Chapter 80
Pagi itu, di kota Piyang, sekelompok penjual obat beraksi di tengah kota. Suara tambur dan gembreng yang mereka pukul menarik perhatian semua orang. Perhatian penonton tertuju pada dua gadis cantik yang duduk di atas tong kayu yang bergulir ke sana kemari. Dengan lincah, kedua gadis itu memainkan tong tersebut sembari menabuh alat musik dengan riuh.
Ketika seorang laki-laki tua mulai menggelar dagangannya, ia menyuruh kedua gadis itu bersilat. "Ayo, kalian lompati dua tangga tali itu, anak-anak. Ramaikan dan buat suasana ini menjadi cerah!"
Dua gadis itu mengangguk. Mereka tersenyum manis, tetap memukul tambur dan gembreng, lalu meloncat ringan ke atas tangga tali yang telah dipasang. Setelah berseru keras, keduanya melompat tinggi dan berjungkir balik melewati tangga tali itu, turun di tempat berlawanan, lalu kembali membunyikan alat musik mereka.
Si kakek kembali berseru, "Bagus, teruskan gerak kalian. Lompati tangga tali itu, diam di atasnya!"
Saat keduanya tiba di puncak tangga dan saling menahan, mereka bertengger di sana seperti dua ekor ayam betina, disambut seruan kagum dan tepuk tangan penonton. Mereka kemudian bersilat di puncak tangga bak akrobat.
"Ha-ha, mainkan Bianglala Mencari Naga, Pek-ji. Buat para penonton tertarik dan memuji gerakan kalian!" seru si kakek kepada gadis berbaju putih yang berkulit bersih dan berambut kepang.
Gadis itu bergerak sendiri di puncak tangga tali dengan hanya dibantu seutas tali sebagai tempat berpijak. Ia menari dan melompat dengan lincah, melakukan gerakan silat yang indah. Saat penonton bertepuk tangan, ia melompat turun, berjungkir balik dua kali, dan mendarat dengan sangat lembut tanpa suara.
Si kakek tertawa gembira, lalu seorang kacung menyodorkan kantung uang untuk mengumpulkan sumbangan dari penonton. "Cuwi sekalian, maafkan bila pertunjukan putriku masih buruk. Tapi, kalau cuwi ingin melihat pertunjukan singa melawan manusia, inilah persembahannya!"
Si kakek bertepuk tangan dan membuka sebuah kerangkeng besar yang tertutup terpal. Seekor singa tiba-tiba mengaum dan bangkit, mengejutkan para penonton. Gadis satunya yang berbaju merah, Ang-ji, mendapat aba-aba dari kakek itu.
"Ang-ji, turun. Hadapi Ui-sai-ong ini!"
Gadis itu melayang turun meninggalkan tangga tali. Saat singa dilepas dan beberapa penonton lari ketakutan, si kakek tertawa. "Cuwi sekalian, tak perlu takut. Singa kami ini jinak!"
Penonton tertegun melihat singa itu menjilat kaki Ang-ji. Singa itu kemudian bersimpuh di dekat Ang-ji, lalu bangun berdiri saat gadis itu mengibaskan lengan. "Sai-ong, beri hormat pada para penonton!" Anehnya, singa itu mengangguk, memutar tubuh empat kali, mengangkat kedua kaki depan dengan cara yang lucu, lalu mengibas-ngibaskan ekor.
Ang-ji kemudian berkata kepada ayahnya, "Ayah, mohon penonton tidak mengganggu Sai-ong. Kami hendak main-main sebentar." Kakek itu pun meminta para penonton agar tidak menggoda atau menyakiti binatang tersebut.
Ang-ji kemudian mengajak singanya bersiap. Tiba-tiba, singa itu menubruk ke depan dengan gerakan kilat, mengaum, dan membuka mulutnya. Namun, Ang-ji merunduk sambil tertawa dan menusuk perut binatang itu. "Luput, kau bodoh, Sai-ong. Awas pukulan pertama!"
Binatang itu terbanting dan meraung kesakitan, namun segera bangkit dan menerjang kembali. Pertarungan antara manusia dan singa pun berlangsung seru dan mengundang decak kagum penonton. Tiba-tiba, seseorang menyeruak ke depan.
"Hei, pertunjukan macam apa ini?"
Seorang penonton menjawab, "Kakek ini menjual obat. Dia sedang mengadu puterinya dengan singa!"
"Huh, singa jinak begitu mana berbahaya? Aku pun juga dapat melakukannya!" seru seorang pemuda berpakaian perlente yang kemudian melompat ke tengah arena. "Nona, berikan singamu itu padaku. Aku pun juga dapat mengelak setiap tubrukannya!"
Tanpa menunggu jawaban, pemuda itu menendang Ang-ji dan menyambut tubrukan singa. "Buk!" Singa itu terpental dan mengaum panjang. Kakek tua itu terperanjat melihat kedatangan pemuda tak dikenal tersebut. Pemuda itu tertawa dan terus menyerang Sai-ong.
"Cuwi sekalian, biar aku yang menghajar singa ini dan merobohkannya sebagai seorang petarung!" Pemuda itu mencengkeram Sai-ong, mengangkatnya, lalu membantingnya ke tanah. Sai-ong menguik kesakitan. Ketika pemuda itu hendak membantingnya untuk ketiga kalinya, si kakek berteriak marah, "Tahan, jangan sakiti binatang kesayanganku!"
Kakek itu berdiri menghalangi dan bertanya, "Kongcu, kau siapakah? Kenapa hendak membuat onar di sini?"
"Ha-ha, aku anak walikota Piyang, kakek tua. Tanganku gatal melihat puterimu tidak bersungguh-sungguh menghadapi singa ini!"
"Ah, kau Siong-kongcu?"
"Ya, aku Siong Gwan! Kau kenal namaku?"
Kakek itu tertegun karena mengetahui pemuda itu adalah Siong Gwan, anak walikota yang dikenal sebagai berandalan. Sambil menahan amarah, kakek itu berkata, "Maafkan kami, Siong-kongcu. Rupanya kau salah main-main di sini. Kami orang rendahan tak pantas menerima kehadiranmu."
"Aku biasa main-main ke mana aku suka, orang tua. Tapi, eih...!" Pemuda itu terkejut melihat Sai-ong kembali menubruknya. Saat ia mengelak, kakek itu mencoba menangkap singanya, namun Siong Gwan justru menampar singa itu dengan keras hingga roboh. Sai-ong yang kesakitan kemudian bangkit dan menyerang Siong Gwan dengan membabi buta.
"Sai-ong, jangan. Tahan...!" teriak kakek itu, namun binatang buas itu sudah lepas kendali karena amarah. Siong Gwan yang mengelak sambil mengangkat alisnya tertawa mengejek, "Orang tua, biarkan saja. Aku mampu menaklukkan kucing kesayanganmu ini."