Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 94

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 94

"Bu-beng Sian-su?"

"Ya, Paduka telah mendengar namanya, Pangeran?"

"Tentu," sang pangeran terbelalak. "Konon katanya, dia adalah manusia dewa yang sakti dan bijak! Dari mana kau tahu?"

"Hamba mendengarnya dari Bi Nio, Pangeran. Bekas selir ayahanda Paduka."

"Ah, yang diserahkan pada raksasa Tar-tar itu?"

"Benar."

"Bagaimana katanya?"

"Hamba mendengar sedikit saja, Pangeran. Katanya raksasa itu adalah murid si kakek dewa."

"Hm, aku ingin bertemu."

"Dengan siapa?"

"Kakek dewa itu, Bu-beng Sian-su!"

Fung Miao terbelalak. "Paduka serius?"

"Tentu, kau kira aku main-main, Fung Miao? Sebaiknya kau antar aku ke kaputren, aku ingin menemui bekas ibuku itu!"

Sang pangeran bergegas menyambar lengan Fung Miao dan mengajak gadis itu menuju tempat tersebut. Namun, belum mereka tiba di sana, mendadak Cu-thaikam muncul.

"Pangeran, seseorang mencari Paduka."

"Siapa?"

"Siauw-ong-ya."

"Ah, kakakku itu?"

"Benar, Pangeran. Dia menunggu di ruang depan."

"Ada perlu apa?"

"Tak tahu, Pangeran. Tapi mungkin penting."

"Baiklah, aku ke sana," sang pangeran yang terpaksa membatalkan perjalanannya menuju kaputren akhirnya menyuruh Fung Miao pergi. "Fung Miao, kakakku datang, kau pergilah. Terima kasih atas semua pelayananmu."

"Kapan kita jumpa lagi, Pangeran?"

"Besok, Fung Miao. Atau malam nanti!"

Sang pangeran sudah memutar tubuh, tergesa menuju ruang depan. Fung Miao yang tersenyum menghela napas, tiba-tiba berseru lirih dan manja, "Pangeran, hamba ingin lagi kita berduaan seperti ini. Apapun hamba sanggup lakukan untuk Paduka...!"

Sang pangeran mengangguk. Cu-thaikam mengantarnya ke ruang depan. Sesampainya di sana, mereka melihat seorang laki-laki tampan sedang duduk menunggu. Putera mahkota berseru, "Kanda Pangeran...!"

Laki-laki itu, yang tidak lain adalah Siauw-ong-ya, bangkit berdiri. Dia adalah seorang pangeran berusia tiga puluh lima tahunan, berkumis, tampan, rapi, tinggi tegap, dan memiliki mata yang cerdik. Begitu melihat putera mahkota, pangeran itu menyambut dengan senyum lebar.

"Aih, Adik Pangeran. Kau tampak segar sekali. Rupanya Fung Miao benar-benar berhasil menyegarkan hatimu. Ha-ha!"

Pangeran ini tersipu. "Dari mana kau tahu, Kanda? Cu-thaikam?"

"Maaf, hamba memang memberitahunya, Pangeran. Siauw-ong-ya minta agar segera memanggil Paduka," Cu-thaikam tersenyum menjawab sambil melihat dua kakak-adik itu sudah berangkulan.

Ketika Siauw-ong-ya tertawa dan sang putera mahkota tidak marah, thaikam ini melangkah pergi setelah mendapat isyarat dari junjungannya. Kini putera mahkota duduk berhadapan dengan kakaknya.

"Ada perlu apa, Kanda? Diutus Ayahanda?"

"Ah, tidak. Kedatanganku membawa urusan pribadi, Adik Pangeran. Aku, hm..." Siauw-ong-ya tiba-tiba mengerutkan kening, tampak sedih dan muram.

Adiknya yang ikut cemas bertanya, "Ada apa, Kanda? Kau tampak susah?"

"Benar, aku ada persoalan, Adik Pangeran. Terus terang saja, aku ingin mohon bantuanmu."

"Soal apa?"

"Soal, hmm... soal pribadi."

"Ya, tentang apa, Kanda? Bisakah aku membantumu?"

Siauw-ong-ya tidak segera menjawab. Dia memilin kumisnya, tampak semakin murung, dan menghela napas. Namun, ketika sang adik mendesak, pangeran yang cerdik ini berkata dengan hati-hati, "Adik Pangeran, besok Ayahanda Kaisar mendapat tamu. Kau tentu ikut menerimanya, bukan?"

"Ah, Pemimpin Kung?" sang putera mahkota teringat dan terkejut. "Memang benar, Kanda. Ada apa?"

"Ada sesuatu yang harus dijaga, Adik Pangeran. Katanya Pemimpin Kung membawa istrinya yang cantik!"

"Dari mana kau tahu?"

"Penyelidikan orang-orang istana, juga dari istri pemimpin itu sendiri!"

"Ah, kau tahu itu?"

"Maaf," pangeran ini menunduk. "Aku punya persoalan pribadi, Adik Pangeran. Maukah kau menyimpan rahasia ini untukku seorang?"

"Tentu, kalau kau percaya, Kanda. Kalau tidak, tentu saja tak perlu kau ceritakan."

"Tidak, tidak... aku percaya. Aku percaya padamu!" Siauw-ong-ya mengangkat muka, memandang putera mahkota, lalu tiba-tiba menangis dan menyambar lengan adiknya. "Adik Pangeran, aku ada hubungan dengan istri Pemimpin Kung itu. Kedatangannya besok sungguh merobek lukaku yang lama!"

Sang adik terkejut. "Luka yang bagaimana, Kanda? Hubungan apa yang kau maksud?"

"Begini..." sang kakak gemetar, terbata-bata. "Aku ada hubungan cinta dengan istri Pemimpin Kung itu, karena dia adalah sahabat sekaligus bekas kekasihku dulu. Pemimpin Kung itu datang karena permintaan istrinya, Wan Cu, yang sebenarnya ingin menemuiku secara diam-diam untuk melepas rindu!"

"Ah!" sang putera mahkota terkejut. "Kau...?"

"Ya," kakaknya memotong. "Istri Pemimpin Kung itu datang karena cintanya padaku. Dan karena kami sudah bertahun-tahun tak bertemu lagi, bekas kekasihku itu ingin menemuiku untuk melepas rindu...!"

"Hm!" sang adik pucat. "Kalau begitu, kalian akan mengkhianati suaminya itu, Kanda. Kalian..."

"Nanti dulu. Permintaan ini adalah atas kehendak Wan Cu, bukan atas kehendakku. Tapi karena aku juga masih mencintainya dan tentu tak dapat menolak keinginannya, maka aku bersedia menemuinya pula. Aku harus berhati-hati, kami tak boleh ketahuan Pemimpin Kung itu dan harus bertemu secara rahasia. Aku tak bermaksud melakukan sesuatu yang tak pantas dengan bekas kekasihku yang telah menjadi istri orang lain itu!"

"Tapi kenangan lama bisa membuat orang melupakan segalanya, Kanda. Aku khawatir pertemuan itu bakal berbuntut panjang."

"Tidak, aku berjanji tak akan menggaulinya, Adik Pangeran. Ini adalah pertemuan terakhir dan paling akhir dari hubungan kami!"

"Lalu apa maksudmu?"

"Aku ingin minta bantuanmu, Adik Pangeran. Kau temanilah Pemimpin Kung itu sementara kami berdua!"

Sang adik terkejut. "Kau menyodorkan aku sementara kalian bertemu? Bagaimana jawabanku nanti kalau Pemimpin Kung itu bertanya tentang istrinya?"

"Wan Cu dapat mengatur semuanya itu, Adik Pangeran. Pokoknya dia ingin lolos dari suaminya saat menemuiku. Itu urusan dia, Pemimpin Kung tak mungkin bertanya padamu!"

Putera mahkota mengerutkan kening, bingung. Dia berpikir keras dengan muka yang tiba-tiba gelap. Dia teringat bahwa besok harus menemani ayahnya menerima tamu, yaitu pemimpin suku liar di luar tembok besar. Hubungan itu tidak boleh rusak karena keinginan ayahnya untuk berdamai dan menjaga ketenteraman rakyat. Tentu bakal geger kalau hubungan kakaknya dengan istri Pemimpin Kung ketahuan.

Namun, dia tidak tega mendengar permintaan tolong kakaknya. Putera mahkota menjadi bimbang. Dia takut jika kakaknya lupa daratan dan menjalin hubungan cinta kembali.

Belum sempat dia menjawab, kakaknya memegang lengannya. "Adik Pangeran, tak percayakah kau padaku? Kami hanya sekadar ingin bercakap-cakap, tak lebih tak kurang. Kami tak akan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan permusuhan, aku bersumpah!"

Sang adik tertegun.

"Sungguh, ini permintaan bekas kekasihku itu untuk melepas kangen. Katanya ada sesuatu yang penting yang hendak dibicarakan juga, menyangkut gerak-gerik suaminya yang mencurigakan!"

"Maksudmu?"

"Pemimpin Kung katanya mau memberontak. Dia hendak merebut kekuasaan dan menyiapkan pasukan besar untuk menyerang Ayahanda Kaisar!"

"Ah...!" putera mahkota terkejut. "Kau yakin?"

"Begitu kata bekas kekasihku itu. Maka dapat kau bayangkan betapa pentingnya pertemuanku besok!" Sang kakak mengeluarkan sehelai surat dan memberikannya pada sang adik.

Ketika sang adik membaca surat dari Wan Cu itu, hatinya goncang. Dia pucat, menggigil, dan mengembalikan surat itu. Kabar itu nyata; Pemimpin Kung berencana memberontak!

"Baik, kau pergilah besok, Kanda Pangeran. Korek dan dapatkan seluruh keterangan dari bekas kekasihmu itu. Tapi ingat, karena ini baru merupakan dugaan dan kita harus berhati-hati, jangan kau menggauli istri Pemimpin Kung itu. Kau berjanji?"

"Aku berjanji, Adik Pangeran. Terima kasih atas kepercayaanmu ini!" Siauw-ong-ya bangkit, memeluk adiknya dengan penuh kegembiraan, lalu pergi meninggalkan sang putera mahkota yang masih tercenung.

Hari itu, putera mahkota gelisah. Dia telah melibatkan diri dalam skandal kakaknya. Namun, karena surat tadi cukup mengguncangkan hatinya, dia menindas perasaan tak enaknya dengan alasan yang lebih kuat: mendapatkan informasi mengenai rencana pemberontakan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment