Chapter 90
Karena aku tak mengira Sai-mo-ong dan muridnya menjadi kaki tangan Pangeran Muda, aku tertawan dan disiksa oleh pemuda iblis itu.
"Sungguh keji dia, mirip gurunya!"
"Dan kau mencari sutemu karena ada perhitungan masa lalu?"
"Benar, Taihiap, tapi masih ada hal lain lagi. Aku mendengar sutemu menjadi antek Pangeran Muda pula melalui Siong-taijin. Karena aku tak ingin sutemu menjadi hamba Pangeran Muda dan bermain-main dengan politik, aku ingin melepaskan mereka dari perbuatan berbahaya itu. Sungguh tak kusangka kalau sepak terjang mereka sudah kelewat jauh dan tak dapat disadarkan lagi!"
"Dan Lo-hoat Tosu itu, kau ajak?"
Kakek itu tiba-tiba menangis sambil menggigit bibir. "Dia kuajak karena ingin menangkap suteku itu, Taihiap. Tak kukira kalau Bu-kongcu muncul dan muridnya pun tewas. Semua ini gara-gara suteku!"
"Muridnya?"
"Ya, sahabatku itu membawa muridnya, Taihiap. Namanya Beng Lam. Tapi Bu-kongcu dengan keji telah membunuhnya dengan sikap yang sangat dingin!"
Kakek itu lalu menceritakan terbunuhnya Beng Lam yang ditikam ketika pingsan. Kim-mou-eng yang mendengar dengan kening berkerut tiba-tiba menjadi marah hingga merah mukanya. "Terkutuk, murid Sai-mo-ong itu benar-benar iblis."
"Ya, dia iblis seperti gurunya, Taihiap. Atau mungkin lebih lagi. Dan sahabatku tewas gara-gara perbuatan pemuda ini. Aku kelak harus menuntut balas!"
"Baiklah, kembali pada persoalan semula. Kau katakan bahwa Pangeran Muda telah mengatur rencana untuk membunuh putra mahkota, padahal kelihatannya kota raja tenang-tenang saja. Lalu apa buktinya pangeran ini akan merebut kedudukan, Pangcu? Apakah surat rahasia yang kau sembunyikan itu juga menyebut-nyebut suatu gerakan?"
"Benar, mereka akan membunuh putra mahkota pada hari kelima belas bulan kedelapan, Taihiap. Di situ dijelaskan tentang apa-apa yang harus mereka perbuat. Saat itu Kaisar akan tetirah di Pegunungan Hweng-san, menikmati pergantian musim bersama permaisuri dan selir-selir tersayang. Di saat itulah putra mahkota akan dibunuh!"
"Hm, tapi istana dikawal orang-orang pandai. Masa begitu mudah orang luar membunuh putra mahkota?"
"Secara teoretis memang begitu, Taihiap. Tapi inilah cerdiknya Pangeran Muda. Kejadian itu masih tiga bulan lagi, dan Pangeran Muda diam-diam akan menggantikan pengawal-pengawal istana yang dirasa mendukung putra mahkota. Sekali kejadian itu berhasil dilaksanakan, tentu putra mahkota tak dapat menyelamatkan diri karena ia bakal terkepung oleh orang-orang Pangeran Muda!"
Kim-mou-eng terkejut. "Begitu licik?"
"Ya, dan aku harus melapor kepada putra mahkota, Taihiap. Dengan surat rahasia itu di tangan, tentu putra mahkota akan percaya!"
Kim-mou-eng mengangguk-angguk, mulai mengerti. "Dan kau, apakah tidak kebetulan saja berada di Pi-yang, Pangcu? Maksudku, kau telah tahu bahwa dua sutemu ada di sana?"
"Aku tahu melalui penyelidikan, Taihiap. Dan salah satu di antara penyelidikku adalah Sin Meng."
"Siapa itu?"
"Murid luar Kun-lun-pai. Dia penjual obat yang membantuku bersama dua orang anak perempuannya. Tapi sayang, mereka tewas dibunuh suteku nomor dua. Keparat suteku itu!" Kakek ini mendelik, matanya berapi-api menahan amarah.
Kim-mou-eng yang tak mengenal kakek Sin Meng segera bertanya lagi, "Dan penyelidikanmu menghasilkan apa lagi, Pangcu? Mana anak buahmu?"
"Mereka tewas, Taihiap. Dibantai Bu-kongcu." Sin-piauw Ang-lojin menggigil, terbayang anggota-anggota Seng-piauw-pang yang malang melintang di halaman rumah Siong-taijin. Ia geram namun juga ngeri oleh sepak terjang Bu Ham. Meski mendendam, ia merasa ngeri menghadapi pemuda iblis itu.
Ketika dua titik air mata kembali membasahi pipi, Sin-piauw Ang-lojin mendesis, "Taihiap, Bu-kongcu dan dua suteku telah melakukan kejahatan di luar batas. Aku harus membunuh dua suteku itu, juga Bu-kongcu. Tapi sebelum mencari mereka, aku hendak mengambil surat rahasia dan menyerahkannya pada putra mahkota. Taihiap mau membantuku mengantar ke kota raja?"
Saat Pendekar Rambut Emas mengerutkan kening, buru-buru kakek ini berkata, "Maaf, aku bukan takut seperti anak kecil, Taihiap. Maksudku, kau melindungi surat itu, bukan aku. Pangeran Muda tentu mencegat jalanku setelah Bu-kongcu dan suteku lolos!"
Kim-mou-eng mengangguk. "Aku mengerti, tapi... hm, aku juga punya persoalan, Pangcu. Bisakah kutolong dirimu?"
Kakek itu pucat, menggigil, dan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar itu. "Kim-taihap, aku mohon demi keselamatan bangsaku, rakyat Tionggoan yang tidak bersalah, sudilah kau menolong aku menyelamatkan surat rahasia itu. Atau kalau tidak, biarlah kubantu dulu persoalanmu setelah itu kau ganti membantu aku!"
Kim-mou-eng terkejut, buru-buru membangunkan kakek itu. "Pangcu, jangan begitu. Bangunlah, aku tak dapat menerima penghormatanmu yang demikian besar!"
Setelah kakek itu berdiri dengan wajah pucat dan berlinang air mata, Kim-mou-eng berkata, "Pangcu, aku tahu itu adalah urusan bangsamu. Tapi aku juga berdarah Han, sudah semestinya kubantu meskipun orang menganggapku sebagai suku bangsa Tartar. Kau tahu bahwa kejahatan harus dilawan, bukan? Nah, jangan khawatir, Pangcu. Karena ini juga tugas seorang pendekar, tentu tanpa diminta pun aku siap membantumu. Sekarang katakan apa yang harus kukerjakan, mengantarmu sekarang ke kota raja?"
"Ah," Sin-piauw Ang-lojin girang bukan main. "Kau mau membantuku, Taihiap?"
"Tentu saja, meskipun aku juga punya persoalan pribadi."
"Ah, kalau begitu terima kasih, Taihiap... terima kasih!" Kakek itu terharu dan menjura di depan pendekar itu, membuat Kim-mou-eng tersipu.
"Sudahlah, sekarang katakan apa yang harus kubantu, Pangcu. Ke kota raja sekarang juga atau apa?"
"Tidak," kakek itu berseri-seri. "Kalau kau ada urusan pribadi, sebaiknya kubantu kau dulu, Taihiap. Setelah itu kita ke kota raja."
"Hm, kau kira begitu mudah?"
Kakek itu terkejut. "Maaf, aku rupanya lupa, Taihiap. Kalau kau yang berkepandaian tinggi saja agaknya kerepotan, maka aku rupanya tak dapat berbuat apa-apa untuk membantumu. Ah, aku menyesal sekali. Dan, eh... mana Sumoimu?"
Kakek itu bertanya karena teringat bahwa dulu pendekar ini datang bersama Salima. Ia sadar gadis itu tak ada di samping Kim-mou-eng. Saat melihat wajah Pendekar Rambut Emas menggelap, kakek itu sadar bahwa sebuah urusan pribadi agaknya menyulitkan pendekar tersebut dalam masalah berat.
"Maaf," kakek itu menyesal. "Aku rupanya salah tanya, Taihiap. Baiklah kutarik kembali pertanyaan itu dan kita kembali pada persoalan biasa. Kalau aku tak dapat membantumu, biarlah kau saja yang menentukan apa yang harus kulakukan. Aku menyerahkannya padamu."
"Tidak," Kim-mou-eng membuka matanya, kerut di tengah keningnya semakin dalam. "Aku tak menyesali pertanyaanmu, Pangcu. Kau memang benar. Aku kehilangan Sumoiku dan sebuah masalah berat menindih batinku. Tapi karena ada urusan penting di sini, biarlah kusingkirkan dulu masalah pribadiku itu. Aku akan membantumu, boleh ke kota raja. Tapi siapa itu bayangan hitam yang melemparkan bahan peledak?"
"Dia orang yang dulu menyelamatkan suteku, Taihiap. Barangkali kau ingat karena Sumoimu pernah mengejarnya waktu kalian masih di Seng-piauw-pang!"
"Ah, orang itu?"
"Ya."
"Siapa dia?"
"Aku tak tahu jelas, Taihiap. Tapi mungkin saja pembantu menteri-menteri dorna yang sudah memelet suteku!"
Kim-mou-eng terdiam. Ia mengangguk-angguk namun mulai curiga pada bayangan hitam yang ternyata berkali-kali menyelamatkan Hong Jin. Rupanya betul ia pembantu menteri dorna, bahkan mungkin Pangeran Muda. Terbukti berkali-kali bayangan itu menyerang mereka, melindungi dua sute ketua Seng-piauw-pang ini, dan tindak-tanduknya menyembunyikan rahasia.
Teringat persoalan semula dan kewajibannya mengantar ketua Seng-piauw-pang ini, Kim-mou-eng bangkit berdiri membersihkan baju. "Pangcu, sebaiknya kita kerjakan saja apa yang harus kita kerjakan. Di mana surat itu kau simpan?"
"Di sebuah tempat, Taihiap. Kalau kau ingin membantu, baiklah kita berangkat," kakek ini juga berdiri dengan tampang berseri, merasa mantap dibantu Kim-mou-eng. Seolah Kim-mou-eng adalah jaminan yang dapat dipercaya.
Ketika Kim-mou-eng mengangguk, kakek itu melompat keluar dan berkelebat ke arah timur. "Taihiap, mari...!"
Pendekar Rambut Emas mengikuti. Ketua Seng-piauw-pang itu mengajaknya keluar hutan, menyusur tepinya, dan akhirnya menuju ke sebuah bukit berbatu yang penuh koral serta gua-gua kecil. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam.
Ketika kakek itu berhenti dan celingukan, tiba-tiba ia menghampiri sebuah batu karang. Di depannya terdapat sebuah gua kecil, hampir tak kelihatan karena tertutup alang-alang.
"A-ciong, kau di situ?"
Tak ada jawaban. Kakek ini menunggu lagi, berseru ulang dengan menyebut nama seseorang. Tapi ketika tak ada suara menyahut dan kakek ini tampak tak sabar, tiba-tiba ia memasuki gua itu sambil merunduk karena langit-langitnya rendah.
"A-ciong, ini aku, Seng-piauw-pangcu. Di mana kau?"
Kakek ini berseru kaget. Ia sudah memasuki gua yang dangkal itu, berteriak karena seekor ular tiba-tiba menyerangnya. Begitu cepat, hampir memagut mukanya. Ia menarik tubuh dan menggerakkan tangan, tiba-tiba ular itu telah tertangkap dan dilempar keluar.
"Sshh...!" Ular itu terbanting.
Seng-piauw-pangcu pucat memandang ular itu, seekor ular belang dengan tubuh mengkilap berbintik-bintik putih. Jelas ular beracun. Ketika ular itu melenting berdiri dan lehernya yang tegak menjulur ke depan, tiba-tiba kakek tinggi besar ini mendelik. Ia merasa telapak tangannya perih, melihat telapaknya sudah berwarna merah kehitaman terkena ular beracun itu, yang ternyata sisiknya juga amat berbisa saat tadi ia tangkap.