Halo!

Pendekar Sabuk Naga - Chapter 02

Memuat...
Pendekar Sabuk Naga

Chapter 02

Itulah senjata sakti yang amat ampuh, dikenal sebagai "Arit Iblis Darah", yang sudah memakan banyak tumbal orang-orang sakti.

"Guru Penghulu Kelelawar Iblis, aku sudah membawa kepala sepuluh ketua perguruan yang dibunuh pada malam Jumat Kliwon?"

"Hohoho, wahai muridku bernama Dama Kalla, kau telah menyelesaikan tugasmu dengan baik. Sekarang aku akan menyempurnakan Ilmu Sungsang Jagat yang telah kutanam dalam dirimu sebelum aku kembali ke tempat asalku."

"Terima kasih, Guru. Aku pasti akan melanjutkan cita-citamu untuk menguasai dunia persilatan ini."

"Hohoho, sekarang tanggalkan semua pakaianmu dan bersemedilah."

"Aku akan mulai menyempurnakan ilmu-ilmumu dengan sepuluh kepala tokoh-tokoh sakti ini." Kakek yang disebut Penghulu Iblis Hitam itu mengulurkan tangannya ke arah sepuluh kepala tersebut yang langsung melayang ke depan kakinya.

Sambil berkemak-kemik membaca mantra, kesepuluh jari tangan Penghulu Iblis Hitam terarah kepada sepuluh kepala tersebut dan bergetar luar biasa hebatnya.

Tiba-tiba, kesepuluh kepala yang sudah mati tersebut tampak hidup kembali dan membuka mata mereka.

Sungguh luar biasa pemandangan ini.

Bahkan Dama Kalla pun yang melihat hal ini terkejut sekali.

Karena inilah hal yang hampir sukar dipercaya oleh nalar manusia.

"Hohoho, muridku Dama Kalla, inilah kesepuluh abdi iblis yang akan menjadi bagian dari dirimu."

Dengan merasuk ke dalam sepuluh kepala orang-orang sakti ini, mereka akan menyerap semua rahasia kesaktian yang dimiliki kesepuluh orang sakti ini untuk menyempurnakan "Ilmu Sungsang Jagat".

"Dengan demikian, kau akan memiliki sepuluh jenis aliran ilmu kesaktian yang mengalir dalam darahmu, selain dari ilmu-ilmu kelelawar iblis yang sudah kau kuasai."

"Bersiaplah!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba dari mulut Penghulu Iblis keluar dengungan mantra-mantra yang aneh dan mengerikan.

Tak lama kemudian, dari pupil matanya yang kecil itu keluar sinar-sinar yang menghantam kesepuluh kepala hidup tersebut. Anehnya, tiba-tiba dari ubun-ubun sepuluh kepala tersebut keluar bulatan biru sebesar telur puyuh.

Bulatan-bulatan biru tersebut langsung melayang berputar di atas kepala dan masuk melalui tato kelelawar hitam di dada Dama Kalla satu demi satu, yang menyebabkan pemuda ini tersentak-sentak dan mengejang kesakitan.

Inilah kehebatan dari Ilmu Sungsang Jagat.

Ilmu ini sanggup membuat pemiliknya menguasai ilmu-ilmu orang lain tanpa harus berlatih lagi, bahkan mampu membuat kedahsyatan ilmu-ilmu tersebut menjadi berlipat ganda.

Jadi, dapat dibayangkan bagaimana jadinya nanti kesaktian yang dimiliki oleh pemuda bernama Dama Kalla itu.

Tak lama kemudian, tubuh pemuda itu terangkat dari permukaan tanah.

Tubuhnya dikelilingi cahaya hitam yang pekat setebal sepuluh senti sampai beberapa lamanya hingga keadaan kembali seperti semula.

Saat pemuda itu membuka mata, dia tidak lagi menemukan gurunya yang entah lenyap ke mana.

Hanya suara yang berbisik di telinganya: "Muridku, mulai sekarang julukanmu adalah Pangeran Kelelawar Iblis. Kelelawar iblis ini akan melayanimu selamanya. Lakukan apa saja keinginanmu untuk menguasai dunia persilatan, namun jangan kau lupakan tugasmu untuk mencari dan membunuh dua musuh besarku, yaitu orang yang telah memotong tangan kiriku ini: Si Naga Bungkuk Bertangan Dewa dan semua keturunannya, serta juga membunuh Ratu Langlang Jagat dari istana gaib di Pulau Bidadari Api."

Pemuda bernama Dama Kalla itu tertawa terbahak-bahak, kemudian memandang kelelawar iblis tersebut: "Marilah, Donggo, kita akan memulai perburuan berdarah kita!"

Diiringi cicitan tajam, tiba-tiba kelelawar iblis tersebut melesat ke dada Dama Kalla dan dengan cara yang gaib lenyap masuk ke dalam tato di dada pemuda tersebut.

***

Waktu berlalu dengan sangat cepat, lima belas tahun lewat tanpa terasa.

Suatu sore yang sepi di suatu tempat yang cukup luas di Tanjung Kematian, tampak seorang pemuda berusia delapan belas tahun sedang melakukan gerakan silat yang luar biasa aneh dan dahsyat.

Pemuda itu memakai jubah biru dengan rambut tergerai.

Bila ada orang yang melihat ini, tentu mereka akan terkejut sekali, karena dari tangan dan kaki pemuda yang tampan itu keluar hawa mukjizat bagai lidah api dan butiran es, diikuti pancaran hawa petir yang amat kuat dan luar biasa dahsyat.

Sementara itu, tak jauh darinya tampak seorang biksu dan seorang kakek bungkuk yang enak-enak duduk di atas dua buah batu besar.

Ilmu silat aneh dan dahsyat yang dimainkan oleh pemuda itu adalah "Jurus Tarian Mabuk 18 Naga Petir" yang dilandasi "Tenaga Sakti Sembilan Naga" tingkat kesembilan yang dahsyat.

Kakinya oleng ke sana kemari seperti orang mabuk, namun kedua telapak tangannya bergerak dengan jurus-jurus pukulan yang aneh luar biasa yang mengeluarkan ledakan-ledakan kecil namun mematikan.

Lingkaran seluas lima kaki dilingkupi oleh hawa mukjizat panas dingin yang pekat sehingga membentuk bayangan naga yang dahsyat.

Setelah pemuda tersebut, yang tak lain adalah Mahesa Geni, memainkan delapan belas jurusnya sampai habis, tiba-tiba terdengar pekikan nyaring sambung-menyambung dari mulutnya yang dilakukan dengan pengerahan Ilmu "Pekikan Naga Pemisah Roh".

Pekikan itu luar biasa karena mampu mengeluarkan getaran mengerikan yang dapat membuat urat-urat hancur dan alunan nada mencengkeram sukma yang melumpuhkan.

Sementara itu, tubuhnya melesat ke atas dan menukik naik turun memainkan Jurus "Kuku Pedang Dua Belas Naga Langit" yang tak kalah dahsyat dari ilmu yang pertama tadi.

Dari kesepuluh ujung jarinya keluar hawa pedang berputar-putar yang amat padat dan tajam, mampu menembus baja sekalipun.

Sementara tubuhnya meliuk-liuk membentuk bayangan naga menari di udara dengan jurus-jurus aneh yang kesemuanya hampir tidak pernah menyentuh tanah, namun daya rusaknya ternyata sangat mengerikan.

"Awas!" "Ghroaaaaaaaaakkkhhhrrrrrr!" "Ciaaaaaaatt!"

Tiba-tiba terdengar bentakan, diikuti pekikan dari ilmu yang sama, dari kakek bungkuk yang tadi hanya menonton saja.

Tubuh kakek bungkuk yang tak lain adalah Ki Sapta Langit itu melesat menyerang Mahesa Geni dengan ilmu yang hampir mirip dengan yang dimainkan si pemuda, namun berlainan dan hampir tidak dikenal oleh si pemuda, yaitu jurus "Cakar Naga Terbang".

Ini adalah salah satu dari ilmu-ilmu andalan Si Naga Bungkuk Bertangan Dewa itu yang telah mengangkat namanya sebagai jago tak tertandingi di Tanah Jawa puluhan tahun lamanya.

Terjadilah pertarungan di udara yang aneh, seru, dan diikuti dengan bentakan-bentakan maupun erangan yang dahsyat dan menggetarkan.

Sampai lewat lima puluh jurus, pertempuran itu masih berlangsung hampir seimbang. Tiba-tiba terdengar bentakan yang lain lagi. Pada saat itu, biksu See Thian Lama yang tadi hanya menonton saja telah ikut menerjunkan diri dalam pertempuran tersebut.

Dari jari-jari tangannya yang dirapatkan, keluar hawa padat setajam pedang yang berdesing memekakkan telinga, menyerang Mahesa Geni.

Jadinya, pemuda itu sekarang dikeroyok dua.

Mahesa Geni terkejut mendapat serangan ini, dan dia berusaha untuk bertahan. Namun, dua puluh jurus kemudian, dirasakan tekanan dari dua gurunya makin bertambah hebat.

Ruang lingkup pertarungan itu kian bertambah luas, apalagi saat pemuda itu berganti gerakan dengan "Jurus Tarian Mabuk 18 Naga Petir", diikuti oleh "Jurus Langkah Siluman Naga Gila" dan "Jurus Telapak Dua Belas Kibasan Ekor Naga" serta jurus tendangan "Sengatan Tujuh Naga Neraka".

Namun demikian, kedua kakek itu pun segera berganti gerakan pula dengan jurus-jurus yang hampir mirip namun dahsyat, sehingga pertarungan itu semakin ramai.

Lewat jurus ketiga puluh, Mahesa Geni makin kurang dapat mengembangkan permainannya sehingga mulai terdesak.

"Anak bodoh... jangan biarkan pikiranmu terpengaruh pengaruh ilmu lawan. Lepaskan Tenaga Sakti Sembilan Naga ke ketujuh Pintu Naga, dan biarkan sang naga menuntun gerakmu tanpa penghalang!"

Tiba-tiba terdengar suara Ki Sapta Langit memberi petunjuk pada muridnya.

Mendengar suara tersebut, pikiran Mahesa Geni terlintas sesaat: "Ah, Guru menyuruhku membebaskan tujuh Pintu Naga. Apakah itu berarti menggerakkan tenaga tanpa henti?"

"Dan 'sang naga menuntun gerakmu'... Bagaimana bisa?"

Semakin ia larut dalam pikirannya, semakin kacau gerakannya hingga: "Dhhes!" "Huaakh!"

Tubuhnya terlempar lima tombak ke belakang sambil memuntahkan sedikit darah segar.

Ternyata, dia telah terluka ringan.

"Anak bodoh, apakah kau mau mati cepat? Lupakan jurusmu, lupakan namanya, lupakan gerakannya, biarkan sang naga mengalir bebas dalam ketujuh Pintu Naga!"

Terdengar suara lain, yang ternyata adalah See Thian Lama, yang lembut memberi petunjuk pada muridnya.

"Ahh, benar. Apakah itu berarti harus bergerak sesuai keadaan? Hmm, benar... Betapa bodohnya aku, kenapa aku sampai melupakannya?"

Pemuda itu pun memejamkan matanya, membiarkan Tenaga Sakti Sembilan Naga berputar ke seluruh tubuh, melupakan luka di dalam tubuhnya, dan tidak lagi memikirkan jurus lawan ataupun pergantian jurus-jurusnya.

Kala itu, kedua gurunya kembali menyerangnya dengan hebat.

Saat bagian tubuhnya merasakan ada serangan, tubuhnya otomatis merespons dengan jurus-jurus yang memang telah mendarah daging di tubuhnya.

Pada awalnya, ia masih tampak kaku dan agak dipaksakan. Namun, semakin lama, Mahesa semakin cepat menguasai cara bersilat seperti ini.

Hebatnya, dengan cara ini, tubuh, tangan, dan kakinya dapat bergerak otomatis menangkis semua jurus-jurus dahsyat lawan.

Kini, gerakan tubuhnya tidak lagi terpaku pada rangkaian jurusnya, tetapi justru dapat bergerak memainkan jurus apa saja dalam posisi apa pun tanpa halangan.

Tanpa disadarinya, pemuda ini telah berhasil menembus tataran "Berganti Jurus Tanpa Hambatan".

Biasanya, jurus-jurus dalam ilmu silat selalu ada gerakan awal yang merupakan mata rantai yang disebut ancang-ancang untuk berpindah pada jurus selanjutnya. Namun, tataran yang dicapai pemuda itu memungkinkan dia mengerahkan jurus apa saja walau dalam posisi tubuh yang tidak biasa atau paling mustahil sekalipun, dan ini adalah suatu pencapaian yang luar biasa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment