Chapter 98
Tio-ciangkun mengerang dan memucat saat pundaknya mendadak kaku. Tubuhnya terasa sakit seolah dikeroyok ribuan semut, hingga ia terhuyung dan terjungkal tanpa ada serangan fisik, lalu roboh di tengah gelak tawa lawannya.
Tatkala panglima itu mendelik dan mendesis menahan sakit, tiba-tiba terdengar suara ribut di kompleks istana sebelah selatan, tempat para pemikul tandu diistirahatkan. Suara itu disusul oleh denting senjata beradu dan kobaran api yang membakar daerah tersebut.
Saat panglima itu melotot dan memahami apa yang terjadi, Bu-kongcu berkelebat pergi sambil tertawa mengejeknya. "Tio-ciangkun, dua menit lagi kau mampus. Maaf, aku tak dapat menemanimu lagi, ha-ha!"
Tio-ciangkun mendelik. Ia sadar akan bahaya yang mengancam dirinya. Ia menyesal karena tidak segera melapor kepada junjungannya, merasakan racun yang memasuki darahnya telah membakar tubuhnya sedemikian rupa hingga mustahil ditolong lagi. Melihat Bu-kongcu meninggalkannya dan menyadari keributan itu tentu dicetuskan oleh orang-orang Kung-ghoda, panglima itu menggigil berusaha mengangkat tubuhnya dengan susah payah.
"Bu-kongcu, kau dan Siauw-ong-ya ternyata orang-orang keji. Terkutuk kalian!"
Bu-kongcu tidak mendengar. Pemuda itu telah meninggalkan sang panglima jauh di tempat keributan itu, di mana api berkobar di mana-mana dan membuat istana geger. Teringat nyawanya hanya tersisa dua menit dan putera mahkota harus segera ditemui, panglima itu terhuyung jatuh bangun mencari junjungannya. Ia berhasil bertemu, namun dalam keadaan sekarat.
Saat sang pangeran terbelalak, Tio-ciangkun menahan sakit dan hanya sempat mengucapkan beberapa patah kata, "Pangeran, Siauw-ong-ya tak dapat dipercaya. Mereka bersekongkol, hamba... hamba dicelakai Bu... Bu..." Tio-ciangkun mengeluh, mengaduh, dan tiba-tiba terguling di depan junjungannya tanpa sempat meneruskan kata-katanya. Ia tewas.
Saat putera mahkota terpaku, suara hiruk-pikuk pertempuran terdengar meneriakkan tentang pemberontakan pasukan tamu. "Pasukan liar memberontak! Pasukan liar memberontak!" Pangeran itu tertegun. Keributan di luar membuat semua orang terkejut, bahkan kaisar terjaga dari tidurnya. Namun, ketika dua jam kemudian keributan berhasil dipadamkan dan Siauw-ong-ya muncul memberi laporan, kaisar tertegun melihat kepala Kung-ghoda dibawa oleh puteranya itu.
"Ayahanda, maafkan hamba. Pengiring Kung-ghoda ternyata pasukan khusus yang disiapkan untuk menyerang Paduka. Inilah buktinya, hamba membawa kepala pemimpin suku liar itu yang dibunuh oleh Bu-kongcu!"
Kaisar tertegun. Siauw-ong-ya lalu menceritakan kejadian itu, bahwa pemimpin suku Kung sebenarnya akan membuat huru-hara, menyerang istana, dan ingin membunuh kaisar saat persembahan upeti—sebuah siasat untuk mengelabui orang. Ketika kaisar bertanya dari mana ia mendapatkan informasi itu dan siapa yang menyelamatkan istana, pangeran itu menonjolkan dua temannya, Wan Cu dan Bu-kongcu.
"Wan Cu inilah yang memberi tahu segalanya, Ayahanda. Kalau bukan karena dia, tentu kita semua sudah menjadi korban kebiadaban Kung-ghoda."
"Ah, istri pemimpin liar itu?"
"Benar, Ayahanda. Paduka boleh bertanya padanya."
Kaisar terbelalak. Baginya aneh bahwa Wan Cu mengkhianati suaminya sendiri, melaporkan kejadian itu, dan berakibat suaminya dibunuh. Namun, ketika Wan Cu menangis dan mengatakan bahwa ia harus membela bangsa Han, kaisar akhirnya dapat menerima alasan patriotisme tersebut, apalagi mendengar bahwa Kung-ghoda ternyata diam-diam berambisi ingin menjadi kaisar. Setelah semua rencana Kung-ghoda dibeberkan, Wan Cu justru dibebaskan dan dianugerahi jabatan menteri kewanitaan dan budaya.
Setelah keadaan tenang, Wan Cu menangis kegirangan. Keesokan harinya, dua kekasih itu bertemu dan memadu cinta, sembari memberikan hadiah kepada Bu-kongcu atas jasa besarnya. Mereka tentu tak melupakan murid Sai-mo-ong itu. Namun, ketika putera mahkota datang bertamu dan Siauw-ong-ya menyambut dengan terkejut, sang adik yang melihat Wan Cu di sana segera mengerutkan kening.
"Ada apa, Adik Pangeran? Kau tidak memberi tahu pengawal?"
"Maaf," putera mahkota menggeleng. "Aku datang secara diam-diam, Kanda. Aku ingin bicara empat mata denganmu."
"Boleh, mari. Silakan duduk!" Namun, teringat pada Wan Cu, pangeran itu segera menyadari, "Ah, maaf. Aku sedang menjamu kekasihku. Aku ingin mengucapkan syukur atas hadiah Ayahanda untuk Wan Cu!"
"Ya, aku tahu. Dan rasanya perlu kuucapkan selamat pula pada kekasihmu."
Wan Cu tersipu dan memberi hormat, "Pangeran, hamba hanya sekadar menerima anugerah belaka. Terima kasih atas ucapan Paduka."
"Dan apakah dia boleh mendengar urusanmu, Adik Pangeran?"
"Hm," putera mahkota mengangguk. "Kalau dia di sini, tentu saja boleh, Kanda. Aku ingin bertanya tentang Tio-ciangkun!"
"Tio-ciangkun?" Siauw-ong-ya terkejut. "Bukankah dia tewas, Adik Pangeran? Apa yang ingin kau ketahui?"
"Justru itulah. Kematiannya membuat aku penasaran. Katanya dia dibunuh oleh..."
"Buyima!" sang kakak memotong dengan wajah memerah dan tinju terkepal. "Dia tewas dibunuh tangan kanan Kung-ghoda itu. Aku menyesal tak dapat menolongnya karena aku terlambat datang!"
Pangeran itu tertegun. Jawaban yang mantap ini membuatnya terbelalak. Tadinya ia mengira Bu-kongcu pelakunya karena Tio-ciangkun sempat mengucapkan kata "Bu" sebelum ajal. Ia tidak menyangka Buyima yang dimaksudkan, sehingga ia salah duga.
"Aku ikut berbela sungkawa atas kematian pengawalmu. Sungguh tak kukira Buyima yang gagah itu demikian kejam. Dia membunuh Tio-ciangkun gara-gara Kung-ghoda. Kalau saja tak ada Bu-kongcu di sini, mungkin kita pun ikut dibunuhnya."
"Jadi Buyima masuk ke kamarmu, Kanda?"
"Benar. Dan Tio-ciangkun pun mengintai pembicaraan kami. Entah atas suruhanmu atau karena melihat bayangan Buyima," sang kakak menyindir cerdik. "Ketika Buyima masuk dan menyerang, pengawalmu muncul. Mereka bertempur, tapi Tio-ciangkun roboh. Lalu muncul Bu-kongcu yang segera menyelamatkan kami dan membunuh Buyima!"
"Sayang," pangeran mahkota menarik napas. "Kalau kau mencegahnya, Buyima tak perlu dibunuh. Sebenarnya kita perlu keterangan darinya tentang semua kejadian ini."
Siauw-ong-ya bangkit berdiri dengan mata membelalak. "Adik Pangeran, kau tampaknya mencurigai kami. Bukankah Wan Cu sebagai saksi sudah cukup? Dia telah menyelamatkan kita dari kebiadaban suaminya. Untuk apa lagi memberi hidup pada dua keparat itu?"
"Maaf," putera mahkota terkejut, menyadari sikapnya yang menuduh. "Aku tidak memaksudkannya begitu. Hanya saja, kematian Buyima menghentikan penyelidikanku. Sudahlah, aku percaya. Tapi bagaimana sekarang janjimu dengan Wan Cu ini?"
"Maksudmu?"
"Kau tidak akan berhubungan di luar batas seperti katamu dulu, Kanda. Atau..."
"Ah, nanti dulu," sang kakak tertawa memotong. "Apa yang kukatakan dulu tentu tak berlaku sekarang. Wan Cu sudah janda, masa janjiku dulu harus dipegang sekaku itu? Justru aku minta pendapatmu, bagaimana kalau dia kuambil istri? Apakah kau berkenan menyetujuinya, atau aku harus memberi tahu Ayahanda Kaisar?"
"Kau mau menikahinya?" Pangeran mahkota tertegun.
"Kalau kau setuju, Adik Pangeran. Atau mungkin kau akan bersikap kejam pada kami berdua yang sudah saling mencinta?"
Sang adik terpaku melihat kakaknya menunduk dengan mata berkaca-kaca, seolah khawatir jika ia tak setuju. Namun, putera mahkota justru tersenyum dan memegang lengan kakaknya.
"Kanda, kenapa sikapmu seperti anak kecil? Bukankah pernikahan adalah urusan pribadi? Siapa yang tidak setuju? Kita kelak harus bekerja sama; apa yang kau rasa baik, tentu tak perlu kutolak."