Chapter 84
Saat kakek berwajah kurus itu roboh, tiba-tiba sesosok bayangan hitam berkelebat dan melemparkan granat.
"Hong Jin, lari!" teriak orang-orang terkejut.
Mereka sempat tertegun sesaat oleh kematian Ki Siong Cinjin, tidak menyangka seseorang akan menyambar masuk dan melemparkan granat. Ledakan itu membuat orang-orang di dekatnya menjerit terpelanting, roboh, dan kalut.
Di tengah asap hitam yang membubung, Hong Jin berseru girang lalu menyambitkan jarum-jarum halus ke arah Lo-hoat Tosu.
"Tosu bau, terimalah kematianmu!" Lo-hoat Tosu mengelak.
Ia melompat mundur sambil mengibaskan lengan bajunya untuk meruntuhkan jarum-jarum tersebut, namun ia tetap terkejut oleh ledakan granat.
Memanfaatkan kesempatan itu, Hong Jin segera melarikan diri sambil menyambar mayat sutenya dan berseru kepada Wan Tiong Lojin, "Ji-sute, lari!"
Wan Tiong Lojin mengangguk. Ia sudah menyelinap di balik asap, sadar bahwa itu adalah satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan diri. Ketika ia berbalik dan bayangan hitam tersebut berkelebat keluar, kakek itu pun mengikutinya, meninggalkan lawannya yang sedang marah-marah.
"Sute, kalian tidak boleh lari!" Namun, bentakan Sin-piauw Ang-lojin itu sia-sia.
Kakek tinggi besar itu terhalang oleh ledakan granat, berjungkir balik, dan terkepung asap tebal sehingga tidak dapat melakukan pengejaran. Ketika asap menipis, Sin-piauw Ang-lojin hanya bisa berjingkrak menyesal melihat musuh telah melarikan diri entah ke mana. Lo-hoat Tosu pun ikut mencari, namun kembali dengan tangan hampa.
Teringat pada Siong-taijin yang bersembunyi, kakek itu segera mencari pembesar tersebut. Siong-taijin ditemukan di kamarnya, bersembunyi di balik tubuh seorang selir.
Sin-piauw Ang-lojin melompat dan mencengkeram pembesar itu seraya bertanya dengan geram, "Manusia busuk, di mana suteku bersembunyi?"
"Aku... aku tidak tahu, Lojin. Mungkin anakku dapat bercerita!"
"Di mana anakmu?"
"Di belakang. Dia bersembunyi di..."
Sin-piauw Ang-lojin membanting pembesar itu. Siong-taijin tidak dapat meneruskan kata-katanya karena tubuhnya terlempar, membentur tembok, dan pingsan dengan hidung yang remuk dan berdarah. Selirnya pun ketakutan hingga hampir pingsan. Namun, ketika Sin-piauw Ang-lojin mencari putra Siong-taijin, ternyata Siong Gwan telah melarikan diri bersama gurunya.
"Keparat, kita harus lapor pada Liang-taijin!" Sin-piauw Ang-lojin marah besar. Lo-hoat Tosu hanya mengerutkan alisnya yang tebal, tampak masih berpikir.
Namun, ketika mereka keluar dan menemui anak buah mereka, mereka tertegun. Orang-orang yang tadi mencoreng muka itu sudah terkapar di halaman depan. Sementara itu, Beng Lam, murid Lo-hoat Tosu yang tadi menolong Sin-lopek, tampak ditelikung tangannya oleh seorang pemuda bermuka pucat yang memegang kipas dan ular di tangan kiri. Belasan pengawal istana berdiri tegak di belakang pemuda itu.
"Sin-piauw Ang-lojin, kau tua bangka pemberontak hina. Atas nama Siauw-ong-ya, kau kutangkap!"
Sin-piauw Ang-lojin terkejut. "Kau siapa?"
"Aku Malaikat Kecil, utusan khusus Siauw-ong-ya!"
"Keparat!" Sin-piauw Ang-lojin yang marah merasa dipermainkan dan segera melompat maju. "Anak muda, kau tidak perlu main-main di sini. Aku bertanya yang benar!"
"Hm," pemuda itu mengejek. "Aku tidak main-main. Aku adalah utusan Siauw-ong-ya!"
"Apa buktinya?"
Pemuda itu mengeluarkan cincin bermata biru dan menunjukkannya di depan Sin-piauw Ang-lojin. "Apakah ini bukan tanda yang kau kenal?"
Sin-piauw Ang-lojin tertegun melihat lukisan naga pada cincin itu. Cincin tersebut benar milik Pangeran Muda, sosok yang diam-diam berambisi merebut kekuasaan. Hal itu membuatnya terkejut dan mundur selangkah, sementara pemuda itu tertawa mengejek.
Kemudian, pemuda itu menegur Lo-hoat Tosu, "Kau, Lo-hoat Tosu. Kenapa mencampuri urusan ini? Tak tahukah kau bahwa ketua Seng-piauw-pang ini adalah pemberontak? Apakah Kun-lun-pai sekarang berkhianat dan ingin menjadi pemberontak pula?"
Lo-hoat Tosu terkejut. "Pinto tidak membawa-bawa nama Kun-lun-pai, anak muda. Ini adalah urusan pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan perguruan!"
"Bagus, kalau begitu aku bebas bergerak. Kau pun kutangkap!"
"Siapa kau?"
"Aku Malaikat Kecil, kau sudah dengar tadi?"
"Tidak, pinto ingin menanyakan namamu. Pinto belum pernah mengenal dirimu."
"Baik, aku Bu Ham. Orang menyebutku Bukongcu."
"Ah, kau murid Sai-mo-ong?"
"Benar."
"Siancai!" Lo-hoat Tosu yang tampak terkejut melangkah mundur dan mencabut tongkatnya. "Anak muda, kiranya Siauw-ong-ya telah mempergunakan tenaga yang keliru. Justru sekarang pinto yakin bahwa Sin-piauw Ang-lojin berada di pihak yang benar. Kaki tangan Siauw-ong-ya kiranya orang-orang sesat. Bebaskan murid pinto itu!"
Bu Ham, murid Sai-mo-ong itu tertawa. Ia dikenal sebagai pemuda licik dan cerdik yang diam-diam menjalin hubungan dengan Pangeran Muda yang merasa tidak puas dengan kedudukannya dan ingin merebut kekuasaan.
Bu Ham menotok Beng Lam dan melemparkannya kepada seorang pengawal. "Lo-hoat Tosu, enak saja kau bicara. Aku utusan Siauw-ong-ya. Berani kau bicara begitu padahal keselamatanmu di tanganku? Ha-ha, sebaiknya buka matamu dan lihat siapa yang berkuasa. Aku hendak menangkap kalian berdua. Menyerahlah jika nama Kun-lun-pai tidak ingin terlibat!"
Bu Ham mengebutkan kipasnya, menjulurkan ular yang tiba-tiba mendesis menyerang sang tosu. Saat lawan mengelak dan menggerakkan tongkat, pemuda itu menarik ularnya dan secepat kilat menotok dahi tosu dengan kipas tertutup.
"Trak!" Lo-hoat Tosu terkejut.
Bu Ham tertawa sambil melompat mundur. Serangan itu membuat sang tosu berkeringat karena ia hampir saja terkena totokan seandainya tidak menekuk tongkatnya, terkecoh oleh gerakan ular yang hanyalah gertakan.
"Kurung mereka! Rupanya dua tua bangka ini tidak mau menyerah kalau belum merasakan kelihaianku!" perintah Bu Ham.
Para pengawal bergerak mengurung mereka. Sin-piauw Ang-lojin maju ke depan, "Tojin, kau mundur saja. Biar bocah ini aku yang menghadapi!"
"Tidak," jawab Lo-hoat Tosu gemas. "Murid pinto ada di tangan pemuda ini. Biar pinto saja yang maju dan kau menjaga pengawal."
"Ha-ha, kalau begitu majulah berdua!" tantang Bu Ham.
Sin-piauw Ang-lojin merasa tersinggung oleh ejekan itu. Ia mencabut pisau gadingnya. "Bocah, majulah. Aku akan mengalah tiga jurus kepadamu!"
"Jangan mencoba merendahkan aku, Seng-piauw-pangcu. Awas kualat nanti."
"Tidak perlu banyak cakap. Ayo majulah!"
Bu Ham berkelebat menggerakkan kipas, menyerang kakek itu yang cepat menangkis dengan pisaunya. Namun, begitu kipas terpental dan pisau tertolak, ular di tangan kiri pemuda itu menyambar dengan mulut terbuka.
"Ssh!" Sin-piauw Ang-lojin menyampok, membuat ular terdorong, namun ia sempat mencium uap amis.
Ketika Bu Ham terbahak dan sang ketua Seng-piauw-pang merasa pening, Lo-hoat Tosu berseru, "Lojin, jangan sedot napas ular itu. Itu berbahaya!"
Kakek itu mengangguk. Ia merasakan sendiri semburan bau amis yang membuat kepalanya pening. Saat lawan kembali menyerang, kakek itu memainkan Sin-piauw Kun-hoat-nya, menggerakkan lengan kiri untuk mendorong tubuh ular dengan pukulan sinkang jarak jauh agar tidak bisa mendekat.
Sin-piauw Ang-lojin mengerahkan tenaga, namun Bu Ham menyadari tenaga sang kakek sudah mulai mengendor karena habis dipakai menghadapi Ki Siong Cinjin dan Wan Tiong Lojin tadi. Dengan cerdik, Bu Ham mengajak kakek itu beradu kecepatan untuk menguras tenaganya. Beberapa jurus berlalu, pertempuran terlihat imbang, namun Sin-piauw Ang-lojin diam-diam kaget karena pemuda itu memiliki tenaga yang tidak berselisih jauh dengannya.