Chapter 96
Wan Cu yang tidak menjawab dan menangis semakin sedih, tiba-tiba menubruk pangeran itu.
"Kanda, benarkah semua janji yang kau katakan itu? Benarkah kau akan menjadikanku permaisuri jika kelak kau dapat merebut takhta?"
"Hm, aku tak pernah menipu, Wan Cu. Kenapa bertanya begitu? Kalau kau ragu, batalkan saja semua rencana ini. Kita tak perlu bersekutu!"
Wan Cu terisak. Ia didorong melepaskan diri. Dua pasang mata beradu, masing-masing memancarkan keraguan dan pertanyaan. Namun, begitu Siauw-ong-ya mengeraskan dagu, wanita itu tiba-tiba menghentikan tangisnya dan berdiri tegak. Ia teringat pertemuan mereka sebulan yang lalu melalui utusan, lalu ia menghela napas dan mengangguk.
Begitu pandangan keduanya melembut dan kembali mesra, wanita itu berbisik, "Aku percaya, Kanda. Aku percaya padamu!"
"Nah, kalau begitu tak perlu ragu. Buang semua kebimbanganmu dan teruskan rencana ini. Bukankah pekerjaan kita sudah setengah jalan?"
"Ya."
"Pengawalku juga melindungiku, Wan Cu. Kau tak perlu takut atau cemas. Apa yang sudah kita atur harus kita laksanakan."
Wan Cu mengangguk. Saat itu, ia teringat surat dari kekasihnya—seorang pangeran yang dulu mencintainya dan dicintainya. Mereka pernah memadu kasih dan menikmati kebahagiaan bersama, namun sayang tidak berlangsung lama karena Wan Cu memergoki pangeran itu "ada main" dengan wanita lain. Dibakar cemburu, ia pun menerima pinangan suaminya yang sekarang.
Bertahun-tahun hidup di luar Tembok Besar bersama suaminya, ia berhasil melupakan Siauw-ong-ya. Namun, ia akhirnya dilanda kecewa karena pernikahannya dengan pemimpin Kung itu tidak membuahkan keturunan. Entah dirinya yang mandul atau suaminya.
Sebulan yang lalu, ia mendadak menerima kunjungan Bu-kongcu, utusan Siauw-ong-ya, yang membawa surat berisi bujukan. Pangeran itu mengajak mereka menjalin kembali hubungan lama, mengungkit ketidakbahagiaan Wan Cu yang belum memiliki keturunan setelah sekian tahun menjadi istri Kung-ghoda. Surat itu menceritakan betapa Siauw-ong-ya amat menderita dan terpukul oleh kepergiannya, serta menyatakan bahwa hubungan pangeran itu dengan wanita lain dulu hanyalah iseng belaka. Pangeran tetap mencintai Wan Cu sebagai satu-satunya wanita yang ia puja lahir dan batin.
Karena wanita memang lemah terhadap pujian dan kata-kata manis, Wan Cu akhirnya tergerak. Terlebih setelah dijanjikan akan menjadi permaisuri jika rencana mereka berhasil dan Siauw-ong-ya menjadi kaisar. Janji dan bujukan manis itu amat memikat, membuat Wan Cu tergelincir dan bersedia mengkhianati suaminya.
Begitulah, mereka mulai menjalin hubungan kembali. Mereka mengatur rencana secara diam-diam. Kian hari hubungan mereka kian dekat, melampaui kehangatan yang dulu. Ketika rencana sudah matang, Wan Cu mengajak suaminya ke kota raja menghadap kaisar. Sebenarnya, waktu mempersembahkan upeti masih dua minggu lagi. Wan Cu sengaja mempercepat jadwal dengan alasan kaisar akan berlibur di pegunungan Hweng-san. Karena sangat mencintai dan memercayai istrinya, Kung-ghoda akhirnya menyetujui ajakan tersebut.
Hari itu mereka telah tiba. Kung-ghoda tak menyangka sedikit pun bahwa malam itu ia akan celaka karena perbuatan istrinya. Wan Cu, yang membawa rombongan pengiring upeti, sesungguhnya membawa pasukan khusus yang menyamar sebagai pemikul tandu atas petunjuk Siauw-ong-ya.
"Bagaimana, kau masih bimbang juga, Wan Cu?"
Wan Cu menggeleng sambil tersenyum manis. "Kalau begitu kenapa kau diam? Apa yang kau renungkan?"
"Aku merenungkan suratmu, Kanda," ujar Wan Cu sambil memperlebar senyumnya. "Aku teringat semua janji-janjimu yang manis."
"Kau tak percaya?"
"Bukan begitu, hanya saja aku ingin tahu sampai di mana kebenaran ceritamu." Wan Cu menghampiri pembaringan dan duduk memandang kekasihnya.
Ketika sang pangeran mengerutkan alis, wanita itu menghela napas. "Kanda, aku ingin tahu sampai di mana cintamu itu. Apakah benar kau hanya mencintaiku seorang? Bagaimana kalau kau main gila lagi seperti dulu?"
"Ah, aku tak akan mengulangi kebodohanku itu, Wan Cu. Itu kesalahanku yang amat besar!"
"Jadi kau berjanji?"
"Aku berjanji dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tak akan menoleh lagi pada wanita lain selain dirimu!"
"Sampai kelak rencana kita berhasil? Sampai kau dapat menjadi kaisar?"
"Maksudmu?" Siauw-ong-ya tertegun.
"Begini, Kanda. Aku memiliki syarat yang belum kusampaikan. Aku ingin kau memiliki diriku seorang, seperti halnya aku memiliki dirimu. Bagaimana kalau kelak kau tidak mengambil selir sebagai bukti cintamu padaku?"
Wajah pangeran itu berubah. "Maksudmu... aku tak boleh bersenang-senang sebagai hak seorang kaisar?"
"Ya, aku muak dengan sepak terjang kaisar. Kalau kau benar mencintaiku, kau tentu tak keberatan menerima usulku. Atau..." Wan Cu tersenyum mengejek, pandangannya menjadi dingin, "kalau kau ingin bersenang-senang, aku pun akan mengimbangimu. Kita sama-sama berhak mencari pasangan lain sebagai iseng-iseng!"
"Tidak!" Siauw-ong-ya memucat. "Aku tak akan melakukan itu, Wan Cu. Dan kau pun tidak boleh!"
Pangeran itu mencengkeram pundak kekasihnya dengan marah. "Wan Cu, tak perlu kita bicarakan hal yang membuat panas. Aku mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu. Permintaanmu akan kupenuhi!"
"Sungguh?"
"Demi arwah nenek moyangku!"
"Terima kasih..." Wan Cu yang girang merangkul kekasihnya dan memberikan ciuman hangat. "Kanda, aku percaya sumpahmu. Kalau begitu, kita boleh melakukan apa yang kita ingini!"
Keduanya saling berciuman dan merebahkan diri di pembaringan. Siauw-ong-ya tertawa gembira karena ganjalan di hati kekasihnya telah lenyap. Saat pakaian mereka mulai terlepas, mendadak pintu didobrak oleh sesosok bayangan.
"Hujin, perbuatanmu sungguh terkutuk!"
Wan Cu dan sang pangeran terkejut. Mereka yang dalam kondisi setengah telanjang tersentak di tempat tidur. Wajah Wan Cu pucat pasi, ia segera menarik selimut untuk menutupi dadanya. Begitu mengenali sosok tersebut, Wan Cu tergetar, "Buyima...!"
Lelaki tinggi besar berkulit hitam itu mendelik. Ia adalah Buyima, tangan kanan suami Wan Cu. Meski Siauw-ong-ya tidak mengenalnya, Wan Cu sangat mengenal sosok gagah yang amat setia pada Kung-ghoda itu. Buyima berkelebat mencengkeram keduanya.
"Hujin, dan kau, Pangeran. Maafkan hamba, hamba harus membawa kalian berdua ke hadapan pemimpin!"
Wan Cu dan Siauw-ong-ya tidak berdaya. Mereka kehilangan akal karena kedatangan Buyima benar-benar di luar dugaan. Mereka ngeri membayangkan harus dihadapkan pada Kung-ghoda dan kaisar. Namun, sebelum mereka menjawab, sesosok bayangan lain muncul menangkis cengkeraman Buyima.
"Buyima, kau tak boleh lancang... Duk!"
Seorang laki-laki tinggi kurus muncul dan mementalkan cengkeraman Buyima. Keduanya terhuyung. Ketika mereka tegak kembali dan Siauw-ong-ya melihat siapa yang datang, pangeran itu berseru, "Tio-ciangkun!"
"Maaf," ujar Tio-ciangkun sambil menjura. "Hamba diperintahkan Putra Mahkota untuk mengawasi gerak-gerik Buyima dan menyelamatkan Paduka. Silakan Paduka menyingkir, hamba akan menghadapinya!"
Tio-ciangkun menatap tajam ke arah Buyima, "Buyima, kau laki-laki tak tahu aturan. Ini kamar Siauw-ong-ya, kenapa kau berani masuk?"
Buyima menggigil menahan amarah. Ia terkejut melihat kehadiran Tio-ciangkun yang dikenal lihai dan dekat dengan Putra Mahkota. "Aku datang untuk menangkap dua orang itu, Tio-ciangkun. Mereka melakukan zina dan harus kutangkap basah sebagai bukti!"
"Kau bukan di rumah sendiri, Buyima. Kau melanggar aturan dan kesantunan istana."
"Kalau begitu mereka akan melarikan diri dan menyangkal perbuatan mereka. Keparat, apa yang kau mau? Kau akan membela orang-orang bersalah itu?"
Tio-ciangkun tertawa dingin. "Buyima, ini adalah tempat tinggal kami. Aku pengawal istana, sudah sepatutnya aku yang mengamankan tempat ini. Kau seorang tamu, kenapa lancang membuat onar?"