Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 01

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 01

Cuaca panas, angin bertiup menyejukkan raga. Gunung Gede, bagaikan seorang gadis yang diselimuti mantel tipis berwarna hijau keabu-abuan, seolah sedang tidur nyenyak.

Semilir angin sepoi-sepoi berhembus mengibarkan rambut seorang pemuda yang berdiri di atas puncak Gunung Gede. Pemuda itu berwajah tampan, bermata bening ke merah-merahan, sungguh sebuah mata yang tak lazim bagi seorang manusia karena mata manusia biasa tak ada yang berwarna merah. Pemuda itu beraliskan sayap elang, berhidung bak paruh gagak, dipertegas dengan rahang yang kokoh, bertubuh kekar berotot. Pemuda itu baru berusia empat belas tahun.

Bajunya berwarna cokelat, namun penuh tambalan layaknya seorang pengemis, dipadukan dengan celananya yang aneh, yakni yang sebelah kanan panjang semata kaki dan yang kiri sebatas lutut. "Oh Tuhan, cobaan apalagi yang Kau berikan kepadaku?" terdengar gumaman dari bibirnya yang sedang tersenyum getir. Sebenarnya siapakah pemuda itu? Dan mengapa ia bergumam seperti itu? Nama pemuda itu adalah Aram, lengkapnya Aram Widiawan. Ia adalah anak dari 'Pendekar Pedang Pelintang Jagat Pembelah Sagara', Ki Gunawan Widiawan, seorang pendekar sakti dari tanah Jawa Dwipa. Dengan sebatang pedang, ia mampu memporak-porandakan perguruan Pujangga Nirwana, sebuah perguruan sesat di Lembah Naraka yang dipimpin oleh seorang datuk sesat pada masa itu, 'Tangan Neraka Pembakar Raga', Deka Sagara. Ibunya adalah 'Si Pengumpul Ilmu Tunggal Jagat', Nyi Widia Seta, seorang pendekar wanita yang gemar mengumpulkan berbagai macam ilmu kepandaian, baik itu ilmu silat, ilmu sastra, ilmu perbintangan, ilmu barisan, ilmu racun, maupun ilmu pengobatan.

Kepandaiannya sangat tinggi, lebih dari suaminya, 'Pendekar Pedang Pelintang Jagat Pembelah Sagara', Ki Gunawan Widiawan, karena ia adalah murid tunggal dari 'Dewi Pemanah Asmara', Nyi Permata Dewi, datuk dari Golongan Putih.

"Fyuhh... Ayah, Ibu, ananda bersumpah pasti akan membalas dendam. Pasti ananda akan membunuh si Iblis Langit Selatan. Tenangkan hati kalian, Mah, Pah!" desisnya lirih, setetes air mata jatuh ke pipinya. "Itu dia!" Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari belakang si pemuda. "Hah... hah... hah... Mau lari kemana lagi kau, bocah kampret...! Cepat serahkan peta itu!"

Dua pemuda itu terkejut setengah mati melihat pengejarnya dapat menemukannya. Seketika ia langsung berbalik. Dilihatnya lima orang lelaki berbaju loreng dengan ikat pinggang dari kulit ular welang. Lelaki pertama berwajah tirus mirip tikus, julukannya adalah Si Tikus Penakluk Ular. Yang kedua berwajah bulat, sama halnya dengan tubuhnya, julukannya adalah Si Bulat Pemakan Ular. Yang ketiga berwajah segitiga, julukannya adalah Si Kobra Beracun. Yang keempat dan kelima berwajah persis bak pinang dibelah dua. Orang persilatan menjulukinya Sepasang Ular Beracun. Dalam rimba persilatan, mereka dikenal dengan Lima Manusia Ular Pencabut Nyawa.

"Hei bocah, cepat serahkan peta itu sebelum kami lumatkan nyawamu!" bentak Si Tikus Penakluk Ular dengan garang. Merah wajah si bocah karena mereka tak memandang sebelah mata pun kepadanya. "Hahaha... Tidak mungkin, tikus bau...!!! Seorang lelaki sejati lebih baik berkalang tanah daripada menjadi seorang pengecut. Huh, lebih baik aku mampus daripada mengecewakan orang tuaku. Kalian orang-orang dewasa cuman beraninya sama anak kecil saja, huh.... Kalian itu cuman sampah-sampah dunia persilatan, cisss!" Merah padam wajah Si Tikus Penakluk Ular dan kawan-kawannya dihina oleh seorang bocah yang masih kecil.

"Sudahlah, Kang. Hajar saja bocah tak tahu adat itu, jangan banyak basa-basi. Sebaiknya kita bunuh saja lalu ambil petanya," ujar Si Kobra Beracun. Baru saja Si Kobra Beracun selesai bicara, tiba-tiba... "Bagus, bocah, mampuslah!" bentak Si Bulat Pemakan Ular yang tak sanggup menahan amarahnya!

Wushhhhh... Dengan mengerahkan enam bagian tenaganya, ia memukul si pemuda dengan jurus ular mematuk mangsa. Sekilas cahaya berwarna biru meluncur keluar dari balik ujung bajunya dan menyambar ke dada Aram. Cepat-cepat Aram memutar pergelangan tangannya menggunakan jurus si jago membalikkan tangan untuk menangkis ancaman tersebut.

"Duk..." diiringi suara nyaring beradunya kedua tangan, Aram terpental sejauh dua tombak dan muntah darah. Nyata sekali tenaga dalam Aram berbeda beberapa tingkat di bawah Si Bulat Pemakan Ular. Sementara Si Bulat tidaklah bergeming. Mengetahui si pemuda kepandaiannya masih cetek, ia tertawa terbahak-bahak. Ia menghimpun kembali tenaganya, lalu menerjang ke muka sambil menggetarkan pergelangan tangannya. Kali ini ia menotok bagian penting di lehernya.

Aram benar-benar terkejut. Cepat-cepat ia mengelak ke samping dengan jurus monyet liar mencari buah. Tapi berhubung serangan yang digunakan oleh Si Bulat Pemakan Ular terlampau cepat, meski dapat terhindar dari totokan, namun ia masih terkena sambaran telapak tangan Si Bulat Pemakan Ular yang beracun. "Duuuukkkk!!" "Akhrggg....hoek.....hoek" Aram kembali terlempar dan muntah darah.

Sungguh kasihan si pemuda... Dengan menahan sakit di pundak dan nyeri di dada, Aram kembali bangkit, meski dengan sempoyongan. "Aku tidak boleh mati di sini, aku harus membalaskan dendam ayah dan ibu. Jika ku mati di sini, masih adakah rasa baktiku kepada mereka... Oh Tuhan!" si bocah membatin dalam hatinya. "Haha... Kuat juga kau, bocah. Ketahuilah, racun ularku tidak ada penawarnya, jadi bersiap-siaplah untuk menghadap raja neraka, hahaha....." Kelimanya tertawa dengan terbahak-bahak....

"Kang, ayo, ayo kita bereskan bocah itu sebelum ada orang yang ikut campur urusan kita untuk merebut peta itu," ujar Si Sepasang Ular Beracun pertama. "Mari," sahut mereka serempak. "Aku akan adu jiwa dengan kalian... Hiiiiiiaaaaaaaaaaatttttttt.............!!!" teriak Aram melengking mengalun di lereng pegunungan Gede itu.

Dengan mengerahkan tenaga sakti mata darah tingkat tiga, tingkat terakhir yang dikuasai Aram, ia meloncat menerjang kelima musuhnya.

(Ilmu tenaga mata darah terdiri dari sepuluh tingkatan, di mana apabila sudah mencapai tingkat pamungkas atau tingkat sepuluh, mata pemilik ilmu tersebut, mata yang berwarna hitam atau cokelat tersebut akan berubah menjadi berwarna merah darah, itu sebabnya mata si pemuda atau Aram berwarna merah, meski belum sempurna).

Kelima manusia ular itu tertegun. Mereka tak menyangka bocah itu akan senekat itu. Serempak mereka menangkis serangan Aram dengan mengeluarkan jurus andalan masing-masing, meski dengan terburu-buru...

'Duuuaaaarrrrrrrrr' "Akkkkkkkhhhhhhhhhhhhhhhhh" "Ukhhg" "Hoek" Suara ledakan bergema memekakkan telinga. Debu-debu berterbangan... Pohon-pohon tumbang terhempas angin akibat ledakan tenaga sakti tersebut... Lalu suara jeritan itu suara apakah? Apa yang terjadi?

Beginilah ceritanya ketika jalur tenaga sakti yang dikeluarkan oleh Aram yang berbenturan dengan kelima manusia ular, ternyata tenaga sakti yang dikeluarkan Aram sangatlah luar biasa. Walaupun tenaga dalamnya masih cetek, tapi tenaga sakti tersebut sebagian mampu menerobos tenaga gabungan kelima manusia ular, dan dukk tenaga tersebut melukai mereka. Mereka sangat terkejut karena tak menyangka tenaga sakti tersebut mampu menerobos tenaga gabungan mereka hingga mereka berteriak kesakitan. "Uukkkhhgg..." Sedangkan Aram tidaklah meraih keuntungan dari bentrokan tersebut. Ia terlempar seperti layang-layang putus benang dan muntah darah lagi. Dan sialnya lagi, ia kebetulan jatuh di mulut jurang.

Aaaaaaaakkkhhhhh...!!! Suara jeritan menyayat hati mengalun santar yang lambat laun mulai menghilang. Bagaimanakah nasib Aram Widiawan, si bocah yang malang? Peta apakah sebenarnya yang mereka perebutkan?

"Kang, gimana ini?" ucap Si Sepasang Ular Beracun kedua. "Sudahlah, paling anak itu mati. Petanya juga nggak bakalan jatuh ke orang lain. Ayo kita pergi, kita sembuhkan dulu luka kita," kata Si Tikus Penakluk Ular. "Cih, anak sialan," gerutu Si Kobra Beracun.

Lalu bagaimanakah dengan Aram, si bocah cilik itu? Bagaimanapun kata pepatah, orang baik selalu dilindungi Tuhan, begitupun yang terjadi pada Aram, si bocah cilik itu. Mati hidupnya ada di tangan Tuhan dan si pengarang tentunya, hehe. Aram yang terjatuh dari atas puncak gunung itu merasakan tubuhnya bagaikan kilat cepatnya meluncur turun ke bawah. Semakin lama dia semakin terjatuh ke bawah terus... terus....

Dikarenakan kecepatan meluncurnya amat pesat sekali ditambah tubuhnya yang keracunan hebat dan luka dalamnya yang parah, saking goncangnya dia jatuh tak sadarkan diri.

Mendadak... tubuhnya terikat sesuatu hingga membuat daya luncur menjadi sedikit berkurang. Mungkin karena daya luncur yang begitu keras dari badannya membuat ia kembali membal ke atas kemudian jatuh kembali, dan begitu terus berulang-ulang. Mungkin karena kebetulan atau takdirnya untuk tetap hidup, goncangan tersebut mengenai beberapa jalan darah penting di tubuhnya hingga membuat ia tersadar dari pingsannya. Suatu keinginan untuk hidup meliputi seluruh hatinya. Dengan cepat ia menarik hawa murninya dari pusar, disalurkan ke seluruh tubuhnya dengan memaksakan diri. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan akar-akar pohon besar yang melilit tubuhnya. "Aku nggak boleh mati," pikirnya mantap. Setelah berusaha sekian lama sambil menahan sakit tubuhnya, akhirnya ia bisa melepaskan diri dan meluncur turun.

Byurrrr....... tubuhnya terhempas ke dalam air.

Sekalipun secara kebetulan tubuhnya tadi terbelit akar sehingga daya luncur badannya pun menjadi jauh berkurang, ditambah pula permukaan tanah di mana dia melayang turun merupakan kubangan air, tapi dikarenakan goncangan yang begitu besar dan perasaan tegang yang amat sangat menerjang pikirannya membuat dirinya begitu terjatuh kemudian jatuh tidak sadarkan diri. Entah lewat beberapa saat kemudian, dengan perlahan ia baru sadar kembali dari pingsannya. Ia merasakan seluruh tulang-tulang badannya amat sakit, serasa sudah pada copot. Sedangkan pundaknya yang terkena hajaran pukulan telapak tangan Si Bulat Pemakan Ular yang beracun tadi kini sudah membengkak besar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment