Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 82

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 82

Ang-ji terpekik melihat keadaan sang ayah. Ia segera menubruk maju dengan lengkingan cemas.

"Ayah...!" Sin Meng menggigil.

Putrinya telah menubruk, memeluk, dan menangis tersedu-sedu di hadapannya.

Kakek itu bangkit terhuyung dengan muka pucat, lalu berbisik, "Ang-ji, selamatkan encimu. Bawa peti obat itu dan encimu keluar...!" Gadis berbaju merah itu tersadar. Ia tidak mengerti maksud ayahnya, mengapa ia harus membawa peti obat dan tampak khawatir memandang benda yang masih tergeletak di lantai itu.

Tiba-tiba, saat Ang-ji masih pucat pasi, sang ayah mencabut sebatang pedang yang disembunyikan di balik punggungnya.

"Ki Siong Cinjin, kau sungguh keterlaluan memperlakukan aku, si tua bangka ini. Aku tidak mengenalmu, mengapa sekarang kau menyakitiku?"

"Hm, kau mau main-main dengan pedang berkarat itu? Tidak mau segera mengaku?"

"Aku tidak tahu maksudmu, keledai kurus. Tapi aku pantang dihina!"

*Singg!*

Kakek penjual obat itu meloncat dengan pedangnya, membacok dan menusuk Ki Siong Cinjin. Ilmu silatnya cukup baik, tetapi tenaganya sudah mulai gemetar. Ketika Ki Siong Cinjin mendengus dan mengelak, Pek-ji yang pingsan akibat pukulan Hong Jin mulai siuman. Gadis itu membuka mata dengan pandangan nanar, namun segera menyadari pertempuran yang terjadi di hadapannya. Melihat dirinya berada di ruangan besar dengan penjagaan ketat, ia bangkit berdiri dan melompat marah.

"Ayah, di mana angin timur itu?"

Sang ayah terbelalak. "Angin timur menyusup di tempatnya, Pek-ji. Pergilah dan bawa adikmu."

"Tidak, aku tak mau mereka berbuat kurang ajar padamu, Ayah. Jika angin timur masih di tempatnya, biarlah kita hadapi orang-orang jahat ini!"

Pek-ji melompat maju, mencabut pedang, lalu menyerang Ki Siong Cinjin untuk membantu ayahnya. Ang-ji yang melihat saudaranya maju pun segera mencabut senjata dan menerjang. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan sang enci dengan ayahnya, namun ia memekik marah melihat ayahnya berkali-kali terhuyung akibat serangan Ki Siong Cinjin yang lihai.

Ketiganya mengeroyok, pedang berkelebatan menyambar tubuh Ki Siong Cinjin.

"Plak-trang-trang!"

Ki Siong Cinjin menangkis dengan mengejek. Ia membuat pedang ayah dan anak itu terpental ke kiri dan ke kanan. Ketika Pek-ji dan ayahnya mengeluh terhuyung, Siong Gwan, putra walikota Pi-yang, melompat maju dengan marah.

"Susiok, serahkan saja mereka padaku!"

"Tidak, kau mundur saja, Siong Gwan. Aku hendak menangkap laki-laki ini hidup-hidup!"

*Plak-plak-plak!*

Ki Siong Cinjin kembali menangkis. Siong Gwan akhirnya membentak dan mengibaskan lengan, berkelebat memberi totokan pada mereka bertiga. Karena Ki Siong Cinjin memang lihai, kakek penjual obat itu akhirnya roboh setelah tertotok di pundak. Pek-ji dan adiknya pun menyusul jatuh ke lantai saat pedang di tangan mereka terlepas.

*Bluk-bluk!*

Ki Siong Cinjin mengusap bajunya dengan sikap tak acuh, lalu menendang lawannya yang melotot padanya. "Tua bangka, angin timur sudah kuketahui jejaknya. Jadi di situ rupanya kalian menyimpannya?"

Ia menghampiri peti obat dan membuka tutupnya. Tanpa disangka-sangka, Sin Meng telah mencabut sebuah surat dari lipatan peti itu.

*Sret!*

Sin Meng dan Pek-ji terbelalak. Muka mereka pucat pasi melihat Ki Siong Cinjin menemukan apa yang mereka sembunyikan. Kakek itu tertawa bergelak hingga Hong Jin berkelebat maju.

"Suheng, inilah surat yang kita cari! Tua bangka ini memang mata-mata!"

Kakek penjual obat dan Pek-ji menggigil. Mereka tak mampu berkata-kata. Ang-ji hanya memandang keheranan, tak mengerti mengapa ayah dan kakaknya tampak begitu ketakutan.

Ketika Hong Jin menerima surat itu dan membebernya, Ki Siong Cinjin menghampiri ayah dan anak itu dengan pandangan mengancam. "Tua bangka, masih berani kau mengaku bukan utusan Seng-piauw-pang?"

"Tidak... tidak, aku..."

"Hm, kau mau mungkir?" Ki Siong Cinjin menginjak pinggangnya. "Apa ini kalau bukan bukti?"

"Suheng, bacalah!"

Hong Jin tertegun. Kakek muka kuning itu sebenarnya sudah membaca surat tersebut, namun ia mendelik dan mengepal tinju, lalu melempar surat itu kepada adiknya. "Lihatlah, Sute. Baca sendiri kalau bisa!"

Ki Siong Cinjin menangkap surat itu. Ia terheran melihat suhengnya tampak marah dengan muka merah padam. Namun, saat ia membaca isinya, kakek itu tertegun.

"Kosong, surat ini tak ada isinya...!"

Sin Meng dan Pek-ji tampak tertegun namun girang. Hong Jin segera menyambar mereka. "Tua bangka, di mana surat yang asli?"

"Aku tak tahu-menahu soal surat apa pun, Hong Jin. Kalau kau mau membunuhku, bunuhlah!"

"Hm, kau kira begitu mudah?" Hong Jin menyambar Pek-ji dan merobek pakaian gadis itu. "Tua bangka, kau ingin anakmu ditelanjangi dan ditonton orang?"

"Tidak! Jangan lakukan itu, manusia biadab! Kami benar-benar tidak tahu-menahu tentang surat apa pun!"

"Tapi kau menyembunyikan kertas ini. Apa artinya kalau bukan mempermainkan kami?"

Sin Meng gemetar. "Hong Jin, jangan mendesak kami. Surat itu hanya titipan seseorang, kami tidak tahu isinya!"

"Hm, kau mulai mengaku?"

"Aku tidak mengaku, keledai buruk. Tapi aku katakan ini demi kebebasan putriku. Lepaskan mereka!"

"Begitu enak?" Hong Jin mengejek. "Kami akan membebaskanmu kalau kau mengaku. Siapa orang yang menitipkan ini, Sin-piauw Ang-lojin?"

"Aku tidak tahu. Aku tidak kenal namanya!"

"Kau pura-pura?"

"Sumpah, aku sungguh tidak kenal!"

"Hm, tapi kau kenal orangnya, bukan? Seorang kakek tinggi besar?"

Sin Meng menggigil. "Kenapa diam? Kau berbohong?"

Saat Hong Jin kembali merobek pakaian putrinya, kakek itu mendesis, "Hong Jin, orang yang menitipkan benda itu tidak seperti katamu. Dia laki-laki muda, wajahnya tertutup kedok."

"Siapa?"

"Aku tidak tahu!"

*Bret!*

Hong Jin menyeringai, menguak pakaian dalam gadis berbaju putih itu hingga Pek-ji menjerit. Ia terus merobek pakaian luar Pek-ji hingga gadis itu hanya menyisakan pakaian dalamnya. Sin Meng mengerang penuh kemarahan, sementara Ang-ji memekik kecil. Tiba-tiba, Siong-kongcu menyambar Ang-ji.

"Suhu, agaknya gadis ini pun perlu dihajar. Bolehkah kupermainkan dia di depan ayahnya?"

"Tidak... jangan...!" teriak Kakek Sin.

Namun, saat perhatian Hong Jin teralih, sesosok bayangan berkelebat menyambar.

"Sin-lopek, bawa lari kedua putrimu!"

*Plak-dukk!*

Bayangan itu menyerang Hong Jin, membebaskan totokan Pek-ji, lalu menendang gadis itu ke arah ayahnya. Ia berputar dan menyerang Siong-kongcu untuk menolong Ang-ji. Setelah dua gadis itu terbebas, bayangan tersebut terus berkelebat menyerang semua orang.

"Sin-lopek, lari!"

Sin Meng tertegun. Ia telah dibebaskan dan bangkit bersama putri-putrinya. Ia melihat penolong mereka: seorang laki-laki muda dengan wajah coreng-moreng yang sengaja disembunyikan.

Hong Jin terkejut saat lawannya berhasil memukulnya hingga terpental. Tiba-tiba, ia mendengar suara ribut-ribut di luar.

"Sute, apa yang terjadi di sana? Lihatlah di luar!"

"Tapi bocah ini, Suheng?"

"Biar aku yang menghadapinya. Kunyuk ini jelas komplotan si tua bangka itu!"

Ki Siong Cinjin pergi untuk melihat keadaan, lalu kembali dengan muka pucat. "Suheng, pemberontak datang menyerbu. Rupanya bocah ini tidak sendirian!"

"Siapa mereka itu?"

"Entah, Suheng. Semuanya mencoreng muka seperti pemuda ini. Mungkin anggota Seng-piauw-pang!"

"Keparat, panggil Wan Tiong-sute. Bunuh dan basmi mereka!"

Baru saja perintah itu diucapkan, Wan Tiong Lojin muncul dari belakang. "Suheng, Lohoat Tosu dan Sin-piauw Ang-loheng datang. Mereka mencari kita!"

"Apa? Di mana mereka?"

"Di belakang, Suheng. Mereka mengamuk!"

"Jahanam!" Hong Jin marah besar, disambut tawa bergelak pemuda tak dikenal itu. "Sute, kalian berdua hadapi dulu orang-orang di luar. Biar aku selesaikan pemuda ini!"

Sambil memerintahkan muridnya untuk membawa Sin Meng ke dalam, Hong Jin bersiap menghadapi lawan saat suara pertempuran di luar semakin mendekat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment