Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 83

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 83

"Keledai tua, sekarang kau menerima hukumanmu!" Pemuda tak dikenal itu terkejut.

Dia sebenarnya berniat menyuruh kakek itu melarikan diri, tidak mengira bakal mengeroyok bekas wakil ketua Seng-piauw-pang tersebut. Melihat kakek itu terdesak namun sebenarnya masih dapat bertahan menghadapi lawan yang lihai, pemuda ini segera berseru kepada Kakek Meng, "Sin-lopek, kalian pergi saja. Kakek ini biar aku yang hadapi!"

"Tapi dia telah menghina kami, orang muda. Sebaiknya kami balas dulu perbuatannya agar utang sakit hati ini impas!"

"Tapi kalian bukan lawannya, dia terlalu lihai!" Namun, si pemuda terpaksa menghentikan seruannya dan menangkis serangan lawan. Dia tiba-tiba terpental ketika Hong Jin membentak marah, mencabut pisau belatinya, dan menghadapi pengeroyoknya dengan mata berapi-api yang ganas dan menakutkan karena kakek itu ingin segera menyelesaikan pertempuran.

Ketika Kakek Meng tetap membandel dan pemuda itu repot membujuk, tiba-tiba Hong Jin mengeluarkan senjata rahasianya dan langsung melemparkannya ke arah ayah dan anak itu. Tiga pisau kecil meluncur dengan kecepatan luar biasa.

"Sin-lopek, awas!" Kakek itu terkejut. Dia memang bukan tandingan lawan yang lihai ini saat melihat berkeredepnya sinar putih dari pisau bintang tersebut. Ketika dia terpekik dan tak sempat mengelak, dua pisau lainnya menyambar kedua anak perempuannya yang menjerit roboh.

"Aduh!" Sin Meng dan dua anak gadisnya terjengkang. Pisau yang dilempar Hong Jin menancap dalam di dada mereka. Sin-lopek bahkan tertembus sampai ke punggungnya, yang membuatnya berkelojotan dan tewas tak lama kemudian. Saat Pek-ji dan Ang-ji juga roboh dengan keluhan tertahan, kedua gadis itu menyusul ayah mereka. Tewas!

"Hong Jin, kau tua bangka siluman!" Kakek bermuka kuning itu tertawa mengejek. Dia puas membunuh ayah dan anak itu tanpa menghiraukan bentakan lawannya. Dia merogoh lagi sebatang pisau bintang yang merupakan senjata mautnya.

Namun, tepat saat dia melempar senjata itu dan si pemuda kurang cepat mengelak, sebatang tongkat muncul menangkis pisau bintang tersebut. "Trak!" Pisau itu mental dan jatuh ke lantai. Seorang tosu muncul menghadang di tengah.

Ketika Hong Jin terkejut dan mundur selangkah, tosu berjanggut jarang itu melintangkan tongkat di depan dadanya. "Siancai, keganasanmu tak tanggung-tanggung, Hong Jin. Pantas kalau twa-suhengmu marah dan meminta pinto membantunya!"

Hong Jin terbelalak dengan wajah memerah. Tosu itu mendorong si pemuda, "Beng Lam, bawa mayat Sin Meng dan anak perempuannya itu keluar. Biar pinto menghadapi lawanmu ini."

Beng Lam, pemuda tak dikenal itu, mengangguk. Dia menyebut "suhu" pada tosu tersebut. Hong Jin yang sadar segera menggeram, "Lo-hoat Tosu, apa alasanmu mencampuri urusan pribadi? Sejak kapan tosu Kunlun lancang mencampuri urusan orang lain?"

"Hm, aku lancang karena terpaksa, Hong Jin. Suhengmu meminta bantuanku untuk menangkap dirimu. Kalau kau baik-baik menyerah, tentu pinto akan meminta hukuman yang ringan kepada suhengmu."

"Keparat, siapa sudi bergaul dengan tosu bau macam dirimu? Kau lancang, Lo-hoat Tosu. Pergilah ke neraka!"

Hong Jin menyerang dengan menggerakkan pisau panjangnya, namun ditangkis dan dibalikkan oleh lawannya. Saat Lo-hoat Tosu menyeringai dan terus mengelak, kakek bermuka kuning itu bertubi-tubi melancarkan serangan seraya memaki-maki. Namun, pertempuran rupanya berjalan lain. Tongkat di tangan tosu tua itu dapat menahan pisau lawannya berkali-kali, membuat Hong Jin terkejut karena tongkat itu sama sekali tidak putus meski pisaunya berkali-kali terpental.

"Trak!" Pisau di tangan kakek itu melengkung saat beradu dengan tongkat. Hong Jin terkejut melihat kekuatan lawan; jelas sinkangnya kalah selapis. Ketika dia menusuk lagi dan Lo-hoat Tosu menangkis, pisau itu patah menjadi dua dan lepas dari tangannya.

"Krek!" Hong Jin pucat pasi. Dia membanting tubuh bergulingan ketika tongkat lawan menyelinap cepat, menotok pundaknya, dan menyambar dari atas ke bawah. Saat lawan membentak keras, Hong Jin mencabut senjata yang amat berbahaya, yakni golok-tombak berisi jarum-jarum rahasia yang dulu pernah melukai suhengnya.

