Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 81

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 81

"Wut-plak!" Tangkisan Siong-kongcu yang membuat Sai-ong terpental akhirnya membuat binatang itu mengaum-ngaum, terbanting, dan bergulingan. Baju Siong-kongcu robek-robek terkena cakarnya, tetapi singa itu sendiri dihajar hingga jatuh bangun; ia marah namun gentar.

Ketika Siong-kongcu tertawa dan singa itu mulai takut, mendadak Sai-ong melepaskan geramnya dan menubruk penonton!

"Hei! Celaka!" Para penonton ribut.

Mereka telah diserang binatang yang marah itu karena ia mencoba keluar dari kepungan untuk menghindari Siong-kongcu. Naluri binatang itu menyatakan bahwa pemuda tersebut berbahaya, sementara tuannya tidak mau menolong. Ketika penonton ribut dan Sai-ong mengamuk, dua orang terdekat menjadi korbannya.

"Bret-brett!" Dua pekik kesakitan menjerit tinggi.

Mereka adalah korban pertama yang digigit singa tersebut. Dada mereka hancur terobek lebar, memuncratkan darah yang membuat Sai-ong bertambah buas. Ketika Sai-ong menubruk yang lain dan singa itu makin ganas mencium darah, tiba-tiba seorang lelaki disambar dan dibawa lari keluar dari kepungan.

"Aduh, tolong... tolong...!" Kakek penjual obat tampak pucat.

Saat itu, penonton buyar berantakan; suasana menjadi geger dan ribut. Hewan kesayangannya menjadi buas dan tidak mau diperintah lagi. Namun, Pek-ji dan Ang-ji yang sudah melompat mengejar tiba-tiba menangkap ekor binatang itu.

"Sai-ong, kembali! Lepaskan orang itu...!" Sai-ong menggeram.

Ia berbalik saat ditahan ekornya, marah kepada dua gadis itu. Ketika ia mengaum dan melepaskan korbannya, ia mendadak menyerang dua gadis tersebut dengan tubrukan maut.

"Pek-ji, awas...!" Gadis berbaju putih itu berkelit.

Ia terkejut melihat kebuasan singanya yang sungguh-sungguh, tidak mengenal lagi ia sebagai tuannya. Namun, saat Sai-ong berbalik dan menyerang lagi, si kakek melompat maju, membentak singanya, dan menyuruh kedua anaknya mundur. Ketika kedua gadis itu terhuyung dan pucat menerima cakaran Sai-ong, sang ayah menghadapi binatang buas itu dengan pukulan dan tendangan. Ia menangkis kuku-kuku tajam Sai-ong tanpa luka, membuat binatang itu gentar dan teringat peristiwa lampau ketika kakek itu menundukkan dan menjinakkan dirinya.

Namun, ketika Sai-ong mengaum dan mulai mundur, sebatang pisau menyambar dahinya.

"Crep!" Sai-ong roboh terbanting.

Singa itu mengaum panjang, berkelojotan sejenak, dan akhirnya tewas. Pisau menembus otaknya. Kakek penjual obat terkejut dan terbelalak memandang ke depan; tiba-tiba dua laki-laki muncul dengan ejekan dingin.

"Tua bangka, siapa suruh kau membuat onar di Pi-yang?" Kakek itu tertegun.

Ia melihat dua laki-laki bengis muncul di depannya: seorang kakek bermuka kuning dan temannya yang bermuka kurus. Tidak merasa salah dan justru merasa marah melihat singanya dibunuh, kakek penjual obat itu melangkah maju, berapi-api memandang kedua pendatang tersebut tanpa menjawab.

"Jiwi totiang, kalian siapa dan mengapa membunuh hewan peliharaanku?"

"Hm, kau berani bertanya sebelum menjawab? Aku Hong Jin, ini adikku Ki Siong Cinjin!" Kakek muka kuning mendengus, marah kepada kakek penjual obat itu, namun kakek tersebut tidak mengenali mereka.

Ketika kakek itu tertegun dan Pek-ji serta Ang-ji melompat di sampingnya, Siong-kongcu—pemuda yang sejak tadi terbelalak memandang semuanya—tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kakek muka kuning.

"Suhu, teecu melihat kakek ini memiliki dasar-dasar ilmu silat Kun-lun-pai. Bagaimana kalau dia ditangkap dan ditanyai?" Kakek penjual obat terkejut.

"Boleh, dan mungkin dia komplotan pemberontak, Siong-ji. Tapi hati-hati menghadapi pukulannya. Kau berani menghadapinya?"

"Kenapa tidak, Suhu?" Pemuda itu tertawa. "Dan teecu juga akan menangkap dua gadis cantik itu. Siapa tahu mereka juga anggota pemberontak!"

Ketika kakek penjual obat terbelalak dan Pek-ji serta Ang-ji melotot memandang Siong-kongcu, pemuda ini bangkit berdiri setelah mendapat isyarat gurunya.

"Orang tua, kau dan semua anak buahmu kutangkap. Kau menunjukkan gejala-gejala mencurigakan. Berani kau melawan hukum?" Kakek itu sadar, wajahnya memerah.

"Siong-kongcu, kami ayah dan anak tidak tahu-menahu tentang hukum dan pemberontakan. Kami rakyat kecil, tidak tahu apa-apa tentang omonganmu tadi. Perbuatan mencurigakan apa yang telah kami lakukan? Bukankah yang membuat ribut dan kekacauan ini adalah dirimu?"

"Hm, guruku sekarang ada di sini, orang tua. Kalau kau ingin membela diri, sebaiknya di gedung pemeriksaan, tidak perlu banyak cakap. Pokoknya kalian semua kutangkap!"

"Kami tidak sudi! Kami bukan pemberontak atau pengacau yang melanggar hukum!"

"Tapi kau membawa binatang buas tanpa izin, orang tua. Apakah ini bukan melanggar hukum hingga kau tidak mau kutangkap?" Kakek itu melongo.

Ia tersudut, tapi kedua anaknya maju dengan melengking nyaring, "Ayah, orang ini rupanya memang mau mengganggu kita. Siong-kongcu ini yang membuat gara-gara; kalau dia tidak menyakiti Sai-ong, tentu semua keributan ini tak bakal terjadi. Kenapa banyak cakap dengan pemuda berandalan ini?"

Sang ayah terkejut. Ia melihat omongan putrinya benar, tapi Hong Jin—si kakek muka kuning—tiba-tiba mengejek dan berkelebat ke depan.

"Bocah mulut besar, kepada siapa kau bicara ini? Kalau tidak mau ditangkap, justru kalian akan dibunuh. Robohlah...!"

Pek-ji terkejut. Ia yang tadi bicara lantang membela sang ayah dan marah pada Siong-kongcu yang sombong itu. Namun, melihat bayangan Hong Jin berkelebat menamparnya, ia mengelak dan mundur selangkah. Lengan kakek itu terjulur, membalik, dan tahu-tahu mencengkeram pundaknya; gerakannya sungguh cepat.

Pek-ji terpekik dan mengeluh pendek; tahu-tahu pundaknya dicengkeram dan dibanting hingga roboh.

"Bluk!" Gadis ini pingsan.

Sang ayah terkejut melihat kepandaian lawan yang demikian tinggi. Segebrakan saja putrinya roboh dan terbanting di tanah. Namun, sadar dan maklum akan keadaan yang tidak menguntungkan, kakek ini mendesis ke arah Siong-kongcu.

"Bagaimana, kau tidak mau menyerah, orang tua?" Kakek itu mengangguk.

"Baiklah, tapi harap bebaskan putriku, Kongcu. Aku orang tua yang bertanggung jawab!"

"Maksudmu kau seorang diri yang minta diperiksa?"

"Benar."

"Tidak bisa," pemuda itu tertawa. "Kalian semua harus diperiksa, orang tua. Kalau tidak, kalian justru semakin mencurigakan!"

Terpaksa, orang tua itu menggeram. Ketika Ang-ji terisak dan menubruk saudaranya yang pingsan, akhirnya mereka bertiga mengikuti perintah Siong-kongcu. Mereka tidak berani main-main karena Hong Jin dan Ki Siong Cinjin ada di situ menjaga muridnya. Ketika Pek-ji dibawa dan kakek itu bersama gadis berbaju merah menuju gedung pemeriksaan, akhirnya mereka dihadapkan pada Siong-taijin, seorang pembesar bertubuh gendut dengan mata sipit, di bawah pengawasan dua kakek lihai yang berpengaruh: Hong Jin dan saudaranya.

"Siapa kalian, orang tua?" Siong-taijin bertanya setelah mendengar bisik-bisik dari putranya.

"Hamba Sin Meng, Taijin. Dua putri hamba itu adalah Sin Pek dan Sin Ang."

"Kau penjual obat keliling?"

"Benar."

"Boleh kuperiksa peti obatmu?" Kakek ini tertegun.

"Kenapa diam?" pembesar itu mengulang. "Bolehkah kuperiksa peti obatmu?" Kakek itu mengangguk, tampak was-was.

Ketika Siong-taijin menyuruh pengawal membuka peti obat, semua isinya diperiksa. Namun, tidak ada apa-apa; semuanya benar-benar berisi obat dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan, membuat Siong-kongcu melongo dan tampak heran.

Ki Siong Cinjin melangkah maju, menyambar pundak Sin Meng, dan membentak, "Tua bangka, di mana kau simpan surat untuk Seng-piauw-pang?"

Kakek ini terkejut. "Aku tidak tahu apa-apa, Totiang. Aku tidak mengenal dan tidak berhubungan dengan Seng-piauw-pang."

"Bohong, kau jelas mata-mata Seng-piauw-pang... plak!" Kakek itu terbanting roboh setelah menerima tamparan Ki Siong Cinjin, lalu bangun berdiri dengan pipi bengkak.

"Ki Siong Cinjin, kau mau merampok atau apa? Apa yang hendak kalian lakukan kepada kami?"

"Hm, kami hendak memeriksamu, tua bangka. Kami mendengar kabar bahwa Seng-piauw-pang mengutus seseorang mengirim surat rahasia. Kaulah orangnya!"

"Tidak, kalian gila! Aku tidak tahu apa-apa...!" Sin Meng yang marah memandang Ki Siong Cinjin, lalu tiba-tiba berseru keras dan menerjang kakek itu, lupa diri karena sakit hati atas sikap mereka.

Ia menubruk dan mencengkeram. Ki Siong Cinjin mendengus pendek, lalu menangkis dan menolak tubuh kakek penjual obat itu.

"Plak-dess!" Kakek ini terbanting.

Untuk kedua kalinya ia terlempar bergulingan di lantai, disambut pekik kecil anaknya yang terbelalak memandang perkelahian itu. Sin Meng yang melompat bangun dan menerjang lagi ternyata bersikap nekat; ia bertubi-tubi melancarkan serangan dan memaki Ki Siong Cinjin. Gerak silatnya cepat dan pukulannya mantap.

Ketika kakek itu mulai menyerang dan Ki Siong Cinjin mengelak ke sana kemari, Hong Jin—si kakek muka kuning yang merupakan bekas wakil Seng-piauw-pang—berdiri menonton sambil mengangguk-angguk.

"Benar, gerak silatnya dari Kun-lun-pai. Mungkin dia murid si Tosu Lo-hoat!"

Ki Siong Cinjin juga bersuara dari hidung. "Agaknya memang begitu, Suheng. Apa yang harus kulakukan pada kakek bandel ini?"

"Lempar saja dia keluar. Tahan anak-anaknya!"

Sin Meng memekik. Saat itu semua pukulannya dikelak Ki Siong Cinjin. Kakek itu marah karena lawannya sempat bercakap-cakap dengan temannya. Ketika ia menubruk dan kembali melancarkan pukulan, Ki Siong Cinjin membalik dan menangkis dengan tendangan berputar.

"Dess...!" Kakek itu menjerit.

Ia seketika terlempar jauh, berdebuk bergulingan di lantai dengan keluh tertahan. Bokongnya menghantam lantai dengan keras hingga ia tidak dapat bangun berdiri, merasa pening.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment