Halo!

Pendekar Sabuk Naga - Chapter 01

Memuat...
Pendekar Sabuk Naga

Chapter 01

Tanjung Kematian di pesisir Pantai Laut Utara yang jauh dari jangkauan manusia biasa tampak lain dari biasanya. Hampir tiga hari telah berlangsung pertempuran yang seru antara dua orang manusia yang aneh. Yang paling luar biasa adalah akibat dari pertempuran itu, suasana alam tanjung kematian itu porak-poranda tak berbentuk lagi bagai habis di landa badai topan yang sangat besar.

Yang satu seorang tua berusia sekitar delapanpuluh tahun lebih. Rambut, alis, kumis, dan janggutnya yang panjang tergerai sampai di dadanya sudah putih semua. Dandanannya aneh dengan baju hitam tanpa lengan yang lusuh agak kedodoran. Namun, yang menarik darinya ialah di punggungnya ada sebuah punuk yang besar.

Sementara lawannya seorang kakek berwajah asing yang bermata sipit dan hidung besar dan bibir tebal. Sukar di taksir usianya, namun dari kepalanya yang plontos tanpa rambut dan jubahnya yang putih kekuningan dapat di simpulkan bahwa dia adalah seorang Lama dari Tibet.

Kedua orang ini sudah bertarung selama tiga hari tiga malam, namun belum juga ada yang menunjukkan siapa pemenangnya. Jurus-jurus dahsyat dan aneh bahkan yang berkekuatan sihir yang belum pernah di saksikan oleh dunia persilatan di munculkan dan di kerahkan untuk mengalahkan lawannya, namun tidak ada seorangpun yang unggul.

Sampai akhirnya kedua orang yang bertarung itu berhenti ketika mata sakti kedua orang yang sedang bertempur tersebut menangkap bayangan lain yang terdampar di pinggir pantai yang memecahkan perhatian mereka. Tanpa bicara kedua orang tua itu melesat ke arah bayangan lain tersebut, tak sampai habis satu kedipan mata mereka telah sampai di hadapan bayangan tersebut yang setelah di perhatikan ternyata adalah seorang perempuan muda yang pingsan sambil memeluk seorang anak kecil berumur tiga tahun.

Sementara di bahu perempuan itu tertancap pisau belati keemasan. Sekali lihat, tahulah kedua kakek itu bahwa pisau tersebut mengandung racun yang mematikan. "Omitohud, Ki Sapta Langit, tampaknya ibu dan anak ini korban perampok laut dan kedahsyatan badai di tengah laut, dan sang ibu ini keracunan?" terdengar suara berat dari Lama bermata sipit tersebut sambil tangannya bekerja memberikan totokan-totokan di sekitar punggung dan bahu perempuan muda tersebut untuk menyadarkannya.

"Hoho, benar sekali sobatku Darba, entah siapa mereka dan anak itu?" kakek bungkuk yang di sebut Ki Sapta Langit menyahut dengan suara tenang, namun tangannyapun bekerja cepat mengambil anak laki-laki tersebut dari pelukan sang ibu. Kakek itu memegang kedua kakinya dan menjungkir balikkan kepala di bawah sementara tangan satunya menepuk perlahan di punggung dan dada anak tersebut untuk mengeluarkan air laut yang telah di minumnya.

Sejenak kemudian anak itu memuntahkan air laut yang banyak dan menangis dengan kuat. Sementara sang ibu yang di sadarkan oleh biksu yang di sebut Darba itu mulai membuka matanya yang nampak sayu. "Oh, di mana aku...?" ibu itu menjerit lirih sambil mengerang kesakitan.

"Nyonya muda yang malang, engkau kami temukan terdampar di pinggir pantai Tanjung Kematian! Siapakah kau dan apa yang terjadi?" Tanya Ki Sapta Langit dengan suara lembut. "Anakku... ohhh, anakku... kau selamat nak?" Perempuan itu tidak segera menjawab pertanyaan Ki Sapta Langit karena perhatiannya segera tertarik dengan suara tangisan anaknya yang di angsurkan kepadanya.

"Anakku, oh anakku, malang nian kau nak... semuda ini sudah akan kehilangan kedua orang tuamu... huuuu... huuuu... huuuu." Nyonya muda itu menangis tersedu-sedu sambil mendekap anak tersebut dengan erat. Ki Sapta langit dan Darba hanya saling pandang saja tanpa dapat berbuat apa-apa. Mereka maklum akan kondisi ibu itu. Agaknya luka akibat tertancap pisau beracun di bahu wanita tersebut telah cukup lama terjadi sehingga wanita tersebut telah banyak kehilangan darah.

Mereka memastikan bahwa nyonya muda itu tak dapat bertahan lama lagi. Beberapa saat kemudian nyonya muda itu berhenti menangis dan memandang kedua penolongnya dengan tatapan memohon. "Kakek berdua, nama saya Cendana Wangi... kalau saya tidak salah, kakek berdua tentu orang baik, saya mohon pertolongan untuk menitip anak saya, atau paling tidak serahkankan dia dengan kakeknya si Raja Racun Selatan di puncak gunung Bromo... ahhhh... aku tidak tahan lagi?" Nyonya muda yang mengaku Cendana Wangi itu mengeluh tertahan dengan nafas tersegal-segal.

"Bertahanlah!" Sahut Darba sambil kembali melancarkan totokan-totokan di dada Cendana Wangi dan menyalurkan hawa murni. "Anakku... namanya Sian Hay atau Mahesa Geni... bun... buntelan di punggungnya..." walau dengan susah payah mengeluarkan kata-kata terakhirnya, akhirnya Cendana Wangi tak kuat lagi bertahan lagi karena racun yang menyebar ke seluruh tubuhnya, dan karena dia benar-benar kehabisan darah.

"Omitohud, takdir tak dapat di tentang, masa hidup manusia bila sudah waktunya siapakah yang sanggup memperpanjangnya. Hanya jalan Budha yang dapat memberi penerangan sempurna?" Kedua kakek sakti itu menghela nafas panjang. Mereka tidak dapat berbuat banyak, karena nyonya muda itu memang sudah banyak kehabisan darah.

Tanpa banyak bicara mereka mengebumikan mayat tersebut secara sederhana. "Anak yang bertulang bagus! Hmmm... tampaknya aku harus menunda kepulanganku ke Tibet beberapa tahun lagi?" Sahut Darba perlahan sambil menatap tajam penuh selidik anak kecil dalam gendongan Ki Sapta langit.

"Benar sekali, wahai sobatku Darba, tampaknya anak ini berjodoh untuk menghentikan petaka hitam dunia persilatan yang merajalela akhir-akhir ini... hohoho, anak yang beruntung sekali?" Demikianlah anak kecil atau Mahesa Geni atau Sian Hay yang berusia tiga tahun tersebut diangkat sebagai murid oleh dua tokok yang sakti ini.

Siapakah kedua orang kakek sakti tersebut? Kakek sakti berpunuk di punggung tersebut yang di panggil Ki Sapta Langit adalah seorang dedengkot golongan putih yang sudah lama mengasingkan diri. Pada enam puluh tahun lalu beliau muncul dengan kesaktian yang sukar di cari tandingannya di tanah Jawa dan setelah tigapuluh tahun malang melintang sebagai tokoh tanpa tanding yang misterius kakek ini hanya dikenal dengan julukan Naga Bungkuk Bertangan Dewa.

Sedangkan biksu yang di panggil Darba yang usianya tak terpaut jauh dari Ki Sapta Langit itu adalah salah seorang dari 4 datuk tersakti dari Tionggoan yang berjuluk See-thian-Lama (Lama Sakti Langit Barat). Petaka hitam apakah yang di maksudkan oleh kakek sakti berpunuk tersebut? Dunia persilatan di gegerkan dengan adanya pembunuhan berantai sadis yang terjadi di sepuluh tempat dalam waktu tiga bulan terakhir ini.

Korbannya adalah tokoh-tokoh puncak sepuluh Partai dari enam belas partai terbesar di tanah Jawa. Hingga detik ini tidak ada yang tahu siapakah pembunuh berdarah dingin tersebut, namun yang pasti ialah semua korban di temukan tewas pada malam jumat kliwon dengan tubuh kering kehabisan darah dan tanpa kepala.

Sungguh tragedi yang sangat mengerikan dan menimbulkan kemarahan semua tokoh-tokoh persilatan kalangan atas di berbagai penjuru di samping ketakutan yang mencekam hati setiap orang. Terjadi saling mencurigai satu dengan yang lain sehingga tak heran dalam waktu singkat terjadi bunuh-membunuh di mana-mana.

Ke enam partai lain yang telah mendengar malapetaka ini juga menjadi was-was dan mengadakan penjagaan yang sangat ketat serta menutup diri mereka. Belum tuntas masalah ini di usut oleh para tokoh-tokoh persilatan, dunia persilatan kembali di kejutkan dengan munculnya dedengkot-dedengkot dunia hitam yang memiliki ilmu gila-gilaan yang hampir tak masuk akal mendekati iblis atau siluman.

Udara malam itu amat dingin menusuk. Saking dinginnya sehingga tidak memungkinkan ada orang biasa untuk dapat hidup di lembah terpencil yang terletak jauh di bawah pegunungan Bromo sebelah barat yang angker dan sukar di datangi orang biasa. Namun herannya, di tengah suasana yang dingin, sunyi dan mengerikan dengan hanya di terangi sinar rembulan, nampak di atas sebuah batu besar di depan sebuah goa yang gelap, duduk seorang kakek botak yang Nampak mengerikan.

Wajahnya seperti tengkorak dengan dua biji mata yang kecil kemerahan. Tubuhnya Nampak lebih tinggi dari ukuran orbits biasa dengan tubuh yang kurus kering tinggal pembungkus tulang itu di tutupi jubah hitam seperti jubah kelelawar. Sementara tangannya yang sebelah tampak buntung sebatas siku.

Di samping kiri kakek tersebut tampak berdiam seekor kelelawar besar bermata merah yang mengerikan, dua kali besar manusia biasa dengan sayap sepanjang dua meter bila di rentangkan. Kuku-kukunya yang tajam bagai pisau tampak pada jari-jari kakinya dan gigi-gigi yang tajam tampak mencuat mengerikan. Inilah kelelawar iblis yang menjadi piaraan kakek sakti tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment