Chapter 04
Aku tidak mendengar gerakan mereka di sekitar tanah Jawa ini, mungkin mereka takut kepadaku dan beroperasi di daerah yang lain. Mereka adalah Ki Samber Nyawa yang berjuluk Dewa Maut Bertangan Sakti dan Nyi Gandasuri yang berjuluk Dewi Asmara Seribu Nyawa.
"Kalau mereka bertobat terserah keputusanmu, tapi kalau mereka masih tetap di jalan yang jahat, kau harus memusnahkan ilmu mereka. Di samping itu kau juga harus berhati-hati dengan tokoh iblis yang berjuluk Pangeran Kelelawar Iblis. Apakah kau sanggup, muridku?"
"Murid sanggup, guru. Semoga didikan kedua guru selama ini tidak akan Mahesa Geni sia-siakan?"
"Bagus, dan sekarang yang terakhir. Kau terimalah pedang ini?" Sambil berkata demikian, Ki Sapta Langit mengangurkan tangannya dengan jari-jari terbuka. Tampak sebuah benda aneh bergulung-gulung di telapak tangannya.
Mahesa Geni mengambil gulungan pedang tersebut dari tangan gurunya. Saat pedang itu terlepas dari tangan gurunya, tiba-tiba pedang itu menegang seketika. Ketika diamati, ternyata itu adalah sebilah pedang lemas selebar tiga jari tangan, bersinar keemasan dengan gagang berbentuk ukiran kepala naga yang memiliki perbawa aneh, menggetarkan jiwa namun nampak indah dan gagah.
"Pedang apakah ini, guru?"
"Itu adalah Pedang Pusaka Sabuk Naga Langit yang dulu dimiliki oleh kakek guruku. Sekarang kuberikan kepadamu, maka pergunakanlah dengan sebaik-baiknya sebagai pengganti pedang kayu yang sering kau pakai berlatih itu. Pedang ini sangat cocok dengan ilmu 'Lingkaran Pedang Selaksa Naga' yang telah kau kuasai dengan sempurna itu. Sebenarnya, dengan ilmumu yang sekarang, kau tidak membutuhkan senjata apa pun, namun di dunia persilatan ada banyak pusaka-pusaka ampuh yang harus kau tandingi dengan pusaka pula demi memperkecil risiko."
Kemudian Mahesa Geni mendapat petunjuk gurunya tentang cara khusus untuk memakainya sebagai sabuk ikat pinggang yang nampak gagah dan menurut Ki Sapta Langit, tanpa menggunakan cara khusus tersebut, Pedang Pusaka Sabuk Naga Langit itu tidak dapat dilepaskan dari tubuhnya.
Dari See Thian Lama, Mahesa Geni juga mendapatkan sebuah gelang tangan kiri selebar tiga jari yang terbuat dari batu bintang berwarna biru. Menurut kakek tersebut, gelang ini adalah Gelang Cermin Petir yang mempunyai kegunaan mengembalikan pukulan tenaga sakti lawan sampai lima kali lipat. Selain itu, dengan adanya gelang tersebut, ia tidak usah takut dengan segala jenis racun apa pun yang menyerangnya.
"Jangan kau cari kami karena kami akan mencarimu jika kami membutuhkan. Maka untuk mempermudah kami mengetahui tentangmu, maka mulai sekarang julukanmu adalah Pendekar Sabuk Naga."
***
**Mulai Mengembara**
**Label:** Pendekar Sabuk Naga
Mahesa Geni bersimpuh di depan kedua gurunya dengan hati terharu. Keesokan harinya, ketika pemuda itu bangun, ternyata ia tidak menemukan lagi kedua gurunya. Hatinya gundah, namun tak dapat berbuat apa-apa. Sekilas ia teringat akan buntelan yang diberikan oleh gurunya. Menurut gurunya, buntelan ini adalah satu-satunya warisan dari ibunya sebelum menghembuskan napas terakhir.
Ketika buntelan itu dibuka, di dalamnya terdapat sebuah kitab kulit yang sudah kusam, sebuah jamur merah, dan secarik kertas yang lusuh. Hatinya lebih tertarik pada kertas tersebut, maka segera dibacanya. Terlihat beberapa kalimat yang ditulis dengan cepat, berbunyi:
"Anakku, namamu adalah Sian Hay atau Mahesa Geni. Ayahmu adalah Pendekar Pedang Terbang Sian Bun, murid ketujuh dari Partai Mi Tiong Bun di Tiongkok. Kami terjebak dalam perburuan pusaka-pusaka di Pulau Daun Putih. Ibu tidak tahu siapa musuh-musuh yang mengeroyok kami. Makanlah Jamur Inti Api ini dan pelajarilah kitab yang berisi Ilmu Serat Emas Inti Matahari dan Ilmu Jari Penembus Tulang Inti Matahari ini. Soal pembunuh ayahmu, mungkin orang yang membawa Kitab Inti Bulan dari Beng Kauw di Persia dapat kau mintai keterangan. Cari juga Si Raja Racun Selatan?"
Tertanda,
Ibumu Cendana Wangi
Mahesa Geni tertegun sejenak. Meskipun masih samar-samar, ia sudah dapat menduga bencana yang menimpa kedua orang tuanya. Dalam hati ia berjanji untuk mengusut masalah ini dengan jelas dan membalaskan kematian kedua orang tuanya. Hanya satu yang membuatnya ragu-ragu, surat itu terputus tanpa memberitahu untuk apa ia mencari Si Raja Racun Selatan.
Mahesa Geni mengulurkan tangan, mengambil Jamur Api, dan memakannya. Ternyata jamur tersebut dapat melipatgandakan kekuatan tenaga dalamnya, dan ini sangat menggirangkannya. Saat ia mulai membuka dan mempelajari kedua ilmu yang tercantum dalam kitab pusaka tersebut, ternyata itu adalah ilmu-ilmu yang luar biasa hebatnya, tidak kalah bagus mutunya dengan ilmu-ilmu yang ia sudah kuasai saat ini.
Seratus hari kemudian, setelah menghafal teori dan berhasil melatih dasar-dasar kedua ilmu tersebut, barulah ia meninggalkan Tanjung Kematian untuk memulai pengembaraannya sebagai seorang pendekar.
***
Kota Naripan di kadipaten Tunggul Wetan adalah sebuah kota yang ramai. Kadipaten Tunggul Wetan ini masih termasuk wilayah sebelah utara dari Kerajaan Majapahit yang diperintah oleh Prabu Hayam Wuruk yang didampingi mahapatihnya yang terkenal, yaitu Mahapatih Gajah Mada.
Siang itu, Mahesa Geni memasuki kota Naripan dengan berlenggang kangkung. Wajahnya tampan dengan rambut riap-riapan. Baju dan celananya dari kain kasar warna putih. Lapisan luar ditutupi dengan jubah panjang berwarna biru tanpa lengan. Yang unik ialah di pinggangnya terlilit sejenis ikat pinggang selebar tiga jari yang ujungnya terdapat ukiran kepala naga yang berkilat keemasan, sedangkan lengannya yang panjang digulung sampai ke siku, dengan tangan kiri terdapat sebuah gelang berwarna biru selebar tiga jari.
Sambil berjalan, bibir pemuda itu tersungging senyum lebar menyaksikan keramaian kota tersebut. Sesaat kemudian, sepasang kakinya berbelok ke arah sebuah kedai yang tidak terlalu besar di pinggir jalan. Kedai itu tampak penuh, matanya celingukan memandang ke sana kemari.
***
**Malaikat Pedang Terbang**
**Label:** Pendekar Sabuk Naga
"Maaf, Den. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tiba-tiba terdengar suara kecil seorang pelayan yang muncul di sampingnya.
"Ah, Aki. Maaf, saya hanya ingin makan saja. Apakah masih ada tempat?"
"Ada, Den. Tinggal satu tempat yang tersisa di sudut sebelah kanan. Kalau Aden tidak keberatan, silakan?"
"Baiklah, Aki. Tunjukkan padaku tempatnya?"
Mahesa lalu mengikuti pelayan tersebut mengarah ke tempat duduk di sudut ruangan. Ternyata di situ hanya tersisa satu tempat duduk yang kecil dan satu meja seukuran empat piring.
"Ini tempatnya, Den. Oh, ya, Aden mau pesan apa?"
"Bawakan saja nasi urap dan sayur lodehnya, ditambah dengan air putih. Itu cukup?"
Sambil berkata demikian, pemuda ini duduk dengan tenang sambil memandang ke arah luar kedai. Tak lama kemudian, pesanan yang dipesannya datang dan pemuda itupun mulai makan dengan lahap sambil mengangkat kaki kirinya di atas kursi.
Sementara pemuda itu makan dengan lahap tanpa memperdulikan keadaan sekelilingnya, tiba-tiba telinganya menangkap suara orang bercakap dengan perlahan. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan orang yang bercakap-cakap karena semua orang yang ada di kedai situ juga ada yang bercakap-cakap dengan ramai. Namun, suara orang yang bercakap itu keluar dari mulut seorang gadis yang amat cantik berusia enam belas tahun dengan seorang kakek tua yang berusia enam puluh tahunan:
"Eyang Guru, apakah perjalanan ke Gunung Bromo masih sangat jauh? Dan urusan apakah yang akan kita lakukan di sana sehingga kita harus mengadakan perjalanan dengan sembunyi-sembunyi seperti ini?"
"Sabarlah, muridku. Gunung Bromo tinggal berjarak dua hari dari sini. Urusan yang kita akan lakukan di sana menyangkut keselamatan dunia persilatan, jadi tidak baik bila dibicarakan di sini. Kau diamlah. Setelah makan, kita segera berangkat."
Tanpa sadar, mata Mahesa terus memperhatikan gadis itu sambil hatinya membatin, "Ah, cantik sekali gadis itu dan mereka pasti dari dunia persilatan. Siapa mereka, ya?"
Setelah menghabiskan makanan mereka, kedua orang guru dan murid itupun segera meninggalkan kedai tersebut. Namun, saat berdiri, gadis itu masih sempat melirik pada Mahesa sambil tersenyum simpul. Hal mana membuat wajah pemuda itu menjadi merah karena tertangkap basah sedang menatapnya. Cepat wajahnya diarahkan ke tempat lain sambil meneruskan makannya, sedangkan mulutnya menggerutu malu.
"Sialan, monyet buduk! Bikin grogi saja."
Baru saja ia memalingkan wajah kembali untuk melihat punggung tubuh gadis itu yang menghilang di luar pintu, tiba-tiba ia melihat lima orang laki-laki separuh baya yang duduk di meja besar sebelah selatan saling memberi kode dan meninggalkan kedai.
"Hmmm, tampaknya mereka membuntuti kedua orang tadi. Apa yang akan mereka lakukan? Sikap mereka mencurigakan sekali?"
Pemuda itu lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan dua keping perak yang langsung diletakkan di atas meja, setelah itu diapun bangkit dan melangkah keluar kedai. Sampai di luar, ia menangkap bayangan lima orang di kejauhan. Mereka berlari cepat menuju ke arah selatan. Sepertinya sedang terburu-buru mengejar sesuatu. Karena penasaran, pemuda inipun segera mengikutinya. Sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, Mahesa membuntuti kelima orang tersebut sampai di luar dusun dan memasuki hutan.
Saat itu, dari jauh Mahesa mendengar suara bentakan-bentakan menggelegar dari arah depan, segera ia mempercepat larinya. Di dalam hutan, ia berkelebat ke atas sebuah pohon yang tinggi dan rindang untuk menyembunyikan tubuhnya sambil memperhatikan. Tampak kakek tua dan gadis cantik tadi sedang berhadapan dengan kelima pria setengah baya yang menghadang perjalanan mereka dengan senjata terhunus.
Salah satu yang menjadi pemimpin bernama Jarotala segera berkata dengan angkuh, "Hehehe, Ki Ranggapati, tak ada gunanya kalian melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo."