Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 95

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 95

Karena keselamatan negara lebih penting daripada urusan pribadi, sang pangeran menggigit bibir dan akhirnya kembali ke tempatnya sendiri. Ia tidak tahu bahwa diam-diam kakaknya terbahak di sana, tertawa bergelak sampai mengeluarkan air mata.

Begitu girang dan gembiranya.

Ketika dua kakak beradik itu berpisah dan sang putra mahkota menjadi gelap dan gelisah oleh berita yang dibawa kakaknya, rencana dan akal licik pun siap mengguncang kedudukan putra mahkota tersebut.

Pagi itu, seperti yang dikatakan Siauw-ong-ya, istana memang mendapat tamu.

Seorang laki-laki tinggi gagah bermuka merah menghadap kaisar, diiringi seorang wanita cantik bersanggul kupu-kupu yang semampai dengan pinggang ramping. Mereka diikuti ratusan pengiring yang membawa berpeti-peti sutra dan bahan makanan, dipikul dan memasuki kota raja dengan sambutan hangat.

Ketika iringan itu tiba di istana dan laki-laki tinggi besar itu—yang tidak lain adalah pemimpin Kung—bersama istrinya menaiki tangga istana, putra mahkota telah menyambutnya mewakili kaisar yang duduk di dalam menanti tamunya.

"Selamat datang, kami gembira menerima kunjunganmu, Kung-ghoda (pemimpin Kung). Semoga Tuhan memberkahi kunjungan ini!" putra mahkota berseru. Mereka saling memberi hormat dan putra mahkota diam-diam melirik wanita di sebelah laki-laki gagah itu, harus mengakui dan sedikit tergetar bahwa wanita itu memang cantik.

Tak heran kalau kakaknya pernah tergila-gila.

Ketika laki-laki tinggi besar itu tersenyum dan membalas hormat seraya memperkenalkan beberapa pembantu dekatnya, sang pangeran membawa tamunya masuk ke dalam.

Di sana, kaisar mendapat penghormatan lebih besar. Pemimpin Kung menekuk satu kakinya, sementara yang lain berlutut. Ketika kaisar membalas menyambut dan menyuruh pemimpin itu duduk di kursi yang telah disediakan, pasangan suami istri itu mendapat pelayanan istimewa.

Pemimpin Kung mempersembahkan upeti, sebagaimana tata cara setiap tahun. Persembahan sebagai tanda hormat dan tunduk pada kaisar yang memiliki kekuasaan lebih tinggi di atas dirinya.

Ketika mereka mulai bercakap-cakap dan kaisar menanyakan kesejahteraan negeri tamunya, putra mahkota yang tampak penuh selidik mulai memperhatikan gerak-gerik tamunya itu. Namun, pemimpin Kung tidak menampakkan gejala mencurigakan.

Laki-laki gagah itu memperlihatkan sikap biasa, sementara istrinya mulai mengerling dan melirik putra mahkota, agaknya tahu bahwa putra mahkota telah mendapat isyarat dari Siauw-ong-ya tentang pertemuan itu.

Satu jam kemudian, kaisar mempersilakan tamunya beristirahat sementara sutra halus dan lainnya telah diterima. Pemimpin Kung mendapat gedung kehormatan untuk beristirahat di gedung sebelah timur, sebuah istana kecil yang indah.

Di sini, pemimpin Kung dijamu makan dan minum. Putra mahkota tetap menyertai, mendampingi tamunya, dan mulai mendapat kerlingan yang semakin gencar dari istri tamunya itu.

Ketika malam tiba dan Wan Cu, istri pemimpin Kung, memberi tahu suaminya agar melihat tarian istana sebagai hiburan menjelang tidur, putra mahkota yang sementara ini hanya dikerling mulai diajak bercakap-cakap oleh wanita cantik itu setelah suaminya cukup puas mengobrol.

"Pangeran, ada tarian Dewi Naga di sini, bukan? Suamiku tertarik sekali, mungkin Paduka dapat memperlihatkannya."

"Ah, memang ada, Hujin (Nyonya). Tapi apakah Kung-ghoda benar tertarik atau tidak, aku tak tahu. Tarian itu agak menyeramkan, berbau mistik."

"Itulah, suamiku suka sekali, Pangeran. Paduka mungkin dapat memperlihatkannya!" Wanita ini membujuk suaminya, "Suamiku, agaknya ini malam paling tepat bagimu untuk melihat tarian mistik itu. Konon katanya, siapa dapat memegang lengan Dewi Naga akan panjang umur dan banyak bahagia!"

"Ah," suaminya tertawa. "Kau ini ada-ada saja, Isteriku. Bukankah umur di tangan Tuhan? Dan bahagia itu tinggal di tangan manusianya sendiri; kalau dapat mengatur hidup, tentu bahagia. Bukankah demikian, Pangeran?"

Sang pangeran mengangguk. "Memang benar, Kung-ghoda. Apa yang kaukatakan memang tepat. Umur di tangan Tuhan, tapi kalau manusia macam-macam, tentu umur pun menjadi pendek!" Dengan kata-kata ini, sang pangeran hendak menyindir tamunya, teringat rencana pemberontakan dan surat dari Wan Cu.

Namun, sang tamu yang tidak mengerti justru tertawa bergelak dan mendukung kata-katanya. "Benar, kau juga tepat sekali, Pangeran. Manusia yang macam-macam memang tak bakal berumur panjang. Sebaiknya manusia harus berdamai dan menjaga ketenteraman hidupnya!"

"Dan kau tak menonton tarian klasik itu?"

"Ah, tergantung Pangeran, Isteriku. Kalau dia mau memperlihatkannya tentu aku mau, kalau tidak tentu aku juga tak dapat memaksa."

"Ah, sang Pangeran tentu mau, Suamiku. Bukankah tak setiap hari kita tinggal di sini? Sebaiknya kau menonton itu, sang Pangeran tentu mengajak!" Wanita ini mengerling pada sang pangeran dan berbisik, "Pangeran, Paduka mau membawa suamiku, bukan? Tolong hibur dia, aku ingin beristirahat."

"Hujin capai?"

"Benar, Pangeran. Aku ingin menikmati kesendirianku. Lagi pula, Dewa Bulan tentu telah menunggu kedatanganku di alam mimpi!"

Sang pangeran tertegun. Istri pemimpin Kung itu telah mengeluarkan kata-kata sandi, ucapan tersamar yang mengandung rahasia. Isyarat bahwa wanita itu ingin menemui kakaknya.

Pemimpin Kung yang terheran mendengar bisik-bisik itu segera bertanya, "Kau bicara apa?"

Sang istri tertawa manis sekali. "Aku mengantuk, Suamiku. Aku berkata pada Pangeran agar mengizinkan aku beristirahat."

"Ah, kau tak nonton Dewi Naga?"

"Tidak, biar kau saja yang mewakiliku. Bukankah sama?"

Sang suami jadi tertegun. Namun, putra mahkota yang melihat berkelebatnya bayangan sang kakak tiba-tiba menghela napas menengahi. "Kung-ghoda, apa yang dikata isterimu memang benar. Wanita mudah capai, biarlah dia beristirahat dan kau kuantar melihat tarian itu." Lalu, memanggil seorang dayang, pangeran ini memandang Wan Cu. "Hujin, silakan beristirahat. Biar dayang ini melayani segala keperluanmu."

"Aih, terima kasih, Pangeran... terima kasih!" Ketika sang dayang sudah mendekat dan Wan Cu tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk banyak menolak, wanita ini sudah berkata dengan suara lembut, "Suamiku, maafkan aku. Aku lelah, seharian acara ini membuat tubuhku penat. Aku ingin beristirahat dulu!" Setelah mengangguk pada sang pangeran, wanita ini melenggang manis menuju ke dalam.

Sang pangeran berdebar. "Isterimu cantik sekali, Kung-ghoda. Sungguh beruntung kau memiliki dia."

"Ha-ha, itu nasib baikku, Pangeran. Dan yang lebih beruntung lagi adalah kesetiaannya; dia amat mencintaiku!"

Sang pangeran tak menjawab. Dia sudah mengajak tamunya itu ke gedung hiburan tempat dipentaskan berbagai tarian. Namun, karena tidak percaya pada sang kakak dan ingin menjaga suasana, diam-diam putra mahkota menyuruh seorang kepercayaannya mengikuti gerak-gerik Wan Cu dan Siauw-ong-ya. Ia ingin melihat apakah kakaknya dapat memegang janji dan tidak melakukan skandal, karena bagaimanapun Wan Cu adalah istri seorang tamu.

Namun, begitu pangeran menyuruh orang kepercayaannya, di lain pihak sesosok bayangan juga berkelebat mengikuti gerak-gerik Wan Cu dan Siauw-ong-ya yang sudah bertemu dalam sebuah kamar, tidak jauh dari tempat penginapan Kung-ghoda.

Ketika dua bayangan sama-sama berkelebat mengintai, di sudut tersembunyi, terlindung gerumbulan perdu dan semak-semak, sesosok bayangan juga mengintai sambil tersenyum mengejek. Bayangan ketiga, tidak lain adalah Bu-kongcu!

"Ha-ha, bagaimana, Wan Cu? Selamat?"

"Ih, selamat apanya, Kanda? Aku nyaris gagal, suamiku tak mau pergi!"

"Tapi sekarang kau di sini, bukan? Kita sudah bertemu, dan aku dapat melepas rinduku. Aih, aku harus melakukan banyak akal untuk pertemuan ini, Wan Cu. Dua orang itu sama-sama kita tipu. Ha-ha, mereka kerbau-kerbau dungu yang gampang kita kelabuhi...!" Siauw-ong-ya yang sudah memeluk Wan Cu di dalam kamar tiba-tiba mendesis, "Wan Cu, kau semakin cantik. Betapa rindu dan cintaku kepadamu. Kau masih sayang padaku, bukan?"

Wan Cu menggigil, terisak lirih, dan mengangguk.

"Dan kau siap melepas si tua bangka itu?"

"Aku... aku tak tahu, Kanda. Aku bingung."

"Bingung apanya? Semuanya sudah diatur, kita tinggal memencet tombol dan semuanya akan berjalan sesuai rencana!"

"Tapi aku takut, Kanda. Aku takut kalau kita gagal."

"Gagal? Ha-ha, tak ada yang akan gagal, Wan Cu. Semuanya tinggal dirimu saja. Kalau kau sudah mempersiapkan orang-orangmu dan bergerak malam ini juga, tentu pemberontakan itu berjalan. Suamimu serta ayahanda akan sama-sama terkejut, tapi sebelum mereka sadar akan apa yang terjadi, suamimu malam ini juga akan terbunuh!" Siauw-ong-ya tertawa bergelak, meraih pinggang yang ramping itu, tiba-tiba mencium, mendekap, dan melumat bibir yang merah basah itu, disambut keluhan dan rintih lirih wanita cantik ini.

Ketika Wan Cu menggigil dan melepaskan diri, Siauw-ong-ya bersinar-sinar memandang kekasihnya itu. "Wan Cu, kau kekasih yang hebat. Persekutuan kita tak boleh gagal!"

"Ya, tapi..."

"Tapi apalagi? Kau tak perlu khawatir, Kasihku. Aku pun telah menyiapkan orang-orangku untuk menumpas pemberontakan itu. Malam ini rencana kita harus tetap jalan, suamimu harus dibunuh!"

Wan Cu tiba-tiba menangis.

"Kenapa kau menangis? Kau mencintai tua bangka itu?"

Wan Cu tersedu-sedu. "Aku tak mencintainya, Kanda. Tapi bagaimanapun dia baik kepadaku. Aku teringat kasih sayangnya. Aku... aku tak tega melihat dia terbunuh...!"

"Hm, kalau begitu tak perlu kau ke sini. Kenapa datang?" Siauw-ong-ya marah, memandang kekasihnya itu dan tampak tidak puas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment