Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 89

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 89

"Siong Gwan, bantu sebisamu!" Siong Gwan, putra walikota Siong itu, marah. Dia terkejut melihat kedatangan Kim-mou-eng; ia telah mendengar namanya namun belum merasakan kelihaiannya. Melihat Kim-mou-eng adalah orang biasa, seorang pemuda tampan yang aneh dengan rambut kekuning-emasan, ia tidak merasa takut.

Maka, begitu suhunya berteriak dan Bu-kongcu maju ke depan, tiba-tiba pemuda ini menyerang dan mencabut pedangnya.

"Plak-plak!" Siong Gwan menjerit. Saat itu ia menyerang dari belakang, membacok pendekar itu karena Bu-kongcu dan suhunya menyerang dari depan. Di tempat itulah ia merasa leluasa untuk menyerang lawan. Namun, begitu pedang bergerak dan mengenai punggung, tiba-tiba pedangnya macet, tertolak semacam tenaga yang tidak kelihatan hingga terpental. Hal itu tentu membuat pemuda ini penasaran.

Ketika ia membentak lagi dan mengayun pedang dengan tenaga sekuatnya, mendadak pedangnya patah dan mengenai pundaknya sendiri.

"Pletak, aduh...!" Siong Gwan langsung terguling. Kim-mou-eng sama sekali tidak menyerangnya; dialah yang menyerang, tetapi justru berbalik terpukul. Karena pedangnya patah dan pundaknya mengucurkan darah, pemuda ini melompat bangun dengan muka pucat. Meski disuruh Bu-kongcu menyerang lagi, ia merasa gentar, menganggap pendekar itu seperti siluman yang mempunyai ilmu aneh.

Namun, karena Bu-kongcu membentaknya lagi dan Siong Gwan takut, ia mengambil sebatang tombak dan menyerang, tetapi lagi-lagi tombak itu patah sebelum mengenai tubuh Kim-mou-eng. Hal itu membuat putra Siong-taijin ini semakin pucat dan ngeri. Ketika ia mengambil golok, golok itu pun patah sebelum bertemu lawan. Tiba-tiba pemuda ini menjerit ketika patahan golok menyambar dan menancap di pahanya sendiri.

"Aduh... augh!" Siong Gwan berteriak-teriak, bergulingan, dan akhirnya ditendang gurunya agar ia menyingkir. Bu-kongcu pun mendampratnya dengan makian sebagai pemuda goblok yang hanya bisa bermain perempuan, tetapi tidak bisa menggunakan senjata.

Ketika Kim-mou-eng ditinggal dan Bu-kongcu serta Hong Jin beserta sutenya mengeroyok pendekar ini, Sin-piauw Ang-lojin yang marah melompat maju sambil membentak nyaring, "Kim-mou-eng, berikan saja dua suteku yang berkhianat itu. Serahkan mereka!"

Kim-mou-eng tersenyum, mengelak sana-sini dengan tenang. "Tidak, kau beristirahat saja, Pangcu. Mereka ini bukan lawan yang berat bagiku!"

"Tapi mereka mencelakaiku, Kim-mou-eng. Aku harus menghukum mereka!"

"Baiklah, kalau begitu terserah padamu." Kim-mou-eng mengibas menggunakan Tiat-lui-kang-nya, seketika membuat Hong Jin dan adiknya berseru tertahan, terdorong, dan terhuyung mendekati suheng-nya. Sin-piauw Ang-lojin yang marah menyambut geram dan tiba-tiba melancarkan pukulan miring menghantam dua sutenya itu.

"Ji-sute, kalian mampuslah!"

Hong Jin terkejut. Ia mengelak tapi keserempet pukulan, jatuh terjengkang, dan pucat memandang suheng-nya. Ketika sutenya juga terpental dan Wan Tiong Lojin ngeri memandang ketua Seng-piauw-pang ini, akhirnya Hong Jin memutar tubuh mengajak sutenya lari.

"Sute, lari...!"

Wan Tiong Lojin mengangguk. Ia memang takut dan gentar melihat munculnya Kim-mou-eng. Apalagi Bu-kongcu juga terdesak dan mereka bertiga tak mungkin diampuni oleh suheng mereka yang marah itu. Saat meloncat mengikuti suheng-nya, Wan Tiong Lojin tiba-tiba meninggalkan Sin-piauw Ang-lojin sambil melepas senjata rahasia. Namun, kakek tinggi besar itu membentak. Sin-piauw Ang-lojin tidak membiarkan sutenya minggat; ia menyampok senjata-senjata rahasia yang dilancarkan sutenya.

Ketika dua sutenya lari meninggalkan ruangan, kakek tinggi besar itu berkelebat dan tiba di pintu, langsung melepaskan pukulan jarak jauh. "Sute, mampuslah!"

Hong Jin dan sutenya terpaksa menangkis karena pukulan keburu menyambar. Ketika mereka terdorong dan terjengkang di luar, Sin-piauw Ang-lojin mengejar dengan muka beringas, benar-benar tak mau kehilangan dua sutenya itu—dua laki-laki jahat yang telah bersekutu dengan Bu-kongcu. Bahkan Hong Jin itulah yang merencanakan agar ia bermain gila dengan pelacur!

Namun, persis saat kakek ini menyambar lawannya, mendadak dari pintu samping muncul bayangan hitam yang membentak ketua Seng-piauw-pang ini, "Pangcu, kau kembalilah... plak!"

Sin-piauw Ang-lojin terkejut. Ia menangkis pukulan bayangan hitam itu, terpental, dan roboh terbanting. Ia kaget karena mengenali itulah bayangan yang dulu menyelamatkan sutenya ketika ia dan Lo-hoat Tosu datang menyerang. Ketika ia melompat bangun dan berteriak marah, Hong Jin dan Wan Tiong Lojin disambar bayangan ini, mendengus, dan tiba-tiba melempar sebuah granat tangan.

Saat granat itu meledak dan Sin-piauw Ang-lojin berjungkir balik, asap hitam mengepul menghalangi pandangan.

"Dar!" Sin-piauw Ang-lojin mengumpat. Ia gagal lagi, terhalang asap itu dan marah-marah tak karuan. Ketika asap menipis namun bayangan sutenya hilang entah ke mana, saat itu Kim-mou-eng muncul di depannya.

"Mana Bu-kongcu, Pangcu?"

"Mana suteku, Taihiap?"

Dua-duanya tertegun. Mereka melancarkan pertanyaan hampir bersamaan. Namun, melihat keduanya sama-sama melongo dan musuh tidak ada di tempat itu, akhirnya ketua Seng-piauw-pang ini membanting kaki dengan uring-uringan.

"Kim-taihiap, suteku lolos. Dia dibantu bayangan hitam!"

"Hm, dan Bu-kongcu juga begitu, Pangcu. Lawanku itu diselamatkan seseorang yang mengenakan kedok. Dia melempar granat."

Sin-piauw Ang-lojin melotot. Ia sungguh kecewa, gusar, dan menyesal mengapa meski dibantu Kim-mou-eng, ia masih tak dapat membunuh sutenya. Namun, karena semuanya sudah berlalu, Kim-mou-eng menarik napas dan kembali ke ruangan semula, melihat mayat Lo-hoat Tosu masih membujur kaku dengan kepala pecah. Ketika Sin-piauw Ang-lojin ikut masuk dan merawat jenazah temannya, kakek ini mengepal tinju, menghapus dua titik air matanya, dan menangis sambil menggigit bibir kuat-kuat. Ketika Kim-mou-eng bertanya padanya, Sin-piauw Ang-lojin mengajak Pendekar Rambut Emas pergi membawa mayat Lo-hoat Tosu.

* * *

"Pangcu, apa sebenarnya yang telah terjadi?"

Sin-piauw Ang-lojin menarik napas. Mereka telah duduk tenang di hutan kecil setelah menguburkan mayat Lo-hoat Tosu. Sin-piauw Ang-lojin masih menyesal dan tak habis-habisnya mengepal tinju. Mendengar pertanyaan Kim-mou-eng, kakek tinggi besar itu melemaskan muka dan mendesis, "Sebuah pengkhianatan, Taihiap. Rencana pengkhianatan dari Pangeran Muda."

"Pengkhianatan?"

"Ya."

"Apa yang akan dilakukan?"

"Merebut kursi putra mahkota dan membunuh pewaris kaisar itu!"

"Hm," Kim-mou-eng agak terkejut. "Kau tahu dari mana ini, Pangcu? Siapa yang bilang?"

"Aku tahu dengan mata kepalaku sendiri, Taihiap. Aku yang memegang surat rahasia itu!"

"Surat rahasia?"

Kakek ini mengangguk. "Aku mengetahui rencana Pangeran Muda itu, Taihiap. Dia pangeran cerdik dan amat berbahaya. Sai-mo-ong dan muridnya ternyata telah membantu pangeran pintar itu. Juga suteku!"

"Hm," Kim-mou-eng masih tak mengerti. "Kau bisa menceritakannya secara lengkap, Pangcu? Aku kurang jelas, aku belum paham benar akan duduk persoalannya."

"Baiklah," kakek itu bersinar-sinar. "Aku memang butuh bantuanmu, Taihiap. Kebetulan kau datang dan menyelamatkan aku. Dengarlah..."

Sambil melipat kaki dan menarik napas, kakek ini mulai bercerita, "Dulu, setahun yang lalu, kaisar telah meresmikan putranya yang dipilih untuk menggantikan kedudukan kelak. Peresmian yang disaksikan menteri-menteri istana itu berjalan lancar. Tapi apa yang tampak dari luar ini ternyata tidak sama dengan apa yang terjadi di dalam, karena Pangeran Muda yang lahir dari selir kesepuluh diam-diam ingin mengubah keputusan kaisar."

"Pangeran ini menganggap putra mahkota masih terlalu muda, kekanak-kanakan, dan menurutnya tak cakap mengendalikan roda pemerintahan. Ia menganggap dirinya lebih patut karena dia lebih tua, meskipun hanya dari selir. Karena pangeran ini memang pandai dan bakat kepemimpinannya besar, kaisar telah memilihnya untuk kelak menjadi penasihat putra mahkota, menggantikan kedudukan Han-taijin atau Kim-taijin yang kini membantu kaisar, kelak menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan pada Pangeran Muda itu. Tapi karena pangeran ini amat berambisi dan tidak puas pada keputusan kaisar, diam-diam dia ingin memberontak!"

"Hm, begitu?" Kim-mou-eng memutus.

"Ya, dan rencana pangeran itu telah diberitahukan pada beberapa sahabatnya, Taihiap. Salah satunya adalah Mao-taijin!"

Kim-mou-eng terkejut. "Mao-taijin?"

"Ya, menteri itu, Taihiap. Dia menteri durjana yang benar-benar mata duitan!" kakek ini mengepal tinju. "Pangeran Muda telah menjanjikan sebuah kedudukan manis untuk menteri ini, hadiah sebuah wilayah di provinsi Kui-chou. Kelak dapat diduduki menteri itu sebagai raja muda di sana kalau rencana ini berhasil. Tentu saja membuat Mao-taijin makin gendut dan merajalela. Terkutuk!"

Kim-mou-eng tertegun. "Dan surat rahasia itu, apa hubungannya?"

"Surat rahasia itu menyebut nama-nama menteri yang menjadi pembantu Pangeran Muda ini, Taihiap. Karena surat itu menyangkut nama-nama orang tertentu, isinya penting bukan main dan amat berharga!"

"Dan sekarang di mana surat itu? Kau bawa?"

"Tidak, tapi ada di tempat yang tidak disangka musuh."

"Hm, aku jadi tertarik, Pangcu. Lalu bagaimana kelanjutannya? Kenapa kau disiksa Bu-kongcu itu?"

"Aku tertangkap gara-gara mencari suteku, Taihiap."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment