Chapter 88
Saat kakek itu melotot tak berdaya, tiba-tiba wanita itu mendaratkan ciuman di pipinya. "Cup!" Muka Sin-piauw Ang-lojin merah padam. Dia menggerak-gerakkan rahang, tetapi tidak ada suara yang keluar. Rupanya ia memaki kalang kabut namun tak satu pun kata terucap.
Sementara kakek itu mendelik tak karuan, Bu-kongcu mengambil cawan dengan mata bersinar-sinar. "Seng-piauw-pangcu dan kau, Lo-hoat Tosu. Kali ini kami tidak mau berpanjang mulut. Kalau kalian tetap bungkam soal surat rahasia, dengan menyesal kalian akan menikmati arak perangsang ini. Arak ini amat hebat, milik bibiku, Tok-gan Sin-ni. Secawan saja sudah membuat seekor kuda menjadi binal. Kalian akan dipengaruhi nafsu berahi yang hebat hingga tidak malu-malu lagi. Ang-hwa dan Cheng Kiok akan melayani kalian, kami tonton. Masihkah kalian keras kepala?"
Dua kakek itu pucat dan merah berganti-ganti. Mereka marah, malu, sekaligus takut pemuda itu membuktikan ucapannya. Maklum, pemuda ini dikenal sebagai iblis yang tak segan melakukan perbuatan keji untuk mempermalukan lawan. Membayangkan mereka akan dipermalukan di depan orang-orang muda membuat Lo-hoat Tosu hampir pingsan.
"Bocah, kau bunuhlah aku. Kau siksalah aku, tapi jangan melakukan yang satu itu!"
"Ha-ha, itu tidak mudah, Totiang. Kalau kau ingin kusiksa, inilah siksaannya. Tapi kalau kau ingin bebas, cepat katakan di mana surat itu!"
Lo-hoat Tosu mencak-mencak. Ia memaki pemuda itu dengan kata-kata kasar yang membuat si pemuda berang. Bu Ham kemudian menghampiri tosu itu dan meninggalkan Sin-piauw Ang-lojin. "Tosu bau, rupanya mulutmu pun bau. Nah, minum arak ini. Harumkan mulutmu!"
Bu Ham, yang sebelumnya menotok rahang kakek itu, memaksakan arak masuk ke mulut tosu tersebut lalu membebaskan totokannya. Arak itu pun amblas ke perut. Tak lama kemudian, Lo-hoat Tosu limbung, roboh, dan mendengkur dengan suara aneh. Mukanya merah seperti udang rebus, dan keringat bercucuran.
Saat Bu Ham menyuruh Ang-hwa membangunkan kakek itu, pelacur tersebut menggeliat. "Totiang, mari kita bersenang-senang!"
Lo-hoat Tosu menggigil. Pandangannya gelap dan bumi serasa berputar. Saat berdiri, ia terhuyung dan terpaksa mendekap tubuh Ang-hwa. Nafsu berahi membakar hebat, membuatnya ingin melepaskan pakaian. Karena Ang-hwa terus menempel, kakek ini lupa diri dan menubruk pelacur tersebut.
"Nona, kau cantik!"
"Hi-hik, aku memang cantik, Totiang. Ayo kemarilah!" Ang-hwa terkekeh dan mengajak kakek itu ke pembaringan.
Namun, ketika mereka terguling dan Bu-kongcu terbahak, tiba-tiba Lo-hoat Tosu tersadar. "Lo-hoat Tosu, kau pun kiranya tidak melebihi anjing. Ayo, bangkit, Ang-hwa. Lari dan biarkan kakek itu mengejarmu!"
Lo-hoat Tosu membuka mata lebar-lebar. Gejolak berahi membuat tenaganya terasa berlipat ganda, seolah sanggup mengangkat gunung. Namun, saat menyadari harga dirinya diinjak-injak, kakek ini menggeram. Dalam detik yang menentukan, ia sadar tak bisa melepaskan diri dari pengaruh arak tersebut jika tidak segera bertindak. Ia tidak ingin bermain cinta dengan pelacur di bawah tontonan orang lain.
Tiba-tiba, tanpa disangka, tosu itu menumbukkan kepalanya ke dinding. "Prakk!"
Bu-kongcu dan teman-temannya tertegun. Mereka tidak menyangka Lo-hoat Tosu akan senekat itu. Bunuh diri!
Bu-kongcu membentak dan menyuruh mayat kakek itu dibawa keluar. Ia lalu menghampiri Sin-piauw Ang-lojin yang masih terbelalak kaget. Bu-kongcu tertawa mengejek, "Seng-piauw-pangcu, jangan harap perbuatan temanmu dapat kau contoh. Aku tidak akan membiarkanmu bunuh diri. Kau akan kutotok dan tidak akan kubebaskan jika belum dikuasai pengaruh arak ini. Kau siap memberikan surat atau kupaksa bermain cinta?"
Sin-piauw Ang-lojin tidak bisa menjawab karena masih tertotok gagu. Ia hanya melotot dengan sikap ragu. Jika ia menggeleng, ia harus menanggung aib. Jika mengangguk, ia mengkhianati pangeran mahkota. Saat Bu-kongcu bertanya untuk ketiga kalinya dan tidak mendapat jawaban, ia dengan keji menuangkan arak ke cawan.
"Nah, kalau begitu kau boleh dilayani dua pelacur ini, Pangcu. Kulihat dan kelak kubeberkan pada semua orang betapa Seng-piauw-pangcu yang gagah perkasa ini bermain cinta di depan mataku. Ha-ha!"
Bu Ham memaksa membuka mulut Sin-piauw Ang-lojin. Namun, tepat saat arak dituangkan, sebutir batu menyambar cepat dan menghantam cawan di tangan Bu-kongcu. Cawan itu pecah. Sesosok bayangan berambut emas berkelebat di depan Bu-kongcu.
"Bu-kongcu, kau pemuda terkutuk!"
Bu-kongcu terkejut luar biasa. Ia melompat mundur, marah melihat seseorang menggagalkan niatnya. Namun, saat melihat sosok itu, nyalinya menciut. "Kim-mou-eng!"
Memang benar, di depannya berdiri Kim-mou-eng, si Pendekar Rambut Emas. Bu-kongcu yang gentar mencoba menyambitkan dua jarumnya ke arah Sin-piauw-pangcu, namun Kim-mou-eng dengan cepat menangkis jarum-jarum tersebut. Pendekar itu kemudian membebaskan totokan Sin-piauw Ang-lojin.
"Pangcu, beristirahatlah!"
Sin-piauw Ang-lojin girang bukan main. Ia segera menubruk Pendekar Rambut Emas dengan haru. Melihat itu, Bu-kongcu yang marah menerjang, "Hong Jin, bunuh dua orang ini!"
Hong Jin dan muridnya terkejut. Mereka tahu benar kelihaian dan kesaktian pendekar tersebut. Namun, karena perintah Bu-kongcu, mereka akhirnya terpaksa menyerang.