Saat tongkat menyambar dan kakek itu melompat bangun, golok-tombak tersebut menangkis dan tombol rahasianya dipencet. "Trak-cet-cet!" Lo-hoat Tosu terkejut melihat jarum-jarum halus berkilauan meluncur ke arah mukanya. Namun, tosu itu mengibaskan lengan jubahnya, menghantam, dan menolak balik hamburan jarum tersebut.

"Lo-hoat Tosu, kau rupanya sudah diberi tahu oleh suheng!"

Lo-hoat Tosu tersenyum. Dia memang sudah diberi tahu Sin-piauw Ang-lojin tentang senjata curang tersebut sehingga ia bisa bersiap. Meski Hong Jin marah-marah, tosu itu tetap tenang dengan mata jeli mengawasi setiap gerak-gerik golok-tombak itu.

Setelah pertempuran berjalan tiga puluh jurus, Hong Jin tak kunjung dapat mendesak lawannya. Saat itu, Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin muncul dengan napas terengah-engah dan menyerah. "Suheng, musuh tak dapat kami tahan. Lima puluh pengawal roboh binasa!"

Hong Jin terbelalak. Dia melihat seorang laki-laki tinggi besar mengejar kedua sutenya; kakek gagah bermuka merah yang tak lain adalah ketua Seng-piauw-pang yang membencinya, suhengnya sendiri: Sin-piauw Ang-lojin!

Saat dia hendak meninggalkan Lo-hoat Tosu, ketua Seng-piauw-pang itu membentak, "Sam-wi sute, kalian mau ke mana?" Hong Jin terkejut melihat suhengnya sudah tiba di belakang dua sutenya dan melancarkan pukulan.

Ketika kedua adiknya menangkis namun terlempar bergulingan, Lo-hoat Tosu juga mengejar seraya berseru, "Hong Jin, kau pun mau ke mana?"

Hong Jin menyambar kursi dan melemparkannya ke arah Lo-hoat Tosu. Kursi itu hancur berkeping-keping ditangkis tongkat. Dia kemudian melarikan diri dan berseru pada dua adiknya untuk masuk ke dalam gedung. Namun, ketika mereka hendak memasuki gedung Siongtaijin, orang-orang dengan muka dicoreng-moreng menyerbu masuk.

"Anak-anak, tahan tiga orang itu!"

Hong Jin dan dua sutenya mengamuk. Mereka mengeluarkan puluhan pisau bintang, menimpuk dan merobohkan orang-orang di depan mereka agar gerakannya tidak tertahan. Namun, Lo-hoat Tosu dan Sin-piauw Ang-lojin segera berkelebat menyerang, memaksa Hong Jin dan saudara-saudaranya berbalik melawan.

"Twa-heng, kau manusia jahanam! Lo-hoat Tosu, kau keledai busuk!" Tiga orang itu memaki dan menangkis serangan suheng mereka serta tongkat Lo-hoat Tosu. Namun, karena sudah terdesak, akhirnya mereka terpelanting bergulingan saat tongkat dan pukulan mengenai tubuh mereka.

"Des! Dess!"

Hong Jin dan sute-sutenya melompat bangun dengan muka pucat. Mereka telah dikurung rapat oleh para penyerbu yang diperintahkan oleh Sin-piauw Ang-lojin agar tidak ada korban lebih lanjut.

"Hong Jin, berlututlah baik-baik. Suheng kalian tak akan menghukum kelewat takaran!" seru Lo-hoat Tosu.

"Keparat, kaulah yang berlutut, tosu bau! Kau tak perlu ikut campur masalah ini!" Hong Jin kembali menyerang Lo-hoat Tosu, sementara dua adiknya menghadapi Sin-piauw Ang-lojin. Pertempuran terbagi dua dan mereka nekat tidak mau menyerah.

Dalam pertempuran yang sengit, tongkat di tangan Lo-hoat Tosu menggebuk pundak kakek muka kuning itu, membuat Hong Jin berteriak. Sementara itu, dua adiknya juga terkena pukulan ketua Seng-piauw-pang hingga terpelanting roboh dan senjata mereka hampir terlepas.

Tak lama kemudian, Ki Siong Cinjin—orang terlemah di antara mereka—menangkis pukulan mendadak, namun kaki Sin-piauw Ang-lojin menyambar pinggangnya. "Dess!" Kakek muka kurus itu mencelat dan terbanting dengan muka kesakitan. Senjatanya terlepas.

Ketika ia mencoba melompat bangun namun terhuyung, suhengnya yang marah menerima tusukan Wan Tiong Lojin. Tusukan itu berhasil ditangkis, namun pisau panjang Wan Tiong Lojin terlempar dan nahasnya menyambar dada Ki Siong Cinjin.

"Crep!"

Ki Siong Cinjin mendelik, mendekap dadanya, lalu roboh terjengkang. Pisau itu menembus dadanya terlalu dalam. Wan Tiong Lojin terkejut melihat saudaranya berkelojotan dan tewas tak lama kemudian, terbunuh secara tidak sengaja oleh saudaranya sendiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment