Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 86

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 86

Dia melihat sebuah bayangan berkelebat ke depannya, disusul dua bayangan lain. Ketika dia melihat Hong Jin dan Wan Tiong Lojin, dua sute-nya, berada di dekat Bu-kongcu, kakek ini tiba-tiba membentak gusar, "Sute, kalian iblis-iblis terkutuk! Tak nyana kalau kau bergaul pula dengan setan macam Bu-kongcu ini!"

"Ha-ha, tak perlu memaki, Lojin. Buruk baiknya nasibmu ada di tanganku. Ayolah, tenang!" Bu-kongcu melepas ikatan belenggunya, namun segera menotok kakek itu dan menyeret ketua Sengpiauw-pang tersebut keluar dari kerangkengnya.

"Sengpiauw-pangcu, kau mau baik-baik bicara dengan kami, bukan? Nah, tunjukkan di mana surat untuk putra mahkota itu. Aku akan memberimu obat penawar kalau kau mau membantu kami."

"Tidak, aku tak tahu apa-apa. Aku tak mau bersekutu dengan iblis-iblis macam kalian!"

"Hm, kau tak ingin sembuh, Lojin?"

Kakek ini gusar. "Bu-kongcu, kau boleh membunuh atau menyiksaku, tapi tak mungkin si tua bangka ini menyerah. Aku tahu pengkhianatan Siauw-ong-ya. Sebaiknya tak perlu banyak cakap dan kau bunuhlah aku!"

"Ha," Bu-kongcu tersenyum. "Aku tak mau membunuhmu, Pangcu. Aku hanya menghendaki surat yang kau sembunyikan itu. Aku akan mengampunimu. Di mana surat itu?"

Sin-piauw Ang-lojin tidak menjawab, matanya mendelik.

"Kau tak perlu keras kepala, Pangcu. Kita sebaiknya berdamai saja dan kubebaskan pula dua orang temanmu itu. Lihat, tosu itu pun mulai sadar, begitu pula muridnya."

Kakek tinggi besar ini menggigit bibir. Dia melihat Lo-hoat Tosu menyeringai menahan sakit; tubuhnya penuh luka-luka kecil berbintik hitam akibat jarum beracun milik Bu-kongcu. Sebatang anak panah juga masih tertancap di pundak kakek itu dan belum dicabut. Ketika Beng Lam, sang murid, membuka mata dan mendesis menahan sakit, guru dan murid itu bertemu pandang dengan Sin-piauw Ang-lojin, yang anehnya membuat sang tosu tersenyum.

"Lojin, kita bertemu di surga?"

"Tidak, kita di neraka, Tojin. Bu-kongcu dan dua sute-ku itu ada di sini. Lihat!"

Lo-hoat Tosu menoleh dengan sukar sambil menahan sakit dan menggigil. Dia melihat Wan Tiong Lojin dan suheng-nya ada di situ. Ketika Hong Jin tertawa mengejek, tosu itu tersenyum pahit. Beng Lam berseru nyaring, "Suhu, kiranya kita ditangkap tikus-tikus tak tahu malu. Sebaiknya memejam saja, tak perlu membuka mata. Aku muak melihat tampang mereka!"

"Hm," Hong Jin tertawa dingin. "Kau tak perlu berlagak tengik, anak muda. Kami dapat membunuhmu kalau kami mau."

"Kalau begitu bunuhlah, aku tak takut!" bentak Beng Lam, membuat muka Hong Jin memerah marah. Namun, Bu-kongcu yang tertawa tenang segera memotong, "Hong Jin, tak perlu hiraukan kicauan anak muda itu. Kita tanya saja mereka baik-baik tentang surat rahasia untuk pangeran mahkota."

Menghadapi Lo-hoat Tosu dan teman-temannya, Bu-kongcu berdehem. "Sin-piauw Ang-lojin, bagaimana dengan pertanyaanku tadi? Di mana kau sembunyikan surat itu? Ingat, dua temanmu ikut-ikutan di sini gara-gara permintaanmu. Kalau kau tidak bicara baik-baik, tentu mereka ini kubunuh!"

Sin-piauw Ang-lojin menggereng. "Aku tak tahu-menahu tentang surat apa pun, Bu-kongcu. Aku datang karena mengejar-ngejar dua sute-ku itu!"

"Kau tak mau mengaku?"

"Tidak, karena aku tak tahu!"

"Baiklah, kalau begitu kebebasanmu sulit kau dapat." Memutar tubuh menghadapi Lo-hoat Tosu, pemuda itu tersenyum. "Dan kau, Lo-hoat Tosu. Apakah kau juga tak tahu tentang surat yang dibawa kakek ini? Ataukah kau pura-pura tak tahu?"

"Pinto tak tahu apa-apa, bocah iblis. Kalau pinto ada di bawah kekuasaanmu, lekas saja kau bunuh pinto!"

"Hm, dan kau," Bu-kongcu tetap tersenyum. "Namamu Beng Lam, bukan? Bagaimana jawabanmu untuk pertanyaan yang sama? Tidakkah kau mengetahui di mana surat rahasia yang dibawa kakek ini?"

Beng Lam menjengeh. "Kau geledah saja tubuhnya, Bu-kongcu. Kalau ada, silakan ambil. Kalau tidak, tak perlu tanya pada kami. Aku tak tahu apa-apa!"

"Tapi kau ingin suhu dan dirimu bebas, bukan? Masih demikian kaku sikapmu?"

"Aku tak ingin bebas, pemuda iblis. Kalau suhu ada di sini, aku juga tak mau melarikan diri!"

"Baiklah, kalau begitu kalian boleh keras kepala. Ingin kulihat sampai berapa lama kalian bertahan!" Bu-kongcu tiba-tiba menarik Beng Lam, menyentak pemuda itu hingga keluar kerangkeng. Ketika pemuda itu mengeluarkan sebatang jarumnya, Bu-kongcu tertawa dingin dan mendekatkan jarum itu pada mata kiri Beng Lam.

"Bocah she Beng, kau belum pernah ditusuk buta, kan? Bagaimana kalau kini kau merasakan ditusuk jarum?"

Beng Lam pucat. Dia terbelalak melihat jarum hitam di tangan lawannya; wajahnya berubah ketakutan. Tapi begitu pandangannya bertemu dengan mata gurunya, pemuda itu membentak, "Bu-kongcu, kau memang manusia iblis. Kau boleh bunuh atau siksa diriku, tapi aku tak takut!"

"Benarkah?" Bu-kongcu menyeringai keji. "Kau sungguh-sungguh tak takut, Beng Lam? Kalau begitu mari kulihat!"

Saat jarum mendekat, Beng Lam cepat-cepat menutup matanya, namun ia ditusuk dengan keji oleh murid Sai-mo-ong itu. "Beng Lam, jarum ini tidak begitu berbahaya, nyawamu tak akan terancam. Tapi gatal dan pedihnya akan membuat kau bergulingan mencukil matamu sendiri... crep!"

Jarum itu amblas ke mata Beng Lam, disambut jerit ngeri anak muda tersebut. Ketika Bu-kongcu tertawa dan membebaskan totokannya, Beng Lam meraung sambil menggosok-gosok matanya dan bergulingan.

"Bu-kongcu, kau iblis keji. Keparat kau!"

Bu-kongcu tertawa. Dengan puas dia melihat murid Lo-hoat Tosu itu mencakar-cakar mukanya sendiri, merasakan gatal dan pedih yang amat menyiksa. Jarum itu kian amblas dan hilang di bola mata. Saat Beng Lam meraung bagai anjing kesakitan, pemuda itu mencukil biji matanya sendiri.

"Crep!"

Sin-piauw Ang-lojin dan Lo-hoat Tosu ngeri. Dua orang tua ini melihat biji mata Beng Lam tercukil keluar, penuh darah membasahi mukanya hingga tampak mengerikan. Setelah satu matanya copot, Beng Lam mengeluh dan roboh pingsan.

"Bluk!"

Lo-hoat Tosu mendelik. Dia tadi tak dapat bicara apa-apa melihat kejadian itu, tenggorokannya tercekik oleh penderitaan sang murid. Begitu melihat muridnya roboh, kakek ini menggeram, "Bu-kongcu, kau benar-benar manusia iblis. Terkutuk kau. Pinto tak akan membiarkanmu sewenang-wenang...!"

Namun, kakek ini mengeluh kesakitan akibat jarum dan panah yang menancap di tubuhnya; ia mendelik, kejang, dan terbatuk-batuk hingga tak mampu meneruskan kata-katanya karena dada yang terasa sakit. Bu-kongcu terbahak, lalu melangkah maju dan memegang gagang panah yang menancap di pundak kakek itu.

"Seng-piauw-pangcu, tegakah kau melihat anak panah ini kukoyak-koyak di tubuh temanmu? Lihat, tosu ini menyeringai. Tentu sakit ditusuk dagingnya!" Bu-kongcu menepuk panah hingga amblas semakin dalam, membuat tosu Kun-lun itu menjerit, "Augh!"

Sin-piauw Ang-lojin memejamkan mata. Dia tak kuat melihat pemandangan tersebut. Ketika Bu-kongcu menghentikan perbuatannya dan tertawa, dia bertanya, "Bagaimana, kau menghendaki aku membunuh tosu bau ini, Lojin?"

Sin-piauw Ang-lojin menggigit bibir. "Tidak, kau bebaskan dia dan kau bunuhlah aku. Lo-hoat Tosu tak bersalah!"

"Tapi surat rahasia harus kau tunjukkan dulu, Lojin. Kalau tidak, tentu saja permintaanmu tak mungkin terkabul. Ayo, kesabaranku hampir habis. Aku akan menyiksamu juga kalau tosu ini sudah tak kuat!" Bu-kongcu melangkah maju, menghampiri kakek itu dengan seringai penuh ancaman. Sikapnya membuat Sin-piauw Ang-lojin gusar.

Baru pemuda itu melangkah tiga tindak, Lo-hoat Tosu berseru, "Lojin, jangan berikan apa yang diminta pemuda iblis itu. Pinto siap mati mempertahankan kebenaran!"

"Hm, jadi surat benar-benar ada di tangan kalian?" Sin-piauw Ang-lojin menggigil.

"Ayo, mana surat itu, Lojin? Kalau tidak, kalian semua akan kubunuh!" Bu-kongcu mengeluarkan lagi sebatang jarum, terkekeh sambil bersiap mencoblos mata Sin-piauw Ang-lojin.

Tiba-tiba Lo-hoat Tosu membentak gemetar, "Bu-kongcu, surat ada di tanganku! Kalau kau menghendaki surat, bebaskanlah sahabatku itu dan suruh dia pergi!"

Bu-kongcu tertegun. "Kau tak main-main?"

"Pinto tak main-main denganmu, bocah busuk. Apa yang pinto kata adalah benar. Bebaskan Sin-piauw Ang-lojin, juga muridku!" Kepada Sin-piauw Ang-lojin, tosu itu berkata, "Lojin, bawa murid pinto keluar dari tempat ini. Selamatkan dia!"

Sin-piauw Ang-lojin terbelalak. Dia tertegun oleh kata-kata tosu itu, seolah temannya benar-benar membawa surat rahasia, padahal surat tersebut tak ada di tangan mereka—sebuah hal yang tentunya telah dibuktikan Bu-kongcu dengan menggeledah tubuh mereka saat mereka pingsan. Sadar bahwa tosu itu ingin menyelamatkan dirinya dan Beng Lam dengan mengorbankan diri, Sin-piauw Ang-lojin tiba-tiba tertawa tergelak.

"Lo-hoat Tosu, kau tua bangka sialan. Kenapa berbohong kepada musuh? Tidak, surat tidak berada di tanganku, tetapi di tanganku. Sebaiknya kau yang bebas dan biarkan aku menghadapi pemuda ini!" Berseru pada Bu-kongcu, kakek itu mengedikkan kepala, "Bocah siluman, kau bebaskan dua temanku yang tidak bersalah. Surat rahasia ada di tanganku, tak perlu percaya padanya!"

Bu-kongcu terbelalak. "Siapa yang benar?"

"Aku!"

"Tidak, aku, Bu-kongcu. Tua bangka itu bohong!" Lo-hoat Tosu berteriak marah pada temannya, tapi Sin-piauw Ang-lojin hanya tertawa tergelak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment