Chapter 91
Dan ketika kakek ini marah dan ular mendesis-desis, mendadak kakek ini menggigil tak dapat menggerakkan tangan kanannya.
Kaku.
"Pangcu, kau keracunan. Cepat telan pil ini!" Kakek itu mengangguk.
Dia menyambar pil yang diberikan Kim-mou-eng dengan tangan kirinya, cepat menelan, dan maklum dia terserang racun yang ganas. Namun, ketika dia hendak menyerang dan membunuh ular itu, tahu-tahu Kim-mou-eng berkelebat menangkap ular tersebut, mengenakan sarung tangan, dan menipu ular dengan satu gerakan jari, membuat ular mematuk.
Ketika ular itu mengangkat leher dan semakin meninggikan badannya, tiba-tiba Kim-mou-eng telah menangkap dan menjepit leher ular ini.
"Crep!" Ular tak berdaya lagi, meronta, tapi Kim-mou-eng mengurut punggungnya dari atas ke bawah. Satu gerakan ahli yang membuat ular kehilangan tenaga, lolos seluruh kekuatannya.
Dan ketika ular tak dapat menggeliat lagi dan tinggal terbelalak memandang penangkapnya, maka Kim-mou-eng berkata, "Pangcu, ini ular belang dari pegunungan Himalaya. Bagaimana bisa ada di sini?"
"Tak tahulah, tapi jelas ular ini ular beracun, Taihiap. Sisiknya pun berbahaya sekali bila dipegang!"
"Benar, dan rupanya seseorang meletakkan ular ini di sini. Mungkin ada apa-apa di dalam. Biar aku yang melihatnya." Kim-mou-eng yang merunduk memasuki gua tiba-tiba sudah kembali lagi membawa sesosok mayat, seorang anak berusia empat belasan tahun. Begitu Seng-piauw-pangcu melihat anak ini, tiba-tiba dia tersentak.
"A-CIONG!"
"Siapa dia?"
Seng-piauw-pangcu tak menjawab. Dia sudah menubruk dan menangis menyambar mayat ini. Mukanya pucat sekali, mengguguk, dan tiba-tiba memaki Bu-kongcu dan dua sutenya. Tapi ketika dia sadar dan melompat bangun, maka Kim-mou-eng menepuk pundaknya, lembut namun kuat.
"Pangcu, siapa dia?"
"Dia... dia A-ciong, Taihiap. Bocah yang kutitipi surat rahasia itu!" Kakek ini hampir tak dapat bicara, tenggorokannya tercekat karena kematian bocah itu sungguh membuat dia terpukul, kaget, dan marah. Dia sungguh tak menyangka kalau musuh mencium jejaknya, mengetahui perbuatannya, dan kini membunuh anak itu, lalu mengambil surat rahasia karena surat itu sudah tak ada lagi di tubuh anak ini.
Kim-mou-eng yang tertegun mengerutkan kening akhirnya menghela napas, menegur kakek ini, "Pangcu, kau sembrono sekali. Kenapa anak demikian ingusan kau titipi surat berharga?"
"Aku... aku tak menduga, Taihiap. Semua ini kulakukan dengan perhitungan cermat, tapi musuh rupanya tahu juga. Keparat Bu-kongcu itu!"
"Tapi kukira bukan Bu-kongcu yang melakukannya. Anak ini tewas enam jam yang lalu, padahal saat itu Bu-kongcu masih berada di Pi-yang."
"Kalau begitu, siapa?"
"Orang lain, mungkin saja bayangan hitam yang menolong sutemu itu."
"Ah, lagi-lagi dia?"
"Mungkin saja, Pangcu. Tapi mungkin juga orang lain."
Kakek tinggi besar ini lemas. Dia gemetar, mengertakkan giginya; hilang sudah harapannya untuk membawa surat rahasia ke putra mahkota. Tapi ingat bahwa tugasnya masih ada lagi dan satu-satunya jalan ialah menghubungi putra mahkota itu dan memberitahukan bahwa bahaya mengancam pangeran tersebut, maka kakek ini tak putus asa meskipun tak membawa bukti.
"Taihiap, kita ke kota raja kalau begitu. Temani aku menghadap putra mahkota!"
"Baik, tapi hati-hati, Pangcu. Tapi siapa sebetulnya A-ciong ini?"
"Dia kacung Sin Meng. Dialah satu-satunya orang yang lolos ketika kakek itu dan dua anak perempuannya ditangkap. Suteku membiarkan anak ini pergi karena tak menduga anak itulah yang membawa surat rahasia!"
Kim-mou-eng menarik napas. Dia tak tahu kejadian di kota Pi-yang itu, ketika Sin Meng dan dua anak perempuannya ditangkap. Ketika Hong Jin muncul dan menawan ayah dan anak ini, ternyata A-ciong adalah bocah yang menarik uang dari sumbangan para penonton. Jadi, kacung itulah yang sebenarnya dititipi surat rahasia. Memang tak akan diduga oleh siapa pun bahwa anak ini yang menyimpan surat. Tapi karena anak itu sekarang tewas dan Sin Meng serta anak gadisnya juga tewas di tangan Hong Jin, maka kakek tinggi besar ini tak dapat berbuat apa-apa kecuali menyesali nasib, marah pada dua sutenya dan teman-temannya itu, Bu-kongcu dan lain-lain.
Ketika Kim-mou-eng mengajaknya pergi dan siap mengantarnya ke kota raja, akhirnya kakek ini mengangguk dan langsung memukul remuk ular di tangan Kim-mou-eng, gemas, serta mengubur mayat kacung itu sembari berkali-kali memaki musuh-musuhnya. Begitu semuanya selesai dan kakek ini tampak berang, akhirnya Sin-piauw Ang-lojin berkelebat ke kota raja dikawal Pendekar Rambut Emas.
***
Sesungguhnya, apa yang terjadi di kota raja? Benarkah Pangeran Muda diam-diam hendak membunuh putra mahkota? Untuk melihat ini, sebaiknya kita mendahului dua orang itu ke kota raja. Mari kita lihat keadaan dua pangeran ini yang sama-sama tinggal di istana; Pangeran Muda di sebelah timur, sementara putra mahkota di sebelah barat.
Putra mahkota, yang masih berumur dua puluh dua tahun, memang masih terlalu muda saat itu. Dia adalah seorang pangeran yang lembut dan halus tutur katanya, berwajah tampan, dan seperti biasa pangeran-pangeran lain suka kesenangan dan keindahan, termasuk pula wajah cantik sebagaimana biasanya kaum muda, apalagi kaum bangsawan. Hidup tenteram dan tenang karena selalu dilindungi pengawal yang menjaga istana. Hampir tak mengenal kesusahan karena di istana tak ada apa yang dinamakan kesusahan itu; semua kebutuhan makan minumnya tercukupi, bahkan berlebihan kalau tak mau dikatakan mewah.
Tapi karena dia juga manusia biasa dan manusia dikenal sebagai makhluk yang tak kenal cukup, maka ada beberapa hal yang membuat putra mahkota ini murung dan tak puas. Pertama adalah tentang kebebasannya. Dia hampir tak pernah keluar tanpa pengawal, selalu ada saja pengiring yang mengikuti gerak-geriknya. Padahal dia ingin menikmati kebebasan itu dalam arti yang utuh. Artinya, suatu hari kelak dia ingin keluyuran di luar istana seorang diri, melihat rakyatnya dari dekat, dan bergaul dengan mereka, karena pangeran ini terkenal ramah dan suka berdamai dengan setiap orang. Suka berbuat baik dan menderma sana-sini, terutama pada orang-orang dekat yang tentu saja membuat orang simpatik padanya dan mencintainya. Tapi karena dia tak dapat bebas seperti yang diinginkan, maka pangeran ini merasa tidak puas pada keadaannya yang seperti itu.
Seorang pengawal menasihatinya, "Paduka adalah putra mahkota, Pangeran. Kenapa Paduka ingin keluyuran seperti rakyat biasa? Sri Baginda tentu tak akan memperkenankan, apalagi kalau tahu Paduka melanggar peraturan ini. Ini adalah ketentuan Sri Baginda, demi keselamatan Paduka juga!"
"Tapi aku tak mempunyai musuh, pengawal. Demi keselamatan siapa? Aku ingin bebas, Ayahanda terlalu mengekang!"
"Tapi hamba tak berani membiarkan Paduka Pangeran. Sri Baginda tentu marah dan bakal menghukum hamba. Paduka tak kasihan pada hamba?"
Pangeran ini menghela napas. Pengawalnya memang benar; kalau dia berani keluyuran dan ketahuan, tentu pengawalnya itu akan mendapat hukuman berat. Salah-salah dihukum mati. Hukuman yang bakal membuat dia menyesal juga karena pengawal ini sudah beranak istri, tentu tak tega dia meneruskan niatnya itu karena berat pada sang pengawal. Tapi karena semakin dikekang semakin kuat pula keinginannya untuk berontak, akhirnya pangeran ini gelisah juga dan mulai melirik kesempatan yang sayangnya tak pernah ada karena situasinya tak mengizinkan—memang dibuat begitu agar dia terawasi. Dan karena berbulan-bulan tak pernah juga dia mendapat kesempatan itu, akhirnya sang pangeran melepas jengkel dengan sering duduk termenung di kolam ikan. Itu yang pertama.
Yang kedua, ini juga membuat sang pangeran tidak puas: dia tidak mengenal bahagia di kompleks istana itu. Aneh! Orang mendambakan kedudukan seperti dirinya, tapi dia yang mendapat anugerah itu sama sekali tidak merasakan apa yang dinamakan bahagia. Pangeran ini merasa hidupnya biasa-biasa saja, itu-itu saja, dan cenderung lama-lama membuat dia bosan. Gejala apa ini? Refleksi dari ketidakpuasannya tak bisa keluyuran di luar istana? Entahlah. Dia heran juga. Pangeran ini merasa hidupnya terkurung, meskipun terlindung, persis isi telur dibungkus kulitnya. Dan karena dia tak merasakan apa yang disebut bahagia itu, maka pangeran ini ingin keluar dan mengetahui apa yang sebenarnya dinamai bahagia itu. Dia ingin mengetahui sesuatu di luar sana, mendengar dan membaca buku tentang kehidupan di muka bumi. Tentang pahlawan dan petani. Tentang rumput-rumput yang hijau dan gembala. Tentang apa saja yang pokoknya bukan di dalam istana, karena apa yang di dalam istana sudah dia ketahui, sudah dia lihat dan rasakan.
Karena keinginan ini kian hari kian menyiksa jiwanya, maka suatu hari pangeran ini memberanikan diri menghadap ayahnya, memohon izin untuk mencari apa yang dinamai bahagia itu. Tapi apa jawab Baginda? Kaisar malah marah-marah, menegur putranya ini.
"Pangeran, engkau adalah orang yang paling bahagia saat ini. Engkau adalah pewaris takhta yang kelak menggantikan kedudukanku. Bahagia apalagi yang kau cari? Justru ketidakbahagiaan itu ada di luar istana. Kau tak akan mendapatkannya di sana. Tidak, kau tak boleh keluyuran. Perasaanmu itu hanya mengada-ada dan menipu dirimu belaka!"
Kaisar kemudian memanggil seorang thaikam (pembesar kebiri) yang sudah dipercaya untuk menghibur putranya.
"Cu-thaikam, bawa puteraku ini keluar. Dia lagi gundah, hibur dia!"
Thaikam itu mengangguk. Dia sudah membawa putra mahkota ini keluar ruangan, mendapat isyarat Kaisar apa yang harus dilakukan. Ketika putra mahkota itu menghela napas dan mengikutinya, maka thaikam ini—seorang thaikam yang cerdik dan banyak tahu soal-soal lelaki—sudah mengajak sang pangeran ke Bangsal Dewa-dewi.
"Pangeran, kepepatan hati bermula dari kekecewaan. Agaknya Paduka mengalami suatu tekanan batin. Marilah, hamba perkenalkan Paduka pada seseorang yang dapat menghibur Paduka."