Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 79

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 79

Tiat-lui-kang mulai menangkis dan sesekali Pek-sian-ciang juga membentur pukulan-pukulan lawan. Akhirnya, Sai-mo-ong dan teman-temannya terhuyung seraya memaki-maki.

"Kim-mou-eng, kau sombong, kelewat sombong. Kau pemuda keparat!"

Kim-mou-eng tersenyum. Dia telah memperhitungkan semuanya, mengetahui kesegaran tenaga sendiri, dan tidak menghiraukan makian lawan. Ketika dia mulai membalas dan Mo-ong serta teman-temannya sering terpental, Siauw-bin-kwi yang bertempur melawan Gurba mulai berkaok-kaok. Rupanya, Setan Ketawa itu kalah lihai, mendapat tekanan, dan mulai menerima pukulan-pukulan berat.

"Dess!" Siauw-bin-kwi berkaok. Dia merasa daging pundaknya lumat, padahal Gurba juga sudah kehilangan banyak tenaga dalam pertempuran ini. Ketika raksasa itu mengejar dan satu pukulan lagi menyerempet telinganya, akhirnya si Setan Ketawa ini menjerit melompat tinggi.

"Mo-ong, aku permisi dulu. Kuserahkan saja pertempuran ini padamu!" Siauw-bin-kwi melarikan diri. Dia terlanjur pucat menghadapi pukulan Pek-sian-ciang itu hanya seorang diri. Ketika iblis itu berkelebat dan Gurba membentak, tiba-tiba raksasa ini mengejar dengan seruan geram.

"Bin-kwi, jangan lari kau. Kubunuh dulu!"

Namun, Siauw-bin-kwi sudah melesat jauh. Iblis Ketawa ini tidak mau ambil risiko; ia merogoh baju dan secepat kilat melemparkan granat tangan ke arah Gurba. Ketika Gurba berkelit dan granat itu meledak, asap hitam menghalangi pandangan raksasa tinggi besar ini.

"Dar!"

Gurba marah-marah. Dia terhalang asap itu dan mengejar ke tempat lain, tetapi ketika dia tidak menemukan musuhnya karena lawan lenyap di balik asap, akhirnya raksasa ini kembali dan melampiaskan kemarahannya pada empat orang lawan Kim-mou-eng.

"Mo-ong, kalian iblis-iblis busuk yang tidak tahu malu. Biar kalian saja yang kubunuh duluan!"

Wut-plak! Mo-ong yang menerima tumbukan pukulan tiba-tiba mencelat dan terlempar. Ia berseru kaget, terguling-guling, dan terus diserang raksasa itu. Ketika Gurba juga menyerang yang lain dan Tok-gan Sin-ni serta Hek-bong Siang-lo-mo mendesah kaget, tiba-tiba empat orang iblis itu kocar-kacir.

"Sin-ni, lari!"

Tok-gan Sin-ni mengangguk. Ia juga telah merasakan kegagalan misi ini; tidak dapat membunuh Gurba karena Kim-mou-eng datang, lawan yang tidak kalah berat dengan raksasa hitam itu. Ketika Mo-ong berteriak agar mereka lari saja, tiba-tiba nenek ini melecutkan rambutnya, merogoh jarum-jarum beracun, sekaligus menyambitkannya ke arah raksasa itu karena Gurba menyerangnya. Ketika Gurba mundur dan Mo-ong juga melepas pelornya, tiba-tiba puluhan senjata rahasia berhamburan ke arah kakak dan adik seperguruan ini.

"Wut-plak-plak!" Gurba dan Kim-mou-eng menangkis. Mereka meruntuhkan hamburan senjata gelap itu. Gurba bahkan menggeram-geram. Namun, ketika semua senjata runtuh dan mereka hendak mengejar, ternyata bayangan Tok-gan Sin-ni dan teman-temannya lenyap. Hanya kekeh mereka saja yang terdengar di kejauhan sana.

"Gurba, tak perlu sombong. Kami titipkan dulu nyawamu di situ. Biar lain kali kami ambil!"

"Ya, dan kau juga, Kim-mou-eng. Jaga baik-baik nyawamu itu biar lain kali kami datang, heh-heh!"

Gurba dan Kim-mou-eng mendongkol. Raksasa tinggi besar itu marah, tapi karena dia tidak dapat mengejar dan lawan tentu akan mengeluarkan lagi senjata-senjata rahasianya padahal dia sudah lelah, akhirnya raksasa ini berhadapan dengan sute-nya, Kim-mou-eng, yang tidak menduga apa pun terhadap suheng-nya itu. Begitu dua mata beradu dan Kim-mou-eng bertanya apakah suheng-nya tidak apa-apa, mendadak Gurba menghantamnya dengan satu pukulan maut.

"Sute, kau pengkhianat keparat!"

Kim-mou-eng terkejut. Dia tentu saja mengelak, terkesiap melihat angin pukulan suheng-nya lewat di sisi telinganya. Ketika Gurba kembali menyerangnya dan Kim-mou-eng membelalakkan mata, tiba-tiba pendekar ini menangkis dengan penuh ketidakmengertian.

"Dukk!"

Dua lengan mereka tergetar. Kim-mou-eng terdorong, sementara suheng-nya juga terhuyung. Belum sempat suheng-nya menyerang kembali, buru-buru Kim-mou-eng berseru, "Suheng, tahan. Aku tidak mengerti!"

Kim-mou-eng melompat mundur dengan muka terkejut dan menegur, "Suheng, apa-apaan ini? Kenapa kau menyerangku?"

"Hm, kau mengkhianati bangsa Tartar, Sute. Kau tidak perlu bertanya lagi karena kau sudah tahu... wutt!"

Gurba yang menggeram mencelat maju dan tiba-tiba melepas pukulan, marah, serta tidak memberi kesempatan sute-nya bicara. Karena Gurba terus menyerang dan tidak membiarkan dia berhenti, akhirnya Kim-mou-eng berlompatan ke sana kemari sambil berseru berulang-ulang, bertanya kenapa suheng-nya marah-marah begitu. Namun, ketika suheng-nya mulai mengeluarkan Pek-sian-ciang dan Kim-mou-eng kaget melihat suheng-nya hendak membunuhnya, tiba-tiba pendekar ini terpekik meloncat jauh.

"Suheng, kau gila. Kau benar-benar hendak membunuhku!"

"Ya, aku hendak membunuhmu, Sute. Kau membuat malu bangsa Tartar dan karena itu pantas dibunuh!"

Gurba yang mengejar dan tampak beringas melancarkan pukulan, tiba-tiba diterima dan ditangkis sute-nya ini.

"Duk-dukk!"

Kim-mou-eng terpental. Dia tercekat dan benar-benar kaget melihat suheng-nya bersungguh-sungguh, merasakan suheng-nya mengerahkan segenap kekuatan pada pukulannya itu, yang untungnya masih tidak sepenuh bagian karena suheng-nya sudah lelah. Ketika dia berteriak-teriak dan Gurba tidak menjawab selain memperhebat serangannya, maka Salima yang pingsan tiba-tiba sadar dan melompat bangun, langsung berdiri, dan mengeroyoknya dengan lengking tinggi!

"Kim-mou-eng, kau pengkhianat bangsa Tartar!"

Kim-mou-eng kaget, bertambah kaget. Dia melihat sumoi-nya juga bersungguh-sungguh, langsung melepas Tiat-lui-kang menghantam kepalanya. Satu serangan maut! Karena tidak mau begitu saja dibunuh tanpa sebab, padahal Gurba juga menyerangnya di sebelah kanan, tiba-tiba Kim-mou-eng menjadi marah dan membentak menangkis dua serangan itu.

"Des-dess!"

Tiga saudara seperguruan itu sama-sama terlempar. Baik Salima maupun suheng-nya terpental setombak lebih. Untung bagi Kim-mou-eng karena Salima juga masih belum mendapatkan tenaganya secara penuh, baru sadar, dan masih pusing. Namun, karena dua serangan itu dilakukan hampir berbarengan dan masing-masing tidak berselisih jauh, maka Pendekar Rambut Emas ini juga mencelat dan terbanting setombak lebih. Ia melompat bangun dan kembali berteriak kenapa dua saudaranya itu menyerangnya.

Salima yang benci dan gelap mata tidak menjawab, bahkan menerjang semakin ganas seperti Gurba. Karena suheng dan sumoi-nya tampak menyerang bersungguh-sungguh, akhirnya Kim-mou-eng menjadi pucat dan penasaran.

"Suheng, kalian seperti setan-setan kelaparan. Apa dosa dan salahku hingga kalian kalap begini? Apa maksud kalian?"

Gurba dan Salima tidak menjawab. Raksasa tinggi besar itu bahkan menggeram, melepas Pek-sian-ciang hingga menyerempet pundak sute-nya; baju hancur dan seketika membuat kulit pundak Kim-mou-eng terbakar. Ketika Salima juga melepas Tiat-lui-kang dan hampir saja meledakkan kepalanya, tiba-tiba Kim-mou-eng mengeluh dan melarikan diri!

"Baiklah, kalian seperti manusia-manusia bisu, Suheng. Aku penasaran dan sungguh benci pada sikap kalian!"

"Keparat, kami yang benci padamu, Kim-mou-eng. Kau tidak tahu malu dan mengkhianati bangsa Tartar!"

Salima memekik, mengejar suheng-nya itu sementara Gurba juga mengikuti, membentak, dan tidak mau melepas sute-nya ini pergi. Karena Kim-mou-eng memiliki tenaga yang lebih segar dibanding suheng dan sumoi-nya itu, akhirnya Kim-mou-eng berhasil melarikan diri dan disambut caci maki sumoi-nya yang marah karena pemuda itu lolos.

Ketika Salima terengah-engah di tepi hutan dan Gurba menggigil di sebelahnya, tiba-tiba gadis ini jatuh terduduk, menangis tersedu-sedu.

"Suheng, manusia jahanam itu lolos. Kita gagal!"

"Sudahlah, kita dapat mencarinya di lain waktu, Sumoi. Kali ini kita gagal, tapi di lain kesempatan tentu berhasil!"

Gurba juga melempar tubuhnya di atas tanah, lelah dan gemetar akibat pertempuran yang berat. Ketika Salima teringat pada bayangan Hek-bong Siang-lo-mo dan teman-temannya, mendadak gadis ini menghentikan tangisnya, mengerutkan kening.

"Suheng, di mana Hek-bong Siang-lo-mo dan teman-temannya itu?"

Gurba terkejut. "Mereka melarikan diri, Sumoi."

"Kalah olehmu?"

"Tidak," Gurba berhati-hati, maklum sumoi-nya ini dapat mengukur sampai di mana kemampuannya. Merasa tidak ada gunanya berbohong tentang hal itu, akhirnya raksasa ini berterus terang juga, gelap mukanya. "Dia datang, Sumoi. Dan dialah sesungguhnya yang menyelamatkan kita dari keganasan Hek-bong Siang-lo-mo dan teman-temannya itu."

"Kim-suheng?"

"Ya."

"Ah, kita berhutang budi!" Salima membanting kaki. "Kalau begitu, anggap saja lolosnya kali ini sebagai imbalannya, Suheng. Tapi lain kali kita bertemu, dia harus dibunuh!"

Gurba mengangguk. Sebenarnya dia menyesal sute-nya itu lolos, apalagi saat itu sumoi-nya pingsan. Jadi kesempatan bagus kalau dia membunuh sute-nya itu agar bungkam dan selama-lamanya tidak bicara lagi, sehingga rahasianya tetap tersimpan. Namun, karena sute-nya melarikan diri dan ini satu peluang yang membahayakan kedudukannya, tiba-tiba Gurba bangkit berdiri mengajak mencari lagi.

"Sumoi, dia tentu tidak akan jauh dari kita. Ayolah, kita cari lagi dan sergap dia!"

Salima mengangguk. Dia juga panas dan marah melihat ji-suheng-nya itu melarikan diri; diam-diam benci dan menangis lagi teringat suheng-nya itu menikah dengan wanita Han, meninggalkan dirinya, dan tidak mengacuhkan cintanya. Namun, ketika Kim-mou-eng tidak dapat mereka temukan dan orang yang mereka cari entah pergi ke mana, akhirnya Salima dan Gurba menuju ke barat, melanjutkan langkah yang harap-harap cemas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment