Halo!

Pendekar Sabuk Naga - Chapter 06

Memuat...
Pendekar Sabuk Naga

Chapter 06

"Hmmm, siapakah mereka? Mungkin aku pernah mendengar tentang mereka," sahut si Malaikat Pedang Terbang.

"Yang pertama adalah pemilik Pukulan Kelelawar Iblis itu. Dua orang lagi adalah Ki Samber Nyawa yang bergelar Dewa Maut Bertangan Sakti dan Nyi Gandasuri yang bergelar Dewi Asmara Seribu Nyawa. Apakah Anda mengenal mereka, Ki Ranggapati?" Pertanyaan Mahesa membuat Ki Ranggapati terkejut bagai disambar halilintar di siang bolong.

Sejenak ia memandang pemuda di hadapannya dengan tatapan hampir tidak percaya.

Bagaimana tidak? Tiga orang yang ditanyakan pemuda itu adalah momok-momok paling menakutkan dan meresahkan dunia persilatan saat itu. Dengan santainya, pemuda ini mengatakan akan membasmi mereka. "Bagaimana, Ki? Dapatkah engkau memberi keterangan tentang mereka?" desak Mahesa tatkala melihat kebingungan kakek itu.

Akhirnya, dengan menarik napas panjang, Malaikat Pedang Terbang itu menjawab, "Orang yang pertama yang sedang kau cari adalah musuh yang tengah kita hadapi sekarang. Itulah sebabnya kami menuju ke Gunung Bromo, karena di sana akan diadakan permufakatan para pendekar golongan lurus untuk mengatasi Panji Petaka Hitam yang disebarkan oleh Pangeran Kelelawar Iblis." Mahesa mengangguk tanda mengerti.

"Bagaimana dengan dua orang lagi?"

"Meskipun aku pernah mengetahui perihal Ki Samber Nyawa dan Nyi Gandasuri, sayang sekali aku tidak dapat memberi keterangan tempat keberadaan mereka karena mereka adalah orang-orang yang berdiri di tengah-tengah, bukan hitam bukan pula putih, bagaikan orang-orang yang kadang kelihatan kepala namun tak kelihatan ekornya ataupun sebaliknya. Namun, jika engkau bersedia bersama kami pergi ke Gunung Bromo, maka kau akan bertemu dengan banyak pendekar dari seluruh tanah Jawa ini. Mungkin di antara mereka ada yang dapat memberi keterangan yang kau perlukan."

"Kalau kau tidak keberatan, aku mewakili para pendekar yang ada ingin mengundangmu secara resmi untuk menghadiri pertemuan rahasia para pendekar tanah Jawa tersebut..."

"Benar, Kakang Mahesa. Pergilah bersama kami?" Terdengar suara Rara Wulan yang lembut berkata pada pemuda itu dengan nada permohonan. Bahkan, ia sudah berani menggunakan kata "kakang". Sejenak kemudian, wajahnya bersemu merah.

Mahesa menatap sejenak pada Rara Wulan. Tanpa sadar, pemuda ini terpesona melihat wajah cantik yang berona merah itu. Terlihat sinar mata dara ayu itu berbinar penuh pengharapan.

Akhirnya, Mahesa menjawab sambil tersenyum, "Baiklah, aku akan ikut bersama kalian."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment