Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 85

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 85

Harus diakui bahwa murid Saimo-ong ini memang hebat. Bahkan, di depan Saimo-ong sendiri, ia mengaku kalah dan bukan tandingan kakek iblis itu.

Ketika pertandingan berjalan beberapa jurus lagi dan Bu Ham mulai mengadu tenaga, mendadak kakek ini terkejut karena pukulan-pukulannya mulai melemah.

"Lojin, hemat tenagamu. Jangan terpancing keras melawan keras!"

Sin-piauw Ang-lojin sadar. Dia memang marah pada pemuda ini karena selalu mengadu keras dengan keras, serta sering mengejar dan mengadu kecepatan. Dia lupa bahwa dirinya telah bertempur dengan dua sutenya yang diam-diam telah menguras tenaganya. Betapapun, tenaga orang tua tidak dapat dibandingkan dengan tenaga orang muda.

Namun, karena kakek ini ulet dan semangatnya masih tinggi, Bu Ham sedikit kecewa karena tidak dapat mengendurkan tenaga lawannya dengan cepat. Akan tetapi, Bu Ham adalah pemuda yang cerdik. Dia melihat pisau di tangan lawannya cukup berbahaya; di samping menangkis, lawan juga tidak jarang melancarkan serangan cepat dan tak terduga. Namun, karena Bu Ham memiliki dua senjata di tangan kiri dan kanan, benturan-benturan di antara senjata tersebut justru menguntungkan pemuda itu karena ular maupun kipasnya dapat menyelonong saat senjata lawan sedang menangkis.

Kini Sin-piauw Ang-lojin mulai menghemat tenaga. Kakek itu tidak mau banyak bergerak jika tidak perlu, dan mulai sering mengelak daripada mengadu tenaga. Karena kakek itu lebih banyak bersikap bertahan, akhirnya Bu Ham menyiapkan jarum-jarum beracun untuk merobohkannya. Meski begitu, dia belum dapat mendesak kakek tinggi besar itu karena pertahanan Sin-piauw Ang-lojin cukup kuat; pisaunya masih sigap menangkis dan membabat, bahkan sering kali ular milik Bu Ham hampir putus.

Ketika kipasnya bergerak sementara lawan mengelak, saat itulah Bu Ham menyambar dengan ularnya.

"Wut!" Sin-piauw Ang-lojin menggerakkan pisau. Ular itu dibabat dan ditangkis agar putus menjadi dua.

Namun, Bu Ham yang tiba-tiba melepas ular dan sengaja mengorbankan senjata itu, mendadak tertawa seraya membuka kipasnya.

"Sin-piauw Ang-lojin, mampuslah!"

Kakek tinggi besar itu terkejut. Ular menyambar dirinya dan disambut gerakan pisau yang membabat dari bawah ke atas. Ia menahan napas agar tidak menghirup hawa ular, lalu membentak hingga ular itu putus menjadi dua. Darah menyembur hampir mengenai wajah kakek itu.

Persis saat ular putus, tiba-tiba kipas di tangan Bu Ham mengebut, menyembunyikan serangan gelap. Bu Ham meluncurkan jarum-jarum halus di balik kipasnya, membuat kakek itu terkejut dan berseru keras. Karena kipas harus ditangkis sementara jarum juga menyerang, akhirnya Sin-piauw Ang-lojin pucat dan memaki pemuda itu.

"Bu-kongcu, kau curang!" Kakek ini membanting tubuh dan bergulingan.

Saat itu tidak ada kesempatan baginya untuk berbuat lain. Pisau sudah menangkis ular dan kipas, sehingga ia terpaksa melemparkan tubuh untuk menjauhi serangan jarum-jarum berbahaya itu. Namun, Bu Ham yang mengejar dan berkelebat ke depan tiba-tiba menyambitkan lagi jarum-jarum beracunnya sambil tertawa terbahak-bahak, tidak memberi kesempatan lawannya untuk bangun.

Kakek itu terkejut dan menggerakkan pisau sebisanya sambil terus bergulingan. Namun, karena jarum bergerak dari atas ke bawah dan Sin-piauw Ang-lojin jelas tak dapat mengelak, akhirnya tiga jarum menancap di tubuhnya. Ia sempat mengerahkan *sinkang*, tapi sia-sia.

"Cep! Cep! Cep!" Sin-piauw Ang-lojin mengeluh. Tiga jarum amblas di ketiak dan pundak kirinya, membuatnya merasa nyeri yang sangat. Ketika ia melompat bangun dengan kaki terhuyung, Bu Ham tiba-tiba menampar sambil menendang.

"Plak! Dess!" Kakek ini terpelanting. Bu Ham tertawa dan melanjutkan serangan. Kakek itu berusaha mengelak dengan bergulingan, namun jarum-jarum tersebut justru semakin dalam tertanam saat tubuhnya tertindih. Ketika Bu Ham membiarkan kakek itu berdiri, tiba-tiba kakek tinggi besar itu terjerembab roboh.

"Bluk!" Sin-piauw Ang-lojin pingsan. Kakek itu sempat memaki Bu Ham sebelum akhirnya terjungkal karena racun yang melumpuhkan tenaga dan membuatnya pusing. Seluruh mukanya pucat kehijauan.

Saat Bu Ham menendang dan menyerahkan tubuh kakek tinggi besar itu pada seorang busu, Lo-hoat Tosu yang sadar dari rasa terkejutnya tiba-tiba membentak, "Bu-kongcu, kau curang!"

Bu Ham tertawa mengejek. "Kau mau maju, tosu bau? Minta kurobohkan pula?"

"Pinto yang akan merobohkanmu, bocah curang. Pinto tak akan segan-segan lagi pada nama besar gurumu!" Lo-hoat Tosu menggigil, marah sekali.

Ketika Bu Ham tertawa dan mengebutkan kipasnya, tiba-tiba kakek ini sudah menerjang dengan tongkatnya.

"Trak! Trak!" Bu Ham menangkis dua kali, terhuyung, dan kaget oleh tenaga lawan yang kuat. Dia sadar bahwa dia telah kehilangan tenaga saat melawan Sin-piauw Ang-lojin tadi. Namun, Bu Ham tertawa dan berlompatan ke sana-sini, meski tiba-tiba ia menerima kemplangan dan sodokan tongkat bertubi-tubi. Tosu itu benar-benar marah dan mulai mendesaknya dengan pukulan-pukulan berbahaya.

Ketika Bu Ham menangkis tongkat yang menyambar, mendadak dua jari Lo-hoat Tosu menotok lehernya.

"Plak! Plak!" Bu Ham terbanting. Dia kaget dan bergulingan menjauh. Untung totokan sedikit meleset, meski tetap membuat lehernya nyeri. Dia terkejut karena tosu ini memiliki pukulan ampuh. Saat Lo-hoat Tosu mengebutkan lengan bajunya yang kaku bagai lempengan baja, Bu Ham kembali disibukkan.

"Plak! Plak!" Bu Ham kembali terpental. Dia terpaksa membuka kipasnya, membentak marah karena beberapa pukulan terasa menyengat tubuh. Dia menangkis dan membalas menyerang tosu itu dengan kipasnya.

Ketika Bu Ham mulai melepas jarum-jarum halusnya, Lo-hoat Tosu memaki dan menggerakkan lengan kirinya untuk menyampok. "Bu-kongcu, kau pemuda tak tahu malu!"

"Ha-ha, tak perlu banyak bacot, tosu tua. Kalau kau ingin menang, boleh robohkan aku. Kalau tidak, diamlah... Wut-wut!"

Belasan jarum menyambar, memaksa tosu itu marah dan berhati-hati. Betapapun, kehilangan ular bagi Bu-kongcu masih dapat diganti dengan jarum-jarum rahasianya. Ketika keduanya bergerak cepat dan Bu-kongcu melihat *sinkang* tosu Kun-lun-pai ini mampu mengebut kipasnya, Bu-kongcu tertegun dan mulai terdesak.

"Tosu bau, kau hebat juga!" Lo-hoat Tosu tidak menjawab. Dia terus menyerang hingga Bu Ham kewalahan. Pemuda itu mengerutkan alis karena senjata rahasianya selalu dapat disampok jatuh oleh tangan kiri tosu Kun-lun itu.

Setelah belasan jurus, Bu Ham mulai tersudut. Tiba-tiba pemuda ini bersiul. "Kerbau-kerbau dungu, bantu aku!"

Lo-hoat Tosu terkejut mendengar lawan minta bantuan, apalagi melihat lima busu melompat maju mencabut senjata. Namun, ketika mereka maju, tosu itu menggerakkan tongkatnya hingga senjata para busu itu patah dan mereka terbanting roboh.

"Goblok, bantu saja dari jauh!" teriak Bu Ham. Para busu tertegun dan tidak berani maju lagi. Komandan mereka yang mengerti maksud pemuda itu tiba-tiba mencabut panah. "Serang kakek itu dengan panah!"

Bu Ham tertawa. Memang itulah yang ia maksud, yaitu memecah konsentrasi Lo-hoat Tosu. Saat belasan anak panah meluncur, Lo-hoat Tosu harus menangkis dan mementalkan panah tersebut. Saat itulah jarum-jarum Bu-kongcu mulai bekerja tanpa rintangan.

"Tosu bau, kau pun agaknya menyusul Sin-piauw Ang-lojin. Mampuslah!"

Lo-hoat Tosu marah karena dikeroyok secara curang. Saat ia harus menyampok, Bu Ham melempar jarum dan mengebutkan kipasnya. Tosu itu mengeluh ketika sebuah jarum tidak dapat dielakkan, mengenai lengannya hingga ia terhuyung. Ketika anak panah kembali berhamburan dan jarum-jarum lain mengenai tubuhnya, tiba-tiba tosu ini terguling saat kipas menyambar tengkuknya.

"Plak!" Lo-hoat Tosu roboh. Kakek ini tidak dapat menahan keroyokan, terutama jarum beracun Bu Ham. Saat ia terguling pingsan dengan wajah kehijauan, Bu Ham menendang tubuhnya sambil tertawa.

"Bawa tikus-tikus busuk ini. Kerangkeng mereka!"

Lo-hoat Tosu, muridnya, serta Sin-piauw Ang-lojin ditangkap. Malam itu, bayangan Hong Jin dan teman-temannya muncul.

"Kongcu, apa yang harus kita lakukan kepada mereka ini?"

"Biarkan mereka sadar. Surat rahasia itu harus kita peroleh!"

"Tidak dibunuh saja mereka itu?"

"Jangan, Siauw-ong-ya minta surat itu harus ditemukan dulu, Hong Jin. Kalau beres, tentu saja mereka boleh dibunuh!"

Sin-piauw Ang-lojin lamat-lamat mendengar percakapan itu. Dia sudah sadar, membuka mata, dan merasa panas di seluruh tubuhnya. Dia teringat pertempurannya melawan Bu-kongcu dan mengenali suara orang tersebut. Namun, ketika ia menggerakkan kaki dan tangan, ia merasa sakit karena terbelenggu. Ia tertegun melihat Lo-hoat Tosu dan Beng Lam ada di sebelahnya, sama-sama terikat di dalam kurungan jeruji besi.

"Ha-ha, kau sudah sadar, Sin-piauw Ang-lojin?"

Kakek ini menggeram.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment