Halo!

Pendekar Sabuk Naga - Chapter 03

Memuat...
Pendekar Sabuk Naga

Chapter 03

Seandainya bukan karena bakatnya yang besar, ia tidak akan mampu melakukannya.

Kedua kakek sakti itu memang mendidik Mahesa Geni dengan sangat keras, namun juga sangat memanjakan murid mereka. Bergantian, setiap tiga bulan, mereka membantu sang murid dengan mengalirkan sepertiga hawa murni mereka selama lima belas tahun.

Tak heran pencapaian yang diraih Mahesa Geni, meski usianya baru delapan belas tahun, amatlah hebat.

Mereka sengaja melatih Mahesa dengan keras dan cara yang luar biasa karena mereka mengharapkan pemuda inilah yang akan menjadi wakil mereka untuk meredam ancaman petaka yang terjadi di delapan penjuru dunia persilatan saat ini.

Seratus jurus berlalu dengan cepatnya. Kini Mahesa sudah membuka matanya dan melayani gempuran kedua gurunya.

Akhirnya, ia tidak lagi terdesak hebat. Malah sekarang ia dapat bergantian jurus mengimbangi hingga dua ratus jurus lebih. Ketika gerakan kedua gurunya mulai melambat, Mahesa Geni tahu bahwa, meski lambat, akhir pertarungan ditentukan oleh babak ini.

Karena tidak lagi mengandalkan gerak jurus, melainkan kekuatan tenaga dalam semata.

Kedua gurunya menyerangnya dengan pukulan-pukulan jarak jauh yang dahsyat.

Ia melihat kedua tangan gurunya, Ki Sapta Langit, bergerak dengan gerakan berbeda.

Dua warna, biru dan kuning, semburat dari kedua tangannya. Itulah pukulan yang tidak diketahuinya.

Sedangkan gurunya yang satu, See Thian Lama, bergerak dengan gerakan yang juga aneh. Dari kedua tangannya keluar dua larik sinar hitam berhawa panas menyengat yang tidak juga ia kenal.

Ia terkesiap, namun segera bersiap.

Kedua kakinya tertanam dengan kuda-kuda yang kuat. Di lain saat, Tenaga Sakti Sembilan Naga tingkat kedua belas dikerahkan sampai ke puncak.

Sinar perak keemasan berpendar di sekeliling tubuhnya. Dari kedua tangannya keluar hawa sakti yang amat dingin dan panas, disertai ledakan-ledakan kilat yang kuat.

Saat kedua gurunya menyerangnya dengan pukulan sakti mereka, ia pun segera mendorongkan kedua tangannya, menyambut dengan Jurus "Pukulan Maut Naga Petir" tingkat akhir, yaitu tingkat kedua belas.

Di mana dari kedua tangannya keluar dua larik sinar mujizat berwarna perak keemasan berhawa panas dan dingin, diikuti ledakan-ledakan petir yang memekakan telinga.

"Heaaaaahhhhh?" "Dhuaaaarrrr?" "Dhuaaaaaarrrr!?" "Dhuaaaaaarrrr!" Terdengar tiga ledakan yang amat keras, seolah-olah langit runtuh oleh bencana alam yang dahsyat saat ketiga pukulan bertemu.

Tubuh Mahesa Geni terdorong satu tombak ke belakang dengan kedua kaki melesak ke dalam tanah sampai mata kaki. Sedangkan kedua gurunya hanya terdorong tiga langkah ke belakang.

Mahesa Geni mengerahkan tenaga meredakan guncangan di dalam tubuhnya. Setelah itu, ia menghentakkan tangannya ke bawah sehingga tubuhnya terangkat dari tanah yang melesak. Kemudian, kakinya melangkah perlahan ke arah kedua orang gurunya sambil bersimpuh: "Guru berdua, maafkan Mahesa yang lancang sehingga guru berdua terluka?"

Ilmu-Ilmu Gabungan Label: Pendekar Sabuk Naga "Hohohoho," "Kalau kami tidak membatasi tenaga kami, apa kau pikir dengan pukulanmu yang seperti tahu itu mampu mengapa-apakan kami?" sahut Ki Sapta Langit sambil menatap muridnya dengan wajah kereng.

"Omitohud, Mahesa Geni," "Sebenarnya tadi kami hanya mengujimu. Kau tidak perlu khawatir karena kami tidak apa-apa. Bahkan kami senang karena engkau telah menguasai dengan sempurna semua ilmu yang kami ajarkan. Bahkan tingkat tenaga dalammu telah mencapai tataran di atas tokoh-tokoh kelas satu di dunia persilatan dewasa ini." Mendengar ini, Mahesa Geni menjura dengan hormat: "Maafkan kalau Geni lancang menyinggung guru berdua, karena dari tadi hati Geni bertanya-tanya tentang jurus-jurus yang guru berdua gunakan terakhir saat menguji tadi. Guru tidak pernah mengajarkannya kepada Geni..."

"Hohoho," "Kau benar, muridku. Jurus-jurus itu tidak pernah kami ajarkan kepadamu, tapi apakah kau melihat beberapa kemiripan dengan ilmu-ilmu yang kau miliki? Jawablah," sahut Ki Sapta Langit sambil tersenyum misterius.

"Ah, benar guru. Geni memang melihat ada beberapa persamaan dengan ilmu-ilmu yang Geni kuasai. Mengapa bisa begitu?" Kembali Mahesa Geni bertanya dengan suara penasaran.

"Hmmm, tentu saja mirip, karena memang jurus-jurus yang kami ajarkan kepadamu adalah mahakarya terbaru kami berdua yang baru saja kami ciptakan bersama selama sepuluh tahun terakhir ini, yang kesemuanya adalah gabungan dari ilmu-ilmu terhebat yang kami miliki."

"Tenaga Sakti Sembilan Naga" tercipta dari gabungan dari ilmu Tenaga Sakti Selaksa Api dan Es milikku dan Ilmu Tenaga Sakti Budha Petir milik gurumu, si biksu ini.

"Jurus Tarian Mabuk 18 Naga Petir" itu adalah gabungan dari Jurus 18 Naga Penakluk Iblis gurumu, si biksu ini, dan jurus Delapan Dewa Mabuk milikku. Nah, "Jurus Kuku Pedang Duabelas Naga Langit" adalah gabungan dari Ilmu Jari Pedang Maut si biksu ini dan jurus Cakar Naga Terbang milikku, sedangkan "Ilmu Pekikan Naga Pemisah Roh" adalah gabungan dari Ilmu Sabda Budha Pemusnah Iblis si biksu dan ilmu Lengkingan Pemisah Roh milikku. Itulah sebabnya tingkatan yang paling tinggi dari ilmu itu akan membuatmu mampu menotok orang dengan suara, menyembuhkan luka dalam dengan suara, bahkan menghancurkan benda apa pun hanya dengan suara saja.

Terakhir adalah Ilmu "Pukulan Maut Naga Petir" itu adalah gabungan dari Sinar Sakti Api-Es Bersinar Emas milikku dan Pukulan Sakti Sengatan Seribu Petir milik si biksu ini. Apa kau mengerti, Mahesa?" Kembali Ki Sapta Langit berseru dengan suara tegas yang agak ditekan.

"Benar, Geni. Selain 'Ilmu Pukulan Sihir Pelebur Bintang' dan 'Tangan Kapas Pelebur Jagat' yang ku ajarkan, serta ilmu 'Jubah Dingin Sisik Naga' yang diajarkan gurumu, si naga bungkuk ini, yang lain adalah ilmu-ilmu hasil gabungan dari kami berdua?" sahut See Thian Lama menimpali.

Mahesa Geni terlongong dan heran mendengarkan penjelasan kedua gurunya tersebut, namun seketika mukanya berseri: "Wah, jadi maksud guru kalau ilmu-ilmu ini adalah inti dari semua ilmu yang guru berdua miliki dan belum pernah muncul di dunia persilatan? Kalau begitu, ini tentu hebat sekali!"

"Tentu saja hebat. Bayangkan dengan umurmu yang baru seujung kuku ini kau sudah mampu bertahan dua ratus jurus tanpa terdesak dari kami berdua. Apa lagi kalau bukan karena kehebatan ilmu-ilmu tersebut. Dan apa kau kira semua ilmu itu hanya ilmu-ilmu kacangan saja?"

"Itulah sebabnya kau jangan sombong dan takabur, dan harus dapat menguasai nafsumu. Karena sekali saja kau salah langkah, kau akan menjadi sumber bencana bagi orang lain." Sahut See Thian Lama. Setelah menarik napas sejenak, beliau melanjutkan:

"Ingatlah, muridku, sehebat apapun ilmu yang kau miliki, haruslah tunduk pada Yang Di Atas, karena tidak ada satupun yang terjadi tanpa perkenan-Nya. Dalam menghadapi sesama, maka apa yang engkau tidak ingin orang perbuat kepadamu, janganlah kau buat pada mereka, sehingga hukum karma tidak akan berbalik menimpamu."

"Baik guru, murid mengerti, dan murid mohon petunjuk guru untuk selanjutnya?" sahut Mahesa dengan kepala tertunduk.

"Nah, sekarang kau beristirahatlah. Nanti malam kami ingin memberikan sesuatu kepadamu," sahut Ki Sapta Langit dengan tegas.

"Terima kasih guru berdua, murid mohon pamit untuk beristirahat." Setelah bersimpuh menghormat, Mahesa kembali ke pondoknya dengan hati riang gembira.

Malam itu, tiga orang kembali duduk berhadapan di dalam pondok sederhana yang diterangi obor.

"Wahai muridku Mahesa Geni, masih ingatkah kau sudah berapa lama kau menjadi murid kami?" Terdengar suara lembut dari See Thian Lama ditujukan pada muridnya ini.

"Masih ingat, guru. Hingga saat ini sudah genap lima belas tahun, tapi mengapakah guru menanyakan hal ini?" Sahut Mahesa dengan suara agak ditahan.

"Hmmm, sudah lima belas tahun aku meninggalkan tanah kelahiranku di Tibet, dan kini aku harus kembali. Ada satu tugas yang aku inginkan kau kerjakan. Kelak bila engkau memiliki waktu banyak dalam perantauanmu, sekitar musim semi tahun depan, sempatkanlah berkunjung ke Tibet, karena aku ingin kau mewakiliku untuk bertanding adu kesaktian yang dilakukan enam belas tahun sekali oleh empat Dewa dari Tiongkok. Bersediakah engkau, Geni?" See Thian Lama menatap pemuda itu dengan terharu.

7. Mengemban Tugas Label: Pendekar Sabuk Naga Hati Mahesa Geni tercekat. Untuk sejenak, ia tidak dapat berkata apa-apa.

Berita bahwa ia akan berpisah dengan gurunya yang sudah melimpahkan kasih sayang selama lima belas tahun ini amat menyedihkannya.

"Ah.. guru, tentu saja muridmu bersedia, tapi mengapakah kita harus berpisah sekarang? Geni masih ingin bersama-sama dengan guru dan merawat guru yang sudah tua ini?"

"Hmmm, aku menghargai baktimu, Geni. Namun tiada perjamuan yang tak bubar, dan kita semua memiliki tanggung jawab yang harus segera dikerjakan," sahut See Thian Lama tenang.

Sejenak mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.

"Hohoho, jangan cengeng, muridku, karena bukan hanya gurumu See Thian Lama ini yang harus berpisah darimu. Gurumu yang sudah tua dan bungkuk inipun harus segera berpisah denganmu, dan kau harus tegar menerima ini. Sekarang dengarkanlah petuah dari kami?" Ki Sapta Langit menyambung dengan suara terharu, namun tegas.

"Baik guru, Geni siap mendengarkan?"

"Pertama: Kau terimalah bungkusan ini. Bungkusan ini terikat di tubuhmu ketika kami menemukanmu waktu masih kecil. Rasanya semua pertanyaanmu tentang jati dirimu akan terungkap di situ. Setelah itu, baru kau melakukan tugas-tugas dari kami."

"Kedua: Dalam perantauanmu, aku menugaskan kau mencari dan menghukum dua kakak seperguruanmu yang murtad. Mereka telah berani melarikan diri dan mencuri empat kitab pusaka dari gudang penyimpanan ilmu-ilmu sesat ketika aku sedang bepergian."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment