-bong Siang-lo-mo juga berkaok-kaok, akhirnya Sai-mo-ong dan Tok-gan Sin-ni benar-benar mengeroyok Pendekar Rambut Emas.
"Kim-mou-eng, kau bangsat jahanam. Kau sombong sekali!"
Kim-mou-eng tertawa. Sekarang dia dapat menarik empat orang ini mengeroyok dirinya, sadar meskipun dikeroyok empat orang, sesungguhnya sama dengan dikeroyok dua karena empat iblis itu telah menguras tenaga melawan suhengnya, sehingga tenaga mereka tinggal separuh atau kurang. Perhitungan itu membuat dia berani mengambil alih keroyokan tersebut karena lawan memang kehilangan banyak tenaga, sementara dia masih segar.