Chapter 93
Ketika Fung Miao mengeluh dan sang pangeran menindihnya, akhirnya putra mahkota itu mendapat hiburan dan mengajak gadis cantik ini bergulingan di rumput yang hijau. Mereka bersenang-senang dan disambut oleh Fung Miao yang memang ditugaskan Cuthaikam untuk menghibur putra mahkota tersebut.
Namun, ketika semuanya selesai dan Fung Miao membetulkan rambutnya, mendadak sang pangeran menghela napas, merasakan kekosongan yang mengganggu.
Ketidakbahagiaannya itu.
"Fung Miao, kau merasa bahagia?" Fung Miao tertegun.
"Bahagia?"
"Ya, bahagia itu, Fung Miao. Kau merasa bahagiakah?"
Fung Miao tiba-tiba tersenyum. "Pangeran, hamba tentu saja bahagia sekali. Hamba dapat menghibur Paduka, hamba dapat memberikan apa yang Paduka inginkan. Bagaimana hamba tak bahagia dengan semua ini?"
"Jadi kau bahagia karena dapat memberikan sesuatu kepadaku?"
"Benar. Kenapa, Pangeran?"
Pangeran itu tiba-tiba bangkit duduk, memandang tajam. "Fung Miao, kau bahagia karena dapat memberikan sesuatu kepada orang lain? Jadi, bagaimana jika kau memberikan pemberian yang sama kepada Ayahanda Kaisar, umpamanya? Bahagiakah kau?"
Gadis ini terkejut. "Maksud Paduka?"
"Hm, aku bertanya tentang bahagia, Fung Miao. Apakah kau benar-benar bahagia apabila memberikan sesuatu kepada orang lain? Kepada Ayahanda Kaisar, umpamanya, kepada laki-laki lain, atau apa saja di mana kau dapat memberikan apa yang diinginkan orang lain itu. Bahagiakah kau?"
Gadis ini terbelalak. "Pangeran, hamba menjadi bingung. Ke mana arah dan tujuan kata-kata Paduka ini? Paduka marah kepada hamba? Paduka, maaf... apakah Paduka cemburu pada Ayahanda Kaisar?" Pertanyaan terakhir ini diserukan dengan suara lirih, takut-takut, dan cemas saat memandang putra mahkota itu.
Akan tetapi, sang pangeran yang tiba-tiba tersenyum dan tertawa lebar mendadak menepuk pundak gadis cantik itu. "Fung Miao, kau salah. Aku tidak cemburu. Aku hanya menanyakan tentang bahagia itu! Kenapa kau melantur begini?"
"Jadi maksud Paduka?"
"Begini, Fung Miao. Aku merasakan hidupku ini sama sekali tidak bahagia. Aku kenyang dan tercukupi segala kebutuhan hidupku, tapi secara batiniah aku menderita. Aku merasa tak bebas, aku merasa terkekang di tempat ini. Jadi, apakah bahagia itu? Aku bergelimang dengan benda-benda duniawi, tapi aku merasa kosong dengan semua benda itu. Aku hidup banyak menikmati kesenangan, tapi aku tak puas dengan semua kesenanganku itu. Gejala apakah ini? Bukankah aku tak bahagia?"
Fung Miao tertegun. "Kalau begitu, Paduka benar-benar tidak bahagia."
"Nah, itulah! Karena itu aku bertanya kepadamu apakah kau bahagia. Benarkah kau bahagia dan dapatkah kau menerangkan kepadaku apakah bahagia itu? Kau paham?"
Gadis ini mulai mengangguk-angguk. "Pangeran, Paduka bertanya tentang sesuatu yang di luar jangkauan akal. Paduka mencoba menguraikan 'bahagia itu' dengan kemampuan akal untuk menjelaskannya. Mungkinkah ini?"
"Ha, kau mengerti?"
"Maaf," gadis ini tersipu. "Hamba pernah membaca kitab-kitab filsafat tentang bahagia, Pangeran. Tapi tak ada satu pun di antara kitab-kitab itu yang mampu mengupas bahagia dengan uraian sempurna. Yang hamba tahu adalah bahagia berkaitan erat dengan perasaan senang. Jadi, kalau seseorang senang, maka disebutlah orang itu bahagia!"
"Hm," sang pangeran mengerutkan kening. "Tapi aku merasakan sebaliknya, Fung Miao. Aku dapat bersenang-senang, tapi tak merasakan bahagia. Bagaimana ini? Aku yang salah atau teori itu yang tidak benar? Kesenangan tak dapat langgeng, sedang kebahagiaan katanya abadi. Nah, itulah yang kucari. Aku bosan dengan semua kesenangan yang bersifat sementara ini, padahal aku tahu ada sesuatu yang abadi di sana. Aku menginginkan itu, tapi aku tak dapat memperolehnya. Ini mungkin karena kedangkalan pengetahuanku yang terkurung di istana, tak boleh keluar!"
Fung Miao terkejut. Dia melihat sang pangeran marah, menyesali Kaisar yang tidak memperbolehkannya keluar. Namun, sambil tersenyum menguraikan rambutnya, gadis ini menunduk.
"Pangeran, Paduka mungkin kecewa karena belum ada tambatan hati yang berkenan di hati Paduka. Orang muda mencari kebahagiaan pada pasangannya, sementara orang tua mencari kebahagiaan pada ketenangan hidupnya. Bahagia bagi orang muda belum tentu sama dengan bahagia bagi orang tua. Bahagia itu relatif. Bagaimana kalau Paduka cari dulu kebahagiaan Paduka itu pada seorang wanita yang kelak Paduka cintai?"
"Hm, kau menyuruhku mencari permaisuri?"
"Bisa jadi, Pangeran. Atau mungkin juga selir."
"Dan kau?"
"Ah, hamba hanya penghibur, Pangeran. Hamba tak mengimpikan kedudukan itu karena hamba orang biasa!"
Sang pangeran menghela napas. Dia memang tahu itu; tidak mungkin mengambil gadis ini sebagai selir. Fung Miao sudah sering "dipakai" ayahnya, kecuali kalau ayahnya meninggal kelak. Merasa murung karena tidak menemukan kebahagiaannya, akhirnya pangeran ini mengangguk.
"Fung Miao, kau benar. Tapi kita dapat menjadi sahabat, bukan? Setidak-tidaknya kau dapat menghiburku seperti ini, bercakap-cakap atau apa saja untuk melepas gundahku. Kau pandai, tarian dan nyanyianmu telah kudengar. Bagaimana sekarang dengan sajak-sajakmu?"
"Ah, hamba sekadar bisa, Pangeran. Tidak pandai benar seperti yang Paduka bayangkan. Hamba suka syair dan membaca kitab-kitab To-tik-king."
"Kau hafal kitab orang bijaksana itu?"
"Sedikit-sedikit, Pangeran. Tidak semuanya, tapi hafal juga. Misalnya tentang keadaan Paduka ini, mungkin cocok dengan kitab nabi itu pada bagian ketujuh. Paduka hafal?"
"Tidak. Kau hafal?"
"Hafal, tapi kalau salah mohon dimaafkan, Pangeran. Hamba hanya mengira-ngira saja kalau cocok. Kalau tidak, mohon diampunkan. Paduka mau dengar?"
"Ah, tentu, Fung Miao. Siapa tahu kebahagiaan itu akan kudapatkan!" sang pangeran girang. "Coba kau baca, Fung Miao. Baca dan biarkan aku yang mendengar!"
Fung Miao tersenyum. Sekarang ia dapat mengembalikan kegembiraan sang pangeran, melihat putra mahkota itu berseri-seri memandangnya dengan mulut sedikit terbuka. Ketika ia membenarkan duduknya dan sang pangeran menyuruhnya membaca, akhirnya gadis ini bersenandung, membaca syair itu dengan alunan irama merdu:
*Langit dan Bumi itu abadi,*
*sebabnya Langit dan Bumi abadi adalah karena tidak hidup untuk diri sendiri,*
*maka itu abadi.*
*Inilah sebabnya orang suci membelakangkan dirinya dan oleh karenanya dirinya tampil ke depan,*
*ia menyampingkan dirinya dan oleh karenanya dirinya utuh.*
*Karena ia tak ada kehendak pribadi, maka ia dapat menyempurnakan pribadinya.*
"Nah, Anda paham, Pangeran?" Fung Miao menghentikan senandungnya; syair itu telah habis ia baca.
Sang pangeran yang tertegun memandangnya, tiba-tiba mengangguk. "Fung Miao, rupanya bahagia itu harus begitu. Tak boleh hidup untuk diri sendiri!"
"Ya, tapi penafsiran orang bisa berbeda-beda, Pangeran. Hamba hanya membacakannya saja dan Paduka menafsirkannya sendiri. Terserah Paduka, tapi mungkin keadaan Paduka itu mirip dengan isi syair ini."
"Kau maksudkan aku suka hidup untuk diri sendiri?"
"Bukan, tapi bait terakhir itu, Pangeran. Tentang kehendak pribadi dan menyempurnakan kepribadiannya."
"Kau dapat mengupasnya?"
Fung Miao tertawa. "Pangeran, tafsiran dari kitab itu bisa berbeda-beda. Apa yang hamba tafsirkan mungkin lain dengan Paduka. Atau apa yang Paduka tafsirkan mungkin lain dengan yang orang lain tafsirkan. Masing-masing boleh berpendapat sendiri. Tapi inti pokoknya, tentang keabadian itu mungkin orang sama berpendapat bahwa kita memang tak boleh hidup untuk diri sendiri, dalam arti sempit maupun luas. Paduka setuju, bukan?"
"Ya, tapi apakah aku hidup untuk diri sendiri, Fung Miao? Apakah kau lihat aku bersikap begitu?"
"Tidak."
"Kalau begitu kenapa aku tak bahagia?"
"Mungkin adanya kehendak pribadi itu, Pangeran. Bahwa Paduka menginginkan sesuatu yang di luar diri Paduka. Padahal yang ada di dalam diri Paduka, yang telah Paduka peroleh, Paduka tak dapat menghayatinya."
"Hm, aku bingung, Fung Miao. Tapi kata-katamu akan kurenungkan. Aku mencoba mencari sesuatu di luar diriku, karena yang ada di dalam kurasa kosong dan tak menarik. Apakah ini salah?"
Fung Miao tersenyum. "Pangeran, salah atau tidak salah, rupanya Paduka sendiri yang tahu. Kesalahan membawa ketidakenakan, sedang kebenaran membawa kenyamanan. Kalau Paduka merasa tinggal di istana tak bahagia, lalu apa yang Paduka cari? Sebaiknya Paduka bandingkan dulu kehidupan Paduka dengan orang lain. Adakah yang lebih bahagia dibandingkan Paduka? Kalau ada, coba selidiki. Kalau tidak, sebaiknya Paduka tinggalkan khayal tentang kebahagiaan itu yang tidak ada manfaatnya!"
Sang pangeran terkejut. "Tidak ada manfaatnya?"
"Ya, bukankah persoalannya tak akan habis-habisnya? Hamba sendiri merasa bahagia dapat berdekatan dengan Paduka, Pangeran. Kalau kebahagiaan itu ternyata kesenangan, biarlah kesenangan itu hamba nikmati sampai sepuas-puasnya!"
Fung Miao tertawa, mengajak pangeran ini untuk tidak mengupas tentang bahagia, satu "benda" yang agaknya tak mungkin dikupas dan jauh di luar kesadaran akal. Sang pangeran yang tersenyum menganggukkan kepala, lalu tiba-tiba menghela napas.
"Fung Miao, agaknya kau benar. Aku mempunyai kehendak pribadi, dan kehendak inilah yang menyeretku ke dalam ketidakbahagiaan. Aku rupanya ingin mencari sesuatu yang tidak kugenggam, ingin meraihnya. Padahal kalau kuhitung kebahagiaanku, sebenarnya sudah cukup, jauh lebih cukup dibanding orang-orang lainnya. Jadi kebahagiaan apalagi yang harus kucari? Aku terseret jalan pikiranku sendiri, Fung Miao. Rupanya Ayahanda benar, aku dimabuk perasaanku yang mengada-ada dan meninabobokan diriku!"
"Paduka sadar?"
"Entahlah, Fung Miao. Betapapun keinginan itu tak hilang juga dari lubuk hatiku. Tapi aku akan berusaha menghayati sesuatu yang sudah kudapat dan tidak mencari-cari sesuatu di luar, jauh di luar jangkauan."
Fung Miao tertawa. "Kalau begitu Paduka mulai mengerti, Pangeran. Bahwa mencari kebahagiaan itu memang sia-sia. Apa pun namanya, manusia telah menyamakan kesenangan dengan kebahagiaan. Rupanya hanya Bu-beng Sian-su yang dapat mengupas tentang kebahagiaan itu!"
"Apa?" sang pangeran terkejut.