Chapter 99
"Itu urusanmu, bukan urusanku!"
"Jadi, kau setuju?"
"Kalau kau memang sudah sama-sama mencintai, mengapa tidak?"
Siauw-ong-ya menyambar adiknya dengan penuh kegembiraan, lalu tiba-tiba berseru pada Wan Cu, "Wan Cu, calon kaisar sendiri sudah menyetujui hubungan kita. Ayo, ucapkan terima kasih!"
Wan Cu tersipu-sipu, lalu maju memberi hormat. "Pangeran, terima kasih atas perkenan Paduka. Semoga kami mendapat berkah kebahagiaan yang melimpah atas restu Paduka!"
Siauw-ong-ya tertawa terbahak-bahak. Persetujuan adiknya itu berarti melenyapkan ganjalan yang mungkin ada; tentu saja ia gembira bukan main. Namun, sang adik yang melepaskan diri memandang kakaknya dan tiba-tiba bertanya, "Dan kapan pernikahan itu dilangsungkan, Kanda?"
Wan Cu, yang melihat sorot ganjil dari pandangan Putra Mahkota, tiba-tiba mendahului menjawab, "Maaf, kami tidak tergesa melaksanakan pernikahan, Pangeran. Apalagi, hamba juga harus berkabung untuk kematian suami hamba."
"Ah, kau setia pada pemberontak?"
Wan Cu tersenyum sedih. Ia kembali melihat sorot ganjil Putra Mahkota itu, yang rupanya ingin mengujinya. "Pangeran, mohon Paduka pisahkan kedudukan hamba sebagai istri seorang pemberontak dan istri dari laki-laki pemimpin liar bernama Kung itu. Suami hamba memang memberontak, dan untuk itu dia telah menebus dosa dengan kematiannya. Tapi, kedudukan hamba sebagai istri seorang laki-laki biasa yang dulu mencintai dan menyayangi hamba, haruskah dicampuradukkan dengan pemberontakan Kung-ghoda? Hamba wanita biasa, Pangeran. Untuk kedudukan ini, hamba harus mengingat segala kebaikan suami hamba. Hamba menyatakan berkabung bukan sebagai istri seorang pemberontak, melainkan sebagai istri biasa terhadap suami yang biasa pula, sesuai hukum adat!"
"Ah, bagus!" Sang Pangeran terbelalak, melihat watak dan sikap yang agung dari wanita ini.
"Kau mendapatkan wanita yang mulia, Kanda Pangeran. Sungguh beruntung kalau calon istrimu demikian hebat!"
"Dan hamba berjanji tidak mau disentuh sebelum menikah, Pangeran. Paduka boleh tanya kakak Paduka kalau tidak percaya!" Wan Cu menambahi, tentu saja sambil melirik kekasihnya agar mereka dapat bersandiwara dengan baik.
Ketika Siauw-ong-ya tertawa terbahak-bahak dan membenarkan ucapan itu, akhirnya sang Putra Mahkota terperangah dan kagum pada Wan Cu. Ia menganggap Wan Cu sebagai istri yang benar-benar luar biasa karena dapat menjaga kesucian dan harga dirinya. Ia silap dan terkecoh oleh permainan kedua orang itu. Pasangan yang kompak dalam kedustaan!
Ketika sang Pangeran tertawa dan kakaknya menuangkan arak, kecurigaan dan kekecewaannya tentang kematian Tio-ciangkun tersapu bersih oleh sikap dan kata-kata manis pasangan berbahaya ini. Kecurigaannya tentang Bu-kongcu lenyap begitu saja; ia percaya pada omongan kakaknya dan mengira bahwa kematian pengawalnya memang betul di tangan Buyima, bukan Bu-kongcu.
Setelah Putra Mahkota kembali dan Siauw-ong-ya berhasil menanamkan kepercayaan yang mantap, ia segera menyambar lengan kekasihnya. "Wan Cu, kau hebat. Omonganmu berhasil mengelabui adikku!"
Wan Cu tersenyum. "Demi kebaikan kita, Kanda. Kalau tidak kunyatakan begitu, bukankah adikmu akan menganggapku rendah?"
"Ya, dan sekarang kedudukanmu demikian tinggi di matanya, Wan Cu. Adikku yang tolol itu tentu tak akan menyangka kalau kita sudah... ha-ha!" Pangeran ini mendekap kekasihnya, menciumi bertubi-tubi sementara tangannya menggerayang ke sana-sini, membuat Wan Cu terkekeh dan menggeliat geli. Tentu saja membuat Siauw-ong-ya semakin beringas dan gemas.
Ketika Wan Cu disambar dan digendong ke dalam, wanita ini mengeluh membalas ciuman kekasihnya, tidak mengelak lagi, dan pasrah dibawa ke pembaringan. Saat Siauw-ong-ya menubruk dan menutup pintu kamar, apa yang dikatakan wanita ini bertolak belakang dengan apa yang dilakukan. Sayang, hal itu tidak dilihat oleh Putra Mahkota karena ia telah pergi. Begitu keduanya cekikikan dan tertawa-tawa, hanya setanlah yang tahu apa yang dikerjakan dua orang ini.
***
Hari itu, sebulan setelah kejadian di atas, Kim-mou-eng dan Sin-piauw Ang-lojin memasuki kota raja. Mereka tentu saja tidak masuk di siang hari; mereka bersikap waspada dan tahu musuh tentu menyulitkan jika kepergok. Sin-piauw Ang-lojin yang mengajak temannya memasuki istana di kala gelap disambut oleh pendekar itu dengan kening berkerut.
"Lojin, tahukah kau di mana letak gedung Putra Mahkota?"
"Tentu, Pangeran itu tinggal di sebelah barat istana, Taihiap. Dan kita akan ke sana menemui Pangeran itu."
"Kau tak salah?"
"Tidak, marilah!"
Sin-piauw Ang-lojin segera melangkah, melayang ke atas tembok memasuki kompleks istana, diikuti Kim-mou-eng yang bergerak seperti hantu di malam gelap. Ketika dua orang itu bergerak bagaikan bayangan hitam yang menyelinap di balik pohon-pohon besar, akhirnya mereka tiba di sebuah gedung yang tinggi bergenteng merah.
"Itulah, di sana Putra Mahkota tinggal!"
Kim-mou-eng mengangguk. Ketua Seng-piauw-pang itu mengajaknya turun, melayang menginjak rumput yang tebal. Namun, Kim-mou-eng yang melihat sesuatu di bawah sana tiba-tiba menarik lengan kakek tinggi besar ini dengan sentakan kuat, berjungkir balik ke atas tembok kembali, mengejutkan kakek itu.
Ketika ketua Seng-piauw-pang ini terbelalak dan berseru tertahan, tahu-tahu puluhan ular mendesis bangun karena terkejut oleh suara Sin-piauw Ang-lojin tadi.
"Ah, ular-ular jahanam?"
Kim-mou-eng mengangguk. "Dan kau hampir menginjaknya, Lojin. Ular-ular ini rupanya dipasang untuk menjaga kedatangan kita. Hati-hati!"
Kakek itu tertegun. Puluhan ular yang mendesis di bawah semak-semak itu tiba-tiba berisik. Persis ketika mereka menatap ke bawah, mendadak sebuah lampu sorot mengarah ke mereka.
"Siap!" Kim-mou-eng bergerak cepat. Pendekar ini lagi-lagi membetot temannya, secepat kilat melayang ke atas pohon. Begitu cepat hingga lampu sorot itu tidak menangkap bayangan mereka. Saat Sin-piauw Ang-lojin kembali terkejut, terlihat bayangan dua orang pengawal berlari ke tempat itu.
"Siapa di sini?"
Sin-piauw Ang-lojin gusar. Ia tidak menyangka sekitar gedung Putra Mahkota sudah dijaga ketat, bahkan ular pun ikut digerakkan untuk menanti musuh. Rupanya mereka memang sudah menunggu kedatangan mereka. Namun, sebelum kakek ini bergerak menyerang, tiba-tiba Kim-mou-eng mendahului melempar dua daun kering yang menyambar dua orang itu.
"Cep-cep!"
Dua pengawal itu roboh. Sin-piauw Ang-lojin kagum melihat dua daun kering itu melekat di tenggorokan dua pengawal, mencekik jalan darah gi-heng-hiat, tentu saja membuat mereka roboh dan tidak sempat berteriak lagi. Masing-masing tidak tahu apa yang terjadi; lampu kecil yang mereka bawa tiba-tiba jatuh dan pecah ke tanah, membakar sekitar dan membuat ular-ular ribut melarikan diri. Sekarang tampak bahwa di sepanjang tembok ternyata banyak barisan ular!
Sin-piauw Ang-lojin yang terbelalak dan mengumpat marah tiba-tiba disorot lagi oleh sebuah lampu yang entah berasal dari mana.
"Awas!"
Kali ini Kim-mou-eng tidak dapat menolong. Ia saat itu sedang memeriksa ke bawah dan terkejut melihat sinar menyorot temannya. Sin-piauw Ang-lojin menghindar, namun kurang cepat. Seorang pengawal berteriak dari jauh, "Ada orang...!"
Ketua Seng-piauw-pang ini mengumpat. Ia melayang turun keluar tembok, marah dan menyesal karena dirinya ketahuan. Namun, sebuah tali yang menjerat di bawah tiba-tiba membuat kakek ini terpelanting dan berteriak kaget karena menginjak perangkap. Sebatang tombak tiba-tiba meluncur menyambar dadanya. Kim-mou-eng membentak, mengibaskan lengannya hingga tombak itu patah, lalu menendang kakek tinggi besar ini.
"Lojin, hati-hati. Sebaiknya jangan jauh dariku!"
Sin-piauw Ang-lojin semburat. Ia malu dan kaget mengapa dirinya tidak awas dan kalah dibandingkan pendekar ini. Ia menyesal telah menjauhkan diri dari Kim-mou-eng. Kini, ia berjungkir balik melompat bangun dengan muka merah. Saat ia terbelalak dan Kim-mou-eng menyentuh bahunya, beberapa pengawal ribut-ribut mendatangi mereka.
"Ada orang! Ada maling!"
Lampu tiba-tiba dipasang di mana-mana. Tempat itu menjadi terang, tentu saja membuat kakek ini gusar tetapi tidak berani bertindak sendiri, menunggu Kim-mou-eng. Ketika Pendekar Rambut Emas mengangguk dan menyambar lengannya, mendadak pendekar itu berkelebat ke arah timur.
"Lojin, kita masuk melalui pohon besar itu. Kau sanggup meloncat lurus?"
"Akan kucoba, Taihiap. Tapi kalau gagal, tolong kau bantu!"
"Ya," Pendekar Rambut Emas yang sudah berkelebat ke arah pohon besar yang dimaksud tiba-tiba menjejakkan kakinya, meluncur lurus begitu saja seolah papan yang dilontar ke atas. Ia tegak namun ringan mencapai dahan yang tertinggi.
Ketika ketua Seng-piauw-pang itu mencoba tetapi baru berhasil setengah jalan, tiba-tiba kakek ini mengumpat dan meneruskan lompatannya dengan berjungkir balik. Ia tidak tahu gerakannya itu menimbulkan suara berisik dan punggungnya beradu dengan sebatang dahan yang melintang di tengah, membuat pohon bergoyang. Tiba-tiba belasan anak panah menyambar karena tersentuh talinya oleh guncangan yang dibuat Sin-piauw Ang-lojin.
Ketika kakek itu terkejut dan menggerakkan lengannya ke kiri kanan, Kim-mou-eng yang ada di atas terpaksa menolong dengan mengibaskan lengannya ke arah panah-panah yang disiapkan secara rahasia itu.
"Lojin, jangan membuat berisik. Kita menghadapi banyak jebakan di mana-mana!"
Kakek itu pucat. Sekarang ia berhasil membebaskan diri, semua anak panah runtuh dipukul dorongan Kim-mou-eng. Sambil terbelalak pucat di samping pendekar ini, ia berbisik heran dan agak gemetar, "Taihiap, dari mana kau tahu pohon ini pun berbahaya untuk didatangi?"
"Aku melihat rentangan tali di balik daun-daun ini, Lojin."