Chapter 05
"Junjungan kami sudah mencium rencana busuk kalian untuk membentuk perserikatan para pendekar?" Kakek yang ternyata bernama Ki Ranggapati itu melangkah maju dan berkata, "Maaf kisanak, apa maksud kalian? Aku tidak mengerti sama sekali?"
"Huh, jangan berlagak pilon, Malaikat Pedang Terbang! Mungkin kau masih bisa bertahan tidak mati oleh Racun Kelelawar Iblis. Sungguh hebat tenaga dalammu, tapi sayangnya kau telah bertemu dengan kami, Lima Cambuk Api dari Goa Rangkeng. Bersiaplah untuk mati!"
Jarotala memberi isyarat pada kelima kawannya untuk menyerang.
Serentak dua kawannya maju mengeroyok bersama dengan Jarotala, sementara yang dua lagi meloncat ke arah sang gadis.
Sebentar saja telah terjadi pertarungan yang tidak seimbang. Ki Ranggapati atau yang berjuluk Malaikat Pedang Terbang sebenarnya adalah seorang tokoh legenda yang pilih tanding. Kehebatan ilmu Pedang Terbangnya yang dahsyat telah mengangkat namanya selama empat puluh tahun sebagai seorang pendekar golongan atas yang mumpuni.
Namun, anehnya, saat menghadapi pengeroyokan ketiga orang itu, hanya bisa bertahan dan menghindar saja tanpa mampu membalas sejurus pun. Sedangkan gadis cantik berjubah putih yang ternyata adalah murid si Malaikat Pedang Terbang, justru terlihat sangat aktif menyerang dengan jurus-jurus mematikan.
Hal ini tidak aneh karena sesungguhnya Ki Ranggapati masih menderita keracunan hebat akibat pertarungannya dengan tiga utusan Pangeran Kelelawar Iblis yang menyantroni Perguruan Pedang Terbang dua purnama lalu. Meskipun waktu itu Malaikat Pedang Terbang mampu membinasakan dua dari antara lawannya, namun dia juga harus menderita oleh pukulan Kelelawar Iblis dari orang ketiga yang tak sempat dia tangkis.
Untung saja yang datang hanya tiga utusannya saja yang hanya menguasai setengah saja dari kehebatan Pukulan Kelelawar Iblis tersebut. Makanya, dia masih dapat bertahan dengan menggunakan tenaga murni menyumbat jalannya racun memasuki nadi-nadi penting di tubuhnya. Namun, jika dia mengerahkan tenaga berlebihan dalam pertarungan, dapat dipastikan nyawanya takkan tertolong lagi.
Keadaan Ki Ranggapati semakin lemah. Beberapa pukulan telak bersarang di tubuhnya, hingga pukulan susulan dari Jarotala menghantam telak iga kirinya, menyebabkan orang tua itu tak dapat lagi mempertahankan diri, sehingga tenaga murni yang menahan menyebarnya racun Kelelawar Iblis itu kembali menyebar ke seluruh nadi penting di tubuhnya. Orang tua itu terduduk dan memuntahkan darah kehitaman.
"Guruuuu!" Gadis itu memutar pedangnya dengan sekuat tenaga mendesak kedua lawannya, kemudian berlari ke arah gurunya.
"Rara Wulan, larilah, selamatkan dirimu! Carilah Raja Racun Selatan dan mohon perlindungan darinya?"
"Bertahanlah Eyang, kau orang tua pasti bisa! Jangan tinggalkan Rara Wulan sendiri, Guru?"
Tiba-tiba terdengar suara dengusan dari Jarotala, "Hehehe, cah ayu, dewa sekalipun tidak akan dapat menyelamatkan gurumu itu. Racun Kelelawar Iblis terlalu dahsyat dan tak seorang pun sanggup menandinginya. Tinggalkan orang tua mau mati itu dan menyerahlah?"
"Bangsat culas, kubunuh kau! Hiyaaaattt!" Dengan kalap, Rara Wulan melompat menyerang kelima lawan itu dengan jurus-jurus mematikan tanpa memperdulikan pertahanannya.
Namun, sekali bergerak, Jarotala segera menangkap kedua tangan gadis itu dan menghenakkannya dalam pelukannya.
"Hahahaha, sekarang kau tak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Diamlah, maka kami akan baik-baik memperlakukanmu?"
"Lepaskan aku, babi bangsat, kadal busuk! Aku akan membunuhmu?" Gadis itu meronta-ronta, namun pelukan Jarotala sangat kuat sehingga bukannya terlepas, justru rontaan gadis itu makin membuat dada mereka bergesekan, sehingga Jarotala makin tertawa terbahak-bahak.
Saat itu, "Hahahaha... seorang kakek tua sedang memperkosa seorang gadis yang hanya cocok menjadi anaknya. Sungguh sampah memalukan!..." Tawa Jarotala terhenti. Serentak kelima orang itu memandang ke depan.
Entah darimana datangnya, di samping Ki Ranggapati tampak berdiri seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang gagah.
Undangan Rahasia
Label: Pendekar Sabuk Naga
Pemuda itu berwajah tampan dengan rambut riap-riapan. Baju dan celananya dari kain kasar warna putih. Lapisan luar ditutupi dengan jubah panjang berwarna biru tanpa lengan. Di pinggangnya terlilit ikat pinggang selebar tiga jari yang ujungnya terdapat ukiran kepala naga yang berkilat keemasan, sedangkan lengannya yang panjang digulung sampai siku, dengan tangan kiri terdapat sebuah gelang berwarna biru selebar tiga jari.
"Bangsat tengik dari mana cari mati berani mencampuri urusan kami?" Bentak Jarotala berang.
"Hehehe, aku hanya seorang kunyuk yang cari mati, jadi untuk apa kau menanyakan namaku? Sayangnya, kunyuk pun paling suka memotes kutu-kutu busuk yang mengganggu di tubuhnya. Apakah kutu-kutu busuk macam kalian tidak menyadarinya...?" Sambil tertawa-tawa, Mahesa balas memaki tak kalah pedisnya.
Kedua kawan Jarotala yang berdiri paling dekat tak mampu menahan kemarahan mereka. Segera keduanya mengayunkan cambuk apinya ke arah pemuda tersebut.
"Heaaaattt!" Ctarrr! Ctarrrr! Cambuk-cambuk itu menyerang sang pemuda dengan ganas. Namun, hanya dengan menggoyangkan tubuh satu langkah ke samping, dia telah menghindari cambuk-cambuk ganas tersebut.
"Eits, tidak kena! Eh, apakah kalian tidak pernah belajar cara menggunakan cambuk dengan baik? Alangkah bodohnya guru kalian yang menciptakan ilmu mengusir lalat tak berguna seperti ini, hahahaha?"
"Bangsat! Matilah kau, bocah busuk! Hyaaaattttt!" Kali ini, diiringi bentakan-bentakan yang menggelegar, kedua teman yang lain segera maju membantu untuk mengeroyok sang pemuda. Bahkan Jarotala yang tadinya masih memeluk Rara Wulan segera melemparkan gadis itu setelah menotoknya terlebih dahulu, kemudian maju membantu keempat temannya.
Mahesa hanya tersenyum-senyum saja. Dengan menggunakan sepertiga bagian tenaganya, dia memainkan "Jurus Langkah Siluman Naga Gila." Akibatnya, kelima lawannya menjadi bingung. Karena serapat apapun kepungan mereka, tetap saja pemuda yang bergerak-gerak seperti orang mabuk dan orang gila itu mampu menyelinap di antara senjata mereka. Bahkan kadang-kadang pemuda itu lenyap dan muncul di belakang mereka sambil menepuk tubuh mereka. Sadarlah mereka bahwa lawan mereka kali ini bukanlah orang sembarangan.
Setelah bertempur beberapa saat, Mahesa mendengar erangan kesakitan dari kakek yang terluka parah tersebut. Pemuda ini merasa cukup mempermainkan kelima lawannya. Dengan mengerahkan jurus pertama dari ilmu "Sengatan Tujuh Naga Neraka," kakinya bekerja cepat membagi-bagikan tendangan yang tak dapat ditahan oleh kelima orang tersebut. Mereka terlempar dengan dada hancur dan kepala retak tanpa suara.
Dari tempatnya berdiri, Mahesa memandang ke arah mayat-mayat tersebut dengan termangu-mangu. Inilah pembunuhan pertamanya seumur hidup, dan ini menyedihkannya. Sejenak kemudian terdengar erangan dari Rara Wulan yang tertotok. Segera Mahesa mengibaskan lengan kanannya ke arah gadis cantik itu. Seketika itu juga totokannya terlepas.
Kemudian pemuda itu mendekati Ki Ranggapati yang sekarat sambil membatin, "Hmmm, kakek ini keracunan berat, aku tidak tahu cara menyembuhkannya, tapi menurut guru SeeThian-Lama, gelang Cermin Petir ini dapat menyerap racun. Apa sebaiknya kucoba saja ya..."
Rara Wulan menangis sesegukan sambil memandang dengan wajah penuh permohonan ke arah pemuda yang telah menolong dia dan kakeknya, "Tuan pendekar, jika kau bisa tolonglah ringankan penderitaan guruku ini. Aku... aku tak tahu harus berbuat apa lagi?"
Mahesa gelagapan. Hatinya ikut terharu melihat wajah memelas dan penuh permohonan dari gadis cantik di depannya ini. Segera dia membungkuk di samping Ki Ranggapati, kemudian menempelkan Gelang Cermin Petir di lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga menyedot pada salah satu luka yang menganga di tubuh tua tersebut. Anehnya, segera terlihat asap mengepul dari gelang tersebut saat racun Kelelawar Iblis terhisap ke dalamnya. Sebentar saja semua racun yang bersarang di tubuh kakek itu lenyap tanpa bekas sama sekali.
"Berhentilah, anak muda! Terima kasih banyak atas pertolonganmu. Semua racun di tubuhku sudah lenyap sama sekali." Mendengar seruan kakek itu, Mahesa menghentikan usahanya, kemudian berkata sambil tersenyum, "Pak tua, bersemedilah untuk memulihkan tenaga dalammu."
Melihat hal ini, bukan main gembiranya Rara Wulan. Tanpa disuruh, tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan pemuda itu untuk mengucapkan terima kasih.
"Eh, jangan!" Sebelum tubuh cantik itu sempat berlutut, mendadak tubuh Mahesa lenyap dari hadapannya. Rara Wulan terkejut karena tubuh pemuda itu tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Otomatis kepalanya berputar ke sana kemari untuk mencari.
"Nona, maafkan aku, aku tidak biasa menerima penghormatan seperti itu?"
"Tapi kau telah menolong kami, tentunya aku harus mengucapkan terima kasih padamu?" Sahut gadis itu dengan suara yang merdu menawan.
Mahesa tidak menjawab. Hanya bibirnya yang tersenyum sambil balas menatap gadis itu sehingga membuatnya jengah. Akhirnya gadis itu pun tersenyum, kemudian mendekati kakeknya.
Beberapa saat kemudian Ki Ranggapati membuka matanya dan memandang penuh selidik ke arah si pemuda, "Anak muda, jika boleh kami tahu, siapakah engkau dan siapakah gurumu...?"
"Namaku Mahesa Geni Ki, aku seorang perantau. Maafkan jika aku tidak dapat memberitahu siapa guruku, bukan karena ingin berlaku kurang sopan, tapi memang beliau pernah memesan agar aku tidak boleh mengatakan siapa namanya pada siapa saja. Harap aki tidak berkecil hati!"
"Baiklah kalau begitu, Mahesa. Lupakan apa yang baru ku tanyakan, aku mengerti akan hal tersebut. Oh ya, boleh kami tahu kemana arah perjalananmu?"
"Aku seorang pengembara, ki. Aku tidak punya tujuan tertentu. Namun, yang jelas ada sebuah tugas dari guruku di mana aku membutuhkan keterangan mengenai keberadaan tiga orang yang sangat berbahaya yang harus dibasmi, entah Ki Ranggapati mengetahui atau tidak?" Mahesa menjawab dengan wajah serius sambil menatap ke arah Ki Ranggapati dan Rara Wulan bergantian.