Chapter 87
Ketika kedua kakek itu saling membentak dan mengklaim diri sebagai pembawa surat, Bu Ham yang kebingungan dan kesal berkata dengan wajah memerah, "Lo-hoat Tosu dan Sin-piauw Ang-lojin, sebaiknya kalian tidak perlu bermain-main saat ini. Kalian berdua sama-sama mengaku membawa surat. Jika ingin orang lain bebas, tunjukkan surat itu dan buktikan! Nah, mana suratnya?"
Sin-piauw Ang-lojin terdiam. Lo-hoat Tosu pun demikian. Namun, ketika keduanya saling pandang dan tertawa, kakek bertubuh tinggi besar itu menjawab, "Bu-kongcu, kau pemuda siluman yang tidak bisa dipercaya. Kalau ingin surat, tentu saja dua temanku itu harus kau bebaskan dulu. Mana bisa semudah itu?"
"Ya, dan kau pun tidak bisa dipercaya, bocah setan. Pinto juga akan memberikan surat itu jika murid dan sahabat pinto kau bebaskan!" sahut yang lain.
Bu Ham marah. Ia kesulitan memaksa kedua kakek itu; ia bahkan telah menggeledah namun tidak menemukan apa yang dicari di tubuh mereka. Melihat Beng Lam yang pingsan, pemuda itu tertawa dingin dan tiba-tiba menyambar tubuh sang pemuda.
"Lo-hoat Tosu dan Sin-piauw Ang-lojin, rupanya kalian sengaja mempermainkanku untuk menguji kesungguhanku. Sekarang aku tidak mau banyak bicara. Siapa yang benar harus mengaku dengan jujur, yang tidak membawa surat tidak perlu banyak bicara. Katakan, siapa di antara kalian yang betul-betul membawa surat? Awas, jika kalian berteriak bersamaan, aku akan menikam pemuda ini!"
Bu Ham meraih pisau milik Ang-lojin, bersiap menusukkannya ke dada Beng Lam yang masih pingsan dengan pandangan beringas ke arah dua kakek itu. Sin-piauw Ang-lojin dan Lo-hoat Tosu, yang ingin mendahului bicara, tiba-tiba berseru, "Aku!"
Begitu kedua kakek itu bicara bersamaan tanpa sadar, tanpa ampun Bu Ham menusukkan pisaunya dengan keji langsung ke dada Beng Lam. "Cep!"
Dua orang tua itu terbelalak. Mereka melihat Bu Ham benar-benar melaksanakan ancamannya, menikamkan belati dengan dingin. Beng Lam tewas seketika tanpa sempat menjerit. Nyawanya melayang dalam keadaan pingsan!
Lo-hoat Tosu dan Seng-piauw-pangcu tertegun, tidak menyangka, lalu menggerung saat melihat Bu-kongcu mencabut pisaunya yang berlumuran darah segar.
"Bu-kongcu, kau iblis terkutuk! Kau jahanam keparat!"
"Ha-ha, aku sudah memberi tahu, Tosu bau. Kalian menghabiskan kesabaranku dan sekarang kalian lihat buktinya. Aku tidak main-main!"
Bu-kongcu melompat menghampiri dua kakek itu dan mengoleskan darah ke baju Sin-piauw Ang-lojin dengan sikap bak iblis. "Seng-piauw-pangcu, siapa yang benar di antara kalian pembawa surat itu? Ayo, aku akan menusuk matamu jika tidak mau bicara!"
Sin-piauw Ang-lojin menggigil. Seumur hidup, baru kali itu ia melihat seseorang dengan keji membunuh orang yang sedang pingsan. Begitu kejam dan dingin, seolah nyawa manusia tidak ada harganya. Namun, meski tetap menatap pisau yang mendekati matanya, kakek ini membentak, "Bocah iblis, aku bukan penakut atau pengkhianat. Jika kau mau tusuk mataku, tusuklah, tapi aku tidak akan memberi tahu di mana surat rahasia itu!"
"Ya, dan pinto juga tidak akan mengaku padamu, bocah. Pinto akan menyimpan surat rahasia itu dengan nyawa pinto!"
Bu Ham habis kesabaran. Ia menggerakkan pisaunya hendak menusuk mata kiri Sin-piauw Ang-lojin karena marah melihat kerasnya hati dua kakek itu. Namun, Hong Jin berkelebat menahan dan berseru, "Kongcu, jangan bunuh dia!"
Pisau yang tertahan di udara membuat Bu Ham geram. "Kenapa?"
Hong Jin mengerutkan kening dan berbisik ke telinga Bu-kongcu. Setelah mendengar bisikan itu, Bu-kongcu mengangguk dan tertawa kecil. "Baik, aku setuju usulmu, Hong Jin. Agaknya kakek ini akan menyerah jika diperlakukan begini. Masukkan mereka, obati luka-lukanya."
Anehnya, Sin-piauw Ang-lojin dan Lo-hoat Tosu dibebaskan, lalu diberi makan dan minum hingga sehat kembali. Hal ini membuat dua orang tua itu tertegun, heran sekaligus waswas menduga apa yang direncanakan lawan.
Beberapa hari kemudian, mereka dibawa ke sebuah kamar yang indah dengan tubuh tertotok. Di sana, dua gadis cantik menemani Bu-kongcu yang duduk tertawa lebar. "Dua pendekar yang gagah, kalian sudah sehat kembali dan merasa segar?"
Sin-piauw Ang-lojin mendengus, tidak menjawab. Namun, Lo-hoat Tosu yang diam-diam mengerahkan *sinkang* mencoba melancarkan jalan darahnya tiba-tiba membentak dengan muka merah saat teringat kematian muridnya. "Bu-kongcu, apa pun tidak dapat membujuk kami untuk menyerahkan surat rahasia. Kami siap mati untuk mempertahankan kebenaran!"
"Ha-ha, tidak perlu marah, Totiang. Aku menyambutmu baik-baik justru untuk berdamai yang terakhir kalinya. Kematian muridmu tidak perlu membuatmu dendam, itu salahnya sendiri. Sekarang, kalian sudah mencukur jenggot dan kumis?"
Pemuda itu bangkit berdiri, memandang dua kakek yang kini berwajah bersih. Saat Lo-hoat Tosu dan temannya tidak mengerti maksudnya, Bu-kongcu mengeluarkan sebotol arak.
"Sin-piauw Ang-lojin, ini arak harum yang paling nikmat. Kalian memang dua kakek yang gagah perkasa, kuakui itu. Tapi kalian belum pernah ditonton bermain cinta, kan? Nah, ini dua kekasihku yang siap melayani kalian. Mereka cantik dan montok, tentu gembira melayani kalian yang sudah bercukur rapi. Kalian mau menikmati arak harum?"
Bu-kongcu membuka tutup arak itu dan bertepuk tangan. Beberapa bayangan muncul, termasuk Hong Jin, sutenya, serta Siong Gwan, putra Siong-taijin, yang menatap dua wanita cantik itu dengan penuh nafsu.
Lo-hoat Tosu dan Sin-piauw Ang-lojin mendamprat, "Bu-kongcu, apa yang mau kau lakukan?"
"Ha-ha, aku ingin menikmati pertunjukan menarik, Seng-piauw-pangcu. Aku ingin memaksa kalian menyerahkan surat rahasia."
"Tak mungkin, kau tidak akan berhasil!"
"Begitukah?" Pemuda itu tersenyum. "Lihat dulu. Arakku ini adalah arak perangsang yang membuat kalian berperilaku binal. Aku ingin melihat, kalian mau bicara atau tidak!"
Bu-kongcu memberi tanda, dan dua wanita cantik di belakangnya bergerak gemulai melepas pakaian mereka.
"Bu-kongcu, kau jahanam terkutuk!" Lo-hoat Tosu terkejut, baru mengerti bahwa mereka hendak "diadu" dengan wanita-wanita itu. Rupanya dua pelacur yang telah dibeli Bu-kongcu diharapkan membuat mereka bermain cinta sementara ia dan teman-temannya menonton. Satu perbuatan yang hina dan memalukan.
Bu-kongcu tertawa gembira dan mengisyaratkan dua wanita itu untuk maju. "Ang-hwa, dua kakek ini tentu hebat sekali. Kalian pilih yang mana?"
Ang-hwa, wanita berbaju merah, menghampiri Lo-hoat Tosu. Ia tersenyum manis, melenggang dengan sisa pakaian yang tersingkap lebar, memperlihatkan pahanya yang gempal, putih, dan mulus. Namun, Lo-hoat Tosu membentak dengan marah dan jijik, "Pelacur hina, jangan dekati pinto. Pergilah!"
Ang-hwa tidak menghiraukan, ia justru melingkarkan lengan di leher sang tosu dan membelai dagunya. "Totiang, Bu-kongcu menyuruhku melayanimu. Bersikaplah baik padaku... cup!"
Sebuah ciuman yang mendarat di pipi membuat Lo-hoat Tosu mencak-mencak. "Bu-kongcu, suruh pergi siluman betina ini! Pinto tidak tahan!"
Bu-kongcu tertawa, tidak menghiraukan seruan lawannya. Ia memberi isyarat kepada wanita berbaju hijau, Cheng Kiok. Cheng Kiok menghampiri Sin-piauw Ang-lojin dengan ragu karena kakek itu tampak angker dan bengis.
"Kau mau apa?" bentak Sin-piauw Ang-lojin.
Cheng Kiok tertegun, namun karena Bu-kongcu memberi tanda, ia memberanikan diri. "Aku disuruh melayanimu, pangcu. Jangan salahkan aku, ini tugasku."
Cheng Kiok mencoba memeluk leher kakek tinggi besar itu, namun Sin-piauw Ang-lojin mengerang dan membentak, "Pergi kau, siluman hina. Aku tidak butuh pelayananmu!"
Cheng Kiok terpelanting kaget oleh bentakan yang penuh wibawa itu. Bu-kongcu yang tertawa berkelebat ke depan dan menotok rahang kakek itu. "Cheng Kiok, tidak perlu takut. Dia sudah kubuat gagu."
Sin-piauw Ang-lojin benar-benar melotot. Ia tidak dapat menggerakkan rahangnya dan tentu saja tidak dapat memaki. Saat Bu-kongcu melompat mundur, Cheng Kiok memberanikan diri untuk maju kembali. "Pangcu, tidak perlu galak. Kalau kau galak, tentu Bu-kongcu akan segera memberimu arak pemabuk itu!"
Cheng Kiok terkekeh, menggeliatkan pinggang, dan tiba-tiba memeluk leher kakek itu.