Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 92

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 92

"Hamba tanggung Paduka tidak akan murung lagi!" Thaikam itu masuk ke dalam, memanggil seorang dayang, berbisik-bisik, dan sejenak kemudian disambut senyum manis dayang tersebut.

Ketika dayang itu lenyap dan muncul kembali, ia membawa seseorang untuk menghadap Cu-thaikam.

"Taijin, inilah Fung-siocia (Nona Fung)!" seru Cu-thaikam gembira.

Ia menyambut kedua orang itu, menyuruh sang dayang pergi, dan kini berhadapan dengan seorang gadis cantik yang tertunduk malu-malu. Pipinya memerah, sementara Putra Mahkota tertegun, tampak terkesima memandang gadis itu.

Ketika gadis itu berlutut dan Cu-thaikam mengangkatnya untuk bangun, pembesar itu tertawa seraya memperkenalkannya kepada Putra Mahkota, "Pangeran, inilah Fung Miao. Dia pandai menari, menyanyi, serta membaca sajak. Suaranya merdu. Ayahanda Paduka sendiri sering terlena kalau ditemani Fung-siocia ini!"

"Ah, dia dari kaputren?"

"Tidak, dia tinggal di Bangsal Dewa-dewi ini, Pangeran. Dia adalah penabuh musik yang khusus menghibur Sri Baginda."

"Hm, baiklah. Boleh kita bercakap-cakap..." saat thaikam itu memberi isyarat kepada Fung Miao, pembesar itu meminta diri dan memutar tubuhnya. "Pangeran, hamba masih harus mengerjakan tugas lain. Silakan Paduka bercakap-cakap dengan Fung-siocia ini!"

Sang Pangeran mengangguk. Ia sudah tertarik melihat kecantikan gadis yang belum dikenalnya itu. Ia baru menyadari ada seorang gadis lain di sana, gadis yang menawan, lembut, dan halus lengannya. Ketika Cu-thaikam pergi dan gadis itu tersipu malu, sang Pangeran mengajak Fung Miao ke kolam ikan, sebuah kegemaran yang tak dapat ditinggalkannya. Tempat itu tidak jauh dari Bangsal Dewa-dewi dan terhampar rerumputan yang menghijau.

Begitu mereka duduk di bangku kolam, sang Pangeran bertanya, "Fung Miao, apa yang dapat kau berikan padaku?"

Gadis itu tersenyum, mengangkat wajahnya, lalu menunduk lagi. "Terserah Paduka, Pangeran. Apa yang harus hamba berikan?" Suara itu mendesah lembut—untuk pertama kalinya dikeluarkan—serak-serak basah dan benar-benar merdu.

Sang Pangeran yang tergetar mendengar suara itu tiba-tiba menangkap lengan sang gadis. "Kau bisa menari, kan? Bisa menyanyi? Nah, perlihatkan itu padaku. Ingin kulihat gerak tari dan nyanyianmu!"

Gadis itu menggigit bibir. Sang Pangeran menyuruhnya menari dan menyanyi, tetapi dengan tangan yang terus dipegang, bagaimana mungkin ia bisa bangkit berdiri!

"Ih, kalau begitu lepaskan hamba, Pangeran. Hamba akan menari dan menyanyi untuk Paduka." Fung Miao akhirnya melepaskan diri, membuat sang Pangeran sadar dan segera melepaskan gadis itu.

Ketika Fung Miao mengambil alat musik dan mulai menari dengan suling di bibir, sebuah lagu yang lembut mengalun dengan suara yang merdu.

"Ah, bagus. Itu lagu gembala, Fung Miao!"

Gadis itu mengangguk. Fung Miao terus meniup sulingnya, matanya melirik dan berseri-seri memandang Putra Mahkota hingga lagu itu berakhir. Ketika lagu selesai dan tubuh sang gadis berhenti bergerak, Fung Miao menyimpan sulingnya dan menjura di depan sang Pangeran.

"Pangeran, Paduka pandai sekali. Agaknya Paduka mengenal lagu-lagu rakyat yang hamba mainkan."

"Ah, itu kegemaranku, Fung Miao. Aku suka lagu-lagu rakyat yang sederhana tapi mengena di hati. Kau bisa memainkan lagu apa lagi?"

"Banyak, Pangeran," Fung Miao tersenyum. "Coba Paduka dengarkan yang ini." Saat gadis itu meniup sulingnya kembali dan memainkan lagu lain, sang Pangeran tertegun dengan wajah berseri-seri, mendengar lagu yang tenang namun kuat iramanya.

"Itu lagu orang pesisir, *Nelayan di Laut Tung-hai*!"

Fung Miao kembali mengangguk. Ia semakin bersinar memandang Putra Mahkota, tampak kagum, lalu mendendangkan irama yang kuat dengan tinggi rendah beraturan, menggambarkan nelayan di Laut Tung-hai, pencari ikan yang gigih melawan ombak. Ketika suling berakhir dengan tiupan pendek yang menukik rendah, lagu itu pun usai, diiringi tepuk tangan sang Putra Mahkota.

"Hebat, kau menguasai benar lagu-lagu daerah, Fung Miao. Agaknya kau pernah ke Laut Tung-hai!"

"Ah," Fung Miao tersipu. "Hamba memang berasal dari sana, Pangeran. Hamba adalah putri seorang nelayan di tempat itu."

"Jadi kau penduduk pesisir?"

"Sejak kecil, Pangeran. Sampai beberapa tahun yang lalu hamba menjadi pengiring musik."

"Pantas! Kalau begitu, ceritakan tentang indahnya lautan!" Sang Pangeran gembira, menyambar lengan gadis ini dan menyuruh Fung Miao bercerita tentang lautan, karena ia memang belum pernah melihat laut yang terlalu jauh dari kota raja.

Saat Fung Miao mulai bercerita tentang laut dan isinya, sang Pangeran menjadi gembira dan hanyut dalam buaian cerita gadis itu. Ia mendengar tentang nelayan dan ikan lumba-lumba, tentang keakraban kaum nelayan dengan ikan tersebut yang konon dapat menolong manusia yang tersesat di lautan. Ketika Fung Miao mulai bercerita tentang asyiknya berenang di laut, sang Pangeran tertarik dan bangkit berdiri, menyambar lengan gadis ini.

"Fung Miao, mari antar aku ke sana. Ajari aku berenang!"

"Ah," Fung Miao terkejut. "Paduka mau ke mana, Pangeran?"

"Ke Laut Tung-hai. Ke tempatmu yang indah itu!"

"Ih, Paduka melantur? Ini istana, Pangeran. Tempat itu terlalu jauh dan hamba tidak berani mengajak Paduka ke sana!"

Sang Pangeran sadar. Ia segera teringat kedudukannya saat itu, melepas Fung Miao, lalu terhuyung duduk kembali dengan wajah kecewa. Namun, Fung Miao yang telah mendengar perihal Pangeran ini segera mendekat dengan pipi memerah.

"Pangeran, Paduka tidak usah kecewa. Kalau hanya ingin berenang, hamba sanggup mengajari Paduka. Tempat ini pun indah, tak kalah dengan Laut Tung-hai. Bagaimana kalau kita berenang di kolam ini?"

Sang Pangeran tertegun. "Campur bersama ikan-ikan emas itu?"

Fung Miao tertawa. "Mereka akan menyibak minggir, Pangeran. Paduka tidak perlu khawatir diganggu ikan-ikan itu."

"Tidak, aku tidak khawatir diganggu, melainkan takut mengganggu. Bagaimana kalau mereka terusik?"

"Ah, hidup mereka tergantung berkah Paduka, Pangeran. Siapa berani terusik? Marilah, hamba tunjukkan cara berenang." Fung Miao melepas baju dan mendekati kolam, membuat sang Pangeran muda terbelalak melihat gadis itu tinggal mengenakan pakaian dalam tipis yang menerawang. Kulitnya halus dan bersih tanpa cacat. Ketika dengan gerak yang lembut gadis itu menekuk pinggang dan mencebur ke kolam, Putra Mahkota terbelalak melihat pinggul bulat yang menyembul di permukaan air.

"Byur!" Fung Miao berenang dengan gaya lumba-lumba. Gadis itu menaik-turunkan pinggulnya, seolah tidak sengaja namun jelas merangsang, berputar mengelilingi kolam seraya terkekeh-kekeh. Saat ia kembali ke tempat semula dan melihat sang Pangeran tertegun membelalakkan mata, gadis itu menggapai dengan suara merdu, "Mari, Pangeran. Terjun ke sini, hamba akan menerima Paduka...!"

Sang Pangeran sadar. Ia menekan gejolak berahinya, wajahnya tiba-tiba merah karena pemandangan di kolam itu menarik sekali. Fung Miao memperlihatkan tubuhnya sebatas dada; dadanya yang membusung menonjol di permukaan air, bulat menggairahkan. Pinggulnya pun terlihat segar. Karena sang Pangeran belum bisa berenang dan ia masih ragu untuk mendekat, tiba-tiba Fung Miao melompat keluar dan terkekeh gemas.

"Pangeran, mari. Kita berenang bersama!"

Sang Pangeran terkesiap. Fung Miao keluar dari kolam dengan seluruh tubuh basah. Tubuhnya seolah telanjang karena pakaian tipis itu melekat penuh air. Pemandangan itu lebih hebat daripada tadi, membuat jakun sang Pangeran naik turun, namun ia tertawa menyeringai. Ketika Fung Miao menanggalkan pakaiannya dan tanpa sadar Pangeran pun setengah telanjang, Fung Miao menariknya ke kolam.

"Pangeran, mari, tidak perlu takut. Hamba akan membantu Paduka."

Pangeran itu menurut. Ia merasa goncang melihat semuanya, ditarik dan mencebur bersama sang gadis. Ia sempat gelagapan, tetapi Fung Miao memimpinnya, tertawa merdu, dan mulai mengajarinya berenang. Ketika gadis cantik itu harus memegang tubuh sang Pangeran sementara jari-jari lentiknya mengusap sana-sini, sang Pangeran belajar dengan perasaan tak karuan, tertawa-tawa, namun matanya mulai memandang mesra.

Saat sang Pangeran mulai bisa dan Fung Miao semakin gembira, tiba-tiba Pangeran itu menangkap lengan gadis ini.

"Fung Miao, cukup. Aku letih."

"Ah, Paduka berhenti, Pangeran? Kita..."

"Sudahlah, aku panas dingin. Mari kita keluar!" Sang Pangeran menyeret Fung Miao keluar, lalu gemetar menggulingkan tubuh di rumput hijau, memejamkan mata, dan tampak terengah-engah.

Fung Miao yang terbelalak namun mengerti, tiba-tiba tersenyum dan mengusap tubuh sang Pangeran. "Pangeran, kalau begitu biar hamba memijat Paduka. Telentanglah?"

Sang Pangeran telentang. Ia dipijat perlahan-lahan, mendesah merasakan jari-jari lembut itu mengurut dan membelai penuh sayang, semakin bergetar dan merasakan nikmat yang membubung membawanya ke awang-awang. Ketika belaian serta pijatan itu semakin intens, sang Pangeran mabuk kepayang, uratnya yang tegang menjadi lemas, sementara yang lemas menjadi kencang.

"Fung Miao, kau cantik!"

"Ih!" Fung Miao tersipu. "Hamba biasa-biasa saja, Pangeran. Hamba..." Fung Miao menghentikan kata-katanya saat ditarik ke dalam pelukan Putra Mahkota, menerima ciuman dan dengusan bertubi-tubi. Bagaimanapun, sang Pangeran bukanlah laki-laki bodoh yang tidak tahu apa yang disajikan kepadanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